Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
34


__ADS_3

"Halo Intan, ada apa? Kok tumben telpon aku malam-malam?" tanya Pandu pada Intan.


"Aku nggak bisa tidur malam ini Mas, nggak tahu kenapa aku dari tadi mikirin kamu, kenapa ya Mas? Setiap kali aku ingin memejamkan mata, aku selalu inget kamu," ucap Intan yang saat itu terlihat begitu ingin sekali berpaling dari Rehan, dan memastikan bahwa perasaan nya itu akan terbalas.


"Ya ampun, manis sekali. Tapi apakah kamu tidak takut jika nanti suamimu itu marah Intan? Aku dengar dari Dinda, kalau kamu sudah memiliki suami ya, jadi aku berpikir sebaiknya pertemanan kita cukup sampai dengan pertemanan saja, tidak lebih dari itu." jelas Pandu melempar senyum, ia berusaha menyadarkan Intan dari kesalahannya itu.


Mendengar hal itu tentu saja membuat Intan merasa kesal, rasanya ia sangat malu sekali telah mengungkapkan perasaan rindu pada Pandu namun di balas dengan ucapan seperti itu. Tak memberikan pesan terakhir atau apapun, Intan langsung mematikan sambungan telepon itu ketika menyadari Rehan saat itu ada di depan pintu.


Rehan mendatangi Intan dan duduk di atas ranjang bersama, dengan gelagat mencurigakan Rehan menatap istrinya itu.


"Kenapa kamu liat-liat aku Mas, aku nggak suka ya kamu liatin aku kayak gitu!" omel Intan salah tingkah.


"Intan, kamu telponan sama siapa? Kenapa saat kamu tahu aku masuk ke sini, kamu langsung mematikan telpon nya?" tanya Rehan dengan tatapan serius.


"Memangnya apa perduli kamu Mas, selama ini kamu selalu sibuk dengan toko kamu itu kan, jadi kenapa sekarang kamu kepo," celetuk Intan kesal.

__ADS_1


"Lagian Mas, ada kabar yang perlu kamu tahu, Dinda Salon yang saat ini sedang viral itu, yang selama ini aku ngotot mau perawatan di sana itu, ternyata salon itu milik Dinda, mantan istri kamu." sambung Intan yang memberi tahu kan kebenaran sesuai dengan yang ia ketahui.


Deg


Tiba-tiba hati Rehan berdesir ketika mendengar Intan berbicara seperti itu, mana mungkin Intan memiliki sebuah usaha yang membuat namanya sangat di kenal di media sosial? Dari mana bakat Dinda, karena yang ia tahu Dinda adalah wanita rumahan yang tidak memiliki ketertarikan soal bisnis.


"Intan, kalau bicara yang serius," ucap Rehan lirih, ia tidak lagi fokus dengan siapa Intan berbicara lewat telpon tadi.


"Apa untungnya aku berbohong Mas, kalau kamu nggak percaya, kamu bisa kok datang sendiri ke Dinda Salon. Mantan istri mu itu sudah berubah seratus persen, penampilannya pun sudah sangat jauh berbeda dari sebelumnya, dia cantik, bersih, terawat, dan memiliki gaya hidup yang cukup kekinian, aku iri Mas, aku ingin seperti dia," celetuk Intan yang mengutarakan keinginannya.


"Intan, hidupnya dengan gaya mu sendiri, selama ini kau selalu menghambur-hambur kan uang kan? Jadi sekarang di saat aku berada di titik ini, tolong pahami aku, dan dukung aku untuk tidak sampai mengalami kebangkrutan, kamu harus ada buat aku dan temani proses awal ku lagi," pinta Rehan yang sudah beberapa waktu ini tidak mendapatkan perhatian dari Intan.


"Intan!!!"


Rehan memekik, kali ini Intan sudah berbicara dengan tidak menggunakan akalnya, ia seperti memang terlihat tidak ingin memperjuangkan pernikahannya dengan Rehan. Bentakan itu membuat Intan justru semakin berani, bukan merasa takut, Intan justru terlihat sangat berani menatap ke arah Rehan dengan kemarahan.

__ADS_1


"Ada apa Mas, kenapa kamu membentak ku, apa kamu merasa tersinggung dengan ucapan ku? Mas, seharusnya aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar sama kamu, kalau aku wanita kekinian yang tidak akan bahagia jika suaminya tidak memiliki uang, jadi tolong kamu pahami itu," ucap Intan dengan lantang.


"Berhenti bicara atau aku akan menamparmu Intan! Apa kau lupa, kalau sebelum aku mengenal mu, hidupku sangat lah berkecukupan bahkan lebih dari kata cukup, bahkan saat Dinda menjadi istriku aku tidak pernah kehabisan uang, aku selalu menerima keuntungan dari semua usahaku di toko, tapi sejak aku menikahi aku merasa kalau aku ini adalah mesin ATM berjalan mu, kau bisa menarik uangku sesuka hatimu, dan ketika habis, ATM itu kau tinggalkan di lemari dan kau cari ATM yang baru, begitu kah caramu menyikapi hubungan kita ini?!"


Rehan berpidato cukup panjang lebar, ia luapkan kemarahannya pada Intan kala itu. Dan ia memutuskan untuk keluar dari kamar lalu pergi entah ke mana, Rehan dengan hati yang sedang marah, ia keluar dari rumah menuju sebuah kafe, di sana ia menghabiskan banyak sekali minuman dan ia pun tak lupa di temani oleh beberapa wanita cantik yang siap melayani Rehan.


Saat itu Rehan sama sekali tidak fokus akan hal itu, ia justru fokus dengan ucapan Intan mengenai Dinda, hatinya tidak yakin jika Dinda benar-benar sudah berubah dan memiliki sebuah usaha, tetapi apa yang diucapkan oleh Intan tidak mungkin kebohongan, untuk apa dia berbicara bohong pada dirinya.


"Oh, ya ampun, aku sepertinya sudah banyak sekali minum, kepalaku sangat pusing sekali," ucap Rehan yang menarik rambutnya ke belakang.


Saat itu Rehan ditemani oleh temannya, sebelum ia dalam kondisi mabuk berat seperti ini, Rehan sudah menghubungi salah satu teman dekatnya untuk menemani dirinya minum, dan Antonio pun bersedia menemani Rehan malam itu.


"Rehan, udah ya minumnya, lo udah minum terlalu banyak," ucapnya yang berusaha membujuk Rehan agar berhenti meneguk alkohol di hadapannya.


"Gue cukup stres akhir-akhir ini Bro, istri gue selalu marah-marah dan kebiasaan menghabiskan uang tidak bisa dia lupakan, gue kehilangan akal gimana caranya buat dia berhenti dan sadar, gue sebentar lagi bangkrut Bro, dan gue akan jatuh miskin," seru Rehan yang mengutarakan isi hatinya dengan keadaan mabuk.

__ADS_1


"Lo tahu? Tadi gue denger dia lagi telponan sama seseorang, dia bilang kalau dia nggak bisa nggak mikirin orang yang ada di telpon itu, gue rasa dia lagi ngobrol sama selingkuhannya, makanya akhir-akhir ini dia nggak pernah bersikap manis sama gue. Ternyata ini ya rasanya, ketika pasangan kita justru merindukan orang lain di luar sana, dan mungkin seperti inilah rasa nya ketika istri pertama gue tahu, kalau gue menjalin hubungan sama Intan. Rasa sesakit ini Bro." sambung Rehan menjelaskan.


Antonio tidak bisa berkata banyak hal, karena hampir seluruh beban dalam pikiran Rehan sudah ia dengar. Ia hanya meminta Rehan untuk berhenti minum dan ia menawarkan diri untuk mengajaknya pulang.


__ADS_2