Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.16


__ADS_3

Pagi - pagi sekali, Kinan sudah terbangun dari tidur pulasnya. Bajunya belum juga di ganti sejak kemarin.


Kinan sudah terduduk di kasur dan mengedar pandangannya di kamar luas itu. Shella masih tertidur pulas di sebelahn. Ia menatap tubuhnya yang masih rapi dengan kerja putih dan rok hitam. Badannya mulai terasa pegal dan lengket karena belum mandi sejak sore.


Kedua kakinya turun dari ranjang dan menyentuh lantai dingin, lalu berjalan melangkah ke arah kamar mandi.


Kinan berkaca di dalam kamar mandi. Wajahnya masih terlihat kusut dan sayu. Ia benar - benar lelah semalam.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Kinan?" panggil Shella dari depan pintu kamar mandi.


"Ya, Mbak Shella," jawab Kinan setengah berteriak dari dalam kamar mandi. Kinan buru - buru membuka pakaiannya dan langsung mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya.


"Mau sarapan apa? Di depan ada ibu yang jual nasi uduk. Mau?" tanya Shella dengan suara agak keras agar Kinan mendengar suara Shella dari arah luar.


"Iya Mbak. Kinan apa aja doyan. Gimana Mbak Shella aja. Ambil aja uangnya di tas Kinan di dalam dompet," ucap Kinan pelan.


Mendengar jawaban Kinan, Shella pun keluar dari kamar tidurnnya. Seperti biasa setiap pagi di dalam kos - kosan Shella selalu ada ibu tua yang menjajakan dagangannya masuk ke dalam rumah, berharap setiap penghuni kamar kos akan membeli makanan yang di jual untuk bekal sarapan sebelum berangkat ke kantor.


"Mbak Shella? Mau beli apa?" tanya Ibu tua itu dengan sopan.


"Lontong sayurnya dua dan nasi uduknya dua. Jangan lupa gorengannya," ucap Shella pelan.


"Ada tamu Mbak?" tanya Ibu tua itu pelan sambil memasukkan pesanan Shella ke adalam kantung plastik.


"Iya Bu. Calon adik ipar," ucap Shella sambil terkekeh pelan. Senyum simpul pun terlukis di sudut Ibu tua yang ikut merasakan kebahagiaan Shella.


Suara dering telepon berbunyi dalam genggaman Shella. Wajahnya berbinar saat melihat nama Dimas tampil di layar ponsel pintar miliknya.


"Pagi Mas," sapa Shella terlebih dahulu.


"Kinan gimana? Merepeotka kamu tidak?" tanya Dimas pelan.

__ADS_1


"Tidak Mas. Kemarin Kinan langsung bekerja di perusahaan keren itu. Di a di terima sebagai sekertaris, bahkan tadi malam di antar langsung oleh Bosnya ke kosan Shella," ucap Shella pelan menjelaskan kejadian tadi malam yang smepat membuat Shella sedikit panik dan cemas karena keterlambatan Kina kembali pulang ke kos - kosannya.


"Benarkah? Kinan sudah bekerja. Syukurlah. Lalu? Jarak dari kos dan kantor kan jauh? Kinan pasti pindah?" tanya Dimas pelan yang mencemaskan adik perempuan semata wayangnya itu.


"Entah Mas. KInan belum bicara tentang hal itu. Kalau pun iya, nanti Shella aan bantu cari kos - kosan yang aman untuk Kinan," ucap Shella pelan dan meyakinkan Dimas bahwa ia dapat di andalkan untuk menjaga dan membantu Kinan.


"Makasih ya Shell. Kamu memang terbaik," ucap Dimas memuji.


"Sudah seharusnya begini bukan? Tidak perlu terima kasih, Mas," ucap Shella pelan.


"Iya Shella. Kamu masuk pagi atau malam?" tanya Dimas pelan.


"Masuk pagi, Mas. Sekalian antar Kinan ke kantor. Coba nanti di perjlaanan, Shella akan tanya masalah tempat tinggal. Kasihan juga kalau terlalu jauh, takutnya capek. Lagi pula, Shella juga tidak bisa setiap hari mengantar atau pun menjemput Kinan," ucap Shella pelan.


"Iya. Lusa, Mas ke Jakarta dengan Ibu. Rencananya, Mas mau kenalkan kamu dengan Ibu. Biar cepet di restui juga, dan Mas bisa melamarmu,' ucap Dimas dengan lantang.


"Katanya Mas dimas mau nunggu Kinan menikah dulu," ucap Shella mengingatkan.


"Awalnya begitu Shella. Tapi, Kinan kan batal di lamar. Dan sepertinya Bapak pun sudah tidak ingin menerima lamaran dari anak sahabatnya itu," ucap Dimas pelan menjelaskan.


"Kok diam? Kamu gak mau di kenalin sama Ibu?" tanya Dimas dengan lembut.


"Ekhem ... Iya Mas. Shella mau di kenalin sama Ibu," jawab Shella agak gugup.


Pikiran Shella jadi melaang tak karuan. Ia benar - benar bahagia sekali.


"Ya sudah. Kamu sudah beli sarapan belum?" tanya Dimas pelan.


"Ini sedang beli Mas. Kinan baru mandi, tadi Shella tawari sarapan dan katanya apa saja. Kinan bukan gadis pemilih kan?" tanya Shella pelan dengan sedikit ragu.


"Kalau soal makanan sih kayaknya gak. Apa aja, Kinan mau asal bukan makanan basi," ucap Dimas mengajak Shella guyon agar tidak terlalu serius menanggapi.


"Ya ampun, Mas Dimas. Shella udah dengerin serius malah bercanda," ucap Shella merajuk.

__ADS_1


Dimas tak menjawab, yang terdengar hanya suara tawa yang renyah dari sambungan telepon itu. Dimas sosok pendiam namun lucu.


"Sarapan dulu sana. Terus siap - siap berangkat kerja. Mas juga mau siap - siap sarapan sebelum Ibu teriak dari bawah. Salam untuk Kinan," titah Dima smenasehati.


Shella reflek menganggukkan kepalanya pelan. Ia merasa Dimas seolah ada di depannya sendiri sambil berbicara kepadanya.


"Iya Mas. Shella tutup teleponnya ya," ucap Shella pelan.


Sambungan telepon itu sudah terputus. Shella membayar satu kantung plastik makanan yang telah di belinya. Lalu, kembali ke kamar tidurnya.


ceklek ...


"Argh ...." teriak Kinan dengan suara yang amat keras.


"Kenapa Kinan?" tanya Shella panik sambil menutup pintu kamarnya dan mengunci kamar itu. Shella melihat Kinan sedang berdiri di depan kaca dan menutup tubuh polosnya dengan handuk yang di lilitkan dengan asal.


"Mbak Shella. Kinan kaget. Baru mau buka handuk mau pakai baju, ada yang tiba - tiba masuk," ucap Kinan yang terlihat panik.


"Maaf Kinan," ucap Shella sambil menghela napasnya dalam.


Shella hanya menampilkan senyum kecutnya. Ia panik luar biasa malah ia menjadi tersangka salah. Shella meletakkan satu kantung plastik makanannya di atas meja. lu berjalan ke arah meja khusus yang berisi beberapa toples berisi bahan - bahan makanan serta dispenser.


"Kamu mau susu, teh atau kopi?" tawar Sella kepada Kinan yang masih sibuk memilih pakaian yang akan di pakainya dari dalam tas.


Merasa tidak ada jawaban. Shella menoleh ke arah Kinan yang tengah fokus mengeluarkan semua pakian dari dalam kopernya di tempat tidur. Kinan merasa semua pakaiannya itu tak pantas di pakai untuk pekerjaannya saat ini.


"Kinan, kamu mau apa?" tanya Shella mengulang pertanyaannya kembali kepada Kinan.


Kinan menoleh ke arah Shella.


"Susu putih," jawab Kinan pelan.


Setelah membuat dua gelas susu putih. Shella menghampiri Kinan yang masih belum juga memakai pakaiannya dan sibuk memilih pakaian yang akan di pakainya pagi ini ke kantor.

__ADS_1


"Bingung?" tanya Shella pelan sambil menatap beberapa pakaian yang cukup modis untuk di pakai ke kantor. Apalagi Kinan adalah seorang sekertaris Bos besar.


Kinan hanya mnegangguk pasrah. Kinan merasa dirinya hanya berasal dari kampung. Berbeda dengan teman - temannya yang terlihat modis dan berdandan.


__ADS_2