Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.41


__ADS_3

Kinan sudah selesai membuat sarapan. Wanita mudaitu kembali ke kamranya untuk mandi dan bersiap untu pulang ke apartemennya.


"Wah ... Sarapan paginya sudah jadi, Mbok Ijah? Wangi sekali?" tanya Anita yang masih memakai daster terpaksa turun ke bawah karena mencium aroma wangi dari masakan yang membuat perutnya lapar.


"Mama?" panggil Bagas yang mengalami kondisi sama. Perutnya seketika meronta - ronta meminta di isi makanan yang tercium sangaa wangi itu. Bagas datang dari arah kamarnya dan memeluk Sang Mama lalu mengecup pipi wanita paruh baya itu dengan penuh kasih sayang.


"Sudah bangun?" tanya Mama Anita kepada Bagas.


"Sudah Ma, kebangun karena ini. Wangi amat sih masakannya," ucap Bagas manja sambil menunjuk ke arah makanan yang sudah tersaji di atas meja makan.


"Nasi goreng favorit kamu, tuh," ucap Mama Anita pelan.


"Ini yang buat Non Kinan," ucap Mbok Ijah pelan sambil meletakkan piring di atas mej makan.


"Kinan? Kemana Kinan?" tanya Bagas dengan cepat.


"Baru mandi den," jawab Mbok Ijah dengan sopan.


"Wah ... Menantu idaman sekali. Kinan itu benar - benar sempurna?" ucap Mama Anita memuji.


"Selamat pagi semua," ucap Kinan dengan wajah berseri.


Pagi ini Kinan nampak sangat bersemangat sekali. Moodnya cukup baik, walaupun hatiny masih terbelenggu dengn situasi yang membuatnya cemas dan bingung.


"Kinan? Sini sayang. Ini kamu yang buat?" tanya Mama Anita memanggil Kinan untuk duduk di dekatnya.


"Iya Ma. Tapi, Kinan gak tahu, enak apa gak ya? Kinan baru belajar," ucap Kinan merendah.


Tahu sendiri, keseharian Kinan hanya di rumah dan di rumah saja. Pulang sekolah di rumah, pulang kuliah, di rumah. Lama - lama Kinan sering emmbantu Ibunya memasak dan akhirnya bisa memasak, walaupun tidak sepintar Ibu Ayu.


"Dari wanginya sudah menggugah selera, tentu rasanya enaksekali," ucap Bagas yang sudah tidak sabar ingin segera mencicipi makanan itu.


Kinan hanya tersipu malumendapat pujian yang tak biasa itu. Ketiganya mulai mengambil nasi goreng dan mulai menikmati dalam hening. Mama Anita dan Bagas begitu menikmati makanan itu dan tak bisa berkata - kata lagi. Nasi goreng itu sungguh lezat.


Di tengah - tengah keheningan pagi. Suara ponsel Kinan kembali berdering dengan nyaring. Ponsel iitu memang sengaja di letakkan di meja makan tepat di samping Kinan. Kinan melongo sedikit menatap layar ponsel untuk melihat siapa yang menghubunginya. Lagi - lagi Dika sudah kembali menghubungi Kinan.


"Maaf, Kinan permisi sebentar mau angkat telepon," ucap Kinan dengan sopan.

__ADS_1


Kinan mengangkat telepon bil berjalan ke arah taman belakng. Bagas mengikutinya dari belakang. Bagas penasaran, sepagi ini siapa yang menelepon Kinna.


"Kamu mau kemana, Gas? Biar Kinan angkat teleonnya? Mungkin dari orang tuanya?" ucap Mama Anita mencegah Bagas yang berniat mengikuti Kinan.


"Perasaan Bagas gak enak Ma. Bagas hanya ingin tahu, siapa yang meneleponnya. Boleh kan? Bagas ingin menjaga clon tunangan Bagas? Apa itu salah?" tanya Bagas dengan nada agak keras sambil berdiri dan segera mengikuti Kinan.


"Tapi itu kan privasi. Seharusnya kamu bisa menahan diri untuk tidak terlalu posesif?" ucap Mama Anita agak keras saat Bagas sudah mulai menjauh.


Ucapan Mama Anita hanya di abaikan oleh Bagas. Bagas tetap berlalu mengikuti Kinan dari belakang dan bersembunyi di belakang tirai dekat taman belakang. Bagas menyimak ucapan Kinan kepada seseorang dari sambungan teleponnya.


"Ya, Dika? Kamu sudah sampai mana?" tanya Kinan tiba - tiba saat sambungan telepon itu tersambung.


"Aku sudah di lobby apartemen Kinan. Kamu dimana?" tanya Dika kemudian.


"Kamu sudah datang? Kinan masih di tempat saudara. Gimana ya?" ucap Kinan bingung.


"Saudara? Mbak Shella? Atau ada saudara lain?" tanya Dika pelan.


"Bukan. Di tempat saudara yang lain," jawab Kinan ragu.


Kinan menggingit bibir bawahnya. Ada perasaan tidak enak tentunya, jika Dika harus datang menjemput Kinan di rumah Bagas.


"Ekhemm ... Tunggu di sana saja. Kinan pulang setelah ini, sedang sarapan Tidak enak kau harus di tinggalkan, takut di kira tidak sopan," ucap Kinan pelan.


Kinan langsung menutup sambungan telepon itu dnegan cepat sebeum Dika memaksa untuk meminta alamat Bagas. Kinan langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kamu ada janji dengan siapa?" tanya Bagas yang memunculkan tubuhnya dari balik tirai. Suaranya begitu lantang dan tatapan Bagas terlihat sangat tidak suka.


Kinan begitu kaget. Langkahnya pun terhenti dan menatap Bagas yang berjalan menghampiri Kinan.


"Ekhemm ... Teman, iya teman," jawab Kinan terlihat gugup. Wajahnya sesekali menunduk tak enak.


"Teman? Teman siapa? Apa perlu saya tanya pada orang tua kamu? Siapa saja teman kamu yang ada di Jakarta?" ucap Bagas yang terlihat tak percaya dengan jawaban Kinan.


"Eits ... Jangan Pak," jawab Kinan cepat sambil menggigit bibirnya bingung.


"Siapa?" tanya Bagas dengan sedikit galak.

__ADS_1


"Dika, Pak," jawab Kinan pasrah sambil menundukkan kepalanya.


"Dika? Kamu mau kemana Kinan? Kamu belum kenal Dika? Jangan mau di ajak pergi jauh. Ini Jakarta Kinan?" ucap Bagas keras menasehati. Bagas hanya ingin mengingatkan Kinan. Jakarta itu kota besar, bukan kota kecil seperti Yogyakarta.


"Bandung Pak," jawab Kinan jujur.


"Bandung? Jauh lho, Kinan. Dari sini perjalanan itu sekitar tiga jam. Kamu nginep?" tanya Bagas denganperasaan khawatir.


Kinan menggelengkan kepalanya pelan.


"Gak Pak. Kinan pulang lagi. Hanya di ajak makan bareng saja," ucap Kinan pelan.


"Saya tidak ijinkan kamu untuk pergi," ucap Bagas lantang.


"Tapi Pak?" jawab Kinan plean.


"Kamu itu calon istri saya, Kinan. Kamu terima atau tidak, kamu tetap milik saya, bukan milik orang lain. Saya tidak suka berbagi!! Seharusnya kamu paham akan hal itu, Kinan," ucap Bagas keras.


"Kinan hanya sekertaris Bapak. Kita tidak ada hubungan apapu. Hubungan kita hanya teman masa kecil dan tidak lebih. Kinan berhak memiliki teman, dan jangan batasi pertemanan Kinan. Kalau Kinan memang telah di jodohkan dengan Bapak, Kinan perlu bukti, bukan hanya ucapan," ucap Kinan dengan berani.


Kinan langsung masuk ke dalam menuju ruang makan. Kinan langsung berpamitan pada Mama Anita bahwa dirinya ada janji dengan teman.


"Ma, Maafin Kinan gak bisa nemenin Mama sampai selesai sarapan. Kebetulan, Kinan ada acara mendadak, dan Kinan harus kembali ke apartemen untuk ganti baju," ucap Kinan dengan sopan.


"Kamu mau kemana? Ya sudah hati - hati, biar di antar Bagas?" ucap Mama Anita pelan.


"Tidak usah Ma. Kinan naik taksi online saja," jawab Knan pelan.


Kinan menghampiri Mama Anita dan mencium punggung tangan orang tua itu dengan sopan. Lalu pergi begitu saja menuju keluar rumah.


"Kinan?" panggil Bagas saat meeka kemabli berpapasan di ruang tengah.


Kinan tetap berjalan ke arah depan dan mengabaikan panggilan Bagas.


"Kinan pergi dulu, Pak," ucap Kinan berpamitan dengan sopan. Kinan pun langsung mempercepat langkahnya.


Bagas hanya bisa menghela napas panjang dan meatp punggung Kinan hingga gadis itu keluar dari rumahnya dan tak terlihat. Mungkin kali ini, Bagas harus bisa merelakan Kinan bersama yang lain. Memang pada kenyataannya mereka belum memiliki hubungan apa - apa.

__ADS_1


__ADS_2