
Kinan mengangkat wajahnya.
"Kamu?" panggil Kinan pelan sambil menatap OB yang masih membereskan alat alat makan ke rak makan yang ada di dalam pantry itu.
OB itu tetap diam. Padahal ia tahu di sana hanya ada dia dan gadis cantik yang baru saja menangis itu.
"Hei ... Kamu ...." panggil dengan suara yang lebih keras lagi. Kinan masih berpikir positif, mungkin saja, lelaki itu tidak mendengar panggilannya karena terlalu fokus pada pekerjaan atau sedang melamun.
OB itu masih diam dan sibuk menyelesaikan tugasnya.
"Hei ... Kamu dengar Kinan gak? Kinan lagi bicara sama kamu?" ucap Kinan pelan menatap punggung OB yang ada di depannya.
Tubuh OB itu berputar dan menatap Kinan.
"Mbaknya manggil saya?" tanya OB itu polos.
"Kamu pikir, Kinan bicara dengan siapa? Bukankah di sini hanya ada kita berdua saja?" tanya Kinan mulai kesal sambil sesekali menarik cairan hidungnya yang akan keluar begitu saja.
"Iya mbak. Maaf saya tadi sedang tidak fokus," jawab OB itu pelan.
"Ya sudahlah tidak apa - apa. Kamu sudah makan? Sini makan sama Kinan. Kebetulan ada dua bungkus. Sayang kalau kebuang," tanya Kinan pelan.
"Ekhem ... Gak enak sama yang lain mbak Kinan," ucap OB itu pelan.
Kinan menatap lekat mata OB itu lalu tertawa.
"Kok tahu nama Kinan? Gak enak sama siapa?" tanya Kinan pelan.
"Kan dari tadi Mbak Kinan selalu membahasakan diri Mbak Kinan dengan sebutan Kinan. Pasti namanya Mbak Kinan. Tidak enak kalau ada karyawan lain yang datang dan makan satu meja dengan Mbak Kinan.
"Udah gak usah peduliin kata orang. Sini ambil piring dan sendoknya. Kita makan bareng di sini. Temani Kinan," titah Kinan pelan.
"Iya Mbak." OB itu menjawab dengan santun lalu mengambil piring dan sendok serta air pitij di dalam gelas.
__ADS_1
Beruntung sekali hari ini bagi Dika, nama OB tersebut. Hari ini uang hariannya sudah di pakai untuk membayar ulangan adiknya yang duduk di kelas dua sekolah menengah pertama.
"Sini duduk di sini. Kita makan sambil ngobrol. Ini makanan buat kamu. Nama kamu siapa?" tanya Kinan ramah. Suaranya sangat lembut sekali membuat kaum adam semakin kagum dengan dirinya.
Dika tersenyum manis membalas senyuman indah Kinan. Baru kali ini, Dika di perlakukan baik oleh karyawan. Biasanya kebanyakan karyawan akan memandang sebelah mata. Ia pun duduk tepat di depan Kinan. Wajahnya terus mengulum senyum bahagia.
"Nama saya Dika, mbak Kinan." pelan OB itu memperkenalkan diri sambil malu - malu mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.
Tanpa basa basi, Kinan pun membalas uluran tangan itu dan tersenyum manis melebihi gulali yang di jual di pasar.
"Dika. Nama yang bagus setampan orangnya," ucap Kinan dengan jujur.
Dika tertawa lepas. Rasanya seperti sudah lama mengenal Kinan.
"Makasih Mbak makanannya," ucap Dika pelan sambil membuka bungkusan nasi uduk yang lengkap isinya.
"Iya sama - sama. Tapi sudah dingin. Ini beli tadi pagi, belum sempat di makan," ucap Kinan menjelaskan.
"Iya gak apa - apa, Mbak. Saya makan ya," ucap Dika pelan mulai menikmati nasi uduk itu.
Kinan merasa nyaman dengan Dika. Dika bisa menempatkan diri dan begitu sopan
"Mbak Kinan, karyawan baru?" tanya Dika pelan sambil mengunyah makanan di dalam mukutnya.
"Yap, Kinan baru dua hari kerja di sini. Jadi sekertarisnya Pak Bagas," ucap Kinan pelan sambil mengaduk - aduk lontong sayurnya. Kinan sudah tidak bernafsu lagi untuk makan, apalagi makanannya sudah dingin. Tapi, Kinan kagum melihat Dika yang makan dengan sangat nikmat tanpa peduli apapun itu.
Merasa dirinya seperti sedang di perhatikan oleh gadis cantik di depannya. Dika pun mengangkat wajahnya dan menatap Kinan dengan rasa penasaran.
"Apa ada yang salah Mbak, cara makan saya? Sampai harus menatap saya seperti menemukan maling?" tanya Dika pelan. Kedua matanya terus menatap wajah cantik Kinan.
Kinan hanya terseyum, lalu tertawa terkekeh.
"Tidak. Sama sekali tidak ada yang salah atau aneh. Kinan malah senang lihat cara makan kamu itu. Sangat menikmati dan mensyukuri apapun yang kamu makan," ucap Kinan pelan menjelaskan.
__ADS_1
"Uhuk ...." Dika malah terbatuk mendengar ucapan Kinan.
"Kok malah terbatuk. Kinan serius. Walaupun Kinan baru melihat dan ketemu kamu sekarang, tapi Kinan tahu orang yang benar - benar menikmati dan berpura - pura menikmati karena menghargai," ucap Kinan kemudian. Kinan masih terus mengaduk - aduk lontongnya. Moodnya sudah kembali baik, tapi selera makannya benar - benar sudah hilang dan tak kembali. Walaupun perut Kinan terasa perih.
"Tidak apa -apa. Kok Mbak Kinan gak makan, malah dia aduk - aduk begitu?" tanya Dika sambil menatap ke arah piring berisi lontong sayur yang masih utuh.
"Ekhemm ... Lagi diet," jawab Kinan asal.
Dika tertawa lepas mendengar jawaban Kinan. Pasalnya, Kinan itu sudah cantik dengan kulit sawo matang dan tubuhnya semampai proposional. Lalu untuk apa lagi diet? Mungkin jika Kinan mau dnegan Dika itu sebuah anugerah.
"Harus gitu tertawa?" tanya Kinan sambil melotot. Kinan meletakkan sendoknya dan menyeruput air putih di dalam gelasnya.
"Gak harus sih, cuma aneh saja. Mbak Kinan itu sudah sangat cantik sekali, kenapa harsu diet?" tanya Dika pelan dan menghabiskan nasi uduk pemberian Kinan.
"Sudahlah tak perlu di bahas lagi. Sudah lama kerja jadi OB?" tanya Kinan pelan. Kinan mulai penasaran dengan Dika. Secara Dika itu tampan dan memiliki tubuh yang bagus. Dan kalau di lihat dari cara bicaranya, ia sepertinya memiliki pendidikan yang cukup tinggi.
"Jadi OB? Baru satu bulan," ucap Dika pelan.
"Satu bulan? Lalu sebelumnya kerja dimana?" tanya Kinan semakin penasaran.
"Aku kerja di pabrik. Tapi, pabriknya sudah tutup. Jadi terpaksa aku kerja apa saja dulu, sambil mencari lagi," ucap Dika pelan.
Dika adalah seorang yatim dengan tiga orang adik yang masih duduk di bangku sekolah. Tidak hanya itu, Dika harus merawat ibunya yang sakit - sakitan dan membiayai smeua kebutuhan sekolah dan kebutuhan hidup sehari - hari. Tanggung jawabnya begitu besar.
"Oh begitu. Kenapa tidak mencoba melamar di perusahaan ini? Lulusan apa?" tanya Kinan pelan dan berhati -hati agar tak menyinggung perasaan.
"Saya lulusan ilmu komunikasi. Agak sulit mencari pekerjaan yag sesuai dengan kualifikasi jurusan saya," ucap Dika pelan.
""Wah keren. Ilmu komunikasi, bisa kerja di televisi, atau jadi guide atau masih banyak lagi. Tapi sebenarnya jurusan juga gak harus sesuai kan? Yang terpenting kita mau kerja, dan mau belajar lagi. Itu sih intinya, kalau menurut Kinan. Kinan juga lulusan ekonomi, tapi jadi sekertaris, gak nyambung juga kan?" ucap Kinan memberikan semangat.
Mereka berdua asyik dalam obrolan santai mereka hingga waktu istirahat makan siang pun sudah terlewat lama.
BRAK!!
__ADS_1
"Oh ... Jadi malah asyik mojok di sini?" suara Bagas begitu keras saat membuka pintu pantry mendapati Kina sedang asyik tertawa dengan Dika.