Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.22


__ADS_3

Dika akhirnya menyerah. Tahu kan, jika perempuan sudah bicara tak ada hentinya, dan diam lalu menuruti adalah hal yang paling baik.


Kinan memang sudah lapar sejak siang tadi saat berada di kantor. Tapi, apa daya, moodnya sedang tidak baik di tambah lagi, perlakuan Bagas, Sang Direktur yang semakin aneh saja. Kadang cuek, kadang baik, kadang bengis. Ini baru dua hari Kinan menjadi sekertarisnya dan rasanya seperti sudah se - abad.


"Ini beneran, Mbak Kinan mau traktir saya?" tanya Dika pelan sambil mengikuti Kinan mencari tempat duduk yang nyaman.


Kinan hanya mengangguk sekilas. Dan berjalan menuju tempat duduk yang ia inginkan.


"Kita duduk di ujung sana ya?" tanya Kinan pelan tanpa melihat Dika yang nampak malu.


"Iya. Gimana Mbak Kinan saja," jawab Dika pelan.


Keduanya sudah duduk di meja yang di inginkan. Duduk saling berhadapan dan sibuk dengan aktivitasnya masing - masing. Kinan yang sibuk dengan ponselnya dan Dika yang sibuk mencuru pandang gadis cantik yang duduk di depannya.


"Ekhemm ... Dika. Ini Kakak Kinan, sudah kasih lampu hijau untuk Kinan pindah kos. Kira - kira besok bisa bantu Kinan cari kos yang dekat dengan kantor?" tanya Kinan kepada Dika. Tatapan Kinan masih terus menatap layar ponselnya sambil membalas pesan singkat kepada Dimas, Kakaknya.


"Bisa. Mbak Kinan mau kos yang bagaimana? Fasilitas lengkap dan sudah isi tentu agak mahal bila di bandingkan yang kosong dan harus membeli perabotan sendiri? Semua kendali ada di Mbak Kinan?" ucap Dika menjelaskan.


KInan menatap ke arah Dika. Banyak hal yang tidak Kinan ketahui tentang kota besar ini.


"Kinan mau yang sudah lengkap biar Kinan tidak perlu pusing mengisi kembali. Paling tidak Kinan bisa langsung menempati kos tersebut. Gak enak juga, merepotkan Mbak Shella setiap hari untuk antar jemput, jadi lebih baik Kinan cari yang dekat kantor dan hanya memerlukan waktu sedikit dan bisa di jangkau dengan jalan kaki," ucap Kinan pelan.


"Oke, Besok bisa kita mulai pencarian kos nya," ucap Dika pelan sambil mengulas senyum manisnya.


"Yuk makan. Habiskan ya?" ucap Kinan lembut memulai menikmati makanan yang sudah di sajikan di meja makannya.


Dika hanya mengangguk kecil. Semakin kagum saja melihat gadis cantik yang jujur, polos dan apa adanya.


"Terima kasih ya, Mbak Kinan?" ucap Dika sambil mengunyah makanannya pelan.

__ADS_1


Kinan pun menatap Dika sambil berusaha menelan kunyahan makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Kinan pelan.


"Untuk trkatirannya. Memang apalagi?" ucap Dika sambil mengulum senyum.


'Ya ampun, Dika. Ingat jangan paanggil Mbak Kinan. Panggil Kinan saja, tidak apa -apa. Oh ya ... ada satu hal yang ingin Kinan tanyakan? Bisa?" tanya Kinan pelan dengan sedikit ragu. Pertanyaan ini sebenarnya enggan ingin di tanyakan oleh Kinan, tapi ucapan Festi tadi siang sedikit mengganjal pikiran Kinan.


"Apa? Tanyakan saja? Aku akan menjawab semuanya dengan baik dan jujur," ucap Dika sambil terkekeh.


Kinan pun ikut tertawa dan menganguk - anggukkan kepalanya pelan.


"Begini. Masalah tadi siang, Mbak Festi itumendatangi Kinan, dan bilang kalau Kinan tidak boleh dekat sama Dika, karena ...." ucapan Kinan terhenti. Rasanya tak pantas bicara seperti ini. Kesannya menjadi fitnah bila semuanya tidak benar.


"Karena apa?" tanya Dika santun sambil meneguk air minum dari dalam gelas.


""Gak jadi deh. Bukan sesuatu yang penting juga," ucap Kinan tiba - tiba menyudahi pertanyaanya dan melanjutkan menikmati makan malamnya yang enak itu.


Kinan mengangkat wajahnya kembali menatap Dika. Isi di kepalanya mudah sekali di tebak dengan tepat oleh Dika. Dengan penuh keterpaksaan, Kinan pun mengangguk pasrah.


"Iya. Benar?" tanya Kinan antusias.


"Apanya yang benar?" tanya Dika sedikit menggoda Kinan. Wajahnya nampak tenang dan datar. Tak sedikit pun menampakkan sedang mengerjai seketaris direktur perusahaan terbesar di Jakarta itu.


"Hubungan kamu dnegan Mbak Sofia?" ucap Kinan bersemangat setelah mendapat lampu hijau akan jawaban yang ada di kepalanya sejak sore tadi. Hanya ingin tahu saja. Kalau memang benar tentu Kinan akan menjaga jarak.


"Ya benar. Tapi itu dulu," ucap Dika pelan.


"Dulu? Maksudnya?" tanya Kinan yang terlalu polos.

__ADS_1


"Sofia memang mantan kekasih aku saat SMA hingga kuliah, bahkan saat kita sama - sama bekerja kita masih bersama, sampai akhirnya kita berpisah karena suatu masalah," ucap Dika pelan.


"Masalah? Kalian pacaran sudah lama, masa tidak bisa di cari solusinya?" tanya Kinan pelan.


"Complicated. Gak ada lgi yang harus kita bicarakan, karena Sofia bukan pilihan terbaik," ucap Dika pelan.


"Oh gitu. Terus, kamu gak cri pekerjaan lain?" tanya Kinan pelan takut menyinggung perasaan Dika.


"Kenapa? Mbak Kinan malu punya teman seperti saya?" tanya Dika menyelidik.


"Oh ... Bukan itu maksud Kinan. Kenapa tidak cari yang lebih baik sesuai dengan pendidikan kamu?" tanya Kinan penasaran.


"Suatu hari nanti, kamu akan tahu Mbak Kinan. Itu juga kalau kamu masih mau berteman dengan aku dan tidak pernah malu," ucap Dika pelan.


"Sama sekali gak masalah, Dika. Ekhem ... Rumah kamu masih jauh? Boleh Kinna main lain waktu?" tanay Kinan pelan.


"Uhukk ...." Dika pun terbatuk. Permintaan Kinan cukup membuatnya terkejut. Gadis yang di kaguminya mau main ke rumahnya. Tapi ini bukan waktu yang tepat. Dika harus membuat rencana matang sebelum Kinan main ke rumahnya.


"Kenapa? Ini minum dulu, airnya, Dik?" titah Kinan pelan.


"Makasih Mbak Kinan," jawab Dika yang masih terus terbatuk karena tersedak makanan. Air minum itu di terima dan langsung di tegak hingga habis.


"Kalau makan pelan - pelan biar gak tersedak. Kata Ibu, kalau makan jangan banyak bicara," ucap Kinan pelan menggurui.


Dika hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.


"Mbak Kinan, Rumah Dika itu jelek. Mbak Kinan pasti malu kalau datang ke rumah Dika. Secara Mbak Kinan, lulusan terbaik perguruan tinggi terkenal di Yogya, dan sekarag wanita karir, sekertaris Pak Bagas, Direktur raja perusahaan di Jakarta. Siapa yang tida kenal Pak Bagas? Direktur tampan, pintar dan ramah? Tapi ...." ucapan Dika tiba - tiba di hentikan secara paksa eolah yang tadi di ucapkan adalah ungkapan yang tidak sengaja di ucapakan.


"Tapi apa?" tanya Kinan penasaran sambil mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Oh itu, Tapi sayang Pak Bagas masih jomblo. Denger - denger acara lamaran dengan gadis pilihannya pun gagal, karena Pak Bagas gila akan pekerjaannya," ucap Dika yang terlihat bersemangat membicarakan Bagas, Sang Direktur. Tapi Kinan tak curiga sedikit pun. Semua bisa di atasi oleh Dika hingga terlihat datar dan nampak biasa saja.


"Gila kerja? Maksudnya?" tanya Kinan yang kurang paham.


__ADS_2