
Pagi ini adalah hari libur, dan Kinan sedang menginap di rumah Bagas, Direktur Perusahaan tempat ia bekerja yang ternyata adalah teman kecilnya sekaligus lelaki yang di jodohkan padanya. Begitu banyak hal yang terungkap membuat Kinan semakin canggung bila bertemu Bagas.
Kedua matany a menatap arloji di tangannya yang sejak malam tidak di lepas. Kinan sudah terbangun, sejak malam tidurnya pun tidak bisa pulas seeprti biasanya.
'Masih pukul empat pagi,' ucap Kinan begitu pelan. Selimut tebal itu di tarik lagi hingga ke bagian dada karena semakin pagi, dingin AC itu mulai terasa membuat tubuhnya menggigil.
Ponselnya berdering nyaring. Sejak malama Kinan memng tidak membuka ponselnya. Kinan terlalu asyik menikmati makan malam bersama Bagas dan Mama Anita hingga tak sempat untuk membuka ponsenya walaupun sekedar mengecek.
Perlahan Kinan mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia melihat layar ponselnya yang masih mempampangkan nama Dika di sana.
'Ini masih pagi. Kenapa sudah telepon sih?' batin Kinan kesal.
Beberapa terakhir ini, Dika memang terlihat sedikit posesif semenjak tidak lagi bekerja di kantor yang sama. Dika sering memberikan pesan singkat yang menanyakan keadaan Kinan. Mulai dari perhatian kecil seperti sudah bangun? Sudah makan? Sudah berangkt? Sudah pulang? Makan apa? Hingga ngobrol hal - hal yang bersifat pribadi bila di malam hari.
Dengan berat hati, Knan pun mengangkat telepon Dika.
"Ya, Dik ...." jawab Kinan yang berpura - pura masih dalam keadaan tertidur dengan suara yang di serak - serakkan.
"Kamu masih tidur, Kinan? Tadi malam kemana? Aku telepon sama sekali gak di angkat. Pesan ku pun tidak ada yang kamu balas satu pun," Dika terus memberondong pertanyaan kepada Kinan.
"Sudah pertanyaannya? Kinan harus jawab yang mana dulu?" tanya Kinan yang bingung dengan pertanyaan banyak Dika.
"Masih tidur?" tanya Dika mulai bertanya satu per satu.
"Iya, baru bangun denger bunyi telepon," jawab Kinan santai sambil kedua matanya terpejam. Ponselnya hanya di tempelkan di telinganya tanpa di pegang sama sekali.
"Tadi malam kemana?" tanya Dika semakin ingin tahu apa yang di lakukan Kinan tadi malam hingga tak bisa mengangkat telepon darinya.
"Ada, di rumah aja. Gak kemnaa - mana," jawab Kinan pelan tanpa berpikir panjang.
"Aku ke apartemen kamu, dan kamu tidak ada? Kamu gak lagi bohong kan?" tanya Dika kemudian menuduh.
Kedua mata terbelalak lebar. Menatap dinding putih yang ada di depannya.
"Kamu ke apartemen Kinan? Memang tahu? Kinan gak pernah kasih tahu tempat tinggal Kinan?" ucap Kinan dengan nada keras bercampur kaget.
Hahaha ... Tawa Dika begitu keras dan terbahak. Senang rasanya membuat Kinan merasa cemas.
__ADS_1
"Kaget ya?" tanya Dika tiba - tiba yang mengerjai Kinan.
Kinan menghela napas panjang. Debaran jantungnya belum juga berhenti karena terkejut.
"Jangan bercanda dong, Dika?" ucap Kinan yang mualikesal karena merasa di permainkan.
"Aku lagi di jalan. Aku mau ke apartemen kamu, minta alamatnya? Aku mau jemput kamu, Kinan," ucap Dika penuh semanagt.
Saat ini memang Dika sedang dalam perjalanan menuju Jakarta dari Bandung. Rencananya. Kinan akan di bawa ke Bandung dan di kenalkan pada Atika, Mama Dika.
"Apa? Mau ke aprtemen Kinan? Memangnya mau kemana?" tanya Kinann pelan.
"Ke Bandung, ketemu Mama? Mau ya?" pinta Dika dengan memohon.
"Kenapa harus bertemu Mama kamu, Dika?" tanya Kinan mulai melemah. Kinan jadi paranoid jika ingin di pertemukan Mama atau Papanya. Tentu ada maksud lain.
"Kamu keberatan, Kinan?" tanya Dika pelan.
"Ya. Begitu. Kamu tahu, setiap di perkenalkan dengan orang tua, tentu ada maksud lain? Kamu pasti begitu juga?" tanya Kinan denagn suasana hati yang tak menentu.
Hahaha .... Suara tawa Dika spontan terdengar keras dan terbahak.
Terdengar hembusan napas kasar dari sambungan telepon Kinan. Dika tahu, Kinan pasti keberatan untuk ini. Tapi, entah alasannya apa?
"Kamu menolak, Kinan?" tanya Dika tiba - tiba.
"Ekhemmm ... Memangnya malam masih ada bis ke arah Jakarta?" tanya Kinan ragu.
"Bis? Kamu mau naik bis?" tanya Dika pelan.
"Memangnya perjalanan jauh begitu, kita mau naik motor?" tanya Kinan kemudian. Kinan hanya tahu, Dika adalah lelaki biasa yang hanya memiliki motor untuk melakukan aktivitasnya.
"Iya kita naik kereta saja," ucap Dika berbohong.
"Sebentar. Dulu kamu bilang, Mamamu di Jakarta? Kenapa sekarang bilang ada di Bandung?" tanya Kinan tiba - tiba yang merasa ingat sesuatu yang janggal.
"Kamu cerdas Kinan. Di Jakrta itu, Mama angkat aku, dan yang di Bandung, Mama kandung aku," jawab Dika ngeles.
__ADS_1
Dika memang salah, memulai perkenalan dengan Kinan ada kebohongan di sana. Sebenarnya bukan untuk berbohong, tapi menyembunyikan indentitas dirinya yang sedang menyamar.
"Oh gitu," jawab Kinan yang mudah percaya begitu saja.
"Jadi, kirim alamat apartemen kamu ya? Aku meluncur ke sana," ucap Dika semangat.
"Oke. Tapi, Kinan mau ijin orang tuaku dulu," ucap Kinan pura -pura.
Sambungan telepon itu pun di tutup. Kinan bangun dari tidurnya dan duduk tegak menatap layar ponselnya yang meredup lalu mati. Kini, waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi.
Kedua kaki Kinan turun dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Rambut panjangnya di gelug keatas menggunakan sumpit rambut. Kinan menatap wajahnya dalam pantulan cermin yang ada di kamar mandi.
'Bagaimana Kinan bilang sama Pak Bagas. Kalau Kinan mau ijin pulang?' tanya Kinan kepada dirinya sendiri.
Kinan pun berjalan menuju pintu kamar dn membuka pintu itu dan berjalan menuju dapur.
"Eh Non Kinan. Sudah bangun?" tanya Mbok Ijah yang bekerja sebagai asisten rumah tangga.
"Mbok. Mama Anita belum bangun?" tanya Kinan pelan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur. Melihat apa yang sedang di masak oleh Mbok Ija.
"Belum Non. Ini masih pagi," jawab Mbok Ijah.
"Masak apa, Mbok?" tanya Kinan pelan.
"Belum maska, Non," ucap Mbok Ijah yang baru saja selesai mencuci piring.
"Sini biar Kinan yang masak," ucap Kinan pelan.
"Non Kinan bisa masak?" tanya Mbok Ijah sedikit ragu.
"Sedikit," jawab Kinan sambil tertawa.
"Mau masak apa, Non?" tanya Mbok Ijah pelan.
"Nasi goreng? Pada suka gak?" tanya Kinan pelan.
"Suka Non. Den Bagas paling suka sama nasi goreng campur sosis," jawab Mbok Ijah polos.
__ADS_1
"Oke. Kinan masak," ucap Kinan semangat.
Kinan mulai menyiapkan semua bumbu untuk memasak nasi goreng berikut dengan toping sebagai campuran dalam nasi gorengnya hingga terlihat spesial.