Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.46


__ADS_3

Tatapan bingung dan terlihat cemas pun jelas tersirat di wajah Pak Surya.


"Kalian sudah kenal?" tanya Atika tiba - tiba saat melihat keduanya terlihat saling menatap dan tertegun satu sama lain.


Kinan langsung memalingkan wajahnya dan tersenyum menatap Atika.


"Kenal Tante. Pak Surya adalah pemilik perusahaan tempat Kinan bekerja," jawab Kinan dengan tegas. Kedua matanya tak sanggup melihat wajah Pak Surya yang mulai memerah menahan rasa malu.


"Mas Surya kenal dengan Kinan?" tanya Atika lembut sambil memegang tangan Pak Surya dan mengecup punggung tangan itu dengan penuh kasih sayang.


Kinan hanya melihat pasrah kemesraan kedua orang tua paruh baya itu. Dalam hati Kinan bertanya - tanya, 'Ada hubungan apa Tante Atika dan Pak Surya?' Lalu, Dika?


"Dia sekertaris baru Bagas," jawab Pak Surya singkat.


"Ohh ... Kinan ini pacar Dika," ucap Atika pelan sambil menarik tangan Pak Surya untuk duduk di kursi sebelahnya.


Pak Surya terperanjat dan menatap lekat kedua mata Kinan.


"Pacar Dika?" tanya Pak Surya kembali memastikan sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan saking gugupnya.


"Bukan Pak. Cuma teman," jawab Kinan jujur sambil menerima uluran tangan Pak Surya dan mengecup punggung tangan itu.


Pak Surya pun menoleh ke arah Atika. Jawaban Kinan kenapa berbeda dengan pernyataan Atika tadi.


"Calon pacar Mas," ucap Atika meluruskan.


"Ohh ... Dika mana?" tanya Pak Surya sambil mencari - cari keberadaan Dika.


"Lagi pesan makanan," jawab Atika pelan.

__ADS_1


"Om ... Tante, Kinan mau ke kamar kecil dulu. Permisi," ucap Kinan pelan. Kinan bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar kecil yang tertulis jelas arahnya di dinding. Hatinya benar - benar gugup. Debaran jantungnya tak kuasa di bendung. Napas Kinan pun agak sesak. Tak bisa di bayangkan apa yang Kinan saat ini benar - benar Pak Surya, Ayah Bagas.


Kinan masuk ke dalam kamar kecil dan langkahnya tehenti di depan wastafel untuk mencuci wajahnya yang terasa panas.


'Apa mungkin, Pak Surya memiliki dua istri? Itu tandanya, Pak Bagas dan Dika? Argh ....' teriak Kinan di dalam hatinya. Benar -benar gak beres kalau begini. Kedanya sama - sama mengenalkan pada Mamanya. Tapi, Pak Bagas adalah teman kecilku? Seketika, ingatan Kinan kembali di masa kecilnya. Ingat betul, Bagas kecil yang selalu berjalan membuntuti Kinan dengan alasan menjaga gadis kecil itu agar tidak terjatuh. Pernah suatu hari terjatuh, dan Kinan menangis. Bagas kecil langsung menolongnya dan menggendong Kinan pulang sampai ke rumah.


Kinan keluar kembali dari kamar kecil. Ia tidak sedang ingin buang air kecil. Pamitnya untu ke kamar kecil hanya ingin pergi dari hadapan Pak Surya saja.


"Kinan?" panggil Dika yang sudah menunggunya di depan dinding pembatas kamar kecil itu.


"Di - dika," jawab Kinan sontak kaget mendengar namanya di panggil tiba - tiba.


"Kenapa? Kamu kaget? Kamu tahu rahasia besar ini?" tanya Dika kemudian.


Dika tahu, Kinan sedang mencari alasan untuk tidak berhadapan langsung dengan Pak Surya. Jelas Kinan akan banyak bertanya. Bukankah Bagas ankanya Pak Surya dan Dika juga anaknya? Lalu? Itu tandanya? Konyol, tapi sering terjadi bukan dalam kehidupan nyata. Bahkan ada hal dan masalah yang lebih ekstrim dari ini. Rahasia ini masih wajar. Toh, tidak ada yang salah jika seorang laki - laki memiliki dua istri. Asal mereka bisa bersikap adil, semua itu SAH baik di mata agama dan di mata hukum.


"Ma - maaf, maksud kamu apa, Dika?" tanya Kinan pelan.


"Tentang Pak Surya?" tanya Kinan memastikan bahwa yang sedang di bahas adalah Pak Surya.


"Dia, Ayah kandungku. Tapi, aku tak pernah bisa mengakui itu. Selama ini yang aku tahu hanya Mama. Berpuluh - puluh tahun Dia gak pernah ada buat aku dan Mama. Kini, muncul begitu saja dan mengakui bahwa Mama adalah istri sirinya dan aku adalah anak kandungnya. Tentu kamu bisa merasakan giman aperasaan aku?" ucap Dika semakin ketus. Suasana hatinya terbawa dalam nada icaranya hingga Kinan bisa merasakan kekecewaan Dika yang amat dalam.


"Kamu harus bisa menerima dengan lapang hati, Dika," ucap Kinan menasehati. Setidaknya tetap menghargai dan menghormati.


"Gampang kalau cuma kasih saran, Kinan," ucap Dika sengit. Jelasterlihat, wajah Dika mulai memerah karena kesal. Mungkin berawal dari kecewa hingga kebencian itu terlanjur tertorehkan.


Kinan memutar kedua bola matanya. Pandangannya menyapu bersih ke seluruh ruangan.


"Kita ke kebun strawberry sekarang aja?" pinta Kinan tiba - tiba. Padahal perutnya sudah lapar, ingin seklai makan siang. Aroma wangi dari restaurant ini membuat perut Kinan terasa perih. Tapi, menjaga perasaan Dika lebih penting. Mungkin saat ini Dika sedang butuh Kinan untuk menjadi teman bercerita, dan melupakan rasa kesalnya sejenak. Walaupun semua masalah itu harus di selesaikan bukan untuk di tinggalkan dan lari begitu saja.

__ADS_1


"Ke kebun strawberry? Sekarang?" tanya Dika memastikan.


Kinan menagngguk kecil dan tersenyum lebar.


"Gak mau?" tanya Kinan pelan.


"Mau," jawab Dika dnegan cepat.


Dengan gerak cepat, Knan pun menarik tangan Dikadan berjalan menuju ke arah belakang restaurant untuk menikmati pemandangan kebun strawberry.


"Kita bisa metik buah strawberry?" tanya Kinan yang benar - benar terpukau dengan keindahan kebun itu. Buah strawberrynya besar - besar dan berwarna merah pekat. Sepertinya rasanya manis.


"Kamu mau berjaln - jalan sambil memetik buah strawberry?" tanya Dika pelan.


"Mau banget. Kinan belum pernah memetik buah stawberry," jawab Kina jujur.


"Tunggu sebentar. Aku akan mengambil keranjang untuk buah strawberry yang kamu petik,' ucap Dika tersenyum.


Hatinya kembali tenang dan bahagia. Kinna mamapu mencairkan suasana ini. Bahagianya Kinan begitu sederhana sekali. Kadang melihat senyum Kinan saja, bisa mengobati luka hati yang sedang di rasakn Dika saat ini. Gadis cantik, ayu, manis dan anggun. Lelaki mana yang tak terpesona kepadamu, Kinan. Aku yang baru mengenalmu saja langsung jatuh hati.


Kinan mengedarkan pandangannya ke seluruh kebun strawberry itu. Lalu menarik udara segar dan sejuk itu dalam - dalam hingg seluruh rongga parunya terasa penuh oksigen. Perlahan napas itu di buang. Lega sekali rasanya.


"Kinan?" panggil Dika.


"Ya. Ini keranjangnya? Besar sekali?" tanya Kinan melihat keranjang yang cukup besar seperti keranjang belanja yang akan di pakai untuk berbelanja di supermarket.


"Aku ingin bersamamu seharian ini. Apapun itu akan aku lakukan demi kamu, Kinan," ucap Dika pelan.


Dika menatap lekat kedua mata Kinan hingga membuat Kinan menjadi slah tingkah.

__ADS_1


"Kita mulai dari sekarang ambil buah strawberrynya?" ucap Kinan lembut. Kinan mulai berlari kecil dan mendekai pohon - pohon strawberry yang sudah ada buahnya. Satu per satu buah merah itu di petik. Ada kepuasan batin sendiri setiap memetik buah strawberry.


"Dika. Gini, ada pepatah, kita harus berpikir posistif. Coba, kalau kamu kesal dengan seseorang, petik buah strawberry ini, anggap buah ini orang yang membuat kamu kesal, lalu masukkan ke dalam keranjang dan bilang, satu kesalahanmu aku maafkan, begeitu seterusnya hingga seua kesalahan orang itu tidak ada, maka hatimu akan lega," ucap Kinan pelan.


__ADS_2