Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
48


__ADS_3

Rehan mengendap-endap di sebuah kamar yang ia yakini bahwa itu adalah kamar Arka, saat itu Arka tidak menyadari bahwa ayahnya sedang mencari keberadaan dirinya, tak lama kemudian akhirnya Rehan pun berhasil masuk ke kamar Arka tanpa diketahui oleh siapapun, Arka sangat terkejut ketika melihat ada seorang pria asing datang membuka pintu kamar lalu menguncinya dari dalam.


Rehan melempar senyum bahagia, Arka sendiri sama sekali tidak mengenali Rehan saat itu, karena Rehan menggunakan penutup wajah dan penyamarannya pun terlihat begitu sangat sempurna.


"S-siapa kamu?" tanya Arka dengan tatapan ketakutan.


Rehan tak langsung menjawab, ia terus mendekati Arka dan membelai Arka dengan lemah lembut, dan tangan halus itu disadari oleh Arka yang sudah mulai mengenalinya, dan setelah itu Rehan pun membuka kain penutup wajahnya lalu tersenyum pada Arka.


"Arka, ini Ayah," ucap Rehan melempar senyum.


"Ayah...." Arka dengan cepat merangkul leher Rehan, dan dibalas oleh Rehan dengan erat.


Rehan pun memanfaatkan kepolosan Arka dengan membujuknya untuk membawanya pergi, saat itu Arka sempat ragu ketika Rehan ingin membawanya pergi, namun Rehan terus saja berusaha meyakinkan diri bahwa ia akan menjamin kebahagiaan untuk Arka.


Tak lama kemudian Arka pun akhirnya menganggukkan kepala dan setuju dibawa pergi oleh Rehan, dengan senyum lebar Rehan kembali memakai kain penutup di wajahnya lalu membawa Arka pergi dari kamar itu.


Sementara Dinda sendiri tidak tahu bahwa putranya sudah tidak ada lagi di dalam kamarnya. Ia fokus dengan penampilannya yang sudah cukup sempurna itu, lalu menatap serius ke sebuah cermin yang ada di hadapannya, kebahagiaan yang di wajah Dinda kian terlihat kala bi Iyas datang menghampiri dirinya.


Saat itu bi Iyas memberikan semangat dan selamat pada Dinda, karena pada akhirnya ia akan menjadi seorang pengantin.


"Selamat ya Non, akhirnya Non menikah juga dengan pria baik seperti den Pandu, aku yakin Non akan sangat bahagia bersama den Arka, dan den Arka sendiri pasti akan merasa sangat senang karena memiliki ayah sebaik den Pandu," ucap bi Iyas melempar senyum.


"Terima kasih banyak Bi, ini sangat membahagiakan untuk ku. Aku beruntung karena telah dicintai oleh mas Pandu dan akhirnya bisa menikah dengannya," seru Dinda tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ya ampun, manis sekali Non. Semoga lancar sampai selesai, kalau begitu aku pamit dulu ya Non, mau mengajak den Arka turun ke bawah." Pamit bi Iyas.


Dinda mengangguk pelan dan membiarkan bi Iyas pergi, ia kembali tersenyum menatap ke cermin. Ia sudah siap melepas statusnya sebagai seorang janda, dan ia sudah benar-benar siap menikah dengan Pandu saat itu.


Sementara Pandu sendiri sudah tiba di kediaman Dinda, saat itu ia bersama dengan para sahabat dekatnya, Pandu seorang yatim piatu, namun ia memiliki banyak sekali teman baik yang mengiringinya pergi membawa Pandu ke rumah pengantin wanita.


Dengan gagah dan begitu berani, Pandu pun melangkah masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan di sana. Beberapa orang terdekat pun sudah mempersilahkan Pandu duduk bersama yang lainnya, sementara Dinda pun dipanggil untuk segera melakukan ijab qobul.


"Aaaaa... Pengantin wanita ini sangat cantik sekali, pengantin pria sudah menunggu mu di bawah, ayolah kita turun dan lakukan ijab qobul nya," ucap Wulan yang langsung masuk ke kamar Dinda dan menyapanya.


"Sudah datang? Kalau begitu ayo kita turun, aku sudah siap," seru Dinda dengan semangat.


"Ya ampun, kau manis sekali Dinda. Kalau begitu ayo kita turun." jawab Dinda melempar senyum.


Saat itu Dinda tidak melihat bi Iyas dan Arka di bawah, padahal bi Iyas sebelumnya sudah pamit padanya akan duduk menunggu di bawah, namun kini pandangan Dinda pun mengelilingi ruangan mencari keberadaan mereka berdua.


"Hei, kenapa, apa yang kamu cari?" tanya Wulan menyadari.


"Di mana Arka dan bi Iyas? Aku sama sekali tidak melihatnya," bisik Dinda cemas.


"Ya ampun, sebentar lagi pasti mereka berdua akan turun, kamu jangan cemas. Sekarang fokus dengan ijab qobul mu," seru Wulan yang berusaha meyakinkan Dinda.


"Tapi tolong Wulan, cari Arka untukku, aku ingin dia menjadi saksi pernikahan ku." pinta Dinda mulai cemas.

__ADS_1


Wulan pun mengangguk kan kepala, ia tahu bahwa Dinda saat ini sangat mencemaskan Arka. Ia pun segera bangkit mencari Arka dan bi Iyas, sementara ijab qobul yang akan segera dimulai itu pun akhirnya terjadi tanpa adanya Arka.


Sementara Wulan masuk ke kamar Arka, dan menemukan bi Iyas yang terlihat sangat panik. Wulan pun segera menghampiri bi Iyas dan mempertanyakan keberadaan Arka padanya.


"Bi, ada apa? Di mana Arka? Dinda sudah menunggu mu dan Arka di bawah, kau bilang kalau kau akan duduk di bawah bersama dengan Arka, lalu di mana sekarang Arka?" tanya Wulan yang saat itu membulatkan tatapannya pada bi Iyas.


"Non, a-aku sendiri tidak tahu di mana den Arka," ucap bi Iyas dengan suara gemetar.


"Apa maksud mu Bi!" Wulan terkejut dan semakin membulatkan tatapannya.


"Tadi saat aku berada di kamar Non Dinda, dia sedang duduk di meja rias ini. Aku sudah memakaikan dia pakaian yang disiapkan oleh non Dinda, dia memakai peci dan koko yang dibelikan non Dinda, tapi saat aku kembali, aku tidak melihat keberadaan den Arka di sini." jawab bi Iyas dengan suara takutnya.


Wulan pun terbelalak mendengar penjelasan dari bi Iyas, dengan cepat ia mengobrak-abrik kamar Arka untuk menemukan keberadaannya. Namun Wulan dan bi Iyas benar-benar tidak mendapatkan Arka di sana, hingga Wulan pun menemukan sebuah keganjalan ketika ia menyadari pintu jendela kamar Arka terbuka, dan di sana terdapat sebuah tali yang begitu panjang menjuntai sampai ke lantai dasar.


Wulan pun segera memanggil bi Iyas dan memperlihatkan apa yang baru saja ia lihat, dan ketika bi Iyas mengetahui nya, ia pun tersadar bahwa ada seseorang yang telah menculik Arka darinya.


"Astaga, siapa yang telah menculik den Arka, bagaimana ini bisa terjadi, apa yang harus aku katakan pada Non Dinda," ucap bi Iyas yang begitu terlihat sangat panik.


"Mau tidak mau Dinda harus mendengar kabar berita ini, dan dia harus tahu kalau putranya tidak bersama mu lagi, Bi." Wulan dengan tegas menatap bi Iyas dan memintanya untuk menjelaskan pada Dinda.


Tidak menunggu waktu lama, bi Iyas dan Wulan pun turun ke lantai dasar, ijab qobul yang sudah selesai beberapa menit yang lalu itu membuat hati Dinda merasa tidak begitu lega, karena ternyata Wulan dan bi Iyas kembali namun tanpa membawa putranya.


"Di mana Arka, kenapa kalian datang ke sini tanpanya?" tanya Dinda dengan tatapan seriusnya.

__ADS_1


Wulan pun tidak sanggup mengungkapkan secara langsung, karena para tamu undangan yang datang sedang menikmati makanan yang sudah disajikan, Wulan pun membisikan kabar buruk itu ke telinga Dinda, dan Pandu.


__ADS_2