
"Lalu apa yang harus kita lakukan Dinda? Sepertinya Rehan memang ingin sekali dekat dengan Arka, putramu," ucap Pandu yang saat itu tidak tahu harus melakukan apa, karena ia tidak mau jika sampai ia melewati batasnya sebagai seorang pria, dan bukan seorang ayah dari Arka sendiri.
"Nggak Mas, aku nggak mau kalau mas Rehan sampai memiliki kesempatan untuk bisa dekat dan bersama dengan Arka, aku ingat sekali bagaimana dia telah memperlakukan aku dan Arka, dia sama sekali tidak menyukai Arka sejak dia berada dalam kandunganku, jadi sangat mustahil kalau tiba-tiba mas Rehan menyayangi Arka sekarang," ucap Dinda yang ragu dengan perlakukan Rehan padanya.
"Apa kamu tidak mau memberikan kesempatan Rehan dulu untuk dekat dengan Arka, Dinda?" tanya Pandu.
"Tidak Mas, aku tidak mau memberikan kesempatan apapun padanya, apalagi untuk dekat dengan Arka, aku nggak mau." jawab Dinda menolak keras.
Pandu terdiam, ia tidak mungkin memaksa Dinda jika Dinda sendiri menolaknya, ia tidak mau jika sampai usulannya justru akan membuat Dinda terluka.
Beberapa hari kemudian, Rehan kembali mendatangi sekolahan Arka, Arka mulai merasa nyaman dengan Rehan karena sering nya bertemu dan berkomunikasi, saat itu Dinda datang hendak menjemput Arka, ia melihat langsung betapa bahagianya Arka saat itu bersama dengan ayah kandungnya. Dinda terhenti dengan jarak beberapa meter dari tempat di mana Rehan dan Arka berada saat ini, entah mengapa Dinda merasa hatinya sangat sakit saat itu, karena melihat kebersamaan antara Rehan dan Arka. Tak menunggu waktu lama, Dinda pun dengan cepat menghampiri Arka dan menghentikan tawa mereka.
"Arka, ayo kita pulang," ajak Dinda yang langsung menarik pergelangan tangan Arka.
"Dinda, aku mohon tolong, aku masih ingin bicara sama Arka," ucap Rehan menahan tangan Arka yang lainnya.
"Mas, aku yang minta tolong sama kamu, tolong biarin aku membawa Arka, aku ingin mengajaknya pulang, jadi jangan halangi aku," tegas Dinda meminta pada Rehan.
"Ya, aku mengerti, tapi aku masih ingin bersama dengan Arka." jawab Rehan membalas tatapan Dinda.
__ADS_1
Saat itu terjadi adu mulut antara Dinda dan juga Rehan, Dinda yang tidak mau bicara dengan Rehan justru tertahan lantaran Rehan menghalangi dirinya yang ingin membawa Arka. Arka sendiri terlihat bingung saat itu, melihat kedua orang tuanya sedang beradu mulut di hadapannya, memperebutkan dirinya yang saat ini ada di tengah-tengah mereka.
"Mas, tolong serahkan Arka padaku, aku mohon tolong jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang lebih dari ini," marah Dinda yang menggenggam erat tangan Arka.
"Dinda, kamu harus ingat satu hal, kalau aku juga berhak atas Arka, aku berhak atas kebahagiaan Arka," sergah Rehan yang juga memaksa Dinda untuk menyerahkan Arka padanya.
"Ayah.... Ma... Jangan seperti ini," lirih Arka menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
Rehan dan Dinda pun membalas tatapan Arka saat itu, anak kecil itu seolah sedang merasa sangat bingung lantaran sikap kedua orang tuanya yang menjadikan dirinya sebagai rebutan.
Saat itu Dinda duduk sejajar dengan Arka, lalu ia dengan berat hati memberikan sebuah pilihan pada Arka, untuk memilih ikut bersama dengannya atau bersama dengan Rehan, pilihan itu benar-benar berat bagi Arka saat itu, namun Arka harus memberikan jawaban yang jelas pada Dinda yang menunggunya.
"Arka, lebih baik sekarang Arka pulang sama Mama, ya," ucap Rehan yang berusaha membujuk Arka.
"Tapi bagaimana dengan Ayah?" tanya Arka membalas tatapan Rehan kala itu.
"Turuti saja keinginan Mama, selama ini kamu tinggal bersama Mama, jadi Ayah minta kamu turuti saja permintaan Mama Dinda, ya." jelas Rehan melempar senyum, ia masih berusaha terus membujuk Arka sampai ia bersedia.
Arka tak menjawab, ia membiarkan ketika Rehan melepaskan tangannya dan Dinda pun dengan leluasa membawanya pergi. Setelah tiba di rumah Dinda dengan tegas memberitahukan pada Arka bahwa ia tidak boleh bertemu lagi dengan Rehan, karena papa Arka yang sebenarnya adalah Pandu, dan Dinda ingin Arka kembali seperti dulu, yang menyayangi Pandu sebagai papanya, bukan orang lain.
__ADS_1
Arka hanya diam saja, dan saat Dinda pergi meninggalkannya Arka pun mendekati bi Iyas dan meminta dipeluk oleh nya, saat itu bi Iyas tidak menolak ketika Arka meminta untuk diperhatikan, sejak kecil Arka sudah bersama dengannya jadi sangat wajar sekali jika Arka begitu manja saat bersamanya.
"Den, kenapa Aden terlihat sangat sedih, ada apa?" tanya bi Iyas penasaran.
"Bi, kenapa aku harus memiliki dua papa, dan kenapa Mama melarang ku untuk bertemu dengan ayah Rehan, ayah Rehan memberitahu ku katanya aku akan dibawa ke rumahnya, tapi kenapa Mama melarangnya," ucap Arka lirih, ia menceritakan semuanya pada bi Iyas.
"Aden, Aden memang memiliki dua orang papa, tapi papa Pandu lah papa yang dengan tulus menyayangi Aden, Bibi bukan tidak membela ayah Rehan, tapi selama ini ayah Rehan tidak pernah ada dan tidak pernah menjenguk Aden juga Mama saat kalian sedang sudah, jadi sangat wajar sekali jika Mama tidak menyukai ayah Rehan." jawab bi Iyas yang kala itu terlihat bingung sebenarnya, harus menjelaskan bagaimana.
Arka terdiam, ia berpikir bahwa bi Iyas sama dengan mamanya, bi Iyas sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi ayah Rehan untuk menunjukkan bahwa ia mencintai Arka. Dan saat itu Arka hanya bisa diam dan memendam saja, karena berbicara pun ia tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan hatinya.
Sementara di tempat lain, Rehan sedang mencari cara untuk merebut Arka dari tangan Dinda dan Rehan. Rasa sayangnya yang berlebihan itu justeru membuat Rehan berpikir buruk untuk memisahkan Dinda dengan Arka, ia akan merebut Arka paksa dari tangan Dinda saat itu.
"Sebelum pernikahan mereka benar-benar terjadi, aku harus bisa membawa Arka pergi jauh dari hidup mereka, agar aku bisa tinggal bersama dengan Arka." ungkap Rehan yang kala itu sedang menggenggam erat kedua tangannya.
***
Sebuah pernikahan sedang diselenggarakan, Rehan yang tidak termasuk sebagai tamu di pernikahan kedua Dinda itu datang dengan menyambar sebagai orang lain. Rehan menggunakan kacamata hitam, masker, dan juga topi, ia berusaha untuk menutupi dirinya sampai tidak ada satu orang pun yang menyadari.
Di hari yang berbahagia itu, Rehan justru sedang mencari cara untuk membawa Arka pergi jauh dari kehidupan Dinda dan juga Pandu. Saat itu semua orang sedang di sibukkan dengan semua acara, termasuk juga dengan Dinda yang sedang menerima riasan dari WO yang ia undang untuk menjadikan penampilan nya sempurna.
__ADS_1
Di kamar lain, Arka sedang duduk seorang diri, ia menatapi langi-langit kamarnya. Sejak pagi bi Iyas sudah menyiapkan baju terbaik untuk Arka, baju yang sudah disiapkan oleh Dinda untuk dipakai di hari pernikahan nya dengan Pandu.