
Bagas hanya mengangguk pasrah. Niat baiknya kembali tertunda.
"Batal Pak? Tadi Kinan cuma asal ngomong. Jadi beneran batal, Pak? Saya ikut berduka ya, Pak?" ucap Kinan lembut. Wajah Kinan ikut sedikit melemah dan sedih.
Kedua mata Bagas melotot tajam ke arah Kinan.
"Apa kamu bilang berduka? Memangnya ada yang meninggal? Memangnya perempuan yang saya cintai itu meninggal, kan masih hidup. Saya cuma batal melamar, Kinan," ucap BAgas dengan nada tinggi dan kesal.
"Ya ... Maaf Pak. Maksud saya bukan berduka seperti itu. Ini berduka karena memang lamaran Bapak sia - sia. Tapi, Bapak jangan putus asa. Bapak kalau cinta ya haru kejar dia, biar semua tidak ada yang sia - sia," ucap Kinan menyemangati.
"Gitu ya? Tapi, Ayahnya sudah marah besar," ucap Bagas lirih. Mengingat perlakuan Ayah dan kedua kakak Ajeng yang tega mengusirnya.
Kinan hanya tersenyum.
"Bapak harus berusaha keras. Yakinkan gadis yang Bapak cintai itu. Dekati dia, lalu yakinkan ke orang tua dan keluarganya kembali. Kalau jodoh juga agak akan keman," ucap Kinan penuh semangat.
Begitulah sikap Kinan, yang selalu semangat dan ceria membuta Bagas pun kagum dengan sekertaris barunya ini. Unik.
Malam ini, Bagas seperti memiliki teman baru. Walaupun sedikit unik, Kinan bisa di ajak berdebat dan bependapat. Gaya bicaranya sangat berpendidikan, terlihat anggun dan mempesona. Di tambah lagi Kinan memang sangat cantik dan ayu, tutur katnya begitu sopan, lemah lembut dan ramah.
"Enak Kinan? Jangan nambah nanti gendut," ucap Bagas sambil tertawa keras.
Wajah Kinan lagsung merengut menjadi sangat jelek dan langsung nampak tak bersemangat.
"Memang Kinan gendut Pak?" tanya Kinan sambil melihat tangan dan tubuhnya yang terbalut pakaian kemeja.
Bagas hanya mengangguk dan mengunyah makanannya di dalam mulut.
__ADS_1
Kinan langsung menutup sendok dan garpunya dan tidak melanjutkan makan malamnya. Padahal Kinan baru saja menikmati makanannya dua suap.
"Kenapa? Sudah selesai makannya?" tanya Bagas yang terlihat bingung.
Kinan mengangguk sedih.
"Iya Pak," jawab Kinan singkat.
"Lha ... tadi katanya laper? Lagi pula baru juga makan dua suap? Saya hitung lho? Baru dua suap kan?" tanya Bagas kemudian menyelidik.
Lagi - lagi Kinan hanya mengangguk pasrah. Wajahnya terlihat muram dan sedih.
"Iya Pak," jawab Kinan hanya begitu singkat.
"Kamu kenapa Kinan?" tanya Bagas yang ikut bingung.
Sontak jawaban Kinan yang jujur dan polos membuat Bagas tertawa terbahak - bahak hingga mengeluarkan air mata di sudut matanya.
"Kamu percaya gitu saja dengan ucapan saya, Kinan?" tanya Bagas kepada Kinan dan tertawa kembali. Bagas tak habis pikir dengan kepolosan Kinan.
Kinan langsung melotot setelan mendengar penuturan Bagas.
"Maksud Bapak apa? Mau menjahili Kinan? Bercanda? Atau apa?" ucap Kinan tegas dengan mode galaknya.
Kinan itu perempuan lembut yang pintar berman karate. Jadi jangan main - main dengan Kinan bisa - bisa kena bogem.
"Eits ... Tunggu dulu Kinan. Kamu jangan marah dulu. Seharusnya kamu lebih berhati - hati dalam bertindak dan jangan gegabah. Paham? Tidak semua yang di ucapkan orang itu adalah benar, ada yang hanya memujimu, atau ada juga yang ingin langsung menjatuhkanmu," ucap Bagas dengan suara tegas mngingatkan.
__ADS_1
Bagas harus bisa mendidik sekertarisnya ini secara menatl dan pribadinya. Kini, Kinan hidup di kota besar, kota Jakarta, kota metropolita dengan segudang keanehan dan keunikan. Harus ada batasan dan alarm pengingat untuk mengontrol diri agar tidak terbawa arus. Tidak smeua orag itu baik di depan. Karena ketulusan itu tidak tertutupi dengan kemodusan.
"Kinan tidak suka bercanda Pak," ucap Kinan dengan suara keras. Ia benar - benar kesal dan merasa seperti sedang di permainkan.
"Bukan begitu Kinan. Saya hanya ingin mengajari kamu untuk tetap kuat, bila ada seseorang yang berusaha menjatuhkan kamu. Posisi kamu itu sekarang adalah sekertaris saya. Akan banyak karyawan yang mendekatimu demi melancarkan aksinya. Tidak semua karyawan saya itu baik dan jujur. Kamu paham kan maksud saya. But the way, Kamu cantik, dan satu hal lagi, kamu gak gendut, malah kurang berisi jadi kurang seksi," ucap Bagas pelan sambil sedikit mendesah dan mengedipkan satu matanya kepada Kinan.
Entah kenapa Bagas menjadi berubah total bersama Kinan, yang baru di kenalnya sehari ini. Bahkan ia sudah melupakan kesedihannya tentang pembatalan lamaran yang baru saja membuat dunianya seakan runtuh. Setelah bertemu Kinan, seolah semua berubah. Senyum Kinan seolah membuat Bagas semakin merasa aman dan nyaman. Tatapan kedua matanya pun sangat teduh hingga membuat hatinya begitu tenang.
Kinan mencoba memahami setiap kata yang terucap dari bibir Bagas. Ada benarnya juga. Kinna harus lebih behati - hati dan tidak mudah termakan dengan ucapan seseorang.
"Pak ... sakit mata?" tanya Kinan yang begitu polos saat melihat Bagas berkedip seperti itu. Jiwa kebucinan Bagas seolah muncul begitu saja untuk mengganggu Kinan.
"Hemm ...." jawab Bagas kesal sambil menusukkan garpunya ke arah udang.
"Kok cuma hemm sih Pak?" tanya Kinan pelan. Kinan hanya menarik napas panjang dan dalam. sampai saat ini Kinan merasa Bagas itu aneh. Kadang galak, kadang baik, kadang perhatian, kadang ngeselin dan bercanda yang kelewatan. Ini baru sehari menjadi sekertaris Bagas. Bagaimana satu minggu? Satu bulan? Satu tahun? Kinan bisa - bisa tidak betah bekerja di tempat ini. Ia merasa kurang di hargai.
"Makan dan habiskan. Kalau gak habis kamu yang bayar," titah Bagas yang berpura - pura kejam.
"Apa? Di habiskan? Kinan gak punya uanag Pak. Kalau potong gaji saja bulan depan bagaimana?" tanya Kinan dengan suara pelan dan bingung. Melihat makanan yang begitu banyak membuat perutnya sudah terasa kenyang duluan.
"Potong gaji? Memang kamu sudah tahu gaji kamu berapa? Bagian HRD sudah kasih tahu belum? Gaji kamu berapa? Dan akan kamu terima tanggal berapa?" tanya Bagas pelan sambil memicingkan kedua matanya ke arah Kinan.
Kinan hanya menjawab dengan gelengan kepala. Tadi selesai wawancara, dan di nyatakan di terima langsung. Kinan begitu terharu dan tersenyum lebar hingga tidak menanyakan apa - apa, termasuk gaji yang akan di dapatnya.
"Kamu gak tahu? Terus kalau gak di gaji gimana? Kamu mau kerja tanpa di gaji," tanya Bagas lagi. Wajah Bagas terlihat serius hingga membuat Kinan menjadi cemas.
"Masa iya gak di gaji? Kinan kan kerja Pak?" tanya Kinan lirih.
__ADS_1