
Dugaan Bagas ternyata tepat dan benar. Saat melihat kamar apartemen yang di sewakan, Kinan lagsung takjub dan kagum. Senyumnya begitu manis dan lebar.
Bagaimana tidak, harga sewa kamar apartemen itu begitu sangat murah setiap bulannya. Di tambah semua fasilitas hak pakai yang ada di kamar apartemen itu begitu sangat lengkap. Kinan hanya menggunakan dengan baik. Setiap pagi pun akan ada room boy yang bertugas untuk membersihkan kamar Kinan selama Kinan bekerja.
"Ini bagus banget," ucap polos Kinan dengan rasa bahagia. Kamar apartemennya benar - benar bagus dan membuatnya nyaman.
"Suka kan?" tanya Bagas yang ikut berkeliling di sekitar kamar apartemen itu.
"Suka banget. Terima kasih Pak atas rekomendasinya," ucap Kinan den tulus.
Ponsel Kinan berbunyi di dalam tas yang sejak tadi di letakkan di sofa mewah ruang tengah.
Kinan pun berjalan menghampiri tasnya untuk mengambil ponselnya.
"Dika ...." ucap Kinan lirih saat menatap ke arah layar ponsel yang terus menyala menampilkan nama Dika di sana.
Bagas berpura - pura tidak dengar suara lirih Kinan dan berjalan menjauhi Kinan. Tapi tetap, telinganya di pasang agar bisa mendengar ucapan Kinan sedang berbicara dengan Dika.
Kinan mengedarkan pandangannya mncari keberadaan Bagas yang sudah agak menjauh dari dirinya. Walaupun tidak ada hubungan apa - apa dengan Bagas. Kinan suka tidak enak setelah kejadian tadi siang. Setidaknya Kinan bisa menjaga silaturahmi dengan baik
"Hallo. Dika? Kenapa?" suara Kinan nampak terdengar pelan dan terdengar ragu.
"Kamu dimana? Aku nunggu kamu dari tadi di lobby," ucap Dika berbohong. Dika hanya ingin memastikan Kinan sudah mencari tempat tinggal kost yang baru.
"Kinan lagi cari tempat kost," jawab Kinan dengan jujur.
"Oh ... Ya sudah. Aku pikir, rencana kita tadi pagi jadi. Kakimu sudah sembuh?" tanya Dika pelan.
"Be - belum Dika. Dika ...." panggil Kinan pelan.
"Ya, Kinan?" " jawab Dika sambil fokus menyetir mobilnya menuju bandung ke rumah sang Mama.
__ADS_1
"Maafkan Kinan ya? Bukan bermaksud untuk melalaikan janji. Tapi ...." ucapan Kinan terhenti saat Bagas sengaja memanggil namanya dengan suara keras.
"KINAN?" panggil Bagas dari jarak yang agak jauh. Bagas sengaja ingin mengganggu Kinan yang sedang berbisik brbicara dengan ponselnya. Persis seperti maling yang sedang mengendap - endap.
Kinan menoleh ke arah Bagas yang juga menatap Kinan dengan lekat. Kinna hanya mengangguk pelan.
"Dika ... sudah dulu ya. Nanti Kinan telepon balik, kalau sdah senggang," ucap Kinan yang ingin memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.
Bagas memang atasannya. Tapi rasa hormat Kinan terbawa hingga mereka berdua sedang berada di luar kantor dan berada di luar jam kantor.
"Ya sudah. Ekhemmm Kinan ...." ucap Dika pelan. Rencananya Dika ingin berpamitan kepada Kinan.
"Kenapa?" tanya Kinan yang merasa tidak enak hati.
"KINAN?" teriak Bagas lebih keras lagi. Bagas mulai gemas dan mulai merasa cemburu melihat Kinan yang terlihat santai berbicara dengan Dika. Ya, Bagas sempat melirik nama yang muncul di layar ponsel Kinan tadi. Hati Bagas mulai memanas dan kesal pada dirinya sendiri.
"Ya Pak. Sebentar," jawab Kinan menjawab panggilan Bagas untuk kedua kalinya.
"Maaf Kinan. Lain kali saja , aku telepon kamu. Itu Pak Bagas?" tanya Dika pelan.
tuttut ... tuttut ... Sambungan telepon itu sudah terputus. Kinan sudah mematikan sambungannya lebih dulu. Dika memukul setir mobilnya dengan kesal.
"Argh ... Kenapa bayang wajahmu menggangguku, Kinan?" kesal Dika yang telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta lagi dengan wanita. Sudah cukup pengkhianatan Sofia saat itu membuat Dika semakin tidak percaya dengan sosok perempuan.
Kinan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Lalu berjalan menghampiri Bagas yang berada di ruangan dapur bersih yang malah mirip seperti mini bar yang ada di cafee.
"Ya Pak?" ucap Kinan yang sudah berdiri di belakang Bagas.
Bagas menoleh ke arah Kinan dan menatap ke arah tangan Kinan yang tak membawa apa -apa. Itu tandanya ponsel itu sudah tak di bawa Kinan. Satu senyum manis Bagas sengaja di tahan agar tidak nampak di depan Kinan.
"Lihat? Dapur ini cantik. Lebih cantik lagi kalau sudah ada makanan dan cemilan. Setidaknya ada kopi kesukaan saya? Jadi, kalau saya ikut mampir ke sini, saya tidak perlu memesan secara online kan? Betul gak?" ucap Bagas sambiltersenyum.
__ADS_1
Kinan hanya merasa aneh saja sambil menata lekat wajah Direkturnya itu yang tanpa dosa.
"Maksud Bapak apa ya? Mampir ke sini? Bapak memang mau main kesini?" tanya Kinan dengan suara pelan. Wajahnya terlihat bingung.
Bagas mengagguk pelan dan berlalu begitu saja, meninggalkan sejuta tanya pada diri Kinan yang masih berdiri mematung. Bagas masuk ke dalam kamar utama yang akan di gunakan oleh Kinan sambil membawa dua koper besar untuk di rapikan baju - bajunya ke dalam lemari. Kamar tidur utama itu sudah rapi sekali. Satu jam sebelum keduanya datang, Bagas sudah memesan kamar apartemen itu dan langsung minta di rapikan dengan semua fasilitas lengkap. Biayanya pun sudah di bayar cash langsung oleh Bagas.
Kinan mengikui untuk masuk ke kamar tidurnya.
"Wah ... Bagus banget kamarnya," ucap Kinan yang lolos begitu saja mengagumi semua yang ada di kamar tidur utamanya ini.
"Ini kamarmu, Kinan. Semoga kamu suka dengan warnanya, desainnya dan perlengkapannya?" ucap Bagas yang dengan yakin Kinan pasti suka.
"Suka banget Pak. Kinan gak tahu harus mengungkapkannya gimana. Ekhemmm tapi ada yang janggal deh, Pak?" tanya Kinan tiba - tiba. Kinan jadi merasa bimbang dengan harga yang di ajukan oleh Bagas tadi. seperti tidak masuk akal.
Apa itu?" tanya Bagas yang tidak paham dengan pertanyaan Kinan.
"Yakin Pak? Harga sewa apartemen ini hanya lima ratus ribu rupiah saja per bulan?" tanya Kinan sambil menatap lekat Bagas.
Bagas menganggukkan kepalanya pelan. Sebenarnya Aparteen itu memang milik Bagas sudah sejak lama. Tapi, sudah satu tahu terakhir tidak di tempati, makanya Bagas meminta orang untuk segera membersihkan semua ruangan itu.
"Kenapa kamu jadi gak yakin? Terus, kamu kira saya berbohong?" tanya Bagas ketus.
"Bu - bukan seperti itu Pak, maksud Kinan. Kinan hanya merasa harga sewa apartemen ini tak wajar dengan apa yang kita terima. Fasilitasnya begitu lengkap dan desainnya begitu mewah, tapi harganya hanya lima ratus ribu rupiah saja. Hanya gak masuk akal saja," ucap Kinan pelan. Kinan hanya tidak ingin menyinggung perasaan Bagas.
"Mungkin pemiliknya tak butuh uang. Orang kaya jaman sekarang, yang penting apartemennya laku dan di rawat. Bener gak?" tanya Bagas yang mulai membantu Kinan membuka koper tersebut.
"Sudah Pak, biar Kinan saja yang merapikan pakaiannya. Ada ranjaunya?" ucap Kinan dengan senyum kecut tertahan.
Bagas itu sedikit aneh. Sudah tahu Kinan itu perempuan. Tentu di dalam kopernya akan banyak perkakas milik perempuan yang tidak boleh di lihat atau di sentuh oleh pria.
"Ranjau? Kepiting maksudnya?" tanya Bagas yang berpura - pura bodoh. bagas sengaja terlihat bodoh dan polos.
__ADS_1
"Kalau kepiting itu kan rajungan Pak? Buukan ranjau?" ucap Kinan kesal.
"Lalu, yang kamu bilang ranjau itu apa?" tanya Bagas dengan raut wajah polos.