Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.26


__ADS_3

"Pak Direktur? Anda sehat kan?" tanya Kinan lebih tajam kepada Bagas. Dari tadi panggilannya sama sekali tidak di respon oleh Bagas.


Satu tangan Kinan mencoba menepuk pelan punggung Bagas, hingga lelaki tampan itu benar - benar nampak sangat kaget. Bagas menoleh ke arah Kinan.


"Ada apa?" tanya Bagas pelan yang terlihat kaget.


"Pintu lift sudah terbuka sejak tadi, Pak. Bapak hanya diam dan tidak keluar dari lift ini. Kita sudah berada di lobby. Perut Kinan sudah lapar," cicit Kinan sedikit manja.


Bagas langsung menoleh ke arah depan lift yang sudah banyak karyawan berkerumun ingin bergantian masuk ke dalam lift. Dengan sikap dinginnya Bagas hanya mengeloyor pergi tanpa rasa bersalah. Lalu, Kinan? Ia harus menangungg malu yang luar biasa atas sikap Bosnya itu sambil menundukkan kepalanya dengan dalam.


Kinan masih menunduk dan berjalan tepat di belakang Bagas. Sampai Bagas berhenti di depan kantin kantor mencari tempat yang enak untuk sarapan pagi bersama sang sekertaris baru.


DUG ...


"Haduh ..." lirih Kinan merasa sedikit sakit saa jidatnya itu harus menabrak punggung keras Bagas yang keras seperti tembok beton.


"Kalau jalan lihat - lihat. Makanya jangan nunduk aja,' ketus Bagas dengan sikap dinginnya.


Hanya hembusan napas kasar lolos begitu saja dari indera penciuman Kinan yang menahan rasa kesalnya kepada sang direktur.


Kinan berusaha diam dan tak menambah perdebatan panjang di pagi hari ini.


"Kita duduk di sana, Kinan?" titah Bagas tegas. Ucapan itu lebih kepada perintah dan bukan pertanyaan.


Bagas sekilas menoleh ke arah Kinan yang nampak bingung dan berusaha mengangkat wajahnya dan menatap Bagas lekat.

__ADS_1


"Kinan?" tanya Kinan sambil menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah wajahnya sendiri.


"Ya, kamu dan saya. Kita berdua makan di meja pojok itu berdua. Memang kamu keberatan? Kmau itu sekertaris saya, jadi kamu harus mau menuruti semua perintah saya!!" ucap Bagas tegas. Bagas sengaja bicara seperti itu agar Kinan tidak membantah dan menuruti semua ucapan Bagas tanpa terkecuali. Sikap itu juga di maksudkan agar Bagas bisa selalu berdua dengan Kinan, dan yang terpenting agar Kinan tidak ada yang mengganggu.


Kinan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Rasanya sangat tidak mungkin Kinan sarapan bersama dengan Direkturnya sendiri dan hanya berdua saja. Tentu akan ada prahara besar di dunia perkantoran setelah ini. Kinan duduk satu meja dengan office boy saja.


"Tidak Pak. Kinan hanya mau beli roti sobek dan susu kotak saja, mau di makan di meja kerja. Kinan masih banyak kerjaan, apalagi pagi ini rapat penting, bisa lembur kalau gak selesai? Soalnya Kinan mau pulang cepat sore ini. Maaf Pak, Kinan duluan," ucap Kinan pelan dan nampak sangat berhati hati sekali.


Kinan pun masih menegusap dahinya yang tersa nyeri dan berjalan ke arah etalase kaca yang menjajakan aneka makanan siap saji untuk para karyawan.


Bagas hanya menatap Kinan hingga gadis itu berdiri di depan etalase kaca dan memilih beberapa roti dan di asukkan ke dalam plastik sebelum di hitung oleh kasir.


"Pak Bagas? Mau sarapan juga? Tumben?" sapa Festi dengan senyum yang begitu lebar. Pagi ini suasana hai Festi sedang baik sekali. Niatnya untuk mendekati Bagas, anak dari pemilik perusahaan pun selangkah demi selangkah sepertinya sukses besar. Apalagi menurut Festi, ia sama sekali tidak memiliki saingan apalagi musuh di dalam kantor.


"Festi?" ucap Bagas yang nampak biasa saja saat melihat Festi yang sedikit berbeda. Mulai dari cara berpakaian, cara berdandan dan cara Festi bersikap hingga membuat Bagas geleng - geleng kepala karena merasa aneh dan risih.


"Ekhemmm ... Saya harus kembali ke ruangan. Tadi sudah titip Kinan untuk membelikan saya roti," ucap Bagas sekenanya dan menunjuk ke arah Kinan yang masih sibuk memilih beberapa jajan pasar yang membuatnya ingin memakan semuanya.


Festi menatap ke arah depan yang di tunjuk Bagas. Memang benar di sana ada Kinan yang sedang memilih beberapa makanan. Wajahnya nampak kesal dan kembali menatap Bagas.


"Jadi, Bapak cuma mengantar Kinan? Hanya untuk roti?" tanya Festi yang semakin penasaran. Tak biasanya memang melihat Bagas, sang Direktur sekaligus anak dari pemilik perusahaan mau turun ke kantin hanya untuk membeli makanan murahan seperti itu. Tentu saja kelasnya sudah berbeda.


Bagas mengangguk pelan mengiyakan apa yang di ucapkan Festi. Biarkan orang berpikir sesuai dengan pemikirannya sendiri.


"Betul. Gak salah kan?" tanya Bagas sambil melotot ke arah Festi yang masih berdiri mematung d depannya.

__ADS_1


Festi hanya menggelengkan kepalanya pelan dan tak bisa menjawab apapun. Festi pikir, kejadian tadi malam sudah bisa membuat Bagas memiliki perasaan lebih kepada Festi.


Bukan cuma sekedar di antarkan pulang. Bagas mengajak Festi untuk menemani makan malam. Ini kejadian langka yang patut di abadikan. Jarang sekali melihat Bagas mengajak perempuan hanya untuk makan malam.


Festi sempat baper dengan ajakan Bagas itu. Seolah apa yang di lakukan Bagas adalah suatu bukti bahwa Bagas memiliki perasaan lebih kepada Festi.


"Mbak Festi? Mau beli sarapan?" tanya Kinan pelan dan sangat mengagetkan Festi yang sedang melamun.


"Eh ... Kinan. Iya mau sarapan. Pak Bagas pesan apa? Tumben mau beli makanan dari kantin kantor?" tanya Festi dengan rasa ingin tahu sambil mencolek isi kantong plastik yang Kinan bawa di tangan kanannya.


"Pak Direktur? Gak pesen apa - apa. Bukannya tadi beliau mau sarapan? Tadi sih sempat ngajak sarapan bareng di sana. Tapi, kemana beliau?" tanya Kinna lirih sambil mengedarkan pandngna di seluruh dalam kantin kantor. tak sartu pun orang yang di lihatnya merupakan sosok Bagas.


"Hah? Masa sih? Coba lihat ii kantong plastik kamu?" tanya Festi dengan paksa langsung menaruik isi kantong plastik itu dan membuka untuk melihat isi di dalamnya.


Hanya ada dua roti dan tiga jenis jajan pasar yang biasa ada di tukang sayur yang sering mangkal di ujung jalan. Getuk lindri, klepon dan panada isi tuna pedas. Lalu ada dua kotak susu cokelat berukuran besar.


Kinan agak sedikit kaget dan tersinggung. Ia paling tidak suka apa yang menjadi miliknya terlalu di urusi oleh orang lain apalagi soal makanan.


Plastik itu langsung di rebut kembali oleh Kinan dan di genggam erat pada tangannya.


"Kamu itu kenapa sih, Mbak? Kok gak percaya sama Kinan? Buat apa juga Kinan bohong," ucap Kinan kesal.


Tanpa berpamitan, Kinan pun pergi begitu saja meninggalkan Festi yang ada di depannya. Kinan benar -benar kesal. Wajahnya sangat murung, dan terlipat bagai kertas yang di remas - remas.


Langkah kakinya begitu cepat berjalan menggunakan sepatu hak tinggi dengan tinggi sembilan senti meter.

__ADS_1


"Argh ...." suara lengkingan yang begitu keras lolos begitu saja dari bibir Kinan dan semua orang di lobby itu menatap ke arah Kinan.


Lantai licin itu membuat langkah Kinan terpeleset dan saat akan terjatuh, tubuh Kinan sudah berada dalam tangkapan kedua tangan yang dengan sigap langsung menangkap tubuh mungil itu.


__ADS_2