Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
42


__ADS_3

Ceklek! Wulan membuka pintu rumah Pandu tanpa permisi atau mengetuk dulu, Pandu sudah seperti saudara laki-laki bagi Wulan, tidak ada tirai penghalang baginya untuk keluar masuk rumah Pandu selama ini.


Kedatangan Wulan membuat Pandu sedikit terkejut, saat itu Pandu sedang menikmati secangkir kopi di meja makan, dan melihat kedatangan Wulan yang menatapnya begitu serius membuat Pandu pun terdiam, sampai Wulan tiba di hadapan Pandu dan duduk bersamanya.


"Pandu, aku peringatkan sekali lagi sama kamu ya, jangan pernah macam-macam sama Dinda, atau aku akan menguliti mu sekarang juga," Wulan dengan tatapan serius nya mengarah pada Pandu.


"Ada apa Wulan, kenapa tiba-tiba kamu berbicara seperti ini sama aku, apa kamu pikir aku sudah gila, sampai mau macam-macam. Wulan, aku menunggu waktu yang cukup lama untuk bisa mendapatkan hati Dinda, dan sekarang saat aku sudah mendapatkannya, aku tidak akan membuat satu kesalahan yang akan membuat Dinda pergi dariku, itu tidak akan pernah terjadi," ucap Pandu dengan yakin.


"Kalau begitu, jauhi Intan!" tegas Wulan menatap Pandu.


"Aku sudah berusaha menjauhi Intan Wulan, dan kamu harus tahu kalau yang kemarin itu hanya salah paham saja, aku tidak sengaja bertemu dengan dia dan kamu jangan cemas, aku sama sekali tidak menanggapi keluhan apapun dari Intan. Kalau kamu tidak percaya, gelar lah sebuah pernikahan kecil untukku bersama Dinda, aku akan segera melamar Dinda." jelas Pandu dengan yakin.


Ucapan Pandu yang begitu serius itu membuat Wulan tiba-tiba melempar senyum, betapa senangnya ia saat mendengar bahwa sahabatnya itu akan segera melamar Dinda, tentu saja akan sangat bahagia jika hal hal itu terjadi.


"Kamu beneran kan, Pandu?" tanya Wulan memastikan.


"Untuk apa aku berbohong, aku yakin dengan keputusan yang aku pilih. Aku rasa Rehan juga sedang mengincar Arka dan Dinda, sementara Intan mengincar diriku. Aku tidak mau memberikan kesempatan pada keduanya, karena rumah tangga mereka sedang diambang kehancuran," ucap Pandu yang sudah merasa risih ketika ia tahu bahwa Rehan mendatangi kelas Arka.


"Ya, kamu benar. Kamu harus segera bertindak, dan aku akan membantu mu melancarkan semuanya." jawab Wulan dengan semangat.


Pandu tersenyum dan mengucapkan kata terima kasih, ia sangat senang memiliki sahabat baik seperti Wulan, yang begitu mendukung kebersamaan nya dengan Dinda.


***

__ADS_1


Suatu malam, Pandu mengirimkan sebuah pesan, bahwa ia sudah ada di depan salon. Saat itu Pandu tidak turun dari mobil, karena ia ingin mengajak Dinda pergi ke sebuah tempat yang sudah ia siapkan bersama dengan Wulan sebelum nya.


Dinda buru-buru keluar menemui Pandu, saat itu Arka sudah tertidur dalam dekapan bi Iyas, Dinda berlari kecil menuju pintu utama dan akhirnya melihat mobil hitam milik Pandu.


Saat itu Pandu barulah membuka kaca jendela, saat Dinda sudah ada di hadapan mobilnya, Dinda bingung mengapa kekasihnya itu tidak mau turun dari mobil? Dan penampilan Pandu pun berbeda dari biasanya.


"Mas, kenapa nggak turun? Ayo masuk," ajak Dinda heran.


"Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat, dan aku ingin kamu ikut denganku sekarang juga, ayo," ucap Pandu melempar senyum.


"Tapi ke mana, Mas?" tanya Dinda.


"Ayolah Dinda, nggak jauh kok dari sini." jawab Pandu yang merahasiakan nya.


Mendengar kabar itu tentu saja bi Iyas langsung mengizinkan, ia keluar dari kamar dan berdiri di atas balkon, tepat di atas Dinda dan juga Pandu.


"Kalau mau pergi berkencan, silahkan pergi, serahkan den Arka dan rumah ini padaku," ucap bi Iyas dengan sedikit berteriak.


Dinda dan Pandu menoleh ke atas, dan menyadari keberadaan bi Iyas yang melambaikan tangan pada mereka, Dinda pun tersenyum kala itu, sementara Pandu mengacungkan jempol pada bi Iyas.


"Kamu lihat kan, bi Iyas saja tidak mencemaskan kepergian kamu saat bersamaku," ucap Pandu melempar senyum.


"Ya tapi aku belum siap Mas, masa aku pergi pakai baju rumahan kayak gini, coba kalau tadi kamu kasih tahu dari awal, mungkin aku bisa siap-siap dulu," omel Dinda yang tidak siap saat itu.

__ADS_1


"Tidak perlu siap-siap Dinda, bagiku, kamu cantik luar dalam." jawab Pandu memuji Dinda dengan tulus.


Seketika Dinda menundukkan kepalanya, ia merasa malu saat itu, dan sikap Dinda yang seperti itu tentu saja membuat Pandu merasa sangat gemas.


"Kenapa harus malu Dinda?" goda Pandu.


"Aku adalah janda beranak satu Mas, sudah tidak pantas mendapatkan rayuan atau pujian seperti itu," ucap Dinda masih mempertahankan kepalanya yang ia tundukkan.


"Ini bukan rayuan atau pujian Dinda, ini adalah ungkapan hati seorang pria yang jatuh cinta padamu setiap saat. Ya sudah lah, ayo kita berangkat, nanti keburu malam." ajak Pandu mengalihkan pembicaraan.


Pandu membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Dinda masuk, mobil itu pun akhirnya pergi berlalu dengan pelan ke arah jalan raya. Sementara bi Iyas sendiri nampak melambaikan tangan di atas sana dengan senyum manis menyambut kepergian majikannya.


"Sejak kehadiran tuan Pandu, hidup non Dinda semakin terlihat bahagia saja, ya ampun aku jadi merasa iri, aku harap tuan Pandu akan segera melamar non Dinda, agar tuan Rehan bisa melihat dan menjadi saksi, bahwa non Dinda bisa mendapatkan pria yang jauh lebih layak dari pada dirinya, cih.... Jika dibandingkan dengan tuan Rehan, tuan Pandu jauh lebih sempurna daripada dia, apalagi paras dan sikapnya itu, ya ampun, aku pun merasa sangat luluh." bi Iyas menyentuh dadanya, membayangkan bahwa ia akan mendapatkan pasangan yang sama sempurna nya dengan pasangan majikannya itu.


Saat sebentar lagi tiba, Pandu menghentikan mobilnya, dan saat itu Pandu mengeluarkan sebuah sapu tangan, ia tersenyum saat melipat sapu tangan itu di hadapan Dinda.


"Kenapa Mas, ada apa?" tanya Dinda bingung.


"Karena ini kejutan, aku ingin kamu menutup mata," ucap Pandu melempar senyum.


"Ya ampun, harus kah aku menutup mata Mas, ada apa si sebenarnya?" Dinda terlihat sangat kepo ketika Pandu memperlakukan nya seperti itu.


"Tutup lah matamu dulu, nanti kamu akan mengetahui semuanya." jawab Pandu yang masih tidak mau berbicara.

__ADS_1


Dengan pasrah Dinda pun menerima ketika kedua matanya di tutup dengan sebuah kain, dan saat itu Pandu perlahan menuntun Dinda turun dari mobil, perlahan Dinda di bawa masuk ke sebuah tempat yang sudah dipersiapkan Wulan dan Pandu, tempat yang sederhana, namun cukup romantis untuk sepasang kekasih. Dan setelah tiba Dinda dan Pandu berhenti di sebuah kursi yang saling berhadapan, Pandu pun tersenyum lalu membuka perlahan kain penutup di mata Dinda.


__ADS_2