Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.44


__ADS_3

Suasana kota Bandung yang padat ramai namun berhawa dingin dan sejuk itu pun mulai di rasakan oleh Kinan. Dika mengajak Kinan ke lembang, lebih tepatnya di kebun strawberry.


Pasalnya, Mama Atika, Mama Dika sednag berlibur di sana dnegan Papa Surya. Awalnya Dika keberatan dengan hubungan Mama Atika dan Papa Surya, namun mereka sanggup menjelaskan hubungan mereka dengan baik, dan akhirnya Dika bisa menerima dengan pelan - pelan. Walaupun belum seutuhnya menerima.


Kinan menatap takjub dengan keindahan kota lembang. Jalanan yang terus menanjak dengan keindaham pemandangan di kanan dan kiri jalan.


"Menikmati perjalanannya?" tanya Dika lembut.


Kinan yang sudah terbangun dari tidurnya sejak tadi pun hanya diam dan menikmati perjalanannya dengan alunan lagu yang mendayu.


Anggukan Kinan itu tentu memperjelas isi suasana hatinya saat ini, tanpa harus mendengar suaranya merangkai kata - kata untuk menjawab.


"Sudah lapar?" tanya Dika kembali menunggu jawaban Kinan.


"Iya. Sudah," jawab Kinan jujur. Sekarang sudah pukul dua belas siang. Tadi pagi sarapan nasi gorengnya di tinggal begitu saja karena buru - buru untuk berangkat ke Bandung.


"Sabar ya? Sebentar lagi sampai," ucap Dika pelan.


"Iya," jawab Kinan sedikit canggung.


"Kinan?" Dika mulai mencairkan suasana.


"Ya?" jawab Kinan lembut.


"Kamu sudah punya pacar?" tanya Dika pelan. Sedikit ragu menanyakan hal yang bersifat pribadi ini. Kemarin sewaktu masih bekerja dalam satu kantor, Dika tak sampai hati ingin bertanya maslah ini.


Kinan melirik Dika yang masih mengenakan kaca mata hitam.


"Tumben? Tanya hal beginian?" tanya Kinan pelan.


"Memangnya salah?" tanya Dika kemudian.


"Bukan perkara salah atau tidak salah," ucap Kinan kemudian.


"Jadi? Kamu sudah punya pacar atau belum?" tanya Dika pelan. Dika sengaja melambatkan laju mobilnya agar bisa mendengar jawaban Kinan.

__ADS_1


"Gak punya. kenapa?" tanya Kinan mulai penasaran. Seseorang yang menanyakan statusnya adalah seseorang yang sedang berusaha mendektinya. Begitu kata Dimas, kakak laki - lakinya kalau sedang curhat.


"Kalau aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi? Kamu keberatan Kinan?" tanya Dika to the point.


Dika memang buka tipe lelaki yang pndai berbasa basi. Sikapnya dingin dan tegas. Kalau ingin melakukan sesuatu yan, langsung di lakukan tidak menunggu lama.


"Bukankah kita sudah kenal?" jawab Kinan santai.


"Aku menyukaimu Kinan," ucap Dika.


"Apa? Kinan laper, jadi gak usah becanda, malah makin laper," ucap Kinan berusaha santai dan tidak menanggapi dengan serius.


"Aku serius Kinan. Sama sekali tidak sedang bercanda," ucap Dika pelan.


Kinan hanya membalas dengan senyuman yang ramah dan manis.


"Kinan sedang tidak mau mikir pacar, Dika. Kinan mau kerja, dan berkarir. Itu saja," ucap Kinan berusaha menjelaskan.


Jujur, Kinan belum memikirkan tentang jodoh. Usianya masih sangat muda, lebih baik mengenal dulu dengan baik.


"Kamu ganteng Dika, Pintar, keren, bijak, tapi, Kinan memang sedang tidak ingin memiliki hubungan dengan siapa pun. Ingin fokus kerja dan mencari teman saja," ucap Kinan pelan.


"Oke kalau itu memang alasan kamu. AKu terima, tapi aku akan tetap mendekatimu, Kinan. Aku tidak ingin menyerah untuk mendapatknmu. Boleh kan?" tanya Dika tegas.


Kinan tercengan dengan sikap berani Dika. Tidak mau menyerah saat Kinan sudah memberikan alasan jelasnya.


"Itu hak kamu, Dika. Menyukaiku atau tidak itu pilihanmu. Tapi, sudah Kinan katakan, Kinan masih ingin sendiri dan fokus pada karir Kinan, itu saja," ucap Kinan menegaskan.


Kinna tidak mau jika ada salah paham di antara mereka.


"Baiklah. Aku haragi keputusan kamu," ucap Dika pelan. Ada rasa kecewa di sana.


Perjalanan panjang itu akhirnya terhenti juga di salah satu parkiran kebun strawberry. Di belakang kebun itu terdapat villa berukuran kecil untuk satu keluarga Dika termasuk Kinan. Dika sudah emminta ijin kepada Mam Atika untuk membawa Kinan menginap di villa tersebut. Dika berpikir, cintanya akan di terima ternyata ia salah besar. Menaklukan hati Kinan tak semudah yang di bayangkan.


"Sudah sampai?" tanya Kinan yang memandang takjub tempat itu. Berada di ketinggian dengan kabut dan hawa dingin yang cukup menusuk kulitnya.

__ADS_1


"Sudah. Nanti malam kita menginap di sana?" ucap Dika sambil mentap ke arah villa yang ada di atas sana.


"Nginep? Kinan harus pulang, Dika? Gak baik untuk seorang wanita lajang seperti Kinan yang menginap satu atap dengan lelaki bujang seperti kamu. Ada juga akan timbul fitnah," jelas Kinan.


Sebagai orang jawa yang memegang teguh tata krama dan adat istiadat. Kinan tetap harus menjunjung tinggi harag diri sebagai perempuan dan juga harus bisa menjaga dirinya sendiri. Bebas tapi tetap bertanggung jawab.


"Oke baiklah. Aku akan antarkan kamu kembali ke Jakarta setelah makan malam," ucap Dika yang mengahrgai keputusan Kinna.


Kinna memang wanita baik - baik. Maka itu Dika memilih Kinan untuk menjadi pendampingnya. Tapi, mungkin saat ini dewi asmara belum menumbuhkan rasa itu pada diri Kinan terhadap Dika.


"Makasih ya, Dika," jawab Kinan pelan.


Dika hanya mengangguk pelan dan tersenyum. Ia pun turun dari mobilnya dan bergegas berlari kecil ke samping pintu mobil untuk membukakan pintu mobil itu untuk Kinan.


"Silahkan bidadari tak bersayapnya Dika?" ucap Dika dengan wajah serius.


Seketika membuat Kinan tertaw dengan snagat keras.


"Apa -apaan sih? Suka gitu deh," ucap Kinan pelan sambil tersenyum.


"Lho kan dari awal aku bilang. AKu tidak akan menyerah, walaupun kamu tidak menganggap aku sebagai apapun, Kinan?" ucap Dika yang lembut begitu menusuk hati Kinan. Kinan jadi merasa bersalah dengan kondisi ini.


Tapi, memang kenyataannya begitu. Kinan tidak memiliki rasa apapun dengan Dika. Chemistry pun tidak ada, walaupun Dika pernah mengantarkan Kinan pulang. Menolong Kinan, memijat kaki Kinan saat terkilir dan banyak hal lagi. Pertemuan beberapa hari itu ternyata membuat kagum Dika akan sikap dan gaya Kinan. Bagi Dika, Kinan itu wanita jujur dan unik.


"Jangan membuat Kinan merasa brsalah dengan keadaan ini. Jangan goyahkan cita - cita Kinan, Dika," ucap Kinan mengingatkan.


Senyum indah Dika pun terbit. Dika tahu, perasaan tidak enak ini bisa di jadikan petunjuk yang lama kelamaan berubah menjadi perasaan sayang.


"Kalau merasa bersalah? Terima aku dong, jadi pacar kamu, Kinan?" ucap Dika dengan nada suara memohon.


Kinan meninju lengan Dika dengan pelan sambil tertawa.


"Masih saja nodong," ucap Kinan sambil terkekeh. Kinan pun turun dari mobil Dika dan menunggu Dika menutup pintu mobil dan mengunci mobilnya dengan remote.


"Siapa tahu luluh," ucap Dika tepat di dekat telinga Kinan hingga tubuh Kinan bergetar dan meremang.

__ADS_1


Hari ini, Kinan sedikit salah kostum. Ia memakai celana pendek di atas lutut dengan kemeja yang longgar dan rambut di urai serta sepatu kets berwarna pink. Sempurna.


__ADS_2