Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
40


__ADS_3

Hari demi hari telah berganti, semakin terlihat saja bahwa rumah tangga Rehan dan Intan tidak bisa dipertahankan lagi, lantaran Intan sudah mengetahui bahwa sebagian usaha suaminya itu telah ditutup untuk melunasi hutang-hutang. Intan merasa bahwa hidupnya terancam karena lambat laun istana yang saat ini ia tempati itu juga akan disita.


Intan pergi menemui Rehan yang saat itu berada di ruang kerjanya, sampai saat ini Rehan masih berusaha keras untuk mencari cara agar sebagian usahanya bisa ia selamatkan, meskipun itu sangat lah kecil kemungkinan namun ia tetap ingin berusaha semampunya.


Kedatangan Intan membuat Rehan sedikit terkejut, saat itu Intan terlihat sangat marah ia bahkan berhenti di depan meja Rehan lalu mengebrak meja Rehan dengan sedikit kencang.


"Intan, apa-apaan kamu, kenapa kamu melakukan ini?" tanya Rehan tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Intan.


"Mas, untuk kamu kamu masih duduk di depan komputer seperti ini, semua usaha kamu itu sudah diambang kebangkrutan, harusnya kamu itu keluar dari rumah dan mencari pekerjaan baru, selamatkan rumah ini agar tidak menjadi korban pelunasan hutang-hutang kamu. Atau kalau pergi, kamu telpon saudara kamu itu, minta bantuan sama dia kalau usaha kamu itu sudah bangkrut, untuk apa kamu tetap ada di ruangan ini tanpa usaha apapun," suruh Intan dengan nada tinggi nya.


"Intan, apa kamu pikir aku duduk di sini hanya duduk-duduk saja menghabiskan waktu tanpa guna, ha? Aku kerja Intan, aku gunakan sosial media untuk menjual sisa barang dari toko yang bisa aku jadikan uang, ya walaupun usahaku masih belum mendapatkan hasil, tapi setidak nya aku sedang berusaha," seru Rehan yang masih terus berusaha saat itu.


"Halah, nggak usah bohong kamu Mas, aku nggak sabar ya liat kamu kayak gini, atau kalau nggak kita pisah aja deh, aku nggak nggak bisa membayangkan kalau akan hidup susah sama kamu, Mas." sergah Intan yang tiba-tiba bicara demikian.


Rehan melotot tajam, ia tidak menyangka jika istrinya itu akan berbicara seperti itu di hadapan nya, di saat ia sedang mengalami banyak sekali masalah dalam pekerjaan nya, Intan justru bicara demikian.


"Intan, bicara apa kamu ini!" marah Rehan menatap Intan tajam.


"Mas, aku bicara sesuai dengan isi hatiku, aku nggak bisa hidup miskin Mas, kamu tahu kan kalau aku udah terbiasa hidup dengan kemewahan, dan sekarang kamu renggut semua itu dariku, kamu paksa aku untuk mengerti kamu, tapi kamu sama sekali nggak mau mengerti aku," ucap Intan berbalik marah.


"Tapi tidak seharusnya kamu meminta perpisahan dariku Intan, kita ini suami istri yang seharusnya saling mendukung satu sama lain, tidak seperti ini," protes Rehan.

__ADS_1


"Udah lah Mas, aku capek, aku males debat terus sama kamu." celetuk Intan yang memutuskan untuk pergi meninggalkan Rehan.


Rehan beberapa kali memanggil Intan dan memintanya untuk berhenti, namun Intan sama sekali tidak mendengarkan permintaan Rehan, ia terus saja pergi dan menutup pintu utama. Dengan cepat ia masuk ke mobil lalu mengendarai mobilnya seorang diri.


"Argh, sial! Wanita seperti apa yang telah aku nikahi Tuhan, kenapa dia begitu egois dan keras kepala seperti ini, bahkan dia sama sekali tidak mau tahu bagaimana aku berjuang selama ini." geram Rehan yang mengepalkan kedua tangannya dengan penuh amarah.


Tiinnnn... Tiinnnnn.....


Ciiiiiiitttt


Dua buah mobil hampir saja bertabrakan, tapi beruntungnya mereka bisa sama-sama saling menginjak rem hingga tabrakan pun terhindar kan, saat itu Intan berteriak histeris, kedua matanya terpejam dan jantungnya dengan cepat berdegup kencang, sementara mobil yang ada di hadapannya, pun juga terlihat begitu tegang. Mobil itu adalah milik Pandu, Pandu dengan cepat membuka mobil dan menghampiri mobil yang ada di hadapannya, ia ingin memastikan bahwa mobil yang ada di hadapannya itu tidak apa-apa.


Ketukan pintu menyadarkan Intan, bahwa saat ini tidak terjadi sesuatu yang serius padanya, Intan pun membuka kaca jendela dan menyadari bahwa yang mengetuk pintu mobilnya adalah pria yang begitu menarik hatinya selama ini.


"Intan, astaga... Jadi ini kamu, apa kamu nggak papa?" tanya Pandu panik saat itu.


"Nggak kok, aku nggak papa." jawab Intan.


Intan keluar dari dalam mobil, dan Pandu pun memastikan bahwa Intan tidak terluka, dan setelah memastikan semua nya, Pandu pun merasa sangat tenang karena Intan tidak ada yang perlu di cemaskan saat itu.


Pandu pun mengajak mengajak Intan pun pergi bersamanya, sementara mobil yang dikendarai oleh Intan ia tepikan di pinggir jalan, dengan menggunakan mobil Pandu, Pandu pun membawa Intan ke sebuah kafe, ia memesan makanan dan minuman di sana sambil mengobrol ringan bersama dengan Intan.

__ADS_1


Intan yang masih terlihat syok itu, hanya terdiam sambil mengaduk-aduk minuman yang ada di tangannya, sementara Pandu mengerti apa yang dirasakan oleh Intan saat itu. Pandu dengan pelan menegur Intan, dan Intan pun mendengar suara Pandu yang memanggil dirinya.


"Apa kamu nggak papa?" tanya Pandu memastikan.


"Nggak kok, aku nggak papa. Aku cuma sedikit syok, kayak nggak percaya aja, coba kalau tadi kita hilang kendali, mungkin mobil kita akan saling menabrak," ucap Intan menatap dengan tegang.


"Iya, untung saja tabrakan itu bisa kita hindari. Dan kamu jangan cemaskan semua ini ya, karena antara aku dan kamu, masih baik-baik saja, jadi kamu jangan khawatir," seru Pandu yang mencoba membujuk Intan.


"Iya Mas, aku benar-benar bersyukur banget. Astaga... Mungkin karena aku lagi banyak pikiran." Intan memijat keningnya, saat itu ia benar-benar seperti kehilangan arah.


Pandu pun memperhatikan Intan, ucapan terkahir Intan membuat dia penasaran, apa yang sebenarnya yang telah mengganggu pikiran Intan, sampai dalam kondisi menyetir Intan seperti tidak konsentrasi.


Pandu pun tak ragu mempertanyakan masalah yang sedang dialami oleh Intan, dan Intan sendiri juga tidak ragu untuk membagikan masalah nya pada Pandu, ia sudah terlalu nyaman dengan Pandu hingga ia memutuskan untuk menceritakan semua masalah rumah tangga nya pada Pandu, namun tentu saja itu menurut versi Intan sendiri.


Dengan linangan air mata, Intan memulai cerita, ia menambahkan sedikit ceritanya agar Pandu merasa iba padanya, bahkan saat itu Intan tidak lupa membuat cerita agar nama baik Rehan sebagai suami menjadi buruk di hadapan Pandu.


"Jadi kamu sedang bertengkar sama Rehan?" tanya Pandu menatap Intan.


"Ya Mas, aku bertengkar sama mas Rahan, akhir-akhir ini mas Rehan sering banget melakukan kekerasan sama aku, aku takut Mas," ucap Intan dengan tetesan air matanya.


"Ya ampun, memangnya apa masalah kalian berdua, kenapa Rehan harus menyelesaikan nya dengan kekerasan seperti ini, harusnya bisa diselesaikan dengan cara yang baik-baik," seru Pandu yang tidak habis pikir dengan cerita yang dibagikan Intan padanya.

__ADS_1


"Entah lah Mas, aku sendiri nggak tahu, aku sampai takut pulang Mas, aku takut kalau Mas Rehan akan melakukan tindak kekerasan lagi sama aku." jawab Intan dengan begitu sempurna nya mencuri perhatian dari Pandu.


Saat itu Pandu merasa sangat kasihan, apalagi Pandu adalah pria yang tidak bisa jika melihat seorang wanita menangis, ia bahkan tidak bisa mengenali apakah air mata Intan itu palsu atau benar-benar tulus dari hatinya.


__ADS_2