Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
31


__ADS_3

"Boleh aku tahu namanya?" tanya Dinda yang saat itu menatap Pandu dengan serius.


"Ya, tentu saja boleh. Namanya Intan, Dinda. Dia sering sekali ke sini dan mengajakku mengobral," ucap Pandu melempar senyum.


"Intan!" Dinda sedikit terkejut ketika mendengar jawaban dari Pandu.


"Iya, ada apa Intan?" tanya Pandu penasaran.


"Oh, tidak apa-apa. Lain kali kalau dia datang ke sini, tolong beritahu aku ya, aku penasaran ingin bertemu dengan wanita yang sepertinya menyukaimu itu," pinta Dinda yang kala itu terlihat masih berusaha menyimpan rahasia, bahwa wanita yang telah merebut suaminya dulu wanita yang bernama Intan.


"Oke Din, nanti kalau dia datang ke sini lagi aku akan kabarin kamu." jawab Pandu melempar senyum.


***


Beberapa minggu kemudian, Intan masih saja meminta uang pada Rehan karena hasratnya yang ingin pergi ke salon, selain ingin melakukan perawatan, Intan juga ingin sekali bertemu dengan Pandu, sebelumnya Intan sendiri memilih untuk memberitahukan Pandu bahwa hari ini ia akan datang kembali ke salon, dan saat itu Pandu menerima chat itu dengan baik.


Ketika Pandu masih ada di rumah, Pandu mencoba menghubungi Dinda, ia ingin memberitahukan pada Dinda bahwa Intan akan datang ke salon hari ini, karena Dinda yang ingin bertemu dengan Intan akhirnya Pandu pun mengabulkan permintaan Dinda.


Dinda terdiam kala itu, saat ia menerima kabar bahwa Intan akan datang, entah mengapa saat itu hatinya sangat yakin bahwa Intan yang dikenal oleh Pandu adalah Intan yang ia kenal juga. Saat sedang melamunkan sesuatu, bi Iyas datang membawa Arka yang sudah mulai sangat aktif itu.


"Non, ada apa, kenapa sepertinya Non lagi memikirkan sesuatu banget?" tanya bi Iyas penasaran.


"Hari ini aku akan bertemu dengan wanita yang bernama Intan Bi, entah mengapa aku sangat yakin bahwa Intan yang dimaksud oleh Pandu adalah Intan, istrinya mas Rehan," ucap Dinda dengan yakin.


"Intan? Untuk apa pelakor itu datang ke sini Non, apa dia sudah tahu kalau semua usaha ini milik Non?" tanya bi Iyas lagi.

__ADS_1


"Tidak, ia tidak tahu kalau aku pemilik salon ini, tapi dia datang ke sini karena akan melakukan perawatan di sini, untuk itulah aku tidak ingin melewatkan semua ini, aku ingin tahu siapa Intan yang sudah memiliki janji temu dengan Pandu." jelas Dinda.


Bi Iyas pun mendukung keputusan Dinda, ia juga sebenarnya merasa penasaran dan ingin sekali mencari tahu tentang wanita yang bernama Intan itu.


Tepat jam sebelah pagi, Intan pun tiba dengan menggunakan mobil pribadi nya, ia sengaja mengemudi sendiri karena ia tidak ingin sampai waktunya terganggu dengan telpon dari orang-orang yang akan mengganggu dirinya.


Dengan melenggangkan kedua kaki penuh percaya diri, Intan pun masuk ke dalam dan bertemu dengan Wulan. Hari ini Pandu sedikit terlambat ke salon karena ia harus meeting terlebih dahulu, Wulan dengan ramah menyapa Intan yang saat itu terlihat berkeliling mencari seseorang.


"Apa Pandu tidak ada di sini?" tanya Intan yang saat itu tidak sabar ingin bertemu dengan Pandu.


"Oh, dia sedang meeting di luar Mbak, mungkin sambil menunggu Mbak bisa duduk dulu di sini," ucap Wulan melempar senyum.


"Baik, terima kasih banyak. Aku ingin melakukan perawatan di salon ini, tapi aku ingin Pandu saja yang melakukannya untukku." jelas Intan dengan tegas.


Ketika menyadari kedatangan Pandu, Intan dengan cepat bangkit dari tempat duduknya dan menghadap Pandu dengan penuh senyum. Saat itu Intan sempat mencium pipi kanan dan pipi kiri Pandu sebagai sapaan karena sudah beberapa kali tidak bertemu.


"Seperti nya kamu sibuk banget ya," ucap Intan melempar senyum, ia masih memegangi lengan Pandu dengan manja.


"Emmm, sedikit. Oh ya, perawatan apa yang mau kamu lakukan di salon ini?" tanya Pandu melempar senyum, ia tidak begitu menanggapi sentuhan dari Intan hingga membuatnya harus menyingkirkan tangan Intan.


"Sebenarnya aku tidak punya banyak uang kali ini, aku hanya ingin bertemu dengan mu saja di sini," lirih Intan yang sebelumnya tidak mendapatkan uang dari Rehan karena ia pergi tidak mendapatkan izin.


"Kau bisa melakukan perawatan apapun di salon ini secara gratis, khusus untuk mu."


Sebuah suara terdengar, suara itu menghentikan tatapan Intan yang meminta Pandu untuk mengasihinya, saat itu Intan mencari sumber suara itu dan ternyata.... Suara itu adalah suara dari Dinda, Dinda sudah yakin dari awal bahwa Intan yang diceritakan oleh Pandu adalah Intan yang ia kenal, dan rupanya apa yang ia yakini memang benar adanya.

__ADS_1


"Dinda," suara Intan tertahan ketika melihat Dinda ada di hadapannya saat ini.


"Halo, lama ya kita tidak jumpa. Aku dengar kalau kau tidak memiliki cukup banyak uang untuk melakukan perawatan di sini? Untuk itu, aku memberikan mu gratis perawatan apapun yang kau inginkan," ucap Dinda melempar senyum.


"Hahaha, memangnya kau ini siapa Dinda, mengapa kau sok sekali ingin memberikan aku perawatan secara gratis, aku tidak membutuhkan itu Dinda," seru Intan menolak tawaran Dinda.


"Ya sudah, kalau tidak mau, tidak masalah. Kalau gitu kau bisa mengobrol sesuka hatimu di sini bersama dengan Pandu." jawab Dinda melempar senyum, lalu ia memutuskan pergi dari tempat itu.


Menatap Dinda yang sudah jauh berbeda dari sebelumnya membuat Intan benar-benar terpaku dalam diam, Dinda sudah sangat jauh berbeda dan hal itu membuat hati kecil Intan memuji kecantikan Intan.


Pandu sendiri merasa bingung mengapa Dinda memberikan voucher gratis perawatan pada Intan, apa mungkin karena Intan adalah teman baik Pandu? Namun ia tidak percaya akan hal itu. Hingga membuat Pandu merasa sangat penasaran dan akhirnya ia memutuskan untuk meminta Intan duduk sejenak di tempat itu, dan ia pamit pergi ke toilet.


Intan tak bisa melarang, dengan hati yang penasaran ia pun duduk kembali di sofa yang tersedia, sambil berpikir keras mengapa Dinda ada di salon mewah itu. Pikirannya tertuju pada sebuah nama yang terpasang di depan sana, DINDA SALON. Apakah itu benar-benar milik Dinda?


Intan bergulat dengan pertanyaan nya sendiri, dan merasa pusing karena begitu memikirkan status Dinda di sana. Sementara Pandu sendiri menangkap sebuah pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, di sebuah sudut Dinda sedang berdiri seorang diri, membuat Pandu akhirnya menghampiri Dinda dan mempertanyakan tentang kebaikannya itu.


"Dinda, apa maksud mu memberikan voucher gratis perawatan pada Intan, apa itu karena Intan adalah temanku?" tanya Pandu penasaran.


Saat itu Dinda membalas tatapan Pandu, mungkin hari ini adalah saatnya Dinda memberitahukan pada Pandu siapa Intan sebenarnya dan apa hubungannya dengan dirinya.


"Dinda, kenapa kamu diam saja?" Pandu menatap Dinda dengan serius.


"Pandu, sebenarnya aku sudah yakin dari awal saat kau memperkenalkan Intan padaku, aku yakin bahwa aku mengenal wanita yang menjadi temanmu itu," ucap Dinda melempar senyum.


"Siapa Intan, kamu mengenalnya?" Pandu semakin dibuat penasaran.

__ADS_1


__ADS_2