Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
26


__ADS_3

"Dinda, apa kau sudah memperhatikan keadaan Arka?" tanya Pandu yang saat itu memperhatikan Arka.


"Udah kok, aku kasih dia makan dan dia cukup bahagia menghadiri pesta kecil ini, kamu lihat saja dia, dia asik bermain bersama nenek dan kakeknya," jari telunjuk Dinda mengarah kepada Arka yang saat itu sedang tertawa ceria.


"Ya, kamu benar, aku senang Dinda, akhirnya kalian berdua bisa mendapatkan kebahagiaan tersendiri seperti ini, semoga kamu dan Arka semakin bahagia." Pandu mengucap doa saat itu, dan di Aamiin kan oleh Dinda.


Saat itu Dinda merasa cukup nyaman berteman dengan Pandu, namun ia tetap menjaga jarak agar mata tidak begitu menilai dirinya saat bersama dengan Pandu, ia tidak mau citranya sebagai seorang janda menjadi buruk jika ia terlalu memperlihatkan sikap akrab nya pada Pandu.


Hari berganti minggu, dan minggu pun berganti bulan. Terlihat Dinda semakin sibuk dengan dunia bisnisnya saat ini bersama dengan kedua sahabatnya, ia terlihat begitu sangat menikmati pekerjaannya. Pagi dan sore ia akan menghabiskan waktu di lantai bawah, karena ia akan mengecek semua karyawan yang bekerja, dan malam harinya ia akan menghabiskan semua waktunya pada Arka yang saat ini sudah bertumbuh menjadi putra yang sangat aktif.


Kehidupan Dinda menjadi jauh lebih baik saat ini, sejak ia lepas dari pernikahan yang begitu menyiksanya, Dinda pun kini sudah bisa memperhatikan dirinya sendiri, jika ada waktu luang ia akan melakukan perawatan di salonnya sendiri, dan mencoba berbagai produk hasil dari kerja kerasnya bersama dengan Wulan dan juga Pandu selama ini.


Wajah cantiknya kini semakin terawat dan tubuhnya kembali langsing seperti di saat ia dulu masih duduk di bangku kuliah, saat mendapatkan uang kiriman dari Rehan Dinda selalu menyimpannya untuk kebutuhan Arka, sampai suatu ketika Dinda tidak menerima lagi transferan dari Rehan yang sudah lewat dari tanggal.


Namun saat itu Dinda sama sekali tidak mempermasalahkan. Bisnisnya yang sudah menunjukkan hasil itu membuat Dinda tidak sulit untuk mendapatkan uang, dan ia pasrah saja jika Rehan melupakan kewajibannya sebagai seorang ayah ketika Arka sudah mulai tumbuh besar.


Suatu ketika salon kecantikan yang baru saja hadir di tengah-tengah kota itu sampai di telinga Intan ketika ia sedang asik mengobrol dengan teman sosialita nya, selama menikah dengan Rehan Intan tidak pernah tidak pergi ke mall dan belanja, bahkan ia sengaja menggunakan uang yang seharusnya diberikan pada Arka untuk belanja kesenangan dirinya sendiri, dan di luar sepengetahuan dari Rehan yang saat ini sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya di toko.


"Di sini ada salon kecantikan yang lagi viral banget loh jeng, aku pengen deh ke sana, cobain," ucap salah satu dari mereka yang sedang menghabiskan waktu di sebuah kafe.

__ADS_1


"Iya, aku sempet denger nama salonnya itu, Dinda Salon Kecantikan ya kalau nggak salah?" tanya salah satu dari mereka juga yang tidak mau ketinggalan informasi.


"Iya, itu benar. Ya ampun, pesonanya itu udah viral banget, mungkin cuma kita-kita inilah yang belum pernah cobain ke sana." jawabnya sambil tertawa kecil.


Saat itu Intan terkejut ketika ia mendengar nama Dinda di sana, dan sekilas ia berpikir bahwa Dinda yang disebut oleh mereka adalah Dinda mantan istri dari suaminya, karena penasaran tentang kebenaran, akhirnya Intan pun ikut bersuara, saat itu ia terlihat ikut antusias dalam obrolan asik tersebut.


"Kalau gitu, nggak ada salahnya kan kita cobain ke sana, rame-rame aja," usul Intan kalau itu.


"Iya, kamu benar juga Jeng, kita akan ke sana sama-sama nanti." jawab mereka setuju.


Sore harinya, Intan pulang ke rumah dengan perasaan yang cukup tegang, sejak tadi ia selalu berpikir bahwa Dinda yang disebut oleh teman-temannya itu adalah orang lain, tapi entah mengapa hati kecilnya justru berbicara lain hingga membuat kepalanya terasa sangat sakit sekali.


"Dari mana saja kamu Intan, sejak menikah kamu selalu keluyuran tidak ada aturan, apa kamu pikir aku menikahi kamu hanya untuk melihat kamu tidak ada di rumah setiap hari!" marah Rehan kecewa.


"Mas, kok kamu ngomongnya gitu si, ya enggak gitu juga lo Mas, aku ini pergi ngumpul sama temen-temen aku. Lagian apa salahnya aku pergi nongkrong sama mereka, kalau aku disuruh nungguin kamu setiap hari di rumah, ya aku jenuh dong Mas," ucap Intan berkelit kala itu.


"Kenapa harus jenuh Intan, Dinda dulu tidak pernah merasa jenuh ketika menunggu aku pulang, bahkan dia tidak akan pergi dari rumah jika tidak ada keperluan yang mengharuskan dia pergi, tidak seperti kamu sekarang ini," sergah Rehan yang memarahi Intan.


"Apa Mas! Kamu ngomong apa barusan? Jadi kamu sekarang ini lagi banding-bandingin aku sama Dinda, ha!" tiba-tiba Intan marah ketika Rehan menyebut nama Dinda kala itu.

__ADS_1


"Aku melakukan ini biar kamu sadar Intan, selama kita menikah kamu justru asik ngumpul sama temen-temen kamu, bahkan kamu selalu menolak saat aku ingin punya anak dari kamu, kenapa Intan? Apa tujuan kita menikah kalau tidak ke arah sana," pekik Rehan merasa kecewa.


"Mas, kenapa kamu marah-marah si sama aku, aku bukan nggak mau punya anak dari kamu Mas, tapi aku belum siap." jawab Intan membela diri.


Rehan menghembuskan nafas kasar saat itu, ia kecewa saat Intan menjawab dengan kalimat tersebut. Debat tipis pun kini menjadi debat besar karena Rehan dan Intan sama-sama tidak mau mengalah.


Intan akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar, Rehan yang tidak terima itu memutuskan untuk menyusul Intan dan melanjutkan pertengkaran mereka kembali.


"Kamu tidak pernah mau mendengarkan apa yang aku inginkan ya Intan, selama kita menikah aku yang selalu mengalah dan mengikuti semua yang kamu inginkan, tapi sekali saja aku memprotes perbuatan mu, kamu justru melawan dan bersikap seperti ini," omel Rehan kesal saat itu.


"Mas, aku capek ya sama kamu, tujuan aku menikah sama kamu bukan untuk menjadi pembantu kamu, aku ingin bebas dan kamu memberikan kebebasan itu demi kebahagiaan ku, dan ingat ya Mas, jangan pernah kamu bandingkan aku dengan Dinda yang tidak tahu apa-apa itu, aku wanita yang suka fesyen, sementara Dinda adalah wanita rumahan yang hanya mematuhi perintah mu saja," celetuk Intan menatap tajam.


"Intan, jaga bicaramu! Atau aku akan menamparmu," murka Rehan yang saat itu terlihat begitu marah.


"Kamu mau menamparku? Astaga, aku tidak menyangka jika kamu adalah pria yang begitu kasar Mas, sekarang lebih baik kamu keluar dari kamar ini, malam ini kita tidur terpisah, aku tidak mau tidur bersamamu. Jika kamu tidak mau keluar, maka aku yang akan tidur di luar." usir Intan yang sama sekali tidak mau menurunkan egonya.


Rehan menghembuskan nafas kasarnya, ia tidak menyangka jika ternyata ia menikahi seorang wanita yang berani melawan dirinya, ia akhirnya keluar dengan hati yang sangat kesal, membawa bantal dan juga selimut untuk tidurnya malam ini di luar.


Sementara Intan sendiri saat itu membuang tas miliknya dengan kasar, ia sangat kesal karena ternyata suaminya itu sangat lah menyebalkan.

__ADS_1


"Argh, aku tidak akan pernah mau mengalah darimu Mas, dan aku tidak terima jika kamu membandingkan aku dengan Dinda, jih... Siapa dia memangnya, apa coba istimewanya dia." celetuk Intan yang merasa sangat kecewa kala itu.


__ADS_2