Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
15


__ADS_3

"Apa-apaan ini, lo mau ngeracunin gue, ya!" pekik Intan yang saat itu seketika marah pada bi Iyas.


"A-apa maksud Non?" tanya bi Iyas pura-pura tidak mengerti.


"Jangan sok lugu ya Bi, lo kan yang buat teh ini, kenapa lo kasih minuman asin ini ke gue, lo menaruh benci sama gue, ha!" marah Intan menatap bi Iyas dengan emosi.


"Tepat sekali, dalam hidup saya, saya paling benci dengan wanita yang penuh dengan kepura-puraan, wanita pengganggu rumah tangga orang, dan wanita yang sepertimu Nona Intan," ucap bi Iyas sangat berani.


"Apa urusannya sama lo ha, lo itu cuma pembantu di rumah ini. Ingat ya, lo udah buat kesalahan besar karena lo cari gara-gara sama gue, gue pastiin lo akan dapat balasan yang setimpal," seru Intan tidak terima.


"Silahkan saja Non, tapi perlu Non ingat, bahwa mencuri kebahagiaan orang lain, itu juga akan mendapatkan karma dan balasan yang setimpal juga, bukan saya yang membalas, getirnya garam dalam larutan teh tidak seberapa daripada getirnya kehidupan Non Dinda ketika Anda masuk dalam kehidupan rumah tangga nya, ini hanya pembalasan dalam bentuk emosi saya, tapi suatu saat nanti anda akan mendapatkan pembalasan dari Tuhan karena anda telah menghancurkan rumah tangga orang lain." jelas bi Iyas dengan tegas memberikan rasa takut pada Intan.


Saat itu bi Iyas dengan cepat mengambil salinan teh yang sudah ia siapkan, ia membuatkan dua gelas teh, lalu mengambil teh yang ia berikan garam, dan digantikan dengan teh sungguhan, untuk menghilangkan jejak ketika Rehan kembali dari kamar mandi.


Bi Iyas menatap tajam ke arah Intan yang saat itu hanya menatap nya dengan kemarahan, sembari mengibaskan rok mininya yang basah karena teh getir yang ia rasakan sebelumnya. Setelah beberapa saat kemudian Rehan keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi, hari ini ia berencana akan pergi ke toko untuk mengecek bahan apa saja yang sudah habis dan perlu di beli. Saat itu Rehan duduk di samping Intan yang masih merengut kesal, hal itu pun membuat Rehan penasaran apa yang sedang terjadi pada kekasihnya itu.


"Intan, ada apa? Kenapa keliatannya kamu kesel banget?" tanya Rehan penasaran.


"Gimana aku nggak kesel Mas, kenapa si kamu bisa punya pembantu ngeselin banget kayak bi Iyas," omel Intan.


"Kenapa memang nya, kamu punya masalah apa sama bi Iyas?" Rehan semakin penasaran.


"Mas, dia mau racunin aku dengan teh yang bercampur dengan garam, rasanya getir Mas, sampai sekarang lidahku terasa getir," ucap Intan dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Teh yang dicampur dengan garam, mana mungkin bi Iyas melakukan itu, Intan!" Rehan tidak percaya dengan tuduhan Intan yang kala itu menceritakan keburukan bi Iyas.


Intan terus saja berusaha meyakinkan Rehan dan memintanya untuk memecat bi Iyas, namun Rehan sendiri terlihat bingung bagaimana bisa ia memecat bi Iyas yang sudah cukup lama bekerja di rumahnya. Karena penasaran Rehan pun memutuskan mencicipi teh yang ada di meja, dan saat ia mencobanya teh tersebut terasa manis yang pas, dan hal itu membuat Rehan fokus pada Intan yang masih terlihat sangat marah.


"Intan, ada masalah apa kamu dengan bi Iyas, kenapa kamu meminta ku untuk memecat nya sementara kesalahan yang kamu tuduhkan itu tidak mendasar, lihat teh ini, teh ini rasanya manis Intan, tidak seperti yang kamu bilang tadi," ucap Rehan yang kala itu merasa bingung dengan tuduhan Intan.


"Mas, air teh garamnya sudah dibuang sama bi Iyas, udah diganti sama dia, percaya dong sama aku," sergah Intan masih berusaha.


"Astaga, aku benar-benar nggak percaya kamu sampai melakukan tuduhan tidak mendasar ini, Intan."


Rehan bangkit dari tempat duduknya, lalu setelah itu ia pergi ke dapur untuk mengecek kebenaran yang terjadi, namun di dapur Rehan sama sekali tidak menemukan gelas berisi teh, lalu ia juga tidak melihat bi Iyas berkeliaran di tempat itu, hingga Rehan memutuskan untuk memanggil bi Iyas.


Saat itu bi Iyas turun dari lantai dua, ia pun turun dengan membawa alat pembersih kaca serta kanebo yang ia pakai untuk membersihkan kaca. Saat itu Rehan menghadapkannya pada Intan yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


"Bi, apa benar Bibi telah memasukkan garam ke dalam gelas teh milik Intan?" Rehan seketika mempertanyakan hal tersebut untuk mencari kebenarannya.


"Apa? Garam ke dalam teh Non Intan? Tuan, mana berani saya melakukan hal itu, saya akan mendapatkan hukuman kalau saya berani melakukan itu, Tuan," ucap bi Iyas dengan polosnya.


"Jangan bohong lo ya, jangan pura-pura polos deh," sergah Intan marah.


"Maaf Tuan, tapi saya tidak membuatkan teh dengan air garam, kalau memang saya melakukan itu, saya sendiri yang akan menghabiskan teh yang saya buatkan untuk Non Intan." jawab bi Iyas dengan percaya diri.


Intan saat itu meneguk habis teh buatannya sendiri, dan saat itu Rehan sudah mengetahui rasa teh di dalam gelas tersebut. Sontak saja hal itu membuat Intan sangat kesal, karena pasti Rehan menganggap bahwa dirinya sedang berbohong kala itu, padahal Intan pun menyadari bahwa bi Iyas sudah mengganti teh tersebut dengan gula.

__ADS_1


"Hai, jangan lo kira gue bodoh ya, lo itu udah ganti teh gue sama teh yang baru," maki Intan yang tiba-tiba marah pada bi Iyas.


"Untuk apa si Non, kok saya kurang kerjaan banget," sahut bi Iyas di hadapan Rehan.


"Udah, udah.. Nggak usah bertengkar kayak gini. Udah Bi, sekarang Bibi kembali kerja lagi ya," suruh Rehan yang tidak mau mereka sampai ribut.


"Mas, kok kamu malah suruh dia pergi si, dia itu harusnya kamu pecat Mas, mungkin nanti kalau aku jadi istri kamu, aku yang akan disiksa sama dia, Mas." jawab Intan tidak terima.


Saat itu Rehan mencoba untuk membujuk Intan, agar ia menyudahi pertengkaran yang ia ketahui bahwa bi Iyas tidak bersalah. Namun, bukannya menyerah dan membiarkan bi Iyas pergi, Intan justru terus saja bertingkah marah-marah sampai membuat Dinda terganggu, Dinda yang baru saja keluar dari kamar itu mendengar dengan jelas bahwa Intan meminta Rehan untuk memecat bi Iyas, dan saat itu Dinda sangat tidak terima dengan permintaan Intan itu.


"Apa-apaan ini, kenapa kamu mau memecat asisten rumah tangga gue, salah apa dia?" tanya Dinda yang kala itu ada di antara mereka.


"Dia udah mau ngeracunin gue, dengan mengganti garam di teh gue yang seharusnya dia kasih gula, kalau dia terus-terusan ada di sini, bisa aja kan dia kasih gue sianida biar gue mati," pekik Intan menghadap Dinda.


"Lalu, apa sekarang kamu merasa kejang, sesak nafas, atau sekarat Intan? Aku rasa tidak ada reaksi apapun dalam tubuhmu ini, kenapa kamu bisa menganggap bahwa bi Iyas ini adalah ancaman bagimu!" tegas Denda yang tidak terima.


"Intan, cukup! Aku benar-benar malu jika sampai ini diperpanjang," seru Rehan yang tidak enak hati pada Dinda yang akhirnya mengetahui hal ini.


"Makanya Mas, jangan bawa dia ke sini, karena dia sendiri tidak merasa nyaman saat kamu membawanya ke sini, jadi buat apa si kamu bawa dia ke rumah ini, kalau hanya menimbulkan masalah. Lihat saja dia, bertingkah seperti orang tidak waras di rumah ini." jelas Dinda melirik kesal pada Intan.


Intan membalas tatapan Dinda, seolah ia tidak terima dengan ucapan Dinda padanya, ingin rasanya saat itu ia menjambak rambut Dinda dengan kasar, namun belum saja terjadi Intan sudah menarik lengan Intan terlebih dahulu dan membawanya keluar dari rumah.


Saat itu ia merasa tenang karena akhirnya Intan pergi dari rumahnya, dan setelah itu Dinda menatap bi Iyas yang tersenyum bahagia kala itu, dan hal tersebut tentu saja menimbulkan rasa penasaran di hati Dinda.

__ADS_1


__ADS_2