Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
50


__ADS_3

"Bu, apa ayahnya Arka beberapa hari ini ke sini, untuk mencari Arka?" tanya Dinda yang langsung melemparkan pertanyaan pada bu Isna.


"Tidak Bu, dia tidak pernah lagi datang ke sini, dan beberapa hari kebetulan Arka kan tidak masuk sekolah, jadi dia tidak kemari," ucap bu Isna.


"Bu, Arka diculik, beberapa hari ini Arka tidak masuk sekolah karena saya tidak tahu di mana dia sekarang, tapi kenapa ayahnya Arka tidak kemari ya, apa mungkin Arka memang bersamanya?" Dinda menatap penuh tanya saat itu.


Pertanyaan itu membuat Pandu yakin bahwa mungkin memang benar, Arka sedang bersama dengan Rehan. Untuk itu lah Pandu mengajak Dinda ke rumah Rehan, memastikan bahwa Arka sedang bersamanya atau tidak. Dan Dinda pun setuju dengan ajakan Pandu, mereka akhirnya pergi ke rumah Rehan setelah berpamitan pada bu Isna.


Setibanya di rumah Rehan, Dinda dengan cepat mengetuk pintu. Saat itu ada seorang wanita paruh baya keluar dari rumah mewah itu dan menatap wajah Dinda dengan penuh tanya, lantaran kedatangan Dinda yang seperti orang yang sedang marah itu telah mengusik ketenangan wanita tersebut.


"Ada apa, kau mencari siapa?" tanya nya dengan tatapan terganggu.


"Emmmm, maaf Ibu, aku mencari pemilik rumah ini, yang bernama Rehan saputra," ucup Dinda sembari menatap bingung wanita yang ada di hadapannya.


"Oh, pak Rehan. Beliau sudah menjual rumah ini kepada saya untuk membayar hutang, jadi beliau sudah tidak tinggal di sini lagi," seru ibu itu pada Dinda.


"Lalu, apa Ibu tahu di mana sekarang pak Rehan tinggal?" tanya Dinda, ia mulai panik lantaran keberadaan Rehan sudah tidak ia ketahui.


"Kalau itu saya tidak tahu, yang jelas rumah ini bukan rumahnya lagi, tapi rumah saya." jawabnya dengan cetus.


Dinda menatap Pandu, Wulan, dan juga bi Iyas. Mereka tidak memberikan respon apapun kecuali tatapan panik sama seperti yang diperlihatkan oleh Dinda, Pandu pun akhirnya mengajak Dinda untuk pamit. Ia akan mencari Rehan kembali ke mana pun itu.


Di perjalanan Dinda merancau, ia berbicara seolah ia tidak akan bisa lagi bertemu dengan putranya. Hingga membuat rasa bersalah bi Iyas semakin terlihat sangat jelas, namun Pandu dan Wulan terus saja mencoba untuk meyakinkan Dinda bahwa mereka pasti akan bertemu dengan Arka.


Saat hendak melintas, Dinda tiba-tiba bertemu dengan Intan yang baru saja ingin menyebrang. Saat itu secepat kilat Dinda membuka pintu dan menghampiri Intan untuk mencari tahu keberadaan Rehan, Intan terkejut ketika Dinda menarik tangannya ke tepi jalanan, tatapannya mengarah jelas pada Intan yang saat itu seperti tidak terima di perlakukan seperti itu oleh Dinda.

__ADS_1


"Apa-apaan si kamu, kenapa kamu menarik tanganku seperti ini seenaknya!" omel Intan tidak terima.


"Intan, kamu pasti tahu di mana mas Rehan, tolong beritahu aku di mana dia tinggal karena aku yakin Arka sedang bersamanya," pinta Dinda yang memaksa Intan untuk bicara.


"Kenapa kamu mempertanyakan mas Rehan sama aku, aku sudah bercerai darinya beberapa bulan yang lalu, jadi aku tidak ada lagi urusan dengannya," ucap Intan yang tidak mau tahu tentang mantan suaminya itu.


"Tapi kamu tahu kan tempat tinggalnya sekarang? Aku mencari mas Rehan di rumahnya yang dulu tapi dia tidak ada di sana, jadi aku mohon tolong pertemukan aku dengannya sekarang Intan." paksa Dinda dengan rasa panik nya.


Intan pun terdiam sejenak, entah mengapa ia ingin memanfaatkan hal itu demi kebutuhan dirinya sendiri, memanfaatkan kepanikan Dinda demi kemenangan dirinya sendiri. Saat itu Intan setuju, ia akan memberitahukan di mana Rehan, namun dengan imbalan yang cukup besar yang harus diberikan Dinda padanya.


"Baiklah, aku akan memberitahu mu Dinda, tapi ini tidak gratis, apa kamu bersedia?" tanya Intan melempar senyum licik.


"Berapa? Berapa bayaran yang harus aku keluarkan untuk bertemu dengan Rehan dan putra ku?" Pandu dengan cepat berdiri di depan Dinda untuk berhadapan dengan Intan.


"Uups, manis sekali pasangan suami istri baru ini, baiklah... Aku akan memberi tahu kalian." jawab Intan melempar senyum bahagia.


"Apa kamu sudah gila Intan, apa kamu sengaja ingin memeras kami?" marah Dinda tidak terima.


"Itu terserah kamu Dinda, apa kamu mau bertemu dengan mas Rehan, atau justru akan mati penasaran karena putramu itu hilang," ucap Intan memberikan pilihan pada Dinda.


"Sudah Dinda, tidak masalah kita keluarkan uang sebesar itu, jika ini akan mengantarkan kamu pada Arka." jelas Pandu yang sama sekali tidak keberatan.


Registrasi pun dilakukan di tempat itu juga, Pandu sudah mengirimkan uang pada Intan sesuai nomor tujuan, dan Intan pun sudah menerima uang tersebut dengan begitu mudahnya.


"Karena sudah deal, maka aku akan mengantarkan kalian ke rumah mas Rehan, tapi perlu kalian tahu dan ingat ya, kalau aku hanya mengantarkan saja, aku tidak tahu apa-apa mengenai ada atau tidak adanya Arka," ucap Intan menatap Dinda.

__ADS_1


"Ya, baiklah. Ayo masuk ke dalam mobil." jawab Dinda yang tidak mau menunggu waktu lebih lama.


Pandu pun kembali menyetir sesuai dengan petunjuk jalan yang diberikan oleh Intan. Dan tak berapa lama kemudian mereka pun tidak di depan rumah yang sesuai dengan yang diberitahukan oleh Intan.


"Intan, apa ini benar tempat tinggal Rehan?" tanya Pandu meyakinkan.


"Ya, tentu saja benar. Aku tidak mungkin berbohong pada kalian," ucap Intan dengan yakin.


"Kalau begitu kamu boleh pergi dari sini." jawab Pandu mengusir Intan.


Saat itu Intan merasa sedikit kesal pada Pandu, karena sikapnya yang begitu kasar padanya. Namun tidak ada pilihan lain, Intan pun turun dari mobil dan pergi meninggalkan mereka. Sementara Pandu dan lainnya ikut turun untuk menemui Rehan, pintu rumah yang masih tertutup itu membuat Dinda benar-benar tidak sabar ingin mendobraknya.


"Dinda, sabar," bisik Pandu menahan langkah Dinda.


"Mas, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Arka," ucap Dinda membalas tatapan Pandu.


"Ya, aku mengerti, tapi kita harus sabar, kita datang layaknya tamu, jangan gegabah." jelas Pandu.


Wulan dan bi Iyas pun setuju, dan mereka pun mendekati pintu rumah dengan perlahan, rumah yang cukup sederhana itu. Terlihat sangat hening, namun ketika mereka semakin mendekat, terdengar suara gelak tawa dari Rehan dan juga seorang anak kecil. Dan sebagai ibu Dinda pun mengenal suara tersebut hingga ia yakin bahwa itu benar-benar suara Arka.


"Mas, itu Arka," bisik Dinda.


"Ya Non, itu suara den Arka," sahut bi Iyas yang juga mengenali suara tersebut.


"Ssst, pelan-pelan, kalau begitu ayo kita ketuk pintu rumahnya." ajak Pandu saat itu.

__ADS_1


Dinda mengangguk pelan, ia mulai mengetuk pintu utama beberapa kali, dan disadari oleh Rehan yang berhenti mengajak Arka bercanda, lantaran ia mendengar suara ketukan pintu dari rumahnya.


"Sayang, sebentar ya, Ayah buka dulu pintunya, kamu tunggu di kamar saja," ucap Rehan yang mengajak Arka masuk ke dalam kamar.


__ADS_2