
"Udah main-mainnya sama anak kesayangan kamu itu, ha?" tanya Intan dengan nada kasarnya.
"Apa maksud mu, aku tidak mengerti," ucap Rehan dengan santai, ia meneguk air mineral yang ia tuangkan ke dalam gelas.
"Aku tahu semua yang kamu lakukan di luar rumah Mas, kamu ketemu kan sama Arka? Di taman sekolah kamu senang-senang dan tertawa bahagia sama dia, apa itu kebahagiaan kamu sekarang, tanpa memikirkan kalau rumah tangga kita ini lagi nggak baik-baik aja," omel Intan kesal.
"Rumah tangga kita nggak baik-baik aja itu karena kamu, kamu yang selalu ingin menang sendiri, yang ingin hidup tanpa mau diatur. Kamu tahu kalau aku bangkrut tapi kamu ingin hidup tetap berkecukupan dan serba mewah, aku tidak bisa melakukan itu Intan, aku tidak sanggup," serah Rehan yang sudah tidak memiliki apa-apa itu.
"Kalau gitu ceraikan aku, ceraikan aku, Mas!" pinta Intan menatap tegas.
"Kalau memang itu yang kamu inginkan, aku bisa apa Intan. Aku menolaknya, tapi kamu selalu memintanya, sekarang aku pasrah, jika kamu menginginkan perpisahan, baik! Kita akan urus perpisahan ini." jawab Rehan yang tidak lagi menghalangi permintaan Intan.
Kesabaran Rehan sudah berada pada puncak nya, ia sudah tidak sabar lagi dengan segala ocehan dan omelan dari Intan, jika memang Intan benar-benar menginginkan perpisahan itu, maka Rehan tidak akan menghalangi nya lagi. Intan pun tersenyum getir saat itu, ada rasa menyesal karena telah meminta perpisahan dari Rehan, namun di sisi lain ia merasa senang karena akhirnya ia akan bebas dari jerat pernikahan yang sama sekali tidak membuat dirinya bahagia itu.
Beberapa bulan kemudian, surat perceraian pun sudah diterima. Intan yang memilih tinggal di sebuah kontrakan itu bertemu dengan Rehan yang mengantarkan surat perpisahan yang telah ia urus, saat itu Intan membuka pintu dan menatap Rehan yang mengulurkan sebuah amplop berwarna putih.
"Ini surat perpisahan kita, sekarang tolong kamu tandatangani surat itu," ucap Rehan yang sudah ikhlas dengan perpisahan yang dipilih oleh Intan.
"Ya, aku akan segera menandatangani nya." jawab Intan yang langsung meraih amplop itu dan langsung membukanya.
Setelah menandatangani surat tersebut, Intan segera mengembalikan amplop tersebut pada Rehan, tanpa basa basi Intan pun segera menutup kembali pintu rumahnya dengan rapat.
__ADS_1
Jika hari ini Rehan dan Intan resmi berpisah, lain halnya dengan Pandu dan juga Dinda yang sedang merancang tempat di mana pernikahan mereka akan segera diadakan, semua sudah dipersiapkan sedemikian rupa oleh Wulan sebagai satu-satunya orang kepercayaan bagi Dinda dan juga Pandu.
Mereka berdua sudah hampir selesai menyiapkan semua nya, tinggal sesuatu yang kecil-kecil yang akan diselesaikan oleh Wulan dengan segala ide yang sudah ia persiapkan.
Saat sedang sibuk mengurus pernikahan, Dinda sampai melupakan sesuatu beberapa hari terakhir ini. Ya, dia lupa dengan Arka yang saat ini terlihat sedang duduk melamun seorang diri di ujung sofa dengan tatapan penuh pertanyaan yang tidak bisa ia dapatkan jawabannya.
Sampai akhirnya membuat bi Iyas sekali pengasuh Arka sejak kecil itu, merasa bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada Arka, Arka terlihat begitu murung beberapa waktu terkahir ini, dan hal itu membuat bi Iyas menjadi bingung.
"Den, sebenarnya apa yang sedang Aden pikirkan, kenapa Aden seperti ini, sampai tidak mau makan?" tanya bi Iyas dalam kesendirian nya dalam mengasuh Arka.
"Mama sangat sibuk sekali Bi, dia sibuk sekali mengurus pesta bersama papa Pandu, kalau begini, aku jadi ingin sekali tinggal bersama dengan ayah," ucap Arka mengeluhkan sikap Dinda padanya.
"Aku ingin tinggal bersama ayah Rehan, selama di sekolah, dia lah yang menemani ku Bi, dia lah yang selalu ada dan menghiburku, dan ketika di rumah, aku benar-benar merasakan kesepian." jawab Arka kembali menundukkan kepalanya.
Hal mengejutkan itu membuat bi Iyas sedikit syok. Ia tidak percaya jika Arka bisa berbicara seperti itu, dan ia baru tersadar jika selama ini kesibukan Dinda dan Pandu rupanya dimanfaatkan oleh Rehan untuk mengisi hati Arka yang kosong. Hingga membuat Arka benar-benar membutuhkan sosok Rehan kala itu.
***
"Apa, jadi Arka bicara seperti itu?" tanya Dinda dengan tatapan terkejut ketika mendengar cerita dari bi Iyas.
"Iya Non, benar. Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti itu, aku tidak menyangka jika kesibukan Non mengurus pernikahan dengan den Pandu, justru dimanfaatkan oleh Rehan untuk mendekati den Arka," ucap bi Iyas kecewa.
__ADS_1
"Ini nggak bisa dibiarin Bi, aku harus bertindak!" marah Dinda tidak terima.
"Tapi Non, apa yang mau Non lakukan? Saat ini Non tidak bisa melakukan apapun karena sebentar lagi hari pernikahan Non dan den Pandu akan segera dimulai, lebih baik den Arka diberhentikan dulu sekolahnya agar den Rehan tidak bisa menemui den Arka lagi." jawab bi Iyas memberikan solusi.
Dinda terdiam, mungkinkah salah satu solusinya adalah membenarkan apa yang diucapkan oleh bi Iyas? Atau justru ia akan membiarkan Arka dekat dengan ayah kandungnya sementara waktu, dan akan membawa Arka kembali setelah semua selesai? Dinda saat ini berada di ambang kebingungan seorang diri.
Melarang ayah kandung untuk bertemu dengan anak nya adalah sesuatu yang disalahkan, namun Dinda sendiri tidak mau jika sampai Rehan membuat kesalahan dengan menghasut Arka untuk membenci Pandu, pria yang selama ini yang sudah bersedia dipanggil papa meksipun Pandu statusnya masih lajang.
Saat itu yang bisa Dinda lakukan adalah berkomunikasi dengan Arka, Arka yang merasa bahwa ibunya sedang sibuk itu menatap dengan tatapan sayu, Dinda membelai lembut pucuk kepala Arka dan di balas dengan diam oleh putranya itu.
"Arka, apa kamu baik-baik saja?" tanya Dinda memastikan.
"Ya Ma, aku baik-baik saja," ucap Arka, lirih.
"Arka, Mama minta maaf ya sama kamu, karena akhir-akhir ini Mama sangat sibuk sekali dengan urusan pribadi Mama. Tapi semua ini tidak lepas dari keinginan Mama yang ingin membahagiakan kamu sayang, pernikahan Mama dan Papa Pandu akan segera dilaksanakan, kamu kan yang berharap bahwa papa Pandu akan tinggal bersama dengan kita," seru Dinda yang berusaha berbicara perlahan pada Arka.
"Ya Ma, Arka ngerti kok." singkat Arka menjawab.
Dinda tahu, bahwa saat ini ada hal lain yang dipikirkan oleh Arka. Namun Arka memilih untuk diam dan tidak mengatakan apapun saat itu, hingga membuat Dinda tidak bisa memaksakan diri untuk bisa mencari tahu. Dinda hanya memeluk Arka dan ia ingin berbicara serius padanya, sudah seberapa sering kah ia bertemu dengan Rehan, namun Dinda berpikir kembali, jika ia mempertanyakan hal tersebut, ia tidak bisa menjamin bahwa Arka akan berbicara jujur, ia takut jika Arka akan salah tangkap dengan pertanyaan nya.
Dinda pun memilih diam lalu pergi, meninggalkan Arka di kamar sendiri. Dengan kegundahan nya, Dinda memberitahukan semua masalahnya pada Pandu.
__ADS_1