TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - bab 7


__ADS_3

"Tidak bisakah kamu melawan, saat orang lain menindasmu. Aku sudah bilang kan,"


"Apa menurutmu aku diam saja tadi, aku juga melawan. Hanya saja mereka berdua..." elak Resha tak terima saat Darren memarahinya.


"Baik maafkan aku, aku memang tidak tau menahu masalah rumit rumah tanggamu. Tapi bisakah jelaskan sedikit agar aku tidak salah paham." pinta Darren saat mereka sudah pergi dari restorant itu.


Resha menghela napas sejenak, ia dalam keadaan syok luar biasa. Terlebih ucapan Darren terbukti saat Resha bertemu dengan Rima juga Luna tadi. Resha tak menyangka jika mereka tega menjadikannya alat penebus hutang.


"Aku masih terlalu syok," gumam Resha yang di dengar langsung oleh Darren.


"Kalau begitu, aku antar kamu pulang." Putus Darren yang melajukan mobilnya ke arah dimana kedai berada.


"Aku mau jadi wanitamu," ucap Resha spontan, lalu memegang tangan Darren.


Darren tersenyum, senyum yang tipis nyaris tak terlihat.


"Baik, kalau begitu besok aku antar kamu ke rumah."


"Rumah?"


"Iya, aku harus meminta restu dan mengatur secepatnya pernikahan kita."


Deg, Resha tertegun. Apakah keputusannya tepat, ataukah itu hanyalah sebuah cara agar Rima dan Luna tak lagi mengacaukan hidupnya.


"Baik,"


***


Darren selesai mengantar Resha, ia pun segera pulang ke rumah dan ingin menyampaikan niatnya kepada Devano dan Nora.


"Apa keputusanku sudah benar, sungguh tak ada rasa. Aku hanya merasa kasian sekali dengan perempuan itu," gumam Darren, tanpa sadar mobilnya sudah sampai di depan rumah megah Aldeva. Darren membunyikan klakson agar satpam membukakan gerbang.


"Sore tuan muda,"


"Sore pak, tolong parkir ya," ucap Darren menyerahkan kunci mobilnya dan berucap terima kasih.


Satpam itu mengangguk, merasa kagum dengan Tuan muda keluarga Aldeva, garis keturunannya terdidik dan tau akan sopan santun.


Darren melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, tampak kedua orang tuanya bercengkrama di ruang santai, juga Leon dan Qween yang ada disana.


"Bukankah, kau sudah pulang dari tadi, Derr?" tanya Qween saat tau Darren baru saja pulang.


"Aku, emmm ada urusan sama Resha," ragu Darren sembari menunggu ekspresi kedua orang tuanya. Hya, bagaimanapun Darren mewanti reaksi kedua orang tuanya, terlebih status Resha yang sudah pernah menikah.


Darren menghempaskan tubuhnya di samping mamanya, "Ma, menurut mama Resha itu bagaimana?" tanya langsung Darren yang berhasil memancing tanda tanya mereka yang ada disana.


"Baik, sopan, cantik. Mama nggak pernah meminta kamu memilih-milih teman berdasarkan derajat, asal itu baik untukmu mama tidak masalah." Nora mengulas senyum, saat Darren dengan tenang merebahkan kepalanya di pangkuan Nora.


"Ishhh, kumat manjanya." Qween melirik Darren, sementara Leon tersenyum melihat sisi Darren yang seperti itu. Ia juga tau betul jikalau CEO Arsa Group itu sangat manja di saat tertentu.


"Resha bukan temanku, Ma. Aku kenal juga baru beberapa hari karena..."


"Darren, jauhkan kepalamu dari istriku," ucap Devano yang baru datang dari dapur membawa minuman dingin.

__ADS_1


"Ck istri ayah itu mamaku," protes Darren tak terima.


"Sama saja, kamu tak boleh terlalu dekat dengan istriku, Derr. Kamu bisa rebahan di pangkuan ayah, bukan di mamamu. Jika masih keras kepala lebih baik segera cari istri." Gerutu Devano lalu menarik Nora, hingga kepala Darren bergeser.


"Ayah gak gitu juga konsepnya kalau cemburu, Darren anak kita dia juga butuh kasih sayang mama." omel Nora keberatan, merasa sikap Devano terlalu over.


"Sayang, Darren sudah Dewasa. Kelak jika punya istri akan mengerti, kamu hanya milikku."


Qween dan Leon terkekeh, " Tante sama om, sweet banget," puji Leon.


"Harus, bee. Kita pun nanti juga akan seperti itu, tua sama-sama dan menjalani hidup dengan penuh cinta," ucap Qween bersemangat.


"Hm," Darren bangkit, merasa malas menghadapi duo bucin di hadapannya saat ini.


"Le, bersiaplah lembur sepanjang hari, aku akan pergi besok mengantar Resha, Oh ya ma, aku ke atas duluan."


Ucapan Darren sontak membuat mereka berempat saling pandang.


"Ma, mama sama ayah gak papa kalau misal Darren sama kak Resha?" tanya Qween setelah Darren menghilang dari pandangan.


"Tidak apa-apa, asal Darren benar-benar serius." Sahut Devano tanpa pikir panjang, langsung menyetujui jika Darren bersama Resha.


"Mama juga, Resha baik, sopan dan cantik, cinta tak memandang derajat, nak. Lagi pula, mama sama ayahmu tak mau apa yang kami hadapi di masalalu terjadi sama anak-anak kami, apalagi perjodohan, atau apalah itu yang tak merestui anaknya."


"Wah, mama sama ayah luar biasa."


"Oh, ya om. Tante, boleh ajak Qween ke rumah? tadi mama sama papa nanyain..."


***


Pagi-pagi sekali di kedai, Resha mengemasi barang-barangnya setelah menerima gaji, ia akan pulang beberapa hari ke kota asalnya, Bandung.


"Maaf ya mbak, nanti insyaallah saya balik. Bagaimanapun makam suami saya disini,"


Resha bertekad akan pergi.


"Iya, Res. Maafin mbak, kalau ada salah-salah. Oh, ya apa kamu sudah berpamitan sama Tuan Darren?" tanya Dania, Resha menggeleng.


"Kenapa harus pamit?" Resha tak mengerti, pegawai lain turut sedih dan memeluk Resha, "Kita bakalan kangen ghibahin kamu, Res." ucap salah seorang yang berhasil mengundang gelak tawa, terlalu jujur.


"Iya, apalagi kalau jalan sama pak Darren, gereget pengen moles."


"Astaga, kok bisa?" tanya Resha.


"Iya, biar mendadak jadi best couple ala novel-novel, kencan sama boss."


"Ish kalian ini, Darren kan bukan siapa-siapa," ucap Resha. Yang lain hanya menghela napas.


"Res, Tuan Darren pemilik kedai kecil ini. Bagaimanapun kamu harus pamit," saran Dania.


Resha membulatkan matanya tak percaya, bersama dengan itu berhenti mobil sport hitam mengkilap di depan kedai. Darren keluar, setelan jass hitam hampir menjadi ciri khasnya, kaca mata yang bertengger menambah kadar ketampanannya berkali lipat, tak lupa ia menyugar rambutnya ke belakang membuat siapapun yang memandang akan terpesona.


"D-darren..."

__ADS_1


"Hanya mengunjungi keluargamu, apa harus bawa barang sebanyak ini?" tanya Darren mengerutkan alis.


"Pagi, Tuan." sapa semua yang ada disana kecuali Resha.


"Kenapa kamu kesini," panik Resha, sejujurnya ia ingin pergi diam-diam.


"Tentu saja menjemput wanitaku," jawab Darren yang berhasil membuat Dania dan yang lain membulatkan mata.


"Aku, aku... kita pergi sekarang," putus Resha menarik tangan Darren dan membawa serta barangnya dari sana.


"Bye semua," ucap Resha sebelum menjauh.


"Astaga, benarkah dia Resha? dia berkencan dengan Tuan Darren." Dania menepuk jidat.


"Bagus dong mbak, dari pada di serang mama mertua terus, kasian Resha."


"Hmm, aku setuju aja asal mereka bahagia," ucap Dania.


"Ciaa, kapan aku seberuntung Resha."


"Tidur dulu, biar lancar halunya."


"Kembali bekerja," titah Dania saat pegawainya justru asyik mengghibah.


***


Ada yang lebih menyakitkan dari perpisahan, yaitu disaat kita berjalan tanpa tujuan, tanpa arah, terombang ambing oleh takdir yang seolah asyik bermain.


Diam, adalah jalan terbaik setelah kita tak lagi mampu merangkai kata. Hya, dan kini Resha terus terdiam.


"Mana alamatnya, apa masih jauh?" tanya Darren memecah keheningan.


"Masih, ini baru mau masuk Bandung," jawab Resha.


Darren pun memutuskan berhenti sebentar ke mini market.


"Kita beli minum, ayo." Meski bersikap biasa, tapi tindakan Darren membuat Resha kagum.


"Baik," Darren mendekat ke arah Resha hingga berhasil membuat perempuan itu panik.


"Mau apa?" panik Resha.


Darren terkekeh, "Mau mencium wanitaku, apa tidak boleh?" godanya.


"Dasar mesum," Resha mendorong tubuh Darren, bersama dengan itu belt milik Resha terbuka.


"Kelak kamu akan terbiasa," Ucap Darren setelah menjauh dan membuka handle pintu mobil.


***


Next?


Like komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2