TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Menginap di rumah mama


__ADS_3

"Kita kemana?" pertanyaan Devano sekilas membuyarkan lamunan. Disatu sisi ia ingin sekali ke rumah mama, memastikan keadaan Maura, di sisi lain ia juga butuh mood booster sekadar pergi berdua dengan Devano. Sambil memainkan jari-jarinya ia mulai berfikir, hingga suara helaan napas Devano terdengar.


"Kita pulang sajalah, kamu gak mau jawab." Dev hendak membelokkan mobil ke jalur menuju rumah akan tetapi langsung mendapat protes dari Nora.


"Kita pergi, jangan pulang." putusnya cepat.


"Kita ke pantai?" tanyanya, berharap istri tercintanya segera memutuskan ingin pergi kemana. Nora menggeleng, entah kenapa ia sedang tak ingin pergi ke pantai.


"Kita ke rumah mama, bagaimana? Aku ingin bertemu dengan Maura." Hya akhirnya Nora memilih untuk mampir ke rumah orang tuanya, ia ingin memastikan apakah rencananya waktu itu berhasil atau tidak.


"Ok, dengan senang hati. Aku tahu apa yang ada di fikiranmu saat ini, sayang! Kamu pasti penasaran kan, hasil kerja keras kita." Dev mengerlingkan mata.


"Iya iya, lagian mereka itu udah menikah."


"Tapi mereka menikah tanpa cinta sayang, seseorang butuh waktu lebih lama untuk saling jatuh cinta." ucap Devano.


Sialnya, saat hampir sampai, jalanan sore ini begitu macet hingga membuat bibir Nora mengerucut kesal.


Menepi adalah pilihan yang tepat, kemacetan yang panjang membuat Devano akhirnya memilih membelokkan mobilnya ke sebuah caffe clasik, "Kita makan dulu, atau nongkrong dulu. Dari pada nungguin macet gak jelas." ucap Devano akhirnya, Nora mengangguk. Lagi pula ini masih sore, kebetulan caffe ini terlihat begitu nyaman. Terlebih disini bisa melihat cahaya temaram jingga yang mulai memudar. Matahari hampir tenggelam.


Begitu duduk, Devano memesan menu terbaik caffe, pun halnya dengan Nora yang memilih menscroll layar ponsel mencari nama mama mertuanya.


Ia menimbang-nimbang, "Kita nginep aja gimana Dev, dah lama juga kita gak nginep di rumah mama."


"Tentu saja, kamu telpon mama Nara sayang, biar gak khawatir."


Nora pun mengulas senyum, "kalo dua hari gimana?"


"Tiga hari, seminggu, sebulan pun boleh."


"Beneran boleh sebulan?" tanya Nora dengan mata berbinar,


"Boleh sayang, tapi aku pulang." sontak Devano mendapat cubitan dari Nora.


"Ishhh, kamu ya! Aku nggak mau."


"Ya kan aku mesti kuliah, lagi pula jaraknya lebih deket dari rumah. Tapi kalau libur nanti aku jemput."


"Gak mau, gak mau jauh-jauh."


Nora memutuskan untuk menelpon mama mertua dan meminta izin untuk tinggal beberapa hari, tak masalah jika Devano harus bolak balik, ia sendiri ingin melihat hubungan pernikahan saudara kembarnya, bukan untuk ikut campur. Melainkan ia akan sangat merasa bersalah, jika perjodohan Zain dan Maura tak berjalan semestinya.


Selesai meminta izin, ia kembali memandangi suaminya. Wajah tampan dengan rahang tegas itu, selalu berhasil meluluh lantahkan pertahanannya.

__ADS_1


Pesanan pun datang, beberapa makanan lezat terhidang di meja. Nora yang sudah tergugah mulai menyentuhnya pun halnya dengan Devano yang sudah lapar karena terlalu lama dijaja kemacetan.


"Coba ini?" Devano menyodorkan sesuap ke mulut Nora, sengaja ia memesan makanan berbeda. Tentu saja demi momen seperti ini, agar ia punya alasan saat menyuapi istrinya.


"Enak, sangat enak. Kamu juga." Nora pun melakukan hal yang sama, hingga tanpa sadar beberapa pasang mata menatap mereka penuh kagum dan iri.


"Sudah ah, banyak yang liat." ucap Nora malu.


"Biar, toh kita suami istri, apa yang salah?" santai Devano.


"Tentu saja salah, kita membuat semua orang menatap iri."


"Hmm, baiklah kita lanjut makan."


***


Pukul 8, mereka sampai di pelataran rumah Shaka, Devano turun dan segera membukakan pintu untuk istrinya. Lalu melangkah bersama ke dalam rumah dengan jari saling bertaut.


"Malam, Pa, Ma." sapa Nora pun Devano begitu masuk.


"Malam sayang, ya ampun. Mama kangen." Kenia langsung menghampiri putrinya, sementara Devano ia mencium punggung tangan Shaka dan Kenia bergantian.


Bahagia sekali istriku, tiap kali pulang selalu bisa memuncahkan kerinduan.Batin Devano, ia tersenyum melihat tingkah istrinya yang berubah ke kanak-kanakan tiap kali bersama papa dan mamanya.


"Zain? Ah iya dia belum pulang sayang." tampak rasa kecewa di wajah Nora.


Keputusan untuk tinggal beberapa hari di rumah mama sudah bulat, "Ma, aku ke kamar dulu ya, mungkin aku dan Devano akan tinggal beberapa hari disini." Kenia yang mendengar penuturan Nora pun sangat bahagia, "Benarkah itu sayang?" tanyanya kembali memastikan.


"Iya, ma."


"Ya sudah, anak mama harus istirahat, ajak Devano juga. Biar papa, mama yang nemenin."


Devano langsung mengunci pintu begitu masuk ke kamar, kemudian menarik Nora ke dalam pangkuan, pun dengan Nora yang mengalungkan tangannya ke leher Devano.


Tadinya, Nora hendak menyapa Maura di kamarnya. Namun, ia urungkan! lebih baik besok pagi agar menjadi kejutan.


Malam ini, menjadi malam kesekian kalinya mereka memadu kasih, mencurahkan bentuk dari cinta juga kerja kerasnya untuk membuat Devano junior versi kedua. Ya, tanpa mengindahkan waktu yang masih pukul setengah sepuluh, seolah keduanya larut dalam buaian lembut penuh gelora. Devano sempat mengabsen setiap inci kulit seputih su su milik Nora, bahkan kini leher jenjang itu sudah penuh dengan tanda kissmark. Keduanya larut, saling menumpahkan hasrat kemudian terbang dalam nikmat yang melenakan.


Hingga lelah, letih, dan kantuk menyerang, membuat keduanya menyerah dan memilih terlelap tanpa sehelai benang, tidur saling memeluk dengan satu selimut.


Zain sampai di kamarnya, ia semakin menghindari Maura sejak kejadian waktu itu, kejadian penyatuan tanpa kesadaran yang ia miliki. Diam-diam ia menyelimuti sang istri dan mengusap kepala Maura sekilas. Kemudian ia langkahkan kaki pelan keluar kamar lewat pintu balkon, tentu saja ia ingin tidur di kamar Nora yang jelas bisa ia masuki sesuka hati lewat pintu balkon.


Perlahan ia membuka pintu. Namun, matanya membulat sempurna demi melihat Devano dan Nora tidur dengan saling memeluk, tanpa apapun dan hanya tertutup selimut.

__ADS_1


Damn it, kenapa aku gak tau kalo mereka pulang! mana habis *** **!


Zain langsung menutup pintu, sebisa mungkin mencoba meminimalkan suara, lalu melangkah pelan kembali ke kamar, benar-benar memalukan.


Namun, yang lebih malu lagi. Maura menatapnya tanpa berkedip begitu masuk ke dalam kamar.


"Dari mana kak?" tanya Maura, yang baru terbangun karena ketiduran.


"Ahh, dari balkon, cari angin! Sudah ayo tidur." ia pun merebahkan diri ke atas ranjang.


**


Paginya, Nora terbangun. Gegas ia bangkit memunguti pakaiannya dan langsung membersihkan diri, tanpa membangunkan Devano. Selesai mandi, ia keluar dengan kimono yang membalut tubuhnya.


"Ishh, tandanya banyak sekali ya? nanti kalo mama sama papa nanya-nanya gimana?" gumamnya di depan cermin.


"Pagi sayang," Devano bangun, dan langsung memeluk Nora dari belakang.


"Ish, Dev. Pakai dulu pakaianmu, dasar me sum!" pekiknya.


Namun, bukan melepaskan. Devano justru semakin mengeratkan pelukan.


Cup! Kecupan singkat ia daratkan paksa di pipi Nora, hingga wajah istrinya itu berubah merona merah.


"Morning kiss, cium dulu, baru aku mandi." godanya mengedipkan sebelah mata.


Mau tidak mau, ia daratkan segala kecupan di wajah Devano hingga berhasil membuat pemuda itu langsung ke kamar mandi karena sudah mendapatkan maunya.


Mereka turun, dengan tangan saling bertaut. Di bawah sudah ada papa, mama, Zain dan Maura yang menunggu mereka untuk sarapan.


"Pagi papa, pagi mama." Sapa Nora berbinar, pun Devano yang menyapa kedua orang tuanya.


"Ahhh kalian ini, pasti kelelahan ya sampai kesiangan." goda Kenia melirik leher putrinya yang penuh tanda merah.


"Mama, ish. Aku kan malu."


"Dev, Dev. Benar-benar kamu ya." ledek Shaka sembari terkekeh.


"Uhuk." tiba-tiba Zain tersedak mendengar obrolan mereka, Tentu saja ia tahu apa yang di lakukan Devano dan Nora semalam.


Maura langsung menyodorkan air minum.


Zain menerima dan langsung menenggaknya hingga hampir tandas.

__ADS_1


Sial, benar-benar sial.


__ADS_2