TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - Qween hilang


__ADS_3

Qween mengemasi beberapa baju dan dress ke dalam ransel. Ia kecewa lantaran Leon pergi meninggalkannya untuk menemui Jesica, takut akan sebuah kenyataan yang akan menghantamnya tiba-tiba ia pun memilih pergi. Barangkali dengan begitu, ia bisa menghindari rasa sakit. Dengan mengendap-endap ia turun berharap bibi Liam tak menyadari jikalau Qween keluar membawa ransel cukup besar, ia bertekad menenangkan diri ke suatu tempat dan memberi ruang kepada Leon agar menjadi laki-laki yang tegas pada pilihan.


"Maaf, Le. Tapi aku nggak bisa membiarkanmu berada di tengah-tengah. Setidaknya setelah ini kamu akan berfikir, wanita mana yang lebih penting untuk hidupmu." gumam Qween. Ia berhasil keluar rumah tanpa ada yang tahu dan memasukkan tasnya ke dalam mobil sport.


"Sudah lama tidak memakai mobil, seharusnya aku bisa kan? Aku harus berani, tidak mungkin jika aku pergi dari rumah tanpa membawa mobil."


Qween masuk ke dalam mobil, menghembuskan napas pelan. Jantungnya berdebar, tapi kali ini ia harus bisa.


"Selamat tinggal Le, semoga dengan kepergianku kamu bisa memilih yang pasti." Qween menyalakan mobilnya.


"Pak tolong buka gerbang ya," pinta Qween menurunkan jendela mobil.


"Lho, Nona muda mau kemana?" tanya pak satpam.


Qween tersenyum, " Jenuh pak, keluar sebentar."


Satpam itu pun akhirnya membukakan pintu gerbang rumah. Qween melesatkan mobil pelan setelah mengucapkan terima kasih.


"Aku tidak mungkin pergi ke rumah oma Nara. Mereka pasti akan bilang ke ayah dan mama jika diriku tinggal disana." Qween menghentikan mobilnya, berfikir sebentar kemana tujuan ia kabur kali ini.


Qween menimbang-nimbang. Kemana ia pergi. Lalu tersenyum sumringah kala mengingat sesuatu.


"Oppa Zain dan tante Maura." Melia tersenyum senang. Lalu, Qween melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati.


Setengah jam kemudian, ia berhenti di tepi danau buatan. Danau yang terletak beberapa langkah dari rumah kakek dan neneknya. Hya, rumah Shaka yang sekarang ditempati oleh Zain dan Maura.


"Tapi sepertinya aku hanya akan merepotkan, lebih baik tidak jadi!" batin Qween ragu.


🍁🍁🍁


Rumah sakit Hermina, Bangsal Melati.


Leon duduk di samping ranjang Jesica. Gadis itu sedari tadi menangis tersedu dan memasang wajah sedihnya. Leon menggerutu, sebenarnya ia tak mau repot-repot kesini mengurusinya. Namun, ia juga merasa kasian lantaran keluarga Jesica tak ada yang tinggal di Jakarta.


"Dimana pacar si alanmu itu? Kenapa dia tidak ada di saat kamu seperti ini." kesal Leon.


"Le, bisakah bersikap lembut. Dulu kamu tak sekasar ini padaku, aku sedang sakit hanya butuh perhatian bukan bentakan." protes Jesica.


"Baiklah, sekarang makan. Aku akan mengurusmu selagi keluargamu belum datang kesini. Untung hari ini jadwal kantor tak padat," gerutu Leon lagi.


"Aku lapar."


"Hm, baik aku suapi."


Elin akhirnya tiba di Jakarta, ia sangat berterima kasih lantaran Nora dan Devano sudi mengantarkannya sampai rumah sakit dimana putrinya di rawat.


"Sayang, antar jeng Elin mencari kamar putrinya." pinta Nora, awalnya Elin menolak merasa tak enak hati. Tapi, Nora memaksa agar Devano menemaninya. Terlebih rumah sakit Hermina adalah rumah sakit besar milik kerabatnya.


"Sekali lagi maaf pak, merepotkan." Elin merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak apa, lagi pula sebentar lagi kita akan jadi besan nyonya."


"Iya, semoga Darren dan Resha bahagia ya," ucap Elin.


Mereka berjalan menuju resepsionis dan menanyakan perihal kamar rawat atas nama Jesica Hwak. Dan suster pun memberi tahu mereka jika Jesica dirawat di bangsal Melati kelas satu. Meski begitu, kamar rawat Jesica adalah kamar biasa.


"Mbak, bisa urus kepindahan kamar, saya juga mau mengajukan agar anak dari teman saya dipindahkan ke ruang rawat VIP." tutur Devano yang membuat Elin terkejut.


"Tidak apa nyonya, agar Jesica lebih nyaman dan anda bisa ikut istirahat disana."


"Makasih banyak, pak Devano," ucap tulus Elin. Mereka kemudian lanjut berjalan lagi mencari-cari dimana letak bangsal melati.


Ceklek, Elin membuka pintu dan menampilkan pemandangan yang membuat emosi Devano naik.


"Leon..."


"Om..." Leon tersentak, meletakkan bubur yang tinggal separuh karena ia memang sedang menyuapi Jesica sedari tadi.


"Qween mana? Kenapa kamu disini? Bukankah, aku bilang kamu harus menjaganya."


Elin langsung menghapiri Jesica dan memeluknya erat. Tak memperdulikan jika saat ini Devano emosi melihat keberadaan Leon bersama putrinya.


"Om, aku bisa jelaskan."


"Le, apa kamu pernah berfikir jika Qweenzaku tahu ini semua? Bagaimana perasaannya? Apa kamu bilang ke dia kalau kamu sedang disini bersama wanita lain?" Cerca Devano.


"Bagaimana aku bisa percaya, Le. Suster disini banyak, kalau kamu tidak berniat mengkhianati putriku tentunya kamu tak perlu repot-repot membuang waktu disini." Devano menatap tajam Leon yang tampak menunduk. Lalu mengamati gadis yang sedang terbaring sakit di ranjang yang ternyata adalah putri Elin. Bibi dari Resha.


"Ck!" Decak Devano langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


"Aku harus pergi, maaf tante. Aku hanya membantu Jesica, kita tidak ada hubungan apa-apa, yang aku lakukan hanya karena rasa kasian. Sayang sekali, orang yang membuatnya seperti ini justru menghilang dan tak punya perasaan." Sindir Leon.


"Tidak apa, makasih sudah menjaga putriku," ucap Elin.


"Le kamu mau kemana?" Mata Jesica berkaca-kaca.


"Maaf aku harus pergi, aku tidak ingin kekasihku salah paham. Aku tahu sakitnya dikhianati jadi sebisa mungkin aku membatasi diri, kita hanya masalalu yang sudah usai. Maaf Jes. Dan tante, aku pamit permisi." Leon melangkah pergi, sementara Jesica terisak menjadi-jadi di pelukan Elin.


🍁🍁🍁


Darren mengajak Resha jalan-jalan di pantai. Barangkali, deburan ombak yang menyapu pasir sedikit bisa menenangkan fikiran.


"Kamu suka pantai?" tanya Darren. Mereka duduk berjarak namun memandang arah yang sama, laut lepas.


"Suka, makasih sudah mengajakku kesini."


"Oh, iya. Bagaimana jawabanmu?" tanya Darren yang sebenarnya ingin tahu isi hati Resha.


"Jawaban apa?"

__ADS_1


"Di supermarket kemarin?" Darren enggan mengungkapkan kembali.


"Aku lupa," ucap Resha tanpa merasa bersalah.


"Res, jadilah istriku." Darren menoleh menatap lekat mata Resha.


"Kalau begitu, kasih aku satu alasan untuk tidak menolak."


"Alasannya, aku gak tahu. Hal-hal konyol selalu aku lakukan karenamu, aku sendiri tidak mengenal cinta." jujur Darren yang membuat Resha tersenyum tipis, sangat tipis nyaris tak terlihat.


"Aku hanya wanita yang gagal, Darren. Mau mendampingi kamu yang sempurna pun aku tidak pernah bermimpi untuk hal itu, kamu tahu jika hatiku bukan hanya pernah patah tapi mungkin juga akan sulit jatuh cinta lagi."


"Aku memahamimu, Res. Bagaimana kalau kita saling belajar. Aku akan merajut kembali hatimu yang patah." Pinta Darren.


"Lantas aku bagaimana?" tanya Resha yang sebenarnya merasa menghangat mendengar ucapan Darren.


"Kamu cukup menerima."


Entah kenapa, situasi seperti ini cukup membuat Darren bahagia. Ia tak ingin terjerat perasaan yang rumit. Cukup dengan Resha menerima keberadaannya dan ia akan mengikat wanita itu dalam kebahagiaan.


Drrttt...


Bunyi ponsel Darren membuat keduanya mengernyit.


"Bentar, aku angkat telpon dulu."


"Iya, Derr."


"Hallo, Yah. Ada apa? apa sudah sampai Jakarta." Tanya Darren lewat panggilan telepon.


"Gawat Derr. Qween hilang, ayah baru saja pulang dari rumah sakit mengantar nyonya Elin. Sampai rumah Qween sudah pergi sedari tadi pagi."


"Sudah tanya Leon?" panik Darren.


"Ck! Ayah kecewa sekali sama anak itu, kamu kalau bisa cepat pulang, bantu Ayah mencari Qween."


"Baik, Yah."


Tutt..


"Breng sekk!" umpat Darren yang membuat Resha tersentak kaget.


.


.


.


Like komen dan rate giftnya yaπŸ€—

__ADS_1


__ADS_2