
Pagi itu, Resha berusaha menghindari Darren. Ia merasa sangat kecewa dengan laki-laki itu. Meski diluar kendali, seharusnya Darren bisa menjaga dirinya. Rasa bersalah hadir, bayangan mas Anton tersenyum saat mereka menikah menari di kepala membuat Resha frustasi dan sedih.
Lantas yang dia lakukan sepagi ini adalah menyusuri tepian pantai yang masih sangat sepi. Meninggalkan sejenak villa, bagaimanapun ia tak mungkin nekad pulang. Mau kemana? tujuannya belum pasti tapi untuk bertahan di tempat ini menunggu keputusan Darren adalah hal yang sangat mustahil.
"Maafkan aku, Mas." Resha menatap hamparan pantai lepas, menangis tanpa suara juga tanpa seorangpun yang tau.
"Darren si alan." umpatnya meluapkan kekesalan.
"Hai, Nona. Percuma mengumpati bibir pantai. Jika kesal dengan seseorang langsung saja bilang di depannya." tegur seseorang dengan suara santai. Resha menoleh, mendapati sesosok pria tampan berada tepat di belakangnya.
"Kau nguping?" Laki-laki bernama Noah itu terkekeh, lantas menggeleng.
"Tidak sengaja mendengarmu mengumpat, terima kasih sudah menghiburku sepagi ini." Noah menepuk pundak Resha tiga kali sebelum akhirnya melangkah.
"Tunggu." Resha berfikir laki-laki itu cukup ramah dan empati padanya.
"Bisakah menolongku? aku tersesat di sini."
Noah mengernyit, berfikir sebentar kemudian meneliti penampilan Resha.
"Kau seperti terlihat sedang berbohong," ucap Noah santai membuat Resha membelalakan matanya.
"Kau," ucap Resha namun laki-laki itu sudah melangkah pergi.
"Jika kita bertemu lagi, barulah aku akan menolongmu, Nona." Noah berteriak sebelum benar-benar menghilang dari pandangan.
Darren membuka mata, kemudian meraba samping. Tak ada Resha di sisinya tapi kenapa kejadian itu terasa nyata. Matanya membelalak saat menyadari tubuh polosnya tanpa sehelai benang yang melekat dan hanya berbalut selimut.
"Astaga," pekik Darren lantas bangkit segera mengunci pintu, matanya menyapu ke arah seprai yang terdapat bercak merah disana terlihat sangat jelas. Darren seketika terduduk lantas memijat pelipisnya.
"Apa yang sudah aku lakukan," Ucap Darren menyesal. Lantas segera ia masuk ke dalam toilet membersihkan diri, setelahnya ia berusaha mengganti seprei kamar tamu vilanya sendiri. Beruntung di dalam lemari ada sprei baru, setidaknya itu bisa menyelamatkannya sementara waktu.
"Sekarang aman, aku harus mencari Resha." Darren keluar kamar dan berjalan menuruni tangga. Tampak Leon dan Qween sedang sarapan bersama.
"Dimana Resha?" tanya Darren, Mereka lantas menautkan alisnya.
"Kamu baru bangun? bukannya kamu keluar sama kak Resha?" Tanya Qween semakin membuat perasaan Darren gusar.
"Enggak, bukanya dia bangun lebih dulu?"
"Aku bangun sudah tidak ada..." Tanpa menunggu lebih lama, Darren langsung bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan meja makan.
Darren gusar, lantaran Resha pergi tanpa membangunkannya lebih dulu.
__ADS_1
"Kamu pasti kecewa," gumam Darren, pandangannya menyapu ke setiap sudut area villa. Namun, wanita itu tak tahu dimana.
Sial.
Darren mengusap wajahnya frustasi, ia harus menemukan Resha dan meminta maaf. Hal pertama yang harus ia lakukan karena berhasil menorehkan luka dengan sengaja.
Bahkan jika kecewa, itu tidak akan sebanding dengan kesalahan yang Darren buat.
"Kamu tau kenapa Darren begitu khawatir?" tanya Leon disela sarapannya. Qween hanya mengedikkan bahu.
"Bee, kamu jangan dingin-dingin kenapa?" bujuk Leon dengan wajah memelas.
"Salah sendiri," Qween meletakkan sendok lantas pergi begitu saja meninggalkan Leon.
"Astaga, dia benar-benar sangat marah." Leon seketika berlari mengikuti Qween.
"Qween, jangan kekanakan. Aku udah jelasin semua, aku minta maaf. Oke fine, aku salah."
"Aku kekanakan? kamu tahu tidak rasanya kecewa. Kamu bilang aku kekanakan, aku sudah merajut mimpi. Melihat wajah kamu sewaktu bangun tidur dan kamu malah buru-buru pergi nemuin mantan kamu, oke aku emang kekanakan."
"Bukan, aku yang salah."
"Le, tentuin hati kamu. Bener gak aku itu ada? Aku sama sekali nggak keberatan kalau kita mau jalan masing-masing, bagaimanapun berjuang sendiri itu nggak enak. Kalau kamu kaya gini ke aku hanya karena Darren sahabat kamu, lebih baik jangan. Jatuhnya malah nyakitin."
"Aku serius, aku sayang sama kamu Qween. Bukan karena Darren atau apapun. Jadi aku bisa pastikan kemarin itu adalah kesalahan terbesarku," Leon menggenggam tangan Qween.
"Iya, sayang." Leon pun menyambutnya dengan senyum yang mengembang di bibir.
πππ
Langkah kaki Darren menyusuri bibir pantai, sudah mencari Resha kemana-mana, tapi nihil. Darren frustasi, ia benar-benar seperti sedang ditumpui beban yang sangat berat karena membuat Resha kecewa.
"Res," gumamnya bahagia kala melihat Resha duduk di salah satu sudut warung. Gadis cantik itu terlihat sedang menyantap sesuatu. Namun, dahi Darren mengernyit kala seseorang duduk dengan senyum manis di sisinya.
"Sialan." umpat Darren tersulut emosi.
Ia menghampiri meja Resha yang tampak berbincang dengan seseorang, itikad baiknya untuk meminta maaf lenyap sudah berganti dengan dadanya yang bergemuruh emosi.
"Ehm, pagi-pagi hilang dari tempat tidur ternyata disini," ucap Darren langsung duduk di hadapan Resha dengan mata melirik tajam.
"Dia siapa, Res." tanya Noah, wajahnya santai.
"Res? akrab sekali kalian. Aku suaminya." Aku Darren dengan wajah merah menahan amarah.
__ADS_1
"Ohh." Noah hanya ber-ohh sambil mengangguk, sementara Resha tersenyum masam.
"Kita nggak ada hubungan apa-apa Darren." Tegas Resha meletakkan sendoknya, ia masih kecewa dengan Darren yang bukan meminta maaf tapi justru mengajak ribut sepagi ini.
"Tidak ada, jadi kamu mau mutusin hubunganku sama anak dalam rahim kamu."
Mata Resha membelalak, "apa maksudmu, Derr?"
Resha terkejut bukan main mendengar kata Darren yang di luar ekspetasinya.
"Silahkan dilanjut debatnya, aku permisi. Ehm, makanannya biar aku yang bayar." Noah beranjak, wajahnya biasa saja melihat situasi seperti itu. Bahkan berjalan santai tanpa beban.
Saat hendak pergi meninggalkan warung, Noah lantas menoleh.
"Senang bertemu dengan pasangan unik seperti kalian, semoga kita bertemu lagi." Kata Noah lantas melambaikan tangan.
"Ya," jawab Darren sinis.
Sepeninggal Noah, mereka berdua diam. Namun, pandangan mata Darren tak lepas dari wajah cantik Resha.
"Aku minta maaf," ucap Darren tiba-tiba. Namun, kecanggungan masih terus terjadi. Resha menunduk kecewa.
"Aku salah, aku tidak bisa menahan diri."
"Apa kau terbiasa seperti itu dengan perempuan lain?" untuk pertama kalinya Resha berbicara dengan nada tinggi, napasnya memburu.
"Tidak, ini pertama kalinya. Jujur aku sangat terkejut."
"Aku hanya tidak tau harus bersikap gimana sama kamu, Derr. Bisakah beri aku ruang?"
"Kita akan menikah, aku akan menikahimu secepatnya."
Resha tersenyum masam.
"Res, aku tidak tahu apa itu cinta. Aku cuma tahu, kalau aku marah melihatmu sama orang lain."
"Apa kata orang tuamu nanti jika tau kita buru-buru menikah." Resha mendesah pelan.
"Aku akan bilang, kamu hamil anakku."
"Jangan gila, Derr!"
"Memang itu kenyataannya, apa mau nunggu kamu hamil dengan perut besar baru mempertimbangkannya?" tanya Darren.
__ADS_1
Resha memutar bola matanya malas, "tidak akan hamil hanya dalam satu kali melakukan."
"Kalau begitu, kita lakukan lagi sampai jadi."