
"Gimana persiapan acaranya Nak, apa kami perlu turun tangan?" tanya Edward si papa mertua, Shaka menggeleng keras "Acaranya privat, Pa! hanya keluarga, dan tidak ada tamu undangan." tegas Shaka.
"Apa????" tanya mereka berempat serempak dengan wajah terkejutnya.
"Jelaskan awal mulanya, nak." titah Wira, saat mereka sudah lebih tenang.
Bukan karena apa, tapi karena menurut mereka pernikahan Nora yang mendadak terlalu mengejutkan.
"Jadi gini, Ma, Pa! Devano, calon suami Nora masih sekolah dan..."
"Apa, Nora menikah dengan bocah?" potong Edward dengan sorot mata menajam, Shaka menghela napas sejenak. Harusnya mereka mendengar penjelasannya lebih dulu bukan?
"Dengerin dulu Ma, Pa!" Sambil mengusap dadanya, Shaka mengatur napas.
Mereka kembali diam, dengan tatapan tajam mengarah kepada Shaka, Kenia hanya bisa menunduk sembari terus meremas lengan Shaka kala menghadapi ke tiga orang tuanya yang frontal, sepertinya diantara mereka hanya papa Wira yang terlihat santai dan pro dengan masalah ini.
"Nora itu kabur dari rumah, dia menolak rencana perjodohan dengan keluarga Carley. Dan Devano lah yang melindunginya, bahkan bocah itu yang membiarkan Nora tinggal di apartemennya." terang Shaka.
"Nora menolak menikah dengan Alan Carley? lantas laki-laki seperti apa yang jadi calon suaminya heh?" ucap Wina.
"Apa putrimu itu hamil?" tanya Edward, dan itu berhasil membuat wajah Shaka merah padam.
"Putriku tidak akan pernah berbuat hal seperti itu, Suka atau tidak suka. Nora tetap akan menikah," tekan Shaka lalu memilih menyandarkan tubuhnya ke sofa seraya memejamkan mata, mendadak ia pusing sekali.
"Oma, Opa. Nora menikah murni keinginannya sendiri dan juga bukan karena paksaan. Lagi pula, Devano laki-laki yang cukup dewasa meskipun masih sekolah. Dan aku yakin keluarga Aldeva akan menjaga Nora dengan baik." jelas Zain hingga berhasil membuat Oma dan Opanya terkejut.
"Aldeva?" tanya Wira dan Zain sontak mengangguk.
"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau Nora menikah keluarga Aldeva. Jadi Devano itu putra dari Bayu Aldeva?" tanya Wira yang sudah paham marga Aldeva dengan segala kekayaannya.
"Bagaimana aku mau menjelaskan kalau kalian terlalu frontal menanggapinya." cibir Shaka.
"Ma, Ken mau bicara!" ajak Kenia kepada Wina. Wina mengangguk dan berjalan ke arah kamar Kenia.
"Ma, kapan sih mama berubah?" tanya Kenia langsung, ia diam karena tidak mungkin meluapkan kemarahannya disana terlebih ada Dina dan Wira, mertuanya.
"Maksudmu apa, Ken?" tanya Wina.
"Mama sudah tua loh, Kenia juga sudah tua. Ken minta, mama nggak lagi memandang orang dari sudut materi! Bentar lagi, Nora akan pulang. Ken harap mama lebih bisa menjaga sikap mama saat menyinggung Devano, meski ia masih sekolah, tapi kita semua bisa dengan mudah dihancurkan kalau dia mau." tekan Kenia hingga berhasil membuat Wina mematung.
"Oke mama minta maaf, mama cuma mau yang terbaik untuk kalian, makanya mama tanya seperti itu!" tegas Wina.
__ADS_1
"Hya, tapi tidak semua perjodohan itu berhasil. Awalnya Ken juga ingin memaksa Nora menikah dengan Alan, tapi saat Nora memilih jalan kabur, Ken seperti orang tua egois. Cinta memang bisa tumbuh kapan saja, tapi garis Tuhan tidak bisa kita bantah." ucap Kenia, dan lagi berhasil membuat Wina bungkam.
Ibu dan anak itu pun kembali ke ruang tamu bersama dengan suara deru mobil dan motor yang berhenti di halaman rumah, siapa lagi kalau bukan Devano dan Nora.
Bahkan pemuda jangkung itu masih memakai seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya.
Niat hati ingin mengantar Nora pulang dan memastikan jika tante kesayangannya sampai dengan selamat. Namun sepertinya ia terjebak. Nyatanya semua orang menatap ke arah pintu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Loh, Oma, Opa! Kata mama datengnya malem, kok udah sampai semuanya." sapa Nora lalu mencium tangan mereka bergantian. Devano pun mengikuti langkah Nora dan melakukan hal yang sama.
"Iya sayang, kami kangen." sahut kedua omanya bebarengan.
"Sore oma, opa, om dan tante, kak Zain!" sapa Devano dengan seulas senyum, berusaha untuk menetralkan detak jantungnya. Devano benar-benar dilanda gugup luar biasa.
"Sore, duduk Dev!" ucap Shaka dengan senyum, Devano pun memilih duduk di samping Zain begitupun Nora yang memilih duduk dekat Devano.
"Jadi kamu beneran masih sekolah?" tanya Edward dengan raut wajah datar.
Devano mengangguk, "Iya, Opa!"
"Kelas berapa?" tanya Dina, ikut penasaran, terlebih saat melihat wajah Devano yang terlihat masih imut.
Sontak mereka pun mengangguk-angguk, bahkan Edward yang tadinya emosi pun mulai mereda.
"Yang penting kalau nikah, jangan hamil dulu. Kasihan Nora-nya, paling tidak ya sampai kamu lulus dulu lah," ucap Wira tiba-tiba, dan itu berhasil membuat Nora membulatkan mata, Oh my God!
"Hamil?" celetuk Nora tanpa sadar, dengan nada seperti terkejut, lalu buru-buru membekap mulutnya.
"Pasti Opa, lagi pula kami memang berencana menundanya!" jawab Devano, hanya itu alasan yang terlintas di kepalanya saat ini.
Meski ia harus menahan sakit pinggang karena kini tangan Nora mencubitnya keras.
"Tuhkan, Devano itu baik." puji Shaka, demi meyakinkan orang tuanya.
"Setelah ini, aku juga akan menikahkan Zain." sambung Shaka lagi, membuat semua orang yang disana kecuali Zain dan Nora membulatkan mata. Kenia sendiri, sang istri bahkan tidak tahu jika suaminya memiliki rencana perihal anak laki-lakinya.
"Dengan siapa, Nak! jangan sampai Zain berencana kabur, karena kamu paksa." tegas Wira.
"Tenang semua, Zain pasti setuju kok karena cewek itu Maura, anak om Radit." ucap Nora sumringah.
***
__ADS_1
Keluarga Nora benar-benar menahan Devano untuk segera pulang, bahkan kini ia harus mandi di kamar Nora.
Devano sebenarnya tak keberatan, hanya ia merasa aneh karena tak membawa baju ganti.
"Dev, sudah belum?" teriak Nora dari luar pintu, tidak tahukah Nora bahwa di dalam Devano bingung, harus memakai apa?
"Dev, kamu nggak pingsan kan?" ulang Nora sembari terus mengetuk pintu.
Lalu gegas Devano keluar dengan hanya berbalut handuk yang melilit pinggangnya. Nora menelan paksa ludahnya saat tanpa sadar melihat dad* bidang Devano.
Lalu gegas menutup matanya dengan tangan, "Dev, kamu meno dai mata suciku." pekik Nora histeris.
"Memangnya kenapa, hmm? besok-besok tante juga akan terbiasa dengan hal seperti ini." sahutnya santai menahan senyum.
"Dev, cepat pakai baju." titahnya, menunduk.
"Aku gak bawa baju ganti, tan!"
Menghela napas, lalu tanpa menatap Devano, Nora berjalan menuju lemari dan mencari baju yang bisa Devano pakai, beruntung Nora punya beberapa baju cowok dan juga celana.
"Nih," ucapnya sembari menyodorkan baju dan celana.
"Makasih, jangan liat terus ntar nyesel loh." goda Devano lalu gegas masuk kembali ke dalam kamar mandi.
"Bocahhhh." pekik Nora kesal.
**
Devano bukan hanya gugup saat bersama keluarga besar Nora tapi juga ia merasa canggung. Terlebih ini pertama kalinya Devano bertemu dengan oma dan opanya Nora.
Tiga hari lagi, dan ia akan resmi masuk keluarga ini. Tiga hari lagi, dan Devano benar-benar tak menyangka.
.
.
.
.
Berikan komen terbaikmu sayang💞
__ADS_1