
Beberapa hari tanpa bekerja belum berakhir, kemalasannya meningkat lebih tajam saat ia hanya memilih duduk di sofa kamar dan menonton televisi, sambil menikmati satu kresek camilan yang Devano beli dari Indoapril tadi malam.
Maya yang melihat tingkah aneh Nona mudanya akhir-akhir ini hanya menggelengkan kepala, terlebih saat ia kepo dan bertanya kepada Devano, alasan yang terungkap karena kelelahan.
"Kalo Nora minta sesuatu turuti saja, May! Dia lagi gak enak badan, pengen makan yang enak-enak udah masakin aja, kalo ada apa-apa langsung telepon!" pesan Devano tiap kali sebelum berangkat sekolah.
Tok tok tok! Maya mengetuk pintu kamar Nora, lantaran sudah jam delapan nona mudanya belum turun untuk sarapan, ia bermaksud mengantarkan dua potong sanwich dan segelas susu.
Ceklek! Nora membuka pintu. Namun, Maya justru mematung demi melihat kondisi Nora yang masih acak-acakan.
"Baru bangun, Nyonya?"
"Iya, May!" Jawaban iya tentu saja membuat Maya memicing curiga lantaran beberapa kantong camilan terlihat terbuka di meja dalam kamar.
"Maya bawakan sarapan Nyonya."
"Masuk, May!"
Maya pun melangkah masuk dan meletakkan nampan di atas meja, tepat di samping beberapa camilan yang terbuka disana.
"Biar sekalian saya bereskan nyonya," namun, tertahan gelengan kepala Nora.
"Jangan May, baru dibuka itu. Dah! biarin aja, nanti aku lanjut makan. Makasih sarapannya." Maya mengangguk sembari tersenyum lalu melangkah pamit.
Nora memilih mandi sebelum menyantap sarapan, begitu selesai ia melangkah ke luar kamar mengenakan kimono sembari melihat wajahnya di depan kaca rias, mendapati pipinya mulai menggembul meski badan tetap langsing, gerakan impulsif tangan mengusap perut datarnya. Lamunannya buyar saat dering ponsel di atas nakas berbunyi.
Mama Nara is calling,
Membuat matanya seketika membulat sempurna, Apa ini karena ia tak masuk kantor hampir seminggu, jadi mama Nara menghubunginya langsung? Batin Nora.
"Hallo, ma?"
"Hay sayang, akhirnya kamu mengangkat telpon mama, belakangan Devano dan kamu susah dihubungi kenapa?" tanya mama Nara di seberang sana, membuat dirinya meringis.
"Maaf, ma! Em, itu Dev, sibuk persiapan ujian, tambah kemarin ada acara pernikahan Zain dan Maura." alibinya.
"Oh begitu, tapi kamu gak papa kan sayang? Zi bilang kamu gak ke kantor hampir seminggu?" lagi mama Nara melontarkan pertanyaan, membuat dirinya meringis.
"Maafin Nora ya ma, besok Nora berangkat ke kantor."
"Iya, tapi kamu gak kenapa-kenapa kan sayang?" tanya Nara, ada gurat khawatir dari nada bicaranya.
"Em, anu iya ma! Nora gak papa, cuma kecapekan jadi nggak masuk kantor." akhirnya ia menemukan alibi yang tepat, paling tidak mama Nara akan percaya.
"Syukurlah sayang, jaga diri baik-baik. Mama sama papa belum bisa pulang, ada beberapa proyek disini. Mungkin sampai dua bulan lagi baru bisa kesana. Tolong kamu dampingi Devano ya sayang, bentar lagi dia ujian."
__ADS_1
"Iya, Ma."
Nora bernapas lega, saat mama Nara mengakhiri panggilannya.
***
"Tumben kusut gitu?" tanya Devano kepada sahabatnya Abiyan, saat mereka sedang istirahat di kantin.
Disaat Karin sudah ikut bergabung bersama mereka justru kini Clara lah yang tak terlihat batang hidungnya.
"Lo berdua enak, gue jomlo." sungutnya membuat Devano pun Alfin terkekeh. Ya, setelah melewati perjuangan panjang akhirnya, Karin melabuhkan cintanya untuk Alfin.
Flashback on
Alfin mengajak Karin keluar setelah hampir lima kali ia menolak ajakan Alfin, trauma mungkin itu. Terlebih kehancuran dirinya dimulai karena jalan dengan Alan ke club malam.
"Kar, gue serius sayang sama lo. Mungkin, gue gak bisa janjiin apa-apa saat ini, gak bisa langsung ngelamar elo, bahkan nikahin elo. Tapi gue bakal buktiin kalo gue tulus."
"Meskipun gue udah.."
"Stttt, iya gue tahu. Dan itu bukan masalah buat gue, gue cinta sama lo apa adanya."
"Tapi gue cuma bakal ngecewain elo, Fin! Gue trauma, gue.."
"Gue adalah orang yang akan slalu ada disaat lo kaya gini, lo nggak sendiri, Kar! Kita laluin sama-sama,"
Flashback off
"Clara mana? bukannya lo pacaran sama Clara?" tanya Karin bingung lantaran akhir-akhir ini melihat Abiyan sendiri.
"Putus lo?" tebak Devano membuat Abiyan meringis,
"Jadian aja belum." Akunya sambil nyengir kuda.
"What?" sontak ketiganya memandang Abiyan dengan tatapan mengintimidasi. Namun, terhenti saat Clara lewat dan duduk bersama seseorang cowok.
"What the hell." umpat Abiyan, tanpa sadar memukul meja, lalu bangkit menghampiri Clara dengan mata memanas.
"Dia siapa bee?" tanya Abiyan dengan sorot mata tajam.
"Duduk dulu by," ajak Clara, akan tetapi Abiyan tak bergeming membuat Devano, Alfin pun Karin gegas menghampiri.
"Kita tunggu di kelas aja, Clar!" ucap Alfin sembari menarik tubuh Abiyan dan membawanya pergi.
Mereka bertiga memilih kembali ke kelas, sementara Karin masuk ke dalam kelasnya sendiri setelah berpamitan dengan Alfin.
__ADS_1
"Tahan dan jangan emosi, nanti kalo Clara dateng ajak bicara baik-baik, wanita nggak suka kekerasan apa lagi kata-kata kasar." pesan Devano, benar saja selang beberapa menit mereka masuk kelas, Clara menyusul.
Lalu tanpa Abiyan minta Clara sudah lebih dulu menjelaskan siapa cowok yang bersamanya di kantin tadi, Abiyan bernapas lega akhirnya.
Meski begitu, ia harus segera mengikrarkan cinta secara resmi kepada Clara.
**
Pulang sekolah Devano sengaja keliling jalan, barangkali ia menemukan makanan yang bisa dibawakan untuk Nora, ia sempat bertanya pada si mbah google tentang makanan atau camilan yang banyak diminati wanita hamil. Dan Devano memutuskan untuk membelikan Nora rujak mangga muda, mungkin saja istrinya suka.
Dengan senyum merekah ia menghampiri penjual rujak.
"Mas, rujak mangga dua ya?" pintanya.
"Pedas aja apa pedas banget mas?" tanya si penjual.
Ia sendiri juga bingung, "Dua-duanya aja mas, buat istri saya lagi nyidam." akunya, Dev bahkan gak sadar jika memakai pakaian SMA dengan menyebutkan kata istri membuat mas-mas penjual rujak menggelengkan kepala namun dengan mulut terdiam.
Tapi rasa penasaran begitu dominan hingga memancing keingintahuan si penjual untuk bertanya.
"Udah nikah, mas?"
"Udah mas, udah sebulan lebih."
"Wah, masih SMA udah nikah mas?"
"Iya mas, nikah muda biar nanti pas anaknya gede, bapaknya masih ganteng." selorohnya sembari terkekeh membuat si penjual ikut tertawa.
"Bisa aja mas, whehe ini." penjual menyodorkan dua bungkus rujak pesanan Devano.
"Berapa mas?" tanyanya,
"Dua puluh ribu mas." Devano menyodorkan satu lembar uang 50 ribuan, "Sisanya buat masnya," Ia gegas melangkah tuk naik motor.
"Makasih mas, semoga istrinya sehat selalu." ucap si penjual setengah berteriak, Dev pun mengangguk senyum sebelum melesatkan motornya.
Belum juga ia turun dari motor, Nora sudah menyambutnya di teras rumah.
"Nungguin ya?" tanyanya menghampiri lalu mengusap pucuk kepala Nora, Nora mengangguk saja sambil tersenyum.
"Bawa apa?" tanyanya penasaran.
"Rujak, spesial for my schatzi." ucapnya mengulum senyum.
***
__ADS_1
Schatzi : sayang 🖤
Like komen rate dan vote ya kak🥳