TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Bertemu Elle


__ADS_3

"Elle...." ucapnya tanpa sadar saat matanya menangkap sosok Elle, wanita yang kini terjatuh di hadapannya.


Bukan, bukan tak percaya. Gadis itu baru menelponnya, dan kini mendapati Elle berada di hadapannya membuat Devano syok.


Elle mendongkak, dan tak kalah terkejutnya,


"Dev!!!" pekiknya senang, baru ia belanja membawa beberapa oleh-oleh yang akan dibawa ke rumah Devano dan om Bayu, kini justru mereka dipertemukan di supermarket.


Nora, ia mematung.Terlebih saat Ellena memeluk Devano. Ada rasa sesak sekaligus kesal yang datang menyeruak.


Harus diakui, ia memang cemburu! sangat sangat cemburu.


Namun, memilih diam sebagai pertahanan.


"Ups, sorry-sorry! saking senengnya ketemu kamu, jadi gak inget tempat." selorohnya saat sadar Nora menatapnya datar.


Elle melerai pelukan, kemudian menghampiri Nora dan langsung memeluknya.


Nora yang mendapat pelukan mendadak semakin tak mengerti, memilih diam dengan tanda tanya besar di kepala, mungkin setelah ini Devano akan bercerita.


"Kau menyiksa istriku Nona." seloroh Devano membuat Elle gegas melerai pelukan.


"Ellena," dengan senyum ramah, ia mengangsurkan tangan berharap Nora menyambutnya.


"Nora," ucapnya menjabat tangan itu dengan senyum yang dipaksakan.


Devano mengulas senyum melihat interaksi keduanya, "Sayang, Elle ini anak om Alex." serunya memperkenalkan.


Ingatannya melayang, mencari jejak siapa om Alex, berusaha mengingat nama itu, seperti sering disebut oleh Devano.


Karena tak menemukan jawaban dan mengingat apapun, Nora memutuskan mengangguk mengerti, meskipun sebenarnya tidak.


"Dan Elle, dia istri tercintaku." serunya sembari mengu lum senyum.


"Ceh, bucin kali kamu Dev!" selorohnya namun dengan kekehan kecil.


Dari situlah, ia mengerti, dan mulai paham jika hubungan mereka tak lebih dari teman atau sahabat atau mungkin saudara.


Hening, setelah membayar dua kantong kresek camilan, mereka pun keluar supermarket.


"Kamu naik apa, Ell?" tanya Devano kepada Elle, "Hehe, tadi sih dianterin, tapi udah aku suruh dia balik." Elle nyengir kuda, "Ehm, berasa obat nyamuk nih." candanya.


Namun, Devano tak mengindahkan ucapan Elle, dan tetap menautkan jemarinya di tangan Nora.

__ADS_1


"Kamu ikut, tapi di belakang." titahnya.


Elle pun mengangguk dan langsung masuk ke dalam, sama halnya dengan Nora, bedanya Devano lebih dulu membukakan pintu untuknya.


"Kamu sudah ketemu mama dan papa sebelum kesini Ell?" tanya Devano setelah mobilnya melaju, Elle mengangguk, "Om Bayu bilang, aku boleh pukul anaknya kalo dia macam-macam sama Nora." ucapnya sembari terkekeh, Nora pun sontak ikut tertawa. Dugaan tentang siapa Ellena dengan segala hubungan spesial dengan Devano lenyap sudah.


"Gak macam-macam, cuma satu macam." ucap Devano menaik turunkan alisnya, "Iyakan sayang?" sambil mengerling ke arah Nora, si empu lagi lagi bersemu merah.


"Apaan sih, Dev!" gumamnya tersipu.


Mereka menyempatkan diri makan di luar, sebelum benar-benar pulang ke rumah. Keadaan Nora yang baru pulang kantor membuat ia meringis, pun halnya dengan Devano yang belum sempat pulang membuat Elle menggeleng-gelengkan kepala.


Setelah mampir ke salah satu caffe untuk makan, mereka memutuskan pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Hingga tak terasa mobil sport warna hitam itu memasuki halaman rumah mewah Aldeva, gegas Devano turun dan membukakan pintu untuk istrinya, "Padahal aku bisa sendiri," gerutunya, namun dengan senyum.


"Ehemm." deheman Elle membuat keduanya tersentak.


"Masuklah, Ell. Bukankah ini juga rumahmu." ucap Devano, Ellena mengangguk, ia menyapa Maya pun bi Liam yang menyambutnya dengan sumringah.


Ellena adalah model blasteran Indo-Singapura, anak tunggal pasangan Alex dan Lana, adik dari Papa Bayu. Wajar jika Devano sangat dekat dengan Ellena, sejak kecil mereka selalu bersama, hanya saja ketika om Alex mulai mengembangkan bisnis di Singapura, ia jadi jarang bertemu dengan Elle.


Sebelum Nora melangkahkan kakinya masuk, Devano sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangannya, isyarat agar Nora berhenti.


"Aku mau ngomong sebentar, boleh?" Nora mengangguk, Devano pun langsung mengamit tangannya dan membawa Nora di kursi taman samping rumah.


Devano menghela napas sejenak, "Aku mau ngomong sayang."


"Ngomong apa?" tanyanya semakin heran.


"Aku mau minta satu hal, jangan sampai Elle tau kamu hamil. Jangan sampai orang rumah ada yang tau." pintanya memohon.



"Sampai kapan?" tanya Nora, Ia menangkup pipi Devano hingga suaminya itu memejamkan mata sekedar Saling menguatkan.


"Nggak lama sayang, sampai aku lulus, minggu depan aku udah UN dan akhir bulan pelepasan siswa."


"Iya, mereka nggak akan tau! ini cuma tentang kita bertiga, ini tentang aku, kamu dan anak kita."


"Sama yang di atas sana, semoga kita selalu berada dalam lindungan-Nya." ralat Devano.


"Aamiin, semoga." Nora mengubah posisi tuk lebih dekat dengan Devano lalu menyenderkan kepalanya. Semilir angin malam dingin menerpa, Namun tak membuat dua insan itu segera beranjak, memilih menikmati indahnya malam bertabur bintang juga rembulan yang tampak malu-malu.

__ADS_1


Elle menutup mulutnya tak percaya, saat tanpa sadar mendengar obrolan mereka. Ia beringsut mundur dan segera pergi, tadinya ia menunggu Devano pun Nora di sofa ruang tamu, mengabaikan Maya yang menawarinya untuk istirahat di kamar, karena masih ingin mengobrol dengan Devano dan Nora.


Gegas ia mencari Maya agar mengantarkannya ke kamar tamu, lalu membaringkan tubuh dengan segera. Menghindar dan agar terhindar terlebih ia tak sengaja.


"Jadi Nora sudah hamil? Apa aku harus sampaikan kabar ini ke papa?" gumamnya menatap langit-langit kamar, Elle tak bisa tenang saat ini.


Devano mengajak Nora masuk ke rumah, saat bertemu Maya. Ia menanyakan keberadaan Elle dan cukup bernapas lega karena sepupunya sudah masuk ke dalam kamar tamu, samping kamarnya.


Baru saja Nora meletakkan tasnya, Devano sudah lebih dulu mengunci pintu, tuk kemudian memakas jarak antara ia dan Nora.


"Kangen," bisiknya tepat di telinga, "Mau sekarang." lagi dengan suara serak kha Devano.


Nora pun mengangguk sembari mengu lum senyum sebelum Devano menghempaskanya ke dalam lautan cinta penuh hasrat dan gelora.


Sebuah pemanasan sebelum mereka membersihkan diri.


Malam berganti pagi, pagi berganti siang, siang berganti sore mereka lalui penuh cinta, waktu Elle menginap di rumahnya pun sudah berakhir dan kini justru menyimpan rahasia besar milik Devano, entah akan ia sampaikan kepada papa Bayu atau memilih menyimpannya rapat-rapat.


"Hati-hati, Ell. Aku pasti akan merindukanmu." ucap Nora tulus, dan hatinya trenyuh demi melihat sikap Nora yang luar biasa baik selama ia berada di rumah Devano, sepupunya.


"Makasih Nora, aku pasti akan sering main ke sini, jika ada waktu." ia memeluk.erat Nora, rasanya Elle seperti menemukan ketenangan, tanpa sadar menyentuh perut Nora sambil perkata dalam hati, Sehat-sehat ponakan aunty!


Sore itu, Devano mengantarkan Ellena bertemu Robert, kekasihnya tuk kembali ke Singapura. Namun, sebelum itu Elle sudah lebih dulu mengajukan pertanyaan yang membuat mata Devano membulat sempurna.


"Sudah berapa bulan Nora hamil?"


Tentu saja jawabannya sesuai perhitungan dari tanggal terakhir Nora mens truasi.


"Jadi sudah hampir 3 bulan?" tanya Elle, Devano mengangguk tanpa kata.


"Jadi begitu menikah, kalian langsung melakukannya." cercanya, seperti tak puas.


"Melakukan apa, Ell."


"Haish kau ini, menyebalkan dan pura-pura bodoh." gerutunya kesal.


"Iya," sahutnya singkat hingga berhasil membuat bibir Elle diam tak bersua.


Hening!


.


.

__ADS_1


Like komen dan vote nya akak sayang


😘


__ADS_2