TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Cerita malam


__ADS_3

Nora benar-benar dilanda gelisah, entah kenapa akhir-akhir ini ia sering kesal saat Devano tak memberinya kabar sama sekali. Seharian ini, bahkan bocah tengil itu tak mengabarinya, meski tadi pagi Devano sempat mengirim pesan lewat WA.


"Ceh, apa kau sedang merindukan kekasihmu?" suara serak Zain menyadarkan Nora, yang terlihat gelisah. Kamar Zain dan Nora memang bersebelahan dengan balkon yang sama. Sehingga memudahkan mereka untuk saling mengobrol di balkon kamar tanpa harus lewat pintu kamar utama.


"Siapa bilang, aku hanya sedang tidak bisa tidur!" elak Nora, dan itu berhasil membuat Zain tersenyum tipis.


"Nggak bisa tidur, karena rindu. Apa kamu pikir aku ini bocah kecil yang tak tau apa itu cinta, sampai orang rindu pun aku tak tahu." cibir Zain, lalu duduk di sofa sembari meletakkan dua botol capucinno.


"Ini masih terlalu sore untuk tidur, lagian kamu sedang cuti kerja Noe, duduklah kita bercerita." ajak Zain.


Menghela napas lalu Nora ikut duduk di sebelah Zain.


"Jangan mengintrogasiku Zain, aku dan Devano menikah murni karena saling mencintai."ucap Nora, Zain pun hanya menanggapinya dengan terkekeh kecil.


"Kamu memang pantas bahagia, Noe. Dan aku harap itu benar nyata, karena aku sudah mengorbankan hidupku untuk ini." ucapan Zain berhasil membuat Nora tersentak.


"Maksudmu, Zain?" tanyanya dengan alis bertaut karena bingung. Terlebih Zain bilang telah mengorbankan hidupnya demi dia?


"Papa merestuimu dengan syarat aku harus menikah dengan Maura." ucap Zain serius.


"Kamu gak bohong kan?" tanya Nora lagi, Zain menggeleng.


Namun, bukan Nora prihatin akan nasib percintaan Zain. Saudara kembarnya itu justru tersenyum senang.


"Akhirnya Maura akan menjadi kakak iparku, oh betapa menggemaskannya kalian." pekik Nora yang justru semakin bersemangat. Sementara Zain? jangan tanya, wajahnya sudah ditekuk bak kertas berlipat-lipat.


"Aku melakukannya demi kamu, Noe! Ingat, kamu harus bahagia," ucap Zain.


Nora mengangguk, dan langsung memeluk Zain erat. "Kamu memang terbaik Zain, akupun akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian." ucap Nora.


Dua insan itu kini masih asyik mengobrol di balkon kamar, angin malam menerpa tubuh mereka namun sepertinya Nora dan Zain masih menikmati waktu terbaik mereka. Mungkin, setelah menikah tak akan ada lagi momen seperti ini, mungkin ada tapi jarang.


"Kalian beneran saling mencintai kan?" tanya Zain penuh selidik, "Tentu saja," jawab Nora.


Lalu meraih benda pipihnya di dalam saku, dan menvideo call Devano.

__ADS_1


"Ceh, bucin akut!" ejek Zain, namun hanya ditanggapi Nora dengan mencebik.


"Sial kenapa gak diangkat sih," kesal Nora, namun ia yang tak menyerah terus menelpon Devano. Semetara Devano di dalam kamar bingung harus mengangkat telepon dari Nora atau memilih mengabaikannya. Wajahnya yang tampan masih menyisakan memar merah, meski sudah diobati. Nara dan Bayu pun memakhlumi ketika mendengar alasan Devano saat menanyakan kenapa pipinya memar.


Dan, akhirnya Devano mengangkat telponnya.


📲"Kenapa lama, sibuk hmm?" tanya Nora, diseberang sana. Tentu saja dengan Zain yang menahan tawa di sampingnya.


📲"Enggak, aku lagi gak enak badan sayang." Suara Devano yang mengubah panggilannya menjadi sayang.


📲 "Ada apa dengan wajahmu, kenapa merah?" tanya Nora. Devano hanya menanggapi dengan gelengan kepala sambil tersenyum.


📲" Gak boleh bohong sama calon istri." tegas Nora dengan menarik turunkan alisnya, menatap Devano curiga.


📲" Oke tante sayang, jadi tadi om si-Alan aku pukul, sampai babak belur lah, tapi ya gak parah amat kok cuma luka di seluruh wajahnya." jawab Devano santai, Namun tidak dengan Nora.


📲"Astaga Dev, kamu gila ya. Alan itu bahaya, aku nggak mau kamu kenapa-napa. Kalo dia nyelakain kamu gimana, hah!" omel Nora.


Zain dan Devano sontak terkekeh besamaan.


📲"Aku gak papa, tant! Buktinya, liat aku gak kenapa-kenapa kan? cuma memar doang karena terlambat menghidari pukulan om si-Alan. Yaudah gih, tidur! Udah malem," ucap Devano sembari tersenyum.


📲"Hmm, iya aku tidur! Bye." Nora langsung mematikan video callnya.


"Sekarang aku percaya kalo kamu dan Devano benar-benar saling mencintai." ucap Zain.


"Iyakah?" tanya Nora.


"Apa aku terlihat seperti mencintai Devano, padahal aku rasa sikapku biasa, khawatirku ya hanya sekedar khawatir! Tapi baguslah, kalau anggapan mereka begitu, aku jadi tak perlu melebih-lebihkan." batin Nora yang merasa heran, kenapa justru Zain menilainya seperti itu.


Malam semakin larut, saat Zain pamit masuk kembali ke dalam kamar, Nora pun memutuskan sama, masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri. Sejenak menatap langit-langit kamar. Mencoba memejamkan mata, namun bayangan wajah Devano terus berlarian di kepalanya.


Perhatiannya, senyumnya, manjanya. Semua melekat dalam pikiran Nora malam ini, buru-buru ia menepisnya.


"Ah, tak terasa hari semakin dekat." gumamnya seraya memejamkan matanya.

__ADS_1


***


Esok kembali, matahari bahkan sudah merangkak naik ke atas. Tapi Nora masih asyik terjebak di alam mimpi. Pukul 09.00 WIB dan Nora masih enggan membuka matanya.


Sang mama yang mendengar dari Zain jika Nora tidur larut pun tak tega membangunkannya.


Membiarkan Nora tertidur, sepuas hati karena selama Nora bekerja, gadis itu jarang sekali menikmati tidurnya.


Kenia menghampiri putri kesayangannya di kamar, beruntung kamar Nora tidak di kunci. Lalu gegas Kenia masuk dan duduk di tepi ranjang. Tangannya membelai lembut rambut putri tercinta.


Nora menggeliat pelan saat merasakan sentuhan lembut di kepalanya.


"Mama." panggilnya tersenyum, senyum yang sangat manis.


"Pagi sayang." sapa Kenia, seketika Nora bangun, dan melihat ke arah jam dimana waktu sudah menjelang siang.


"Ya tuhan," pekik Nora yang tersentak saat sadar jam di dinding sudah hampir menjelang siang.


"Bangun gih, mama siapin sarapan ya di bawah." ucap Kenia lembut, lalu memilih keluar kamar dan turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan untuk Nora.


Nora lebih terkejut saat melihat benda pipihnya penuh dengan spam panggilan tak terjawab dari Devano. Bibirnya tanpa sadar mengukir senyum.


Terlebih saat membuka satu pesan dari Devano, pesan yang seketika membuat ia merasa begitu dicintai.


Selamat pagi makhluk Tuhan paling cantik, mungkin terdengar seperti gombalan, tapi ini tulus lo, kamu cantik bagaimanapun versimu dimataku💞


Memang begitu, bagaimanapun Nora? tetaplah bintang bagi Devano, bersinar sepanjang malam.


***


Hallo gaes! terima kasih selalu setia mampir dan dengan sabar menunggu upnya Devano dan Nora, semoga kalian semua sehat selalu💞


Jangan lupa dukung karya author dengan meninggalkan jejak like, komen juga vote dan seikat bunga mawar juga kopi biar apa? ya biar aku nggak ngantuk ngetiknya bwhehehe


Miss you all🙏🏻🤗 mampir juga ke karyaku yang lain😘

__ADS_1


__ADS_2