TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - bab 3


__ADS_3

"Kalau begitu, kamu saja yang gantiin dia keluar sama saya," ucap Darren seperti sebuah perintah.


"Saya?" Ulang Resha tak percaya.


"Kamu, siapa lagi."


"Tapi, saya..."


"Tidak ada tapi-tapian, atau kamu mau kalau saya laporin ke Dania biar di pecat?" ancam Darren.


"Hah, tapi..." Resha masih berusaha mengelak, sebelum akhirnya tangan Darren segera mendorong tubuhnya masuk agar segera mengganti pakaian.


Sementara dua insan yang menunggu di mobil kini sudah mulai kehabisan kata-kata, Darren lama sekali seolah memberi ruang kepada Leon juga Qween agar lebih leluasa mengobrol.


"Lama sekali, Darren!" gerutu Leon yang mulai tak sabar, "Jangan-jangan dia?" Sebagai lelaki tentu Leon memiliki pikiran normal, bisa jadi di dalam sana Darren sedang berduaan dengan Dania, pikir leon dalam hati.


"Darren nggak mungkin aneh-aneh," ucap Qween yang lebih tau seperti apa Darren sebenarnya.


"Oh, Qween kamu polos sekali." Namun, perkataan itu tak sampai keluar dari mulut Leon.


Tidak tahukah mereka, jika saat ini Darren tengah menunggu Resha berdandan di sofa ruang tamu belakang kedai.


Sedangkan di dalam ruangan kecil, yang saat ini menjadi kamar tidurnya, Resha dibuat bingung memilih gaun mana yang pantas untuknya.


"Untung aku bawa pergi gaun ini, gaun dari Mas Anton kado ulang tahunku dulu," gumam Resha.


Gegas ia mengganti pakaiannya dengan gaun, lalu memoles tipis wajahnya agar rona coklat di bawah mata dan wajah pucatnya sedikit tertutup.


"Aku nggak mengkhianatimu kan, Mas?" gumamnya seraya menatap wajah lamat-lamat di cermin. Resha terpaku, sudah lama sekali ia tak memoles wajahnya.


"Kalau pun sekarang aku mengkhianatimu, itu karena kesalahanmu yang tak pernah menyentuhku." Resha menatap tajam cermin sebelum akhirnya ia teringat seseorang sedang menunggunya.


Gaun selutut berwarna navy dengan aksen broklat juga mutiara di bagian dada. Resha terlihat sangat anggun dan cantik, usianya masih terlalu muda untuk menyandang status janda.


"Aku berharap, disaat seperti ini. Tuhan tidak mempertemukanku dengan ibunya mas Anton." gumamnya sebelum mendekat ke arah Darren.


"Maaf, membuat anda menunggu, Tuan!" Resha menunduk.


Darren terpaku akan wajah cantik di hadapannya saat ini, sungguh benar-benar cantik. Bahkan Darren masih tak menyangka jika Resha jauh terlihat sangat anggun dan layak menjadi pasangannya.


"Ayo," ucap Darren mengulurkan tangannya, Resha meraihnya. Mereka berdua berjalan keluar kedai dan membuat kehebohan.


"Itu Resha, kan? Ya Allah ternyata dia cantik banget, beda jauh kalau pas lagi kerja."


"Oh, ternyata punya pacar ya Resha, kasian yang aku dengar suaminya meninggal dua bulan setelah menikah."

__ADS_1


"Iya sayang sekali masih muda sudah jadi janda."


"Baguslah kalau dia cari lagi, dengar-dengar mertuanya galak minta ampun, bahkan nih gila harta."


Bisik-bisik para pegawai di kedai saat Resha sudah menghilang dari pandangan. Sementara Leon dan Qween dibuat tersentak oleh seseorang yang saat ini dibawa oleh Darren.


"Wanita itu kan, pegawai barunya Dania, bagaimana bisa?" batin Leon yang memilih diam.


"Hai, aku Qween, adik kak Darren!" Qween menyambut kehadiran Resha sebelum masuk mobil.


"Resha, aku pe..." terpotong oleh perkataan Dareen, "Dia temanku, teman Dania juga."


Deg


Deg


Jantung Resha berdetak kencang, saat kedua manik mata Darren melirik ke arahnya. Seolah isyarat agar ia mengikuti segala permainan pria yang saat ini menggenggam tangannya tanpa sadar.


"Hiya, aku teman Darren." Aku Resha, lalu berusaha melepaskan genggaman saat tangan Darren semakin erat mencengkramnya.


Bergelut lewat sorot mata memang tak mengenakan, lalu Darren segera membuka pintu mobil untuk memecah kecanggungan.


"Masuklah, Qween kita berangkat sekarang. Kamu masuk." titah Darren. Resha mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Setelah dirasa siap, Leon mulai melajukan mobilnya.


Jakarta malam hari lumayan senggang, kendati begitu mereka harus ekstra hati-hati terlebih banyak jalan rawan kecelakaan.


"Caffe Dans!" Sahut Darren cepat, caffe dengan iringan musik clasik, ditambah tempat yang begitu nyaman. Darren tumbuh menjadi orang yang tak begitu suka kemewahan, kendati hidupnya bergelimang harta. Darren hanyala Darren, jika di luar ia hanyalah manusia biasa.


"Sejak kapan kalian kenal?" Tanya Qween saat mereka sudah mendapatkan tempat duduk.


"Kemarin,"


"Sudah lama," sahut Resha dan Darren bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda.


Seorang pelayan datang sembari membawa buku menu, setelah memesan beberapa makanan akhirnya mereka kembali diam.


"Mbak, namanya siapa?" kali ini suara Leon, lantaran sedari tadi mereka tanya jawab tanpa ada yang tanya siapa nama wanita cantik yang bersama Darren.


"Olivia Resha, panggil saja Resha." Resha mengulas senyum, namun senyum itu oudar kala Darren menatapnya dengan sorot mata tajam. Dalam hati ia merasa heran dengan sikap laki-laki di sampingnya ini, sikapnya bahkan sama sekali tak menunjukkan sebagai teman.


"Nama yang indah, ke depannya aku akan memanggilmu kakak ipar." canda Qween yang berhasil mendapatkan jitakan dari Darren.


"Kau ini, begitu berani."


"Jangan menyakiti Qweenzaku, Darren!" bela Leon lalu mengusap lembut kening Qween.

__ADS_1


"Le, kamu so sweet banget ih." Resha hanya tersenyum masam melihat interaksi Qween dan Leon, ingatannya berputar pada masalalu, ia teringat akan sosok Anton yang hampir sama dengan Leon.


Flash back on,


"Mas, apa kita akan menikah?"


"Iya, aku akan menikahimu. Aku tak akan pernah membiarkan si breng sek itu terus menerus menjeratmu, kau adalah Reshaku," Anton mengusap lembut pipi Resha. Namun, hal itulah yang membuat Resha percaya dan merasa nyaman jika bersama Anton. Sayang, meski sudah menikah. Ibu dari Anton tak pernah menyukainya, menyalahkan takdir kematian anaknya adalah kesalahan Resha, hingga ia di usir tepat tujuh hari setelah suaminya meninggal.


"Maafkan aku Resha, maaf karena menyembunyikan penyakitku dan tidak pernah menyentuhmu. Aku Anton, sejujurnya hanya ingin melindungimu dari pria seperti Alres.


"Pergi kamu, pergi kamu penyebab Anton mati, kamu pembunuh."


Flash back off,


Tar!!!


Lamunan Resha buyar begitu saja saat Darren memukul meja dengan sendok di hadapannya.


Bahkan Resha baru sadar jika makanan yang dipesan sudah tersaji di atas meja.


"Memikirkan apa?" tanya Darren. Resha menggeleng, lalu mulai menyentuh makanannya saat Qween dan Leon ternyata juga mulai makan.


Hening, hanya ada suara denting sendok garpu dan iringan musik yang membersamai malam mereka.


Suasana begitu canggung, saat Darren tiba-tiba mengusap sudut bibir Resha dengan tisu.


"Makanya pelan-pelan, belepotan!" ucapnya hingga berhasil membuat si empu bersemu merah.


Byur!


Seorang perempuan dengan rambut sebahu dan baju minim menghampiri mereka dan dengan gerakan cepat menyiram wajah Resha dengan air putih.


"Ja lang tidak tau diri, masih berani pura-pura bersikap polos di depan semua orang!"


.


.


.


Dahla, bersambung dulu🤭


Next?


200 like, up🙄

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak dengan like komen dan vote🙏🏻


Sudah baca sampai sini gak ada like, ck lemah😆


__ADS_2