TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - bab 2


__ADS_3

Leon dan Darren segera kembali ke kantor selepas jam makan siang. "Kau sudah menghubungi clien kita?" tanya Darren.


"Tentu saja sudah, jangan sampai kita terlambat."


Meski sebenarnya di dalam hati Leon penasaran, apa yang Dania bicarakan dengan Darren di dalam tadi.


"Kau tak ingin menjelaskan sesuatu, atau bercerita kenapa kau bicara dengan pemilik kedai itu lama sekali?"


"Bukan sesuatu yang penting, Le." Darren masih menampilkan wajah datarnya hingga Leon tak bisa menebak apa yang saat ini ada di dalam pikiran Darren.


Mobil berhenti tepat di depan Arsa group. Leon setelah berlari masuk ke dalam kantor untuk mengambil beberapa berkas meeting di lantai atas. Sementara Darren memilih menunggu di dalam mobil.


"Hallo Qween, sedang apa?" Ia memilih menghubungi Qweenza, saudara kembarnya.


"Aku sedang membaca novel di kamar, kapan kamu pulang, Der?" Qween memang lebih suka memanggil nama Darren dengan Der.


Menurutnya lebih cocok ketimbang Dar.


"Heh, Qween ini baru setengah hari kau sudah merindukanku, kahSahut nya Darren.


Qween hanya bisa menghela napas lalu terkekeh kecil. "Aku selalu merindukanmu Der, kau kan pelindungku,"Jawab Qween tersenyum.


"Kau ini, tunggu aku pulang," ucap Darren sebelum mematikan sambungan video call.


"Eh, salam buat Leon."


"Hmm,"


Tanpa disadari Leon sudah masuk ke dalam mobil dan siap melesat kembali.


"Qween merindukanmu," ucap Darren, Leon melirik sebentar lalu menghembuskan napas pelan. "Nanti aku akan kesana," ucap Leon.


Caffe Damara, sedang dalam keadaan sepi. Seorang wanita muda dengan tampilan modis dan rambut tergerai. Gaun yang sedikit terbuka di bagian depan. Tengah menunggu bersama sekertarisnya.


"Selamat siang, maaf atas keterlambatan kami." Leon menunduk memberi hormat, sementara Darren langsung duduk, wajahnya datar tanpa ekspresi sama sekali tidak tertarik dengan wanita yang saat ini tengah senyum-senyum memandangnya.


Bersama dengan itu, pelayan datang menyajikan menu terbaik caffe.


"Tidak masalah," Sahut Elen, ia bergerak kesana kemari memamerkan tubuhnya.


"Ehmmm, sepertinya saya salah memilih clien, kerja sama ini, kita batalkan saja." Darren langsung bangkit, dia paling tak suka dengan cara wanita menggodanya, memamerkan lekuk tubuhnya. Sungguh Darren merasa muak dan jijik.


"Darren, apa kau yakin." Leon meminta pertimbangan.


"Yakin,"


"Tunggu, Tuan Darren! Anda tidak bisa membatalkan begitu saja, seharusnya anda..." terdiam karena Darren menatap Elen tajam.


"Seharusnya anda bisa menjaga sikap anda ketika bertemu dengan clien," ucap Darren, ia lalu melangkah, agar lebih dekat dengan Elen dan membisikkan sesuatu.


"Tidak semua laki-laki akan langsung tertarik dengan sikap mur*han anda." bisik Darren dengan seringai tipis.


Sial.

__ADS_1


Elen kesal, rencananya untuk menarik perhatian Tuan muda Arsa grup sia-sia.


"Aku tak menyangka jika dia adalah laki-laki tak tersentuh." Gerutu Elen, kesal. Sementara laki-laki yang mendampinginya hanya meringis sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Kau, habiskan makanannya. Aku rugi besar hari ini!" Elen bangkit, meninggalkan sekertarisnya.


"Dasar wanita bo doh, dalam dunia bisnis dia selalu mengandalkan kecantikan, baru kali ini nona Elen dipermalukan. Pasti sakit rasanya di tampar oleh kenyataan." batin sekertarisnya, ia melahap habis makanan yang belum sempat tersentuh.


Darren masuk ke dalam mobil dengan kesal, sementara Leon masih tak mengerti.


"Kamu kenapa, Der?"


"Aku, aku hanya muak dengan wanita tadi. Tingkahnya lebih mirip dari seorang ja lang."


"Ck, memang tau apa kau tentang ja lang?" tanya Leon.


"Wanita yang berusaha menggoda laki-laki dengan lekuk tubuhnya, kedepannya jika mau menjalin hubungan lebih baik dengan clien laki-laki." omel Darren.


"Siap."


Gagal meeting, mereka kembali ke kantor. Menjalani aktivitas seperti biasa hingga tanpa terasa jam kantor usai. Darren dan Leon pun pulang. Namun, Leon sempatkan dulu mampir ke rumah Darren untuk menemui Qween.


Mobil mereka sampai di pelataran rumah bersamaan dengan mobil Devano yang baru pulang dari Aldeva group.


"Anak ayah sudah pulang, bagaimana hari ini?" tanya Devano menepuk pelan pundak Darren.


"Le, langsung masuk saja." ujar Devano mengiterupsi sahabat anaknya ity setelah menyapa.


"Baik, Om." Leon membungkuk hormat, lalu berjalan lebih dulu. Sementara Darren di belakang sambil mengobrol dengan ayahnya.


"Apa dia wanita?" tanya sang Ayah, tebakan Devano memang benar. Darren mengangguk lesu.


"Jika wanita, berhati-hatilah, di dalam bisnis. Wanita selalu punya banyak cara menjerat seseorang, apalagi yang masih muda sepertimu. Saran Ayah, lebih baik segera cari istri."


"Istri." gumam Darren, Devano mengangguk. Hingga tanpa sadar langkahnya sudah masuk ke dalam rumah. Leon dan Nora sudah sudah menunggu kehadiran mereka di ruang tamu. Sementara Qween, ia langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamar saat Leon masuk.


"Loh, kok cuma mama sama kamu, Le?" tanya Darren dengan alis mengkerut.


"Kamu ini, Der! Kaya gak tau adikmu, dia langsung heboh saat tau Leon datang, apalagi dia belum mandi kan, langsung deh tuh naik ke atas," ucap Nora terkekeh kecil, tingkah anak perempuannya memang menggemaskan.


Devano langsung duduk di sisi Nora, mencium pipinya sekilas, hingga membuat si empu tersentak.


"Malu, sama anak-anak, Yah!"


"Mereka sudah dewasa 'kan? biar semangat pula cari istrinya," Devano menatap Darren dan Leon bergantian.


"Le, hebat ya kamu bikin dua anak saya nemplok semua."


"Mendengar ucapan sang ayah seketika membuat Darren menggeser duduknya.


"Darren masih normal, Yah. Yang nemplok itu Qween." protes Darren.


Qween menuruni tangga dan menghampiri mereka. Wajahnya tersipu malu. Lalu duduk di samping Darren. Tepatnya diantara Darren dan Leon.

__ADS_1


"Qween, katanya merindukan Leon, sudah datang kenapa diam saja." goda Darren pada saudara kembarnya.


"Apa, merindukan? aku hanya bilang salam untuk Leon, kau ini." elak Qween.


Nora dan Devano terkekeh kecil, "Kalian ini selalu saja seperti itu, sudah ma kita tinggal saja mereka. Ayah mau mandi."


"Iya sana, sudah tua pacaran terus." gerutu Darren.


"Le, jangan sungkan disini. Kalau mau makan atau mau istirahat bilang saja Darren, ya." Sebelum melangkah pergi bersama Nora, Devano berpesan.


"Siap, Om. Nanti kalau Le butuh apa-apa, akan minta sama mereka. Om tenang aja, lanjut gass Om." Canda Leon.


"Le, ngobrol sama Qween ya, aku mau mandi. Ntar kalau udah selesai, ke atas aja!" ucap Darren.


"Lho, aku langsung pulang aja, ya?" Leon terlihat grogi.


"Jangan pulang dulu, Le." tanpa sadar, Qween memegang tangan Leon yang hendak bangkit namun kembali duduk.


"Nah 'kan. Ngobrol aja dulu. Nanti malam kita keluar bareng."


***


Sesuai rencana, mereka bertiga keluar bareng. Leon akhirnya mengalah, memilih menumpang mandi di kamar Darren.


"Masa cuma kita bertiga sih, Der? kamu gak papa?" tanya Qween. Pasalnya saat ini, Qween duduk di depan menemani Leon, sementara Darren di belakang sendiri.


"Kita ke kedainya Dania dulu," ucap Darren, sebenarnya ia tahu jika saat ini Dania tengah jalan dengan Erick kekasihnya.


"Sepertinya rencanaku lumayan," batin Darren dengan senyum seringai.


Kedai terlihat sepi, Darren melangkah menerobos masuk ke dalam.


"Maaf, Tuan ada yang bisa saya bantu," tanya Resha.


"Tolong panggilkan Dania, saya mau mengajaknya keluar."


"Tapi, mbak Dania pergi sama..." Resha panik, ia berfikir apakah laki-laki ini kekasihnya mbak Dania, ataukah selingkuhannya. Tidak mungkin jika Resha memberitahu jika Dania sedang pergi bersama seseorang.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu mbak Dania dimana." Resha menunduk.


"Kalau begitu, kamu saja yang gantiin dia keluar sama saya," ucap Darren seperti sebuah perintah.


"Saya?" Ulang Resha tak percaya.


"Kamu, siapa lagi."


"Tapi, saya..."


"Tidak ada tapi-tapian, atau kamu mau kalau saya laporin ke Dania biar di pecat?" ancam Darren.


***


Next?

__ADS_1


Like dulu dong😌


__ADS_2