TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - Amarah Darren


__ADS_3

Bugghh!


"Breng sek! Aku memintamu menjaga Qweenzaku, tapi apa yang kau lakukan. Kau meninggalkannya untuk menemui wanita sial itu." Pukulan bertubi-tubi Darren daratkan di wajah Leon. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. Resha mendelik, tak di pungkiri Darren sangat menyayangi saudara kembarnya. Lantas wanita mana yang berhasil membuat Leon pergi tanpa pamit hingga Qween menghilang?


"Derr, aku bisa jelaskan." Pinta Leon memohon, karena sejak Devano pergi dari rumah sakit, pemuda tampan nyaris sempurna itu menyusul ke kediaman Aldeva untuk menjelaskan kesalahpahaman yang ada.


"Jam berapa Qween pergi?" tanya Devano kepada satpam rumah yang berjaga.


"Setengah jam setelah Tuan Leon pergi." jelas satpam itu membuat Leon begitu terkejut, artinya begitu Leon pergi, Qween langsung bersiap. Satu jam bukanlah waktu yang lama.


"Apa mungkin kamu sudah bangun saat aku menjawab telepon dari Jesica." Batin Leon merasa frustasi.


"Ini semua gara-gara kamu, Le. Kalau bukan wanita sial itu, Qweenzaku tak akan pergi." decak Kesal Darren. Resha berusaha menenangkannya. Sementara Devano berpikir keras.


"Wanita sial yang kamu maksud itu adalah saudara Resha, Derr." Devano menghela napas kasar.


"Apa?" kini Devano membulatkan mata tak percaya, lantas menatap Resha dengan tatapn sulit diartikan.


"Aku nggak tau, Derr. Apa jangan-jangan?" Resha menutup mulutnya tak percaya kala teringat sesuatu. Seolah tau apa yang di pikirkan oleh Resha, Devano pun mengangguk.


"Kita cari Qween sekarang, yah. Ma, kalian cari ke rumah nenek atau ke mana? Aku dan Resha akan mencari mereka ke suatu tempat. Le, kamu ikut." Perintah Darren.


"Baik, kabari kami kalau sudah bertemu dengan Qween."


***


Deburan ombak di pantai lepas sedikit membuat suasana hatinya membaik, Qween duduk termenung di depan villa yang langsung menghadap ke laut. Pemandangan indah itu tentu terlihat biasa saja saat ia menikmatinya seorang diri.


"Le, kasih aku satu alasan bahwa kamu hanya milikku." Qween menenggelamkan wajahnya ke dalam lutut lantas terisak kecil.


Penjaga villa sempat menyiapkan beberapa makanan untuknya malam nanti sebelum sore ini pulang.


"Tempat ini, seharusnya Darren tau dimana aku berada. Tapi, Darren sedang bersama kak Resha. Mana mungkin ia akan mencariku. Apalagi Leon, ia nggak akan bisa menemukanku."


"Non, lebih baik makan dulu." ajak pengurus villa yang bernama Tirani.


"Belum lapar, Bi." Singkat Qween, padahal siang tadi ia tak membiarkan perutnya terisi.

__ADS_1


"Tapi non,"


"Bibi pulang aja, asal ada makanan nanti Qween makan." Qween masih enggan beranjak, dan Tirani akhirnya memilih pamit.


***


Mobil Darren melaju dengan kecepatan sedang, mereka sama terdiamnya. Di kursi belakang, Leon berulang kali mengusap wajahnya frustasi saat berusaha menghubungi Qween namun nomor yang menjadi tujuannya sedang diluar jangkuan.


"Kamu kemana, sayang?" gumam Leon menatap ke luar jendela dengan perasaan sedih.


"Bagaimana ceritanya? Kamu bisa ninggalin Qween." Darren membuka suara. Terus terang, ia begitu yakin Leon tak seperti itu.


"Pagi sekali aku menerima telpon dari Jesica, dia bilang keguguran dan di rumah sakit. Tak ada biaya dan kekasihnya kabur. Dia menangis meminta tolong, jujur aku hanya kasian apalagi dia tidak punya siapa-siapa di Jakarta." Jelas Leon.


"Waktu aku pergi, Qween masih terlelap. Aku sempat pamit dengannya meskipun Qween tak mendengar. Tak disangka, ternyata mamanya Jesica datang bersama om Devan." sambung Leon lagi.


Darren menghela napas kasar, lalu melirik ke arah Resha.


"Maafkan sepupuku karena membuat posisimu sulit Leon, dia memang tidak punya siapa-siapa di Jakarta karena keluarganya hanya aku dan bibi Elin." terang Resha.


Deg!


"Tapi Jesica itu saudaraku, Darren. Kamu tau dia keguguran, entah macam apa hidupnya, kenapa begitu mudah tidur dengan laki-laki."


Pernyataan Resha membuat Darren menghentikan mobilnya, dan melirik ke arah Leon.


"Aku tidak mau, jika Qweenzaku menikah dengan laki-laki bekas."


Mata Leon langsung membelalak kaget, "maksudmu apa? Aku tidak pernah menyentuh Jesi." Protes Leon tak terima. Darren masih menatap tajam ke arahnya, "Bohong nggak?"


"Astaga, Derr. Iya, aku nggak pernah dan kau sendiri tahu hal itu yang telah membuat dia mencari kesenangan lain dan meninggalkanku."


Jika difikir, perkataan Leon ada benarnya. Lantas Darren kembali melajukan mobilnya.


Darren tau, saat sedih Qween selalu mengajaknya ke villa tepi pantai. Barangkali Qween berada disana untuk menenangkan diri.


***

__ADS_1


Menjelang malam, mereka bertiga sampai di kawasan villa. Darren bernapas lega karena melihat mobil sport terparkir disana.


Ia langsung turun dan membukakan pintu untuk Resha tuk kemudian masuk ke dalam villa. Kebetulan satpam penjaga ada, Darren dan yang lain menanyakan keberadaan Qween.


Ceklek, Qween membuka pintu kala mendengar ketukan. Ia berfikir mungkin satpam penjaga. Matanya memanas kala melihat siapa yang datang. Qween langsung menghambur memeluk Darren sambil terisak. Tidak tahu, jika lau di belakang Leon terbakar cemburu.


Kenapa harus Darren yang dipeluk oleh Qween pertama kali?


"Kita masuk dulu." Darren melerai pelukan, namun tangannya langsung membimbing Resha masuk ke dalam. Sementara kedua mata Leon bertemu dengan kekasihnya. Tanpa aba-aba, ia langsung memeluk Qween erat seolah tersirat kerinduan dan kekhawatiran disaat yang sama.


"Qween, maafkan aku." Leon memeluk erat Qwen, sementara Qween mematung, air mata membasahi pipinya merusak wajah cantik itu.


"Kenapa kamu ninggalin aku, Le. Kenapa kamu menemui perempuan itu, kamu nggak tau gimana rasanya aku membangun kepercayaan untuk kamu dan berusaha menyakinkan diri. Meski nyatanya kamu memang pergi untuk dia." Qween terisak, ia meluapkan isi hati dan kekesalannya di dada bidang milik Leon.


"Maaf, aku hanya menolongnya."


"Tapi kamu menyakitiku, Le."


"Aku janji tidak akan membuatmu menangis lagi, maafkan aku karena terburu meninggalkanmu. Sayang, aku nggak ada niat buat ninggalin kamu bahkan untuk melihat perempuan lain lagi. Aku laki-laki, pernah dikhianati membuat aku tahu gimana sakitnya jadi aku tidak akan melakukan hal itu."


"Kita keliling, Res. Biarkan mereka punya ruang." ajak Darren yang diangguki kepala oleh Resha.


"Derr! Menurutmu, apa yang membuat laki-laki berkhianat?" pertanyaan Resha membuat laki-laki itu menoleh kemudian menatap lekat lekat mata Resha.


"Memangnya apalagi? selain godaan setan mereka jug tergoda dengan wanita cantik dengan segala kesempurnaan lekuk tubuh."


Deg!


"Jadi, apa kamu juga akan mengkhianatiku jika aku bukan perempuan yang sempurna?" pertanyaan Resha seperti sebuah jebakan untuk Darren. Namun, CEO Arsa Group itu tetap bersikap santai dan malah mencubit hidung Resha keras-keras.


"Wanita cantik itu dari hati, mau fisik sesempurna apapun jika dijajakan laki-laki tidak akan pernah tertarik. Res, lebih baik kamu makan."


"Kenapa makan?"


"Biar fikiran dan hati kamu sehat," Santai Darren membuat Resha membulatkan mata.


"Apa sedari tadi ia berfikir aku sedang sakit?"

__ADS_1


__ADS_2