
Malamnya, selepas makan bersama. Bayu dan Nara mengajak Devano pun Nora untuk menonton bersama di lantai tiga.
"Hm, aku baru tau di rumah papa ada bioskop di lantai tiga." seloroh Nora yang merasa kagum, ternyata ada banyak ruang di rumah sebesar ini yang belum ia telusuri.
"Kamu belum pernah ajak istrimu nonton, Dev? keterlaluan sekali." decak papa Bayu tak percaya, Devano pun hanya meringis, selama ini ia dan Nora hanya melewati waktu di kamar, lingkup lantai bawah, taman, kolam dan balkon. Lupa jika di lantai paling atas adalah ruang bioskop, fitnes dan karaoke.
Mereka pun masuk ke dalam salah satu ruang, dan Nora berhasil dibuat takjub karenanya. Desain mewah dan tak terlalu luas serta kursi yang sangat nyaman, mungkin bisa digunakan untuk menonton film sambil rebahan.
"Kalian mau nonton film apa?" tanya mama Nara dengan seulas senyum, Devano hanya mengedihkan bahu seraya melirik ke arah Nora.
"Film apa yang?" tanyanya.
"Apa saja asal bukan film horor," ucap Nora,
"Romantis action saja, lebih menegangkan." ucap papa Bayu, pun diangguki antusias oleh Nora.
Papa dan mama duduk di sofa depan, sementara Nora dan Devano memilih duduk di sofa belakang, karena jika mereka memilih duduk di depan, bahaya.
Bisa-bisa mama Nara dan papa Bayu mengawasi mereka dari belakang.
"Anak papa rupanya pintar memilih tempat." ledek papa Bayu membuat Devano meringis, mereka berempat kini sedang menonton film romantis action.
Devano justru merebahkan kepalanya di pundak Nora, sambil sesekali melirik istrinya yang fokus menatap layar.
Sama sekali tak berminat untuk larut dalam film romansa itu, memilih menenggelamkan wajahnya manja di ceruk leher seputih su su milik Nora.
"Ishh Dev..." desisnya kala sapuan hangat napas Devano menerpa kulit lehernya.
Ia bisa merasakan gelenyar-gelenyar aneh yang menyengat, akan tetapi ini tidak boleh di biarkan, takut berujung khilaf mengingat ia baru beberapa hari kehilangan Dera, si jabang bayi buah cintanya.
**
Pagi menyapa, hangat sinar mentari yang baru merangkak naik menerobos lewat celah jendela. Perlahan Nora membuka mata, menatap wajah teduh Devano yang masih terlelap membuatnya merasa damai.
Gegas ia bangkit, untuk membersihkan diri barulah ia menuruni tangga, membantu sang mama pun bi Liam yang sepagi ini sudah berkutat di dapur membuat sarapan.
"Pagi, Ma! Pagi, Bi..." sapanya begitu sampai di dapur.
__ADS_1
"Pagi sayang," Nara mengusap pucuk kepala menantunya, lalu meraih tangan itu.
"Anak mama pengen makan apa?" tanya Nara saat membawa Nora ke dapur, Nara memang sosok ibu berhati malaikat, bukan hanya cantik dan baik ia tapi juga sempurna di mata Nora. Jelas-jelas sudah banyak makanan yang beliau masak, ia masih sempatkan bertanya kepada Nora pengen makan apa?
Nora mengulas senyum, ia tahu mama mertuanya kelewat baik. "Nggak ma, semua masakan mama dan bik Li, Nora sangat suka." ucapnya, "Tadinya mau bantuin tapi kok udah beres ya ma, Nora bantu apa dong."
"Kamu bangunin suamimu dan ajak sarapan sayang, mama tunggu."
Nora pun mengangguk, gegas ia kembali ke kamar bermaksud membangunkan suaminya, Devano.
Mereka turun sama-sama untuk menikmati sarapan. Kini kesedihan Nora berangsur hilang, dalam ingatannya ia yakin Dera bahagia di atas sana.
Sorenya, Devano mengajak Nora untuk menjenguk makam kecil Dera.
Sembari membawa sebuket bunga, Nora mengusap lembut nisan kecil itu. Hatinya seketika sesak, mengingat saat-saat paling bahagia karena kehadiran sosok Dera di rahimnya. Namun, kembali ia tersadar yang terjadi saat ini adalah bagian dari takdir. Dera sudah bahagia bersama sang pemilik sejati, ia percaya kelak suatu saat nanti di kehidupan berikutnya ia akan bertemu dengan buah cintanya.
**
Dua bulan berlalu, Devano sudah mendaftar kuliah di universitas terbaik di Jakarta. Namun, sebelum ia disibukkan oleh aktivitas kuliahnya. Dua hari yang lalu, papa Bayu meminta agar mereka pergi ke Singapura.
Hya, Bayu meminta agar mereka berdua menyempatkan bulan madu dan mengunjungi om Alex. Dan hari ini, sepasang pasutri itu tengah bersiap, mengemas segala keperluan sebelum terbang siang nanti.
"Kabari saya jika terjadi masalah, Tuan!" ucap Ziando saat Devano dan Nora akan memasuki jet pribadi.
"Terima kasih Zi, sekarang pulanglah, tak perlu menungguku berangkat."
"Tapi tuan..."
"Tak ada tapi-tapian, apa kamu mau melihat kemesraanku dengan istriku?" tegasnya.
"Baik tuan, saya akan pulang! moga harimu dan nona menyenangkan." Ziando melambaikan tangan sebelum melangkah pergi.
Kurang lebih 1 jam 55 menit perjalanan Jakarta - Singapura. Kini mereka sudah mendarat di bandara Internasional Changi.
Devano dan Nora langsung di sambut oleh orang suruhan om Alex.
"Silahkan tuan." ucap salah satu pengawal berjas hitam yang akan mengantar Devano dan Nora ke hotel, sebelum bertemu om Alex dan keluarganya besok.
Menikmati waktu istirahat hanya di dalam kamar hotel, lelahnya perjalanan membuat Nora enggan pergi ke manapun. Devano sampai putus asa membujuk istrinya.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu nggak pengen jalan-jalan?" tanyanya untuk kesekian kali.
Nora menggeleng lalu meraih tangan kekar itu agar tidur saja di sampingnya.
Devano hanya mengu lum senyum melihat tingkah istrinya, sekarang Nora sudah berubah 180°.
"Terus kamu maunya apa, hmm?" tanyanya tepat di telinga.
Seketika wajah cantik itu merona malu, "Apa mau bikin adeknya Dera." bisik Devano lagi membuat Nora menajamkan mata.
"Lah kan emang tujuan kita kesini seperti itu."
"Itu apa?" Nora menaikkan satu alisnya.
"Honeymoon yang tertunda." ucap Devano sebelum mendaratkan cium*n di bibir Nora.
"Selamanya Dera di hati kita, tapi hidup harus terus berjalan sayang, kita harus buatkan dia adek agar ia semakin bahagia disana." Setelah ciuman singkat itu, Devano asyik memainkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya.
Dipandanginya lama-lama, sepuas hati hingga tatapan penuh cinta keduanya mampu menenggelamkan diri pada nikmat selanjutnya.
"Aku mencintaimu sayang, Nora Lee." bisiknya lembut di telinga setelah lelah dengan aktivitasnya bersama Nora.
"Aku pun sangat mencintaimu Dev, selamanya dan akan selalu seperti ini." ungkap Nora dengan senyum.
Devano menautkan jemarinya di sela-sela jemari lentik milik Nora, bahkan untuk tidur pun ia tak ingin lepas.
Membiarkan malam panjang terus mengungkung, bersama nikmat yang melenakan.
Dari jendela kaca hotel the fullerton ia dan Devano bisa melihat dengan jelas keindahan Singapura di malam hari.
Setelah meminta pelayan hotel mengantar makanan. Kini mereka memilih menikmati makan malam romantis di balkon hotel.
Berdua, dengan ditemani indahnya malam.
Dengan lembut ia mengecup punggung tangan Nora, hingga membuat si empu tersipu.
"Kita makan sekarang, sebelum aku memakanmu lagi sayang." ucap Devano, meraih makanan dan bukannya langsung makan ia justru memilih menyuapi Nora.
__ADS_1
Perlakuan sederhana yang selalu menambah kadar cinta, Nora pun melakukan hal yang sama ia menyuapi Devano sambil sesekali mengusap lembut sudut bibir suaminya.