TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
kamu adalah candu


__ADS_3

Jika biasanya Nora mencibir, atau memukul pelan dada Devano. Kali ini ia memilih diam, menikmati sentuhan demi sentuhan saat tangan kekar itu menanggalkan pakaiannya satu persatu dengan mode Slow motion.


Sentuhannya yang lembut membuatnya candu.


Namun, ini bukan saat yang tepat untuk terbang ke langit, oleh nikmat yang melenakan.


Ia sedang berada di fase terendah, hingga seluruh syarafnya seolah berhenti berfungsi saat tubuh kekar itu menggendong tubuh polosnya tanpa permisi.


Terlebih saat Devano turut menanggalkan pakaian dan masuk ke dalam bathub bersama dengan dirinya berhasil membuat ia menelan salivanya berulang-ulang. Ini bukan tentang pikiran me sumnya atau mata kotor.


Tapi ini karena insting dan pergerakan alami. Dan saat pemuda berstatus suaminya itu mengusap lembut pipinya tuk kemudian menyatukan hidung hingga sapuan napas hangat menerpa seluruh wajah, respon tubuhnya benar-benar luar biasa, kesedihan menguar begitu saja.


"Aku akan membalasnya, siapapun itu." bisiknya tuk kemudian melahap bibir tipis menggoda yang sedari tadi melambai untuk di cium.


Namun, ada yang beda dengan hari ini. Ya, Nora Lee langsung bertindak dengan mengalungkan kedua tangannya di leher milik Devano, serta membalas ciuman singkat membuat sesuatu milik Devano di bawah sana mendesak untuk membawanya terbang pada nikmat tiada tara.


"Aku gak papa, selagi ada kamu aku pasti baik-baik saja." jawabnya tak lepas menatap lekat Devano.


"Ada aku, dan aku akan berusaha." kata sederhana yang berhasil membuat hatinya luluh lantah.


Lalu dalam hitungan detik, ia menenggelamkan wajahnya ke da da bidang milik Devano. Tempat yang menurutnya paling menenangkan.


Insting alami membawa keduanya pada petualangan liar penuh warna, teruntuk kedua kalinya mereka terjebak oleh nikmat yang mampu menerbangkannya hingga ke langit, tanpa ingin kembali.


Sentuhan tangan lembut Devano seolah berhasil membiusnya, diam terpaku dengan seluruh sendi yang melemah. Buktinya ia memilih ambruk dan membiar Devano memggendongnya lagi menuju ranjang setelah selesai berpetualang.


"Don't never cry, because i believe you are strong!" bisiknya lagi-lagi membuat Nora bersemu merah, bukan hanya menguar, bahkan kehadiran Devano berhasil menghapus rasa sedihnya, ya dan selalu berhasil.


Ia masih memakai kimono yang melekat, membiarkan Devano mengekpose tubuhnya lebih leluasa, letih, lemah dan rapuh yang ia rasakan, tapi Tuhan selalu punya cara untuk menyembuhkan. Lewat Devano yang mengungkungnya dengan rasa yang paling menggelisahkan. Berbeda dengan Devano yang sudah terlihat tampan meski hanya mengenakan kaos putih plus celana kolor.


Setelah menelpon Maya untuk membawakan makan malam ke kamar, Devano kembali menscroll layar ponsel hingga terdengar alunan musik mp3 miliknya, membuat mata cantik itu kembali menatapnya lekat-lekat.


☘☘☘


All about you I wanna know you


All about me I Let you know.


neoui nun-e nunmul-i goilttae


neoui gyeot-e meomulgoman sip-eo


neol hyanghan nae mam ijen al-ajwo


deo muneojigi jeon-e


himgyeoun neol bomyeon


naleul jikyeojudeon ni moseub tteo olla

__ADS_1


sesang moduga tteonabeolyeodo


ni gyeot-e nan iss-eulkke


You always stay in my life...


(NCT - Stay in My Life)


***


Sambil mendengar alunan musik Kpop sauntrack drama korea anak sekolah paling menggemaskan versi Devano. Nora terus mengu lum senyum. Terlebih saat Maya mengantarkan makan malam ke kamarnya, Dengan tegas Dev berkata, jika ingin menghabiskan waktu berdua dengan Nora di dalam kamar. Alasan paling masuk akal, agar di tangkap oleh Maya dengan cepat.


Tapi Nyonya nggak sakit kan Tuan? wajahnya pucat, apa perlu saya panggil dokter?


Rentetan pertanyaan sekaligus tawaran yang di sambut Nora pun Devano dengan gelak tawa.


"Kamu suka Kpop?" tanya Nora yang penasaran, kenapa Devano begitu menikmati bahkan ikut bernyanyi saat memutar lagu Stay in my life milik NCT, salah satu Boyband Korea, yang pastinya tampan nan mempesona.


"Enggak, emang kenapa?" Ia justru balik bertanya, jemari tangannya sibuk mengusap lembut kepala Nora yang bersandar di bahunya yang menyandar di kepala ranjang.


"Kok tahu lagunya?" dengan tatapan mengintimidasi. Tapi Devano justru meresponnya dengan kecupan singkat.


"Cie sekarang udah boleh cium-cium dong." ia malah mengalihkan pembicaraan, terlebih saat Nora hanya mematung untuk kesekian kalinya mendapat serangan mendadak dari Devano.


"Ishhh, dari kemarin juga aku nggak protes!" desisnya sebal, lalu buru-buru Devano meraihnya ke dalam pelukan.


"Makan sekarang, aku suapin."


Nora mengangguk saja, membiarkan Devano meraih piring yang berada di atas nakas.


"Berdoa dulu," titahnya sebelum mulai menyendok makanan di atas piring lalu menyuapkan ke mulut Nora yang lagi pengen di manja.


"Kamu gak makan? kita sepiring berdua ya, kalo nggak makan aku udah aja."


Membuat Devano terkekeh kecil, lalu ikut makan tuk kemudian menyuapi Nora lagi.


Sungguh hal sederhana, penambah bumbu cinta.


***


Nora sepertinya mulai menyadari jika bersama Devano adalah hal indah yang selalu membuatnya candu. Buktinya ia tak sedikitpun merasa bosan berdua di dalam kamar. Namun, untuk menceritakan apa yang ia alami di kantor, masih enggan. Tak ingin Devano murka, hingga momen menyenangkan ini berubah.


Bukan tidak jujur bukan, tapi belum siap untuk jujur. Bagi Nora, tiang utama sebuah hubungan adalah Kejujuran.


Ia hampir tak percaya saat mendengar cerita Devano, jika Alan pernah berusaha menjebaknya, membuat ia mabuk waktu itu. Cukup bernapas lega karena Bara tau dan menukar minuman itu yang berujung peristiwa naas yang menimpa Karin.


"Jadi bukan karena kamu sengaja mabuk, kenapa gak jujur dari kemarin-kemarin sih."


"Momennya gak tepat, sayang." uhh betapa Dewasanya Devano ketika memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' sungguh sayang aku tak bisa langsung mengungkapkan, perasaan yang ku simpan buatku tak tenang.

__ADS_1


"Jangan panggil tante lagi, panggil sayang aja." pintanya, "Aku masih muda, masih imut dan kita seumuran." membuat Devano tersenyum geli demi mendengar protesnya Nora.


"Iya tante sayang, dah gih tidur."


"Ishh, Dev!" desisnya sebal, lalu menenggelamkan wajahnya di da da bidang sang suami, Your scent is an addiction.


Wangi tubuh Devano layaknya candu, yang terus mengusiknya, jika sedang berjauhan.


Dengan gerakan lembut, ia terus mengusap kepala Nora, hingga istri tercintanya begitu nyaman terlelap dalam pelukannya. Setelah memastikan Nora tidurnya nyenyak, ia mengurai pelukan tuk bangkit dari tidur.


Hal pertama yang ia lakukan adalah menghubungi Ziando.


"Zi, Periksa seluruh cctv perusahaan hari ini, jika terbukti ada yang sengaja mengganggu istriku, aku tak segan-segan membuatnya menyesal." titah Devano dengan nada dingin.


Tanpa menunggu jawaban Ziando, yang diseberang sana terbengong-benging karena tugas dadakan dari Tuan mudanya, namun gegas ia melaksanakan perintah. Matanya membulat sempurna, kala melihat rekaman cctv di parkiran perusahaan.


"Pantes langsung ngamuk!" gumamnya lalu menghubungi Devano untuk melaporkan kejadian detail yang menimpa istrinya.


Devano mengepalkan tangannya demi melihat penjelasan dari Ziando, "Jangan, biar aku sendiri." Dev langsung menutup telepon.


Kembali menscroll layar ponselnya untuk menghubungi sang papa.


"Hallo pa, lagi apa?"


"Baru istirahat Dev, gimana kabar kamu sama Nora."


"Baik, pa! Apa boleh Dev datang ke perusahaan, pa!"


"Boleh, asal jangan pakai seragam sekolah nak, ada apa?" Bayu menautkan alisnya keheranan.


"Gak papa, mau nganterin tante, pa! Mama mana?" bohongnya.


"Mama kurang enak badan, jadi tidur duluan."


"Oh yaudah, pa. Salam buat mama, cepet sembuh dari anak tergantengnya." narsis Devano membuat Bayu terkekeh.


"Gantengmu itu berkat papa loh, karena papa juga ganteng." seloroh Bayu tak mau kalah.


"Dev, kangen papa. Selamat tidur pa, jaga kesehatan." ucapnya sebelum menutup videocall.


"Papa juga kangen, kasep!"


Tut..


Telepon terputus, ia mengehela napas kasar seraya memandangi langit dari balkon kamarnya. Namun, sejurus kemudian memilih masuk karena terpaan angin malam begitu menusuk.


"Telepon dari siapa?" tanya Nora yang terbangun dengan bibir mengerucut.


Like komen vote dan ratenya yaa kak, makasih selalu setia nungguin upnya Devanora🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2