TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Hamil?


__ADS_3

Devano


Ia bukan tidak panik saat dokter Arka menyodorkan tiga testpeck ke istrinya, hingga berhasil memancing tanda tanya besar di kepala keluarga Nora satu persatu. Memang! ini kesalahannya, tak mengindahkan permintaan mereka untuk sabar paling tidak sampai ia lulus SMA.


Namun, ia berusaha bersikap tenang dan menguasai keadaan, jika ia panik bagaimana dengan Noranya?


Berulangkali menghela napas, melihat ke arah kamar mandi, dimana istrinya sedang menggunakan testpeck, membiarkan mama Kenia pun papa menatapnya meski dengan mengintimidasi, bahkan tatapan papa tajam seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.


Ia bahkan tak bisa berkedip, saat Nora keluar dan menatapnya lekat-lekat, Devano bisa menangkap perasaan gamang yang didera sang istri, lantas satu cara penenang paling ampuh adalah mengangguk. Isyarat bahwa apapun yang akan terjadi, ada aku!


Karena memang Devano akan selalu ada untuk Nora.


"Aku HAMIL." akunya kepada semua orang.


***


Shaka menghela napas, pun dengan Kenia yang memasang wajah tanpa senyum. Melihat ekspresi kedua orang tuanya yang terkejut membuat tubuhnya bergetar hebat, takut mungkin itu. Sementara Devano langsung meraih tangannya, ia tahu Nora butuh kekuatan, bahkan tuk sekedar berkata jujur.


"Devano yang salah, Ma, Pa!" Akunya menunduk, setelah berhasil membawa Nora duduk di sisi ranjang.


"Selamat atas kehamilan istrimu, Dev!" seru dokter Arka memecah keheningan.


"Makasih dok!" ucapnya, dokter Arka kemudian memberi obat termasuk vitamin untuk Nora. "Ini diminum dua kali sehari nanti, dan Vitaminnya sekali saja, waktu malam." ucap dokter Arka, Dev mengangguk paham.


Setelah kepergian dokter Arka, Shaka mulai mendekat. Kini di kamar Nora hanya ada ia, Devano, Kenia dan Shaka.


"Bagaimana bisa hamil?" pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut Shaka meski bukan dengan nada tinggi pun berhasil membuat keduanya menunduk dalam-dalam.


"Maafin Devano, Pa, Ma!"


"Bukan, ini salah Nora. Bukan salah Dev, Pa! jangan marahi dia."


"Kenapa tidak pakai pengaman!" decaknya, namun sejurus kemudian mendapat cubitan dari Kenia "Papa!"


"Ihh, sakit ma, papa kan cuma nanya!" gerutunya sembari meringis.


"Papa marah? ini salah Dev, Pa, Ma! Maaf!"


"Kenapa papa harus marah?" tanya balik Shaka membuat Dev berani mengangkat kepala.


"Papa sama mama nggak marah?" tanya Devano, dan respon mereka sama-sama menggeleng.


"Mama hanya shock, terlebih mama sama papamu bilang harus sabar sampai lulus, kalau mama seneng banget malah mau dapet cucu, iyakan pa?" Shaka mengangguk seraya tersenyum.


"Iyaa, saking senengnya sampai gak bisa berekspresi." tutur Shaka.


Devano bernapas lega sekarang, tinggal satu. Apakah papanya Bayu dan mama Nara akan marah jika mendengar Nora hamil, entah!


Mungkin untuk sementara waktu biarkan seperti ini, toh mereka sedang berada di luar negeri.


**

__ADS_1


Semua orang melanjutkan pesta, akan tetapi Devano memilih menemani Nora di kamar karena saat ini kondisi istrinya masih lemas.


"Maafkan aku." akunya duduk di samping Nora yang berbaring memunggunginya.


"Apa aku siap jadi mama?" tanyanya lebih kepada diri sendiri dengan suara bergetar.


Ia mencoba menahan segala keluh yang tertahan karena tadi ada papa sama mamanya.


"Semua wanita pasti mengalaminya," ia mengusap lembut bahu Nora, meski istrinya masih betah memunggunginya.


"Aku ingin sendiri." gumam Nora pelan dengan mata terpejam.


"Tapi aku ingin tetap disini." kekeh Devano.


"Gimana kalau orang tahu, aku hamil dan suamiku masih SMA." gumamnya pelan.


"Kamu malu?" tanya Devano dengan napas tercekat, lalu keduanya sama-sama diam.


Hening! Nora bahkan masih enggan menatap Devano, hatinya benar-benar dilanda gelisah, saat ia berusaha memejamkan mata namun jutru tak bisa tidur.


Apakah menyerahkan hak Devano adalah sebuah penyesalan? I don't know.


Nora hanya mengikuti naluri, hingga tak terbesit sedikitpun dalam fikiran ada fase seperti ini, sangat-sangat belum terfikirkan.


Devano, ia menghela napas kasar melihat istrinya yang terpejam. Diabaikan, membuatnya memilih melangkah ke balkon, masih urung meninggalkan kamar. Menatap haru pesta iparnya yang penuh suka cita dan meriah. Pandangannya menelisik ke bawah dimana halaman rumah penuh dengan para tamu undangan, kawula muda. Mungkin mereka teman Nora juga.


Apa hadirnya anak adalah sebuah kesalahan?


Apa yang harus ia lakukan, bahkan ia sendiri tak menyangka jika akan segera menjadi seorang ayah.


Ia hampir menangis karena bahagia, tapi mendadak ia merasa sesak saat kenyataan tak sesuai ekspetasinya.


Kembali ke kamar, lalu ikut merebahkan diri. Ia membiarkan Nora terus memunggungi, tidur tanpa memeluknya. Mungkin, istrinya butuh ruang, butuh waktu untuk menerima.


Sialnya, ia tak bisa tidur meski mencoba memejamkan mata. Hingga pukul dua dini, barulah ia benar-benar terlelap.


**


Paginya, Nora bangun dan merasakan gejolak luar biasa, gegas ia berlari ke kamar mandi.


Hoek..hoek.. Mendadak perutnya terserang mual luar biasa. Namun, tak ada satupun makanan yang keluar.


Dev menyadari ketiadaan Nora di sampingnya saat membuka mata, langsung bangkit. Mendengar Nora mual-mual di kamar mandi, membuatnya gegas melangkah ke sana.


Beruntung Nora tak mengunci pintu, jadi ia bisa masuk dan melihat langsung kondisi Nora.


"Kenapa?" tanyanya cemas lantaran istrinya mual-mual.


"Gak tau, mual." namun, bernapas lega karena gejolak di dalam perut berhenti bersama sentuhan lembut tangan Devano yang memijat tengkuknya, aneh memang aneh!


"Gimana? udah mendingan?" tanya Dev, yang sebenarnya sendiri bingung harus bagaimana.

__ADS_1


Ia membimbing Nora untuk duduk di ranjang, lalu mengambil air putih yang berada diatas nakas.


"Minumlah."


"Makasih,"


"Apa kita harus ke dokter?" tanya Devano, Nora hanya menggeleng.


"Nggak usah, aku gak papa, maaf merepotkan!" lirihnya.


"Sudah kewajibanku sebagai suami.." ia ikut duduk di samping Nora.


"Maaf untuk semalam." akunya menunduk dalam-dalam, Nora merasa menyesal dalam bersikap.


"Gak papa." jawab Devano dengan seulas senyum.


***


"Nora sama Devano mana ma? Kok belum turun." tanya Zain,saat mereka sarapan pagi, dan tak mendapati Nora pun Devano ada.


"Biasa Zain, mereka kan juga pengantin baru whehe, lagian kalian ini pengantin baru kok subuh udah turun!" seloroh Kenia.


"Uhuk!" Maura tersedak, membuat Zain buru-buru menyodorkan air minum tanpa sepatah kata.


"Makasih." ucapnya.


"Kalian ini pengantin baru masih kaku, malu-malu ya." goda Shaka yang melihat interaksi Zain dan Maura yang terlihat kikuk.


"Apa sih pa, aku ke kamar dulu." Zain bangkit, sementara Maura masih berdiam di tempat.


"Sabar ya sayang, anak mama emang kaya begitu wujudnya." ucap Kenia lembut.


"Pa, aku ke atas dulu mau cek keadaan Nora." pamit Kenia, Shaka mengangguk.


Sementara Maura memilih membantu bi Ijah di dapur, mencari kegiatan atau sekedar menikmati udara pagi di halaman belakang.


Tok tok tok, Kenia mengetuk pintu. Munculah sosok Devano yang baru selesai mandi dan berganti pakaian.


"Pagi, Ma."


"Pagi Nak, gimana Nora?" tanya mama.


"Masuk dulu, Ma." ucap Devano, Kenia masuk ke dalam kamar, "Maafin Devano, ma. Dev masih belum bisa menghadapi orang hamil, mohon bantuan mama."


"Tentu, mama mengerti. Tapi gimana keadaan Nora?"


"Tadi sempet mual-mual lama, tapi sekarang udah nggak, ma."


"Itu wajar, namanya morning sickness. Kamu harus punya lebih banyak stok sabar lagi, wanita hamil itu sensitif. Turuti aja semua maunya, beres!"


"Begitu ya ma." ia mengangguk.

__ADS_1


Sudah tiga hari, Nora hanya bermalas-malasan, di kamar, makan, bahkan untuk mandi ia harus mengumpulkan niat terlebih dahulu. Dan karena ia harus sekolah, Devano mengajaknya pulang, ia tak mungkin terus-terusan berada di rumah mertua, terlebih jarak sekolah menjadi dua kali lipat lebih jauh jika ditempuh dari rumah mertua.


__ADS_2