
"Ampun, Bu. Ampun, aku sama sekali tidak memaksa mas Anton menikahiku," ucap Resha dengan napas terengah-engah. Matanya terpejam, keringat dingin bercucuran.
Mimpi buruk itu kerap kali hadir, menguak sisi lemah Resha sebenarnya. Ia bukan memaksa Anton, ia tak pernah memaksa Anton sama sekali, justru laki-laki itulah yang menawarkan rumah. Namun, bukan rumah yang Resha dapatkan. Hanya status menikah tanpa adanya dasar yang mengikat. Cinta misalnya.
Darren sudah mengantisipasi, ia mengusap lembut kepala Resha. Masalalu itu meninggalkan bekas yang mendalam, Darren berjanji dalam hati tidak akan membiarkan kedua orang tuanya berlaku buruk pada sang istri.
"Apa saja yang telah kamu alami sampai pada hari ini?" gumam Darren pelan, Resha mulai tenang, akan tetapi matanya enggan terbuka.
Paginya, mereka berangkat ke Jakarta menggunakan mobil Darren. Resha menatap aneh Darren yang sedari tadi tak banyak bicara akan tetapi tangan bertaut di jemarinya.
"Kamu kenapa sih, Derr?" tanya Resha memecah keheningan.
"Kenapa? cuma megang tangan istriku apa tidak boleh." gerutunya, lantas melepas tautan.
"Boleh kok, siapa yang bilang gitu. Kamu jangan dikit-dikit ngambek deh, kita bukan sedang seperti remaja pacaran."
Ciyyyytttttt!
Darren menghentikan mobilnya, Ia menatap Resha dalam sebelum menyerang bibir Resha dengan lembut.
Resha yang terpaku akan tingkah Darren hanya bisa diam, tanpa respon. Namun, perlahan dirinya mulai membalas, ciuman itu terasa sangat manis karena Darren melakukannya benar-benar dengan kelembutan.
"Bernapas bodoh." pekik Darren, saat napas Resha tersengal, Resha yang tak terima pun memukul dada Darren.
"Kamu yang nyerang aku tiba-tiba, lagian aku gak ada pengalaman berciuman, gak seperti kamu." pekik Resha.
"Iya, maaf." Lantas Darren menarik tubuh mungil Resha ke dalam rengkuhan.
πππ
Jakarta sore hari, mereka sempat mampir ke kedai. Darren menghentikan mobilnya, sementara Resha mengernyit heran.
"Kok kesini, ini kan..."
Seolah tahu apa yang ada di fikiran Resha, Darren mengiyakan dengan senyum simpul.
"Kedai ini sudah berubah jadi caffe, mulai sejak kamu jadi istriku, kamu adalah pemiliknya."
__ADS_1
Resha membulatkan matanya tak percaya. Sewaktu akad ia memang tak fokus mendengarkan berapa maskawin yang ia terima. Dadanya sudah cukup bergetar dengan nominal uang yang Darren keluarkan, ditambah satu buah caffe. Apa ia bermimpi?
"Turun dulu," titah Darren membukakan pintu. Sepasang pengantin baru itu disambut dengan antusias oleh Dania, disusul pelayan lainnya di belakang.
"Res, selamat ya. Pak Darren, kalian ini diam-diam ternyata ya udah sejauh ini," ucap Dania dengan seulas senyum.
"Iya nih, Pak. Mbak Resha beruntung banget ya, tapi kami juga ikut seneng lho. Jangan lagi-lagi ketemu sama nenek itu lagi ya mbak." Beberapa yang sudah tahu seperti apa kehidupan pelik Resha memberi selamat.
"Iya, makasih semua. Sekalian saya kesini karena satu hal. Sekarang caffe ini adalah milik istri saya, kedepannya bantu dia untuk mengembangkannya. Tanpa kalian, caffe ini juga bukan apa-apa."
"Siap, Pak." jawaban Mereka tampak kompak dan serentak, sebelum pulang, Darren dan Resha menyempatkan untuk makan bersama dengan Dania dan yang lain di caffe.
Suasana rumah tak berpenghuni membuat sepasang manusia langsung mneghempaskan diri di ranjang king size milik Darren. Nora yang menemani Devano ngantor, begitupun Qween yang saat ini menggantikan Darren di Arsa Group.
"Mau mandi dulu, apa tidur dulu?" tanya Darren.
"Tidur dulu, Derr. Capek banget rasanya," keluh Resha, entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa lelah sekali, bolak balik Jakarta - Bandung.
Akhirnya Darren hanya pasrah, hubungan ia dan Resha sudah dipastikan akan berjalan ke tahap berikutnya dengan lambat.
"Yaudah, tidur gih." Titah Darren yang ikut merebahkan diri dan memejamkan mata, Resha menatap langit kamar Darren yang terasa nyaman, memiringkan tubuh menatap tubuh atletis Darren.
Resha hanya menggeleng, lantas melanjutkan tidurnya lagi. Bangun tidur dan mendapati wajah cantik di sisi membuat Darren tersenyum simpul, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Saking lelahnya mereka belum makan malam dan mungkin kedua orang tuanya sedang menunggu di bawah.
"Bangun, Res. Mandi!" Darren mengguncang pelan tubuh Resha, istrinya itu menggeliat pelan lantas membuka mata, mengusapnya berulang kali.
"Jam berapa?" tanya Resha lantas beringsut.
"Udah malam, aku siapin air hangat dulu," ucap Darren sambil berlalu.
"Kamu udah mandi?" tanya Resha. Namun, terlambat Darren sudah masuk kamar mandi dan mungkin tak mendengar suara lirihnya.
Darren kembali, "Cepat mandi." Kini Resha yang dibuat mengernyit dengan tingkah Darren.
"Makasih," ucap Resha, melangkah ke dalam kamar mandi, ia merendam tubuhnya dengan air hangat dan masih terpikir kenapa tiba-tiba Darren berubah sangat baik.
Mereka berdua menuruni tangga yang disambut hangat oleh Nora, Devano juga Qween yang bersiap untuk makan malam.
__ADS_1
"Kelamaan ya, Ma. Maaf kami ketiduran sepulang dari Bandung." Darren menjelaskan alasannya turun terlambat, sementara Resha melempar senyum canggung.
"Yaudah, kita makan yuk. Kalian pasti capek dan pengen segera istirahat." ajak Nora, ibu paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu mengambil piring pun dengan Resha dan Qween.
"Makan yang banyak, mama nggak mau kamu nikah sama Darren makin kurus." bisik Nora, Resha tersenyum.
"Iya, Ma." Jawab Resha.
"Derr, jangan lupa besok jadwal kalian ke butik."
"Iya, Mama sayang."
"Kok mama doang yang di panggil sayang, Reshanya juga dong." goda Nora, Qween terkekeh merasa lucu dengan pengantin baru di sampingnya.
"Ehm iya, Ma." sahut Darren melirik Resha yang tengah mengambilkan makan malam untuknya.
"Sudah ayo kita makan, keburu malam!" titah Devano.
Mereka akhirnya makan malam bersama, Resha lebih banyak diam. Namun, hatinya menghangat ketika sudah masuk bagian dari keluarga Darren, penuh kehangatan dan kasih sayang.
Selesai makan, Resha bingung harus apa. Ia membereskan meja makan. Namun, Nora melarangnya.
"Biar dibereskan bi Liam," bisik Nora, ia mengamit lengan Resha dan mengajaknya bersantai di ruang keluarga.
"Bagaimana pendapatmu soal Darren, sayang. Apa dia romantis, karena setahu mama dia itu manja." Kebetulan, Devano dan Darren sedang bersantai di luar.
"Ngomongin apa sih, Ma?" tanya Qween.
"Apa kamu, belum cukup umur."
"Astaga mama." Qween mengerucutkan bibir, tiap kali Nora selalu menganggapnya gadis kecil.
"Darren baik, Ma." Singkat Resha, dia memang belum bisa menilai Darren dari sudut hati. Tapi entah suatu hari nanti.
Malam hari, saat tidur lagi-lagi Darren mendapati Resha mengigau, apa memang kepingan masalalunya terlalu dalam, sampai-sampai tiap malam perempuan itu tak pernah merasa lelap tidurnya.
"Kamu sabar ya, kelak perlahan-lahan aku sendiri yang akan menghapus kenangan burukmu itu." Bisik Darren merengkuh tubuh Resha ke dalam pelukan. Entah apa yang dirasakan oleh Darren, yang jelas ia tidak bisa melihat Resha menderita.
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN YG PUNYA VOTE GIFT NGANGGUR BOLEH BAGI SINIππ€