
Devano masih menatap punggung wanita yang menyodorkan beberapa undangan ke tangannya hingga menghilang.
"Wedding Briyan Stein dan Zara shan." gumam Devano setelah melihat nama yang tertera di depan sampul undangan.
"Zara Shan, gadis cupu SMA Tunas Bangsa?" Devano menggeleng tak percaya, ia ingat betul bagaimana wajah Zara, gadis yang nyaris tak pernah mendongkak saat berjalan, berkepang dua dengan kaca mata kuda.
Maski Devano tahu, jika gadis itu cukup dekat dengan Briyan. Devano membaca satu tersatu undangan. Tertera nama Devano-Nora, Alfin-Karin dan Abiyan-Clara. Namun, hal yang berhasil membuat Devano tersenyum adalah kata Sahabatku, tepat dibawah nama-nama yang tertera.
Devano fikir, setelah dirinya menikah. Alfin dan Karin yang akan menyusul lebih dulu. Rupanya justru pewaris tahta Stein-lah yang diam-diam mengikuti jejaknya menikah. Dan yang menakjubkan adalah Briyan menikahi cewek tercupu di SMA Tunas Bangsa.
Gegas Devano memasukkan undangan ke dalam tas dan melangkah menuju parkiran. Ia akan segera pulang dan bertemu istri tercintanya.
Sebelumnya, Devano mampir terlebih dahulu ke toko bunga. Ia membeli dua buket bunga, sebelum pulang ia sempatkan singgah sebentar ke TPU dimana dulu janin Dera, calon anak sulungnya di makamkan.
Satu buket bunga ia ambil dari jok belakang mobil, kemudian turun. Setelah menyapa penjaga makam, Devano berjalan masuk. Menapaki langkah demi langkah sebelum akhirnya tiba di makam kecil bertuliskan Dera, buah cintanya dengan Nora yang sudah tenang disana.
Sayang, Ayah datang...
Devano meletakkan sebuket bunga di sisi nisan, lalu mengusap lembut nama Dera disana.
Maaf ya, ayah sendiri...
Nggak ngajak mama, semoga kamu enggak marah...
Mama sayang sama kamu, sama halnya seperti ayah...
Meskipun jarang menengok kamu, meskipun kamu sendiri disini, percayalah! Kamu tetaplah di hati kami, Dera selalu di hati kami...
Setelah membaca doa, Devano berulang kali mengusap nisan kecil itu. Sudah cukup lama ia berada disana, hingga sapaan terakhir ia mencium nisan Dera kemudian bangkit dan pulang. Seharusnya, jika masih ada di perut mama. Ia sudah hampir lahir sekarang.
Devano sempat mencuci tangan dan kakinya di dekat gerbang TPU, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
Masih ada sebuket mawar untuk istri tercintanya, ia menyusuri jalanan sebelum pulang, barangkali menemukan sesuatu yang ingin ia beli untuk Nora.
"Seharusnya sih doyan," gumamnya setelah membeli dua cup rujak ice cream kesukaan istrinya.
"Makasih mas," ucapnya setelah membayar. Gegas Devano melajukan kembali mobilnya, agar segera sampai di rumah.
"Kok telat pulang, sayang." sapa Nora yang ternyata sudah lama menunggu. Devano berjalan menghampiri sang istri yang duduk sembari membaca buku pengetahuan kehamilan di teras.
Sebuket bunga mawar, indah nan wangi ia sembunyikan di balik badan bersama rujak ice cream oleh-olehnya.
"Surprise," Devano menyodorkan bunga mawar, lalu rujak untuk Nora.
__ADS_1
"Makasih, sayang." Nora.menghambur ke pelukan Devano.
"Udah gak mual-mual nih," goda Devano, Nora menggeleng sembari senyum-senyum.
"Maaf ya, jadi bikin kamu puasa."
"Berarti, nanti boleh dong?" goda Devano sambil menoel hidung istrinya.
Nora tersipu malu. Namun, ia tak kuasa menolak jika Devano meminta haknya, toh selama ini Devano puasa, hanya karena dirinya tak bisa mencium bau tubuh suaminya.
"Boleh ya,"
"Iya deh," jawab Nora dengan pipi merona. Sepasang pasutri itu sedang menikmati rujak bersama di taman, setelah makan siang. Terlebih saat ini Nora sudah mau menempel dengannya, sungguh keajaiban!
Devano pun senang melihatnya, lalu dengan sigap berjongkok dan memeluk perut Nora yang mulai menggembul, Devano ciumi berulang-ulang.
"Sehat selalu anak-anak ayah." ucapnya tanpa sadar.
"Anak-anak?" Nora yang mendengar pun sontak terkejut.
"Apa maksudnya, Dev?" tanya Nora tak mengerti.
Sudah kepalang tanggung, Devano tak lagi bisa mengelak.
"Apa anak kita kembar?" tanyanya dengan raut wajah berbinar, Devano mengangguk sembari tersenyum.
***
Malamnya, setelah makan Devano langsung mengajak Nora masuk ke kamar. Beralasan capek, Devano pamit membawa Nora. Bayu dan Nara pun makhlum saja, terlebih saat ini Nora sedang mengandung anak kembar pastilah Nora sangat mudah lelah walaupun tak lagi beraktivitas.
Sampai di kamar, Nora tersenyum memandangi bunga pemberian Devano, lalu segera mengganti pakaiannya di ruang ganti.
Sementara Devano teringat akan undangan yang tertinggal di mobil, ia pun segera turun untuk mengambilnya, esok hari baru akan ia bagi kepada para sahabatnya.
"Kok aku malu gini sih." gumam Nora yang sedang memandangi tubuhnya yang seksi di depan cermin ruang ganti.
Tak ingin suaminya menunggu, lantas ia keluar malu-malu namun mematung saat melihat di kamarnya saat ini tak ada orang.
Dengan wajah muram, Nora menghampiri ranjang lalu merebahkan diri. Membalut tubuhnya dengan selimut tebal. Pandangannya mengedar, lalu tertuju pada jarum jam. Masih pukul 8, mendadak hatinya mellow.
Sementara Devano mencari-cari dimana ia menaruh undangan yang diberikan Zara.
"Nah ketemu, karena terburu-buru aku melemparnya begitu saja ke jok belakang." gegas Devano memungutnya lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Apa itu Dev?" tegur papa, saat Devano masuk ke dalam rumah membawa beberapa undangan.
"Undangan, pa. Dari Briyan Stein." ujar Devano.
"Wah kebetulan, kita bisa datang ramai-ramai." ujar sang papa.
"Siap, Dev ke kamar dulu, pa! kasian Nora." Devano pun pamit pada papanya, lalu menyusul Nora ke kamar. Namun, ia tertegun kala mendapati istrinya tidur membelakangi dengan selimut membalut tubuh.
"Sayang, sudah tidur?"
Tak ada jawaban dari mulut Nora, akan tetapi Devano mendengar isakan kecil.
Gegas ia naik ke atas ranjang setelah menaruh undangan di atas nakas.
Dengan sigap membalikkan tubuh Nora dan berhasil.
"Kenapa nangis, hmm?" Devano langsung mengusap bulir bening yang membasahi pipi mulus itu.
"Kamu jahat, ninggalin aku." Ucap Nora sembari terisak tanpa menatap Devano.
"Hey hey, lihat aku. Aku cuma ngambil undangan di mobil."
"Benarkah?" Barulah Nora menatap manik mata Devano.
"Maaf ya membuatmu menunggu, lusa kita datang ke pernikahan Briyan." Ucap Devano lalu mendaratkan satu kecupan di kening.
"Briyan?"
"Iya Briyan, sahabatku!" ucap Devano tersenyum. Ia membuka selimut, lalu masuk ke dalam dan menenggelamkan diri di da da Nora.
"Ishhh, Devano!"
"Bentar saja."
Nora tersipu malu, sebab selain jago membuatnya melayang. Suaminya juga selalu berhasil mencetakkan rona merah di pipinya.
Malu, itu yang dirasakan Nora saat ia dan Devano melakukannya. Meski sudah pernah, meski setiap hari sekalipun, ia selalu merasa jika Devano terus membuatnya merona.
"I Love you, sayang." bisiknya setelah berhasil menerbangkan Nora ke awan bersama kenikmatan.
"Love you too, my hubby." balas Nora malu-malu, meski begitu Devano selalu bisa menempatkan diri. Terlebih saat ini, Nora sedang hamil anak kembar. Jadi pelan dan lembut adalah pilihan yang aman.
Mereka saling melempar senyum sebelum akhirnya teriak saling menyebut nama dan memeluk.
__ADS_1