
"Apa harus mendekorasi sekarang," Nora mendekus saat beberapa orang dari wedding organizer datang mengantar segala kebutuhan dekorasi untuk pernikahan Nora nanti.
Kenia menanggapi gerutuan putrinya dengan seulas senyum, "Besok sayang, tapi kan mulai hari ini semua sudah mulai dipersiapkan." tutur Kenia lembut.
Bukan hanya slow respon, Nora benar-benar mager hari ini. Ingin seharian di rumah, bersantai atau tidur misalnya. Sayangnya, mama memintanya untuk perawatan ke Salon. Agar nanti saat menikah wajahnya terawat, cantik.
"Ma, jadi kapan Zain akan menikah?" tanya Nora yang lebih kepada penasaran, karena Zain tidak bercerita mendetail tentang rencana perjodohan saudara kembarnya itu dengan Maura.
"Setelah kamu menikah, mama udah nggak sabar." ucap Kenia lagi-lagi dengan seulas senyum, Nora yang melihat mamanya terlihat sangat bahagia berulang kali membuang napas.
"Mama nggak sabar untuk segera menimang cucu." sambungnya lagi hingga membuat Nora tiba-tiba merasa pusing.
"Itu nggak akan ma," elaknya namun buru-buru menutup mulut dan merutuki kebodohannya.
"Maksud Nora tidak dalam waktu dekat." desah Nora, yang akhirnya menemukan alasan tepat.
"Devano masih sekolah ma."
Kenia mengusap pelan pundak Nora dengan lembut, "Yang sekolah itu Devano sayang, bukan kamu. Dan mama rasa itu bukan masalah."
Memikirkan bagaimana hidup dengan Devano? mungkin masih bisa Nora atasi, tapi untuk memiliki anak? membayangkan saja Nora tidak mau, bukan tidak suka dengan anak-anak. Tapi Nora sedang tak ingin membayangkan proses sebelum punya anak, terlebih suaminya nanti Devano. Tanpa sadar, ia menggeleng-gelengkan kepala.
"Mama sudah siapkan beberapa dress baru buat kamu sayang, oh ya. Nanti malam oma sama opa akan datang, bersiaplah." pinta Kenia.
Nora pun gegas ke kamar, mengganti pakaiannya. Lalu berangkat ke salon sesuai perintah sang mama.
**
Sementara Devano masih menjalani aktivitasnya untuk tetap sekolah. Karena Bayu hanya meminta izin dua hari, dengan alasan kepentingan keluarga.
Siang ini, seperti biasa saat istirahat mereka bersantai ria di kantin. Terlebih jam pelajaran setelah istirahat kosong, karena guru akan rapat nanti.
"Dev, muka lo udah diobatin, kok masih memar? tiga hari lagi kan lo..." Alfin langsung membekap mulut Abiyan dengan tangan.
"Bwhhhh.. apaan sih, Fin!" pekiknya kala tangan itu terlepas.
"Bi, lo lupa kalau ini rahasia kita bertiga?" tekan Alfin. Devano masih sibuk mengunyah makanannya, "Rahasia apaan?" tanya Clara yang baru saja ikut bergabung dan menatap ketiga cowok tampan itu bergantian, dan tatapan terakhir kepada Abiyan yang seolah hanya dengan melihat manik mata Clara sudah berhasil membuatnya berkata jujur.
Abiyan hendak membuka suara, namun buru-buru Devano memotongnya, "Rahasia laki-laki, Clar! dan gue yakin lo gak pengen tau kan?" jawaban Devano sembari menaik turunkan alisnya, "Ohh... gue kira, itu kenapa pipi pake blush on Dev?" tanya Clara yang heran melihat pipi Devano masih memerah karena pukulan.
"Bukan, kena tonjok omnya Karin!" jawab Devano kesal, terlebih saat menyebutkan nama Karin, padahal saat ini gadis itu sedang duduk di sudut kantin sembari terus melihat ke arah Devano.
Clara mengangguk-ngangguk, "Pantes tu' anak ngeliat sini mulu, mungkin merasa bersalah."
"Ceh!" ketiganya kompak berdecih, menanggapi perkataan Clara.
**
Siang semakin terik, Nora kini sedang memanjakan diri di salah satu salon ternama, mulai dari sauna hingga perawatan rambut dan wajah.
Setelah berjam-jam berada di tempat itu, Nora pun keluar dengan tubuh yang lebih fresh, serta wajah yang lebih mulus dan tentunya Aura cantik yang semakin kentara.
__ADS_1
Namun, saat sudah masuk ke dalam mobil sportnya, ia seperti merasa enggan pulang ke rumah. Nora menghela napas sejenak, sembari memegang stir kemudi, lalu beralih melihat jam di pergelangan tangannya.
"Bentar lagi Devano pulang, apa aku ke sekolahnya saja." gumam Nora yang entah kenapa ingin bertemu dengan Devano.
Lalu tanpa sadar, ia benar-benar melesatkan mobil sportnya menuju SMA Tunas Bangsa.
Jalanan tak begitu ramai membuat Nora tak butuh waktu lama untuk sampai di Sekolah Devano, gadis itu terdiam di dalam mobil menunggu geng Devano keluar. "Kenapa aku kesini sih, bocah itu kalau tau pasti besar kepala, bla bla bla." gumam Nora merutuki kebodohannya dengan mengunjungi Devano ke Sekolah.
Saat seluruh siswa-siswi berhambur keluar gerbang, Nora menyalakan mobilnya. Tentu saja ia tak ingin menahan malu jika Devano melihat ia datang ke sekolahnya siang-siang begini.
"Dev, itu bukannya mobil tante lo?" tanya Alfin, Dev yang duduk di atas motor pun sontak menoleh, arah telunjuk Alfin.
Alisnya bertaut, kala melihat mobil itu melesat pelan.
"Iya, itu mobil tante. Tapi kenapa nggak ngabarin gue?" tanya Devano, dua sahabatnya hanya mengedikkan bahu, tak tahu.
"Kejar, Dev!" titah Abiyan, "Yaudah, gue cabut dulu." Ujar Devano langsung memakai helm dan menstater motornya.
" Benar-benar keras kepala, bahkan untuk bilang kangen atau pengen ketemu aja, tante nggak mau. Malah diam-diam ke Sekolah, demi apa coba? Apa dengan begitu aku nggak tahu, hmm? CCTV-ku kan banyak." gumam Devano yang terus mengikuti kemana arah mobil Nora.
Devano terus mengikuti mobil Nora dari jarak jauh, bahkan Nora tak menyadari bahwa Devano sudah tau kehadirannya di depan Sekolah dan langsung membuntutinya.
Wanita memang kadang rumit, lebih memilih memendam keinginan dari pada mengungkapkannya. Terlalu tinggi gensi, giliran tak mendapat respon bilangnya kepada si cowok, Nggak peka!
"Jadi kamu ke tempat ini, hmm? oke fix ini mah rindu terpendam yang enggan kamu ucapkan." Batin Devano terus menahan senyum.
Saat tahu, Nora kini mengujungi sebuah danau yang pernah menjadi momen manis ia dan Devano.
Devano sengaja memarkirkan motornya agak jauh, saat matanya menangkap penjual es krim di sekitarnya, bocah itu kembali tersenyum.
"Pak, es krim dua ya, satu vanilla coklat, satunya coklat strawberry." pinta Devano.
"Siap mas, baru pulang sekolah ya?" tanya si penjual, Devano mengangguk.
"Itu pasti pacarnya, ya?" tunjuk bapak-bapak si penjual ke arah Nora yang duduk sendiri di kursi.
Devano seketika tersenyum tipis, "Calon istri, Pak!" sahutnya sembari terkekeh.
"Berapa, pak?" bukan menjawab, bapak penjual es krim malah syok mendengar penuturan Devano.
"Eh maaf, mas! habis saya kaget, 20rb semuanya." Devano menyodorkan uang selembar 50rb kepada bapak itu.
"Sisanya buat bapak, jangan lupa doain saya ya." ucap Devano mengulas senyum, lalu melangkah pergi dengan membawa dua cup es krim dua rasa.
"Ya Tuhan, semoga mereka dilimpahi kebahagiaan dan kasih sayang." ucap tulus bapak itu sembari menatap kepergiaan Devano dengan penuh rasa syukur.
"Ehm," Devano berdehem, lalu duduk di samping Nora yang tersentak akan kehadirannya.
"Kamu kok tahu aku kesini?" tanya Nora yang heran, Devano hanya menjawabnya dengan senyum.
"Buat aku kan?" tanya Nora melirik ke arah es krim yang berada di tangan Devano, ide jahil muncul tiba-tiba, Devano menggeleng, "Aku sama cewek lain kesini." jawabnya, "Itu," tunjuk Devano kepada seseorang wanita cantik yang duduk sendiri di kursi yang tak jauh darinya, seketika Nora memasang wajah datar.
__ADS_1
Diam dan tak bergeming, perasaan marah tiba-tiba menyeruak disertai sesak luar biasa, "Jadi begini rasanya!" batin Nora mendengar penuturan Devano, meskipun bocah itu masih dudul di hadapannya.
"Tapi bohong," sambungnya diiringi kekehan kecil saat berhasil membuat wajah Nora berubah kesal.
Saking kesalnya Nora mengerucutkan bibir dan merebut paksa es krim di tangan Devano.
"Tant, tau nggak?"
"Apa?" ketus Nora, seraya menyuapkan es krim ke mulutnya.
"Tadi ada cewek cantik yang kangen sama aku loh, sampai bela-belain dateng ke Sekolah." ucap Devano menahan senyum.
"Kok kamu tahu." jawabnya tanpa sadar, lalu membekap mulutnya.
"Cie kangen cie..." ucap Devano saat melihat semburat rona merah di pipi Nora.
"Enggak," sahutnya cepat.
"Kangen titik." sambung Devano yang tak mau mengalah.
"Iya." ucap Nora akhirnya hingga berhasil membuat Devano tersenyum lebar.
***
Sementara di rumah utama milik Shaka, Kenia sedang menunduk menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari dua mama dan papanya yang meminta penjelasan. Kenapa Nora kabur dan pulang tiba-tiba akan menikah?
Meski Kenia tahu, orang tuanya akan datang, tapi ia tak memikirkan bahwa mereka sempat mendengar Nora kabur dari rumah.
Zain yang duduk di samping Kenia pun hanya nyengir kuda, jelas ini kesalahannya yang sempat menceritakan kaburnya Nora kepada sang oma.
Dan saat Nora kembali, Zain bahkan lupa memberi kabar omanya karena ia sibuk membantu papanya di kantor dan menghabiskan waktu bersama Maura.
"Jadi dengan siapa Nora akan menikah, Ken?" tanya Dina yang mulai mereda.
"Dengan Devano, ma!" jawab Kenia.
"Iya tahu, Devano siapa? anak mana? apa orang tuanya punya perusahaan?" tanya Wina dengan nada lebih tinggi, beda dengan Dina yang terkesan lembut.
"Mama masih selalu menjadikan perusahaan sebagai tolak ukur menilai seseorang?" kini giliran Kenia yang balik bertanya.
"Sudah-sudah, papa rasa Shaka tau yang terbaik untuk anaknya." santai Wira.
"Terus apa undangannya sudah disebar." tanya papa Ed, langsung mendapat gelengan keras dari Kenia.
Shaka datang tergesa setelah mendapat kabar dari Zain bahwa Kenia sang mama sedang di introgasi oma dan opanya.
"Maaf, baru pulang ngantor pa!" ucap Shaka kemudian mencium tangan orang tuanya dan Kenia bergantian.
"Gimana persiapan acaranya Shak, apa kami perlu turun tangan?" tanya Edward si papa mertua, Shaka menggeleng keras "Acaranya privat, Pa! hanya keluarga, dan tidak ada tamu undangan." tegas Shaka.
"Apa????" tanya mereka berempat serempak dengan wajah terkejutnya.
__ADS_1
Yang punya vote gratis, boleh banget disumbangin ke Devano sama Nora yess biar makin lancar, wkwkwk jangan lupa like komen dan rate juga giftnya ya kak💞