
"Jadi sedari tadi kamu enggak tidur, tapi pura-pura tidur." Nora memutar bola matanya menanggapi Devano yang justru terlihat menyeringai penuh rencana.
"Hmm, dan sepertinya tante Nora yang melanggar peraturannya sendiri, kira-kira aku minta apa ya?" tampak berfikir sejenak, sembari memicingkan mata, berfikir akan meminta apa, karena ini kesempatan bagus yang harus Devano manfaatkan sebaik mungkin.
Mendengar perkataan Devano, Nora mendelik.
Salah sendiri ia merasa begitu gemas dengan bocah itu.
"Aku nggak sengaja," tutur Nora, mengubah posisi.
"Sengaja atau tidak, tante berusaha menyentuhku, Aku minta cium!" putusnya sembari menunjuk bibir, menghela napas kasar. Nora benar-benar terjebak di peraturan yang ia buat sendiri. Devano memang pintar, seharusnya Nora bisa mengendalikan tangannya tadi.
"Ada pilihan yang lain?" tanya Nora meminta pertimbangan.
Lalu dengan senyum seringai, "Ada, tidur memelukku semalaman, bagaimana? itu seimbang loh tantee sayang." santainya dengan seulas senyum.
"Pilihan yang sangat sulit, Dev! Selain pintar ngegombal ternyata suamiku juga licik." desis Nora.
Namun, meski terlihat kesal juga dada yang bergemuruh, Nora mengindahkan guling penghalang diantara mereka, "Begini lebih baik, sekarang tidurlah, aku tak akan menyerahkan firstkissku begitu saja." ucapnya lalu menenggelamkan wajahnya demi menyembunyikan pipinya yang sudah memerah karena malu, hya akhirnya Nora memutuskan memilih tidur sembari memeluk sang suami ketimbang harus mencium bibirnya.
Devano semakin melebarkan senyumnya. Ia tak menyangka jika akan punya kesempatan untuk sedekat ini dengan Nora, jelas tadi tak pernah sedikitpun terbesit dalam pikirannya akan ada fase seperti ini. Dimana tante kesayangannya tidur sembari memeluknya, ah andai ini terjadi disetiap malam?
"Dev, sudah tidur?" tanya Nora yang masih memeluknya. "Belum," sahutnya, Berdekatan dengan Nora justru membuatnya tak bisa tidur, jantungnya terus berdetak cepat.
"Kenapa? Ck! Baru memelukku saja jantungmu udah maraton, apalagi...."
Terpotong oleh perkataan Devano yang berhasil membuatnya bungkam.
"Diamlah atau aku akan menciummu."
Ya dan Nora langsung terdiam. Malam semakin larut, membawa keduanya ke alam mimpi yang indah, dengan tubuh saling memeluk.
Pukul 05.00 WIB, saat matahari masih tampak malu-malu, sepasang pengantin baru itu masih sangat nyaman, terlelap dalam tidur. Bahkan Nora bukan hanya memeluk Devano, wajah cantik yang masih terlelap itu kini hanya tak lagi berjarak, entah bagaimana pergerakan tidurnya hingga pipinya menempel tepat di telinga Devano.
__ADS_1
Saat kicauan burung terdengar di balik dinding kaca kamar mereka. Devano membuka matanya, mengulas senyum tipis kala melihat sang istri begitu dekat dengannya, Jika Nora terbangun sudah dipastikan wajahnya akan memerah dan menggemaskan.
Andai kedua orang tuanya pun Nora tak melarang mereka melakukan hubungan suami istri sampai ia lulus, mungkin ia sudah tak bisa menahan diri. Biar bagaimana pun ia adalah laki-laki normal, dan wanita di hadapannya saat ini bukan hanya ia cintai dan lindungi, tapi juga sudah halal baginya.
Nora membulatkan mata, saat menyadari dirinya terlampau jauh menyentuh.
Tidak, ini bukan menyentuh tapi kontak alami.
"Aku tak sengaja kan, kenapa aku yang malah terus ingin dekat dengan bocah ini." batin Nora benar-benar merutuki kebodohannya, mematung menatap Devano yang justru tersenyum seolah ia tengah memenangkan sesuatu.
"What the hell!" pekik Nora menjauh, "Aku tidak sengaja, tapi kau malah menikmatinya Dev!" pekiknya.
"Dua kosong, karena aku rasa ini bukan hanya tentang kesempatan tante sayang, tapi kamu, kamu terlalu nyaman di dekatku, sampai..."
"Cukup Dev, aku nggak sengaja ya!" elaknya,
"Hmm, bisa jadi itu hanya alibi tante. Buktinya kemarin tante..." Dev menjeda kalimatnya, ia senang sekali bisa menggoda Nora sepagi ini.
"Dasar aku," umpat Nora setelah masuk ke dalam kamar mandi, sejenak berendam air hangat dengan aroma terapi. Sepertinya otak dan badan butuh rileks karena akhir-akhir ini suka tidak singkron.
Keluar dengan handuk kimono yang membalut tubuhnya, seketika membuat Devano menelan salivanya kasar.
"Kenapa tidak memakai baju?" tanyanya sembari bersandar di sofa.
"Mandilah, aku sudah siapkan air hangat dengan aromatherapy." titah Nora tanpa mengindahkan ucapan Devano.
Devano bangkit, melangkah pelan menghampiri Nora yang duduk di kursi depan cermin sembari memoles tipis wajahnya.
Langkah kakinya terhenti tepat di belakang Nora.
"Terima kasih, istriku." mengecup pelan puncak kepala Nora lalu gegas melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Kenapa sikapnya manis sekali..." Batin Nora yang tersenyum sendiri di depan cermin menerima perlakuan Devano barusan.
__ADS_1
***
Apa kamu percaya, jika wanita buruk akan mendapatkan seseorang yang buruk juga, seperti aku yang kini justru terjebak dalam permainanku sendiri...
Aku sudah menduganya, tapi kamu terlalu keras kepala dan egois dalam mengejar cinta seseorang hingga membawaku dalam situasi sesulit ini...
"Kau sudah banyak minum, berhentilah!" Ujar Alan yang berusaha mencegah Karin, namun gadis itu justru menenggak hampir habis minuman beralkohol itu.
Sudah dua hari ia tidak masuk sekolah sejak kejadian yang membuat kesuciannya harus hilang, belum lagi minggu kemarin Alan tiba-tiba melamarnya, menjadikan rasa kasian sebagai alasan dalam membangun hubungan.
Miris sekali, nasib Karina Anesya.
"Berhentilah mengoceh kak, aku lelah." ucapnya sembari tertawa dan mengibaskan tangannya ke atas. Hya, setelah berhasil merusaknya Alan Carley berubah sikap menjadi lembut dan baik. Tapi, itu justru membuat hati Karin semakin sakit karena ia sadar dirinya hanyalah pelarian.
"Berhenti minum maka aku akan diam, Karin jika kamu marah karena kelakuanku aku minta maaf, mari kita perbaiki dari awal." mohon Alan.
"Ck! Dari awal kita sudah salah, makanya Tuhan menghukumku dengan cara seperti ini,"
"Maaf, membuatmu sedih!" Alan sudah benar-benar kehilangan akal, mamanya Karin memintanya datang ke rumah dan membujuk gadis itu agar membuka pintu kamarnya. Namun, yang terjadi. Gadis itu sedang minum di dalam kamar dengan wajah luar biasa menyedihkan.
Dan tanpa menunggu persetujuan dari Karin, Alan merampas botol wine itu dan melemparnya ke luar jendela kamar.
"Hey, lihat aku! Apa aku ini bukan orang yang baik, sampai kamu harus meratap dan mengabaikanku, oke kamu boleh mengabaikanku, tapi gimana dengan mamamu?"
Karin diam, bersama dengan keluarnya Alan dari kamar Karin dan menutup kembali pintu kamar tersebut.
"Gimana nak, apa dia masih sedih. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian." tanya Mama Karin yang khawatir, Alan pun menggeleng.
"Bukan apa-apa tante, hanya salah paham kecil." sahut Alan.
Itu artinya, mamanya Karin memang tak tau tentang apa yang terjadi antara aku dan Karin secara mendetail, jika ia tahu mungkin sudah menghajarku habis-habisan .
Like komen dan votenya ya kak ππ»ππ»
__ADS_1