
Sepagi ini, Nora sudah heboh. Semua keluarga besarnya berkumpul, sementara pengantin belum menampakkan batang hidungnya. Pelataran rumah sudah disulap sebegitu megahnya, beberapa wartawan juga siap meliput acara pernikahan calon penerus Aldeva Group. Tamu-tamu mungkin sebentar lagi akan datang memenuhi halaman rumah yang oenuh dengan kursi-kursi.
"Astaga, aku kesiangan." pekik Darren langsung melompat dari ranjang dengan spontan setelah melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh. Resha masih terlelap, sementara ketukan pintu di luar kamar semakin keras.
"Bangun, nak. WO sudah datang, kalian cepet buka pintunya," suara Nora, sang mama terdengar keras.
"Iya, Ma." Darren menyahut, akan tetapi ia bukan membuka pintu dan malah masuk ke dalam kamar mandi.
"Cepetan ya, habis ini soalnya kalian harus di make up dulu." Pekik Nora setengah berteriak.
Tampak Qween menghampiri, "ngapain sih, Ma. Teriak-teriak, sabar aja namanya mereka juga pengantin baru."
"Qween kamu sapa om Zain di bawah." titah Nora. Qween pun mengangguk, lantas melempar senyum kepada mamanya yang hari ini berubah 180° menjadi bawel.
Resha mengerjapkan mata, mencoba meraih kesadaran. Saat tangannya meraba samping dan tak menemukan sosok suaminya, ia terbangun.
"Derr." panggil Resha, yang di panggil keluar dari dalam kamar mandi dengan bertelanjang dada, dan handuk putih yang melilit pinggang.
"Ya ampun, Derr!" pekik Resha dengan wajah merona, ia masih belum biasa melihat pemandangan tubuh Darren. Ia masih merasa sangat malu.
Resha segera menangkup wajahnya dengan telapak tangan, tapi Darren justru mendekat ke arahnya tanpa dosa.
"Sudah melihatnya kenapa masih malu?" goda Darren, Resha mengintip di sela jarinya, suaminya itu justru berdiri di hadapannya menggoda.
"Aku mau mandi." panik Resha menuruni ranjang tanpa melihat ke arah Darren.
"Hm, menggemaskan ekspresinya. Ternyata punya istri itu benar-benar menyenangkan," gumam Darren menatap Resha yang sudah terbirit masuk ke dalam kamar mandi.
***
__ADS_1
Setelah drama suami istri itu usai, kamar mereka kini sudah ada beberapa penata rias. Hari ini, Darren dan Resha akan melaksanakan resepsi pernikahan kedua kali. Jantungnya tak lagi berdetak kencang seperti saat sebelum akad. Darren terlihat lebih tenang, berbeda dengan Resha yang entah kenapa ia merasa sangat gugup.
Bahu seputih susu itu tampak sangat menggoda saat sebuah gaun pengantin indah melekat di tubuhnya. Jakun Darren naik turun karena ia harus menelan ludah paksa, Resha bukan hanya cantik sekali hari ini tapi juga cukup menggoda.
'Dia lah istriku, cantik sekali. Bahkan sangat cantik, hingga aku tak bisa memadamkan api gelora yang membakar tubuhku seketika hanya karena melihatnya.'
Jika tak mengingat hari ia harus turun ke bawah menyelenggarakan resepsi, mungkin Darren lebih memilih mengurung istrinya seharian di kamar.
Keduanya menuruni tangga, tangan kedua orang tuanya menyambut dengan antusias. Pun kakek dan neneknya yang tak henti tersenyum kagum.
Tanpa sadar, Resha hampir menitikkan air mata. Keluarga Darren memanglah sempurna, ia diterima tanpa memandang seperti apa masalalu yang terlewat.
Dengan langkah tegap, Darren mengamit jemari Resha menuju pelataran rumah yang telah disulap begitu indah.
Para tamu juga kolega perusahaan tampak hadir, Darren mengulas senyum simpul kala tanpa sengaja melihat rona merah di pipi Resha, istrinya itu pasti sedang gugup.
"Bibi mana ya?" gumamnya melihat ke sekeliling, ia sedang mencari keberadaan bibi Elin.
"Kenapa, Bee?" tanya Leon.
"Aku merasa gak enak, Jessi jadi gak berani datang kesini cuma karena nggak mau kita salah paham, aku nggak enak sama mbak Resha."
"Hm, jadi kamu nyariin Jessi?"
"Iya enggak, tapi kan dia jadi gak datang ke acara resepsinya mbak Resha, mereka sepupuan lho."
"Iya tahu."
***
__ADS_1
Resha tak hentinya menyusut sudut matanya yang berair, ia bahagia. Pandangannya tak lepas dari mertuanya yang terlihat saling mencintai, pun juga dengan kakek dan nenek Darren. Dalam hati ia berjanji, akan menerima Darren dan belajar mencintainya. Acara resepsi pun dimulai, Darren dan Resha sibuk menyambut para tamu bersama kedua orang tuanya, hingga sorotan kamera mengarah padanya membuat Resha menarik senyum tipis.
"Aku tak pernah bermimpi untuk menikah lagi, tapi takdir berkata lain. Aku menemukanmu disaat terapuhku," bisik Resha.
Darren tersenyum simpul, lantas menarik pinggang Resha agar merapat pada tubuhnya.
"Kita mulai sama-sama, ya." balas Darren diiringi senyuman, Resha mengangguk.
Sementara di sebuah rumah, Rima tak henti-hentinya melotot karena berita gosip di layar televisi yang menayangkan pernikahan Darren dan Resha, mantan menantunya.
Ibu paruh baya itu hampir menjatuhkan rahang saking terkejutnya.
"Lun..." teriakan Rima menggelegar.
"Apa sih, Bu." Luna keluar kamar karena terusik teriakan Rima.
"Noh, mantan kakak iparmu, ganjen gak ketulungan baru juga masmu beberapa bulan meninggal, dia udah nikah aja sama anak konglomerat, edan!" marah Rima.
"Ibu pikir, Luna gak tahu? Luna bahkan memergoki mereka di hotel." Seketika Luna menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Sial an." umpat Rima.
Brakkk!
"Dia gak sepantasnya mengkhianati anakku, hanya karena anaku sudah pergi lantas dia nikah bahkan sudah melupakan aku, mertuanya!" pekik Rima marah-marah.
Luna menghela napas, ia tahu jika ibunya akan emosi melihat acara pernikahan mbak Resha.
Jantung Luna hampir lompat dari tempatnya kala menoleh ke arah televisi.
__ADS_1
"Kok bisa sih, mbak Resha dapat suami orang kaya?" gerutu Luna.
"Pasti dia jual diri, mana ada orang kaya, ganteng mau nikahin dia yang janda. Reyhan aja masih mikir beberapa kali jadiin Resha istri kedua."