
Nora menatap haru layar monitor USG di depannya, tak menyangka jika takdir Tuhan begitu indah, telah memberi ia dan Devano anak kembar sekaligus.
"Jadi gak boleh banyak fikiran, makan yang banyak karena bukan cuma satu janin yang butuh asupan, tapi dua. Banyak makan buah dan jangan lupa minum vitamin ya," ucap Dokter Maura.
"Iya, dok! terima kasih banyak." ucap Nora maupun Devano. Setelah menebus obat di bagian farmasi. Sepasang kekasih itu meninggalkan rumah sakit dengan perasaan lega sekaligus bahagia.
"Gimana perasaanmu." tanya Devano, melihat senyum Nora terus terkembang.
"Tentu bahagia, aku akan memiliki dua anak sekaligus, pasti sangat menggemaskan nantinya.
"Kamu tidak takut?" tanya Devano yang justru mengundang gelak tawa Nora.
"Memang kalau takut kenapa? Sudah kodrat wanita untuk melahirkan, lagipula aku punya suami hebat, dua mama dan papa hebat, aku tidak takut, aku akan pasti bisa melewatinya."
Mendengar jawaban Nora membuat Devano tersenyum bangga, "Tidak salah aku begitu mencintaimu, sayang!"
"Aishh," wajah Nora sudah bersemu merah, ia menunduk malu-malu dengan senyum tipis di bibirnya.
"Kenapa malu, hmm." Devano langsung meraih tubuh Nora dalam pelukan. Saat ini keduanya di dalam mobil yang berada di parkiran rumah sakit.
"Krukk..."
Bunyi perut Nora seketika membuat Devano melerai pelukan, lalu memandang manik mata milik istri cantiknya, tanpa kata Devano mengubah posisi dan dan memasangkan belt untuk Nora.
"Kita makan dulu, habis itu mampir ke rumah teman-teman." ucap Devano sebelum melajukan mobilnya.
Mereka mampir ke salah satu resto nuansa jepang, karena memang Nora sedang ingin makan disana.
Selesai makan, kembali mereka menuju gerai butik ternama di Jakarta.
Butik langganan mama Nara memang terbaik, buktinya baru ia menginjakkan kaki masuk, selalu terpesona oleh koleksi-koleksi gaun terbaru.
""Ngapain kita kesini, Dev?" tanya Nora tak mengerti, Devano pun menjelaskan jika beberapa hari lagi Briyan Stein dan Zara akan mengadakan pesta pernikahan. Hari ini juga, Devano membawa Nora untuk membeli beberapa gaun terbaik yang akan dikenakan pada pesta nantinya.
"Pilih warna kesukaanmu sayang, ambil beberapa gaun terbaik."
Namun, setelah mencoba beberapa gaun ia kembali dengan raut wajah murung.
"Kenapa, hmm?" tanya Devano yang melihat mendung di wajah istrinya.
"Semua gaunnya press body bagian perut, dan perutku keliatan besar."
"Biar aku ikut masuk dan melihatnya,"
"Aih, mana boleh." gerutu Nora langsung kembali masuk ke dalam ruang ganti.
Devano meminta izin kepada pemilik butik dan menjelaskan semuanya.
"Terima kasih miss," ucapnya penuh kelegaan, ia pun memilih beberapa dress untuk Nora dan menyusulnya ke ruang ganti.
"Pakai ini," Devano menyodorkan satu dress berwarna maroon.
__ADS_1
"Dev, kamu kenapa boleh masuk." heran Nora, akan tetapi Devano hanya membalasnya dengan senyuman.
"Dev, keluar sana."
"Enggak, aku mau melihat istriku."
Nora pun akhirnya pasrah, membiarkan Devano melihatnya mengganti baju.
"Gimana?"
"Bagus, coba yang ini." titah Devano, membuat Nora menautkan alis.
"Kalau sudah bagus, kenapa mesti coba lagi."
Namun, ia pun meraih gaun itu dan mencobanya.
Gaun ke empat dan Devano selalu mengacungkan jempolnya, "Aku kan jadi bingung pilih yang mana?"
"Hei hei, istriku selalu cantik mau memakai apapun! Bahkan jika tidak memakai apapun." godanya langsung mendapat pelototan tajam.
"Canda sayang, kita beli semuanya."
"Semua?"
"Iya semuanya, untuk istri tercintaku." Nora langsung bersemu merah, ia pun berinisiatif untuk memilihkan beberapa tuxedo senada dengan gaunnya untuk Devano.
"Selera istriku, pasti ku suka."
"Hmm, iya tapi kamu harus mencobanya."
"Aishh, mulai narsis." gerutu Nora, hingga membuat Devano terkekeh.
Setelah membayarnya, mereka pergi meninggalkan butik. Menyempatkan membeli tas juga sepatu untuk Nora.
"Jangan tinggi-tinggi," protes Devano saat Nora memilih sebuah highell.
"Tapi aku pengen ini," jawabnya memelas.
Devano menghela napas, sejujurnya bukan tak boleh tapi ini demi keselamatan.
"Baiklah, tapi jangan dipake. Kamu kan lagi hamil sayang." saran Devano.
"Baiklah, aku akan memakainya setelah melahirkan."
Puas belanja, kini mereka kembali melesatkan mobil. Pertama, mereka ke rumah Clara, kemudian lanjut ke rumah Alfin, akan tetapi karena tak ada orang mereka memutuskan menitipkannya pada Karin.
Terakhir adalah ke rumah Abiyan.
Abiyan pun sama terkejutnya mendengar Briyan Stein menikah, terlebih wanita itu adalah Zara.
"Masa mau sih Briyan sama si cupu." oceh Abiyan tak percaya sambil menyodorkan dua minum kepada Devano dan Nora yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Lo gak akan percaya, kalau Zara sekarang cantik banget!" puji Devano, Nora yang kesal pun langsung mencubit pinggang suaminya.
"Berani ya muji wanita lain di depan aku."
"Ampun sayang, enggak kok. Kamu yang paling cantik."
"Bohong, buktinya tadi."
"Beneran, aku gak muji. Cuma kasih gambaran aja ke Abiyan gimana Zara dulu vs sekarang." elak Devano, Abiyan yang melihat kebucinan Devano pun menggeleng-gelengkan kepala.
Devano dan Nora pamit pulang saat hari sudah beranjak sore.
Sampai di rumah, langsung disambut khawatir oleh Nara.
"Syukurlah, kalian sudah pulang. Bagaimana keadaan cucu-cucu mama."
"Mama," Nora langsung memeluk Nara haru.
"Loh loh kok malah nangis." ucap Nara saat sadar Nora sudah membasahi bahunya.
"Ahh mama, sehat ma, aku nangis karena bahagia." ucap Nora.
Nara pun mengulas senyum, lalu kembali menatap Devano putranya. " Dev, kamu harus ektra jaga istrimu ya, jangan sampai kelelahan, mama gak mau menantu dan cucu kembar mama kenapa-napa."
"Iya, ma. Iya!" ucap Devano mengiyakan.
***
Devano benar-benar menjaga Nora, memperhatikan setiap detail asupan dan tidurnya. Tak akan membiarkan istrinya terlalu capek bahkan ia rela menahan hasrat demi tidak membuat Nora kelelahan. Tiba hari dimana pesta pernikahan Briyan dan Zara.
Nora bersiap mematut diri di depan cermin, begitupun Devano.
Mereka tampak serasi mengenakan gaun dan tuxedo senada.
"Kalian mau bareng mama apa sendiri?" tanya Nara yang melihat Devano dan Nora sudah rapi menuruni tangga.
"Kami duluan saja, ma. Lagian mama masih nunggu papa." ucap Devano, Nora menurut saja.
"Baiklah, hati-hati sayang. Kalau merasa nggak enak langsung pulang ya." Nara memeluk menantunya.
"Baik, mama sayang."
Mobil sport Devano terparkir di sebuah hotel mewah milik keluarga Stein, gegas ia turun dan segera membukakan pintu untuk Nora. Mengapit jemari istrinya dan melangkah menuju tempat yang digunakan untuk acara pesta pernikahan Briyan dan Zara.
Sebelum menyapa pengantin, rupanya Devano lebih dulu bertemu dengan para sahabatnya yang masih begitu takjub memandang ke arah Briyan dan Zara.
"Gila! Benar-benar cantik." gerutu Abiyan yang merasa jika Zara terlihat sangat mempesona.
"Jika aku menikah, aku pun lebih cantik." protes Clara hingga mengundang gelak tawa teman yang lain.
Gaun indah serta riasan natural benar-benar merubah Zara menjadi wanita cantik, Briyan tak henti-hentinya takjub memandang wanita yang telah sah menjadi istrinya.
__ADS_1
Saat matanya menangkap gerombolan Devano berada di tengah-tengah tamu undangan, Briyan bernapas lega. Entah kenapa, hingga saat ini dirinya masih dihantui perasaan bersalah karena telah mempermalukan Devano sewaktu SMA dulu.
Mereka pun akhirnya beramai-ramai mengucapkan selamat, Briyan dan Zara pun bahagia karena Devano dan teman-temannya bisa hadir di moment bahagia pernikahannya.