
Biarkan aku mencintaimu dengan hatiku, mengistimewakanmu dengan cintaku, menjagamu dengan jiwa ragaku, membahagiakanmu dengan caraku..
Tugasmu hanya perlu bilang iya, perkara hatimu cinta atau tidak biarlah waktu yang mengubahnya..
~Devano Aldeva_
***
Setelah sampai rumah, Devano buru-buru masuk kemudian menaiki tangga menuju kamarnya, bahkan ia sampai lupa menyapa sang mama yang tengah menyiapkan makan siang bersama pelayan rumahnya.
Devano masuk ke dalam kamar, meletakkan tas sekolahnya juga mengganti pakaiannya dengan kaos, juga celana jeans. Tak lupa ia menyemprot parfum, lalu mematut diri di depan cermin.
"Sempurna." gumamnya sembari menyigar rambutnya ke belakang. Selesai merapihkan diri, Devano meraih slingbag, memasukkan dompet juga ponsel ke dalamnya juga tak lupa memakai jaket.
Devano bukanlah orang yang hobi foya-foya, meski bergelimang harta, uang yang orang tuanya punya tak pernah Devano gunakan dalam hal yang menjurus negatif maka uang akan mengalir bak air di blackcardnya.
"Ma, aku pamit." Ucap Devano mencium punggung tangan sang mama, saat sudah sampai di lantai bawah, lalu secepat kilat mencium pipi kiri Nara dan melangkah pergi.
"Dev, kamu tuh ya kebiasaan. Mama udah siapin makan siang lo, kok main pergi-pergi aja." gerutu Nara.
"Ish ma, Dev mau ketemu tante. Nanti malem aja ya kita makannya bareng-bareng, ntar deh aku ajak calon mantu mama kesini, biar rame." Devano mengedipkan sebelah matanya, dan itu berhasil membuat sang mama terkikik geli.
"Yaudah, ya! Janji, tadi juga papa nitip pesen buat ajak Nora kesini, katanya mau ada hal penting."
"Iya mama sayang, mama tercantik seantero." Ucap Dev, kemudian melangkah pergi, bukan cuma jago ngegombalin anak orang, bahkan mamanya sendiri pun sering di gombalin sama Devano.
Nara memandang punggung tegap Devano yang semakin menghilang, lalu melebarkan senyumnya.
"Lihat kan May, kelakuan Devano udah bucin akut, sama persis dengan papanya waktu muda dulu."
"Iya nyonya, baru kali ini saya liat Tuan muda semangat kaya gitu, dulu aja pas nyonya sama Tuan di luar negeri, ampun muka udah kaya baju gak pernah disetrika." cerita Maya, Nara pun sontak mengangkat alisnya, bukan marah tapi memang dirinya dan pelayan di rumah ini memang sebercanda itu.
"Pasti kucel deh May, itu anak emang manjanya kebangetan." ungkap Nara, "Tapi ya gimana, dia anak saya satu-satunya, harta berharga saya."
"Iya Nyonya, Tapi saya salut sama Tuan muda yang menjaga pergaulannya, Yaudah Nyonya makan dulu!"
"May, kamu temani saya makan sini." Ajak Nara, begitulah keluarga Aldeva dibalik sikap dingin di luar, ada kehangatan yang tersimpan di dalamnya.
__ADS_1
**
"Tan, tante." panggil Devano berulang-ulamg sembari menekan bell pintu apartemen.
Walaupun Devano tau berapa sandi pintu apartemennya, biar bagaimanapun, Nora-lah sekarang yang menempati.
Sudah lima menit tak ada sahutan, pemuda berhidung mancung itu masih setia menunggu di depan pintu apartemen. Sesekali ia kembali menekan bell. Dan lima belas menit berlalu, Devano akhirnya menekan pasword sandi apartemen. Sunyi, sepi begitu masuk ke dalamnya, Devano melangkah masuk dan mencari sosok Nora, barangkali sedang memasak di dapur. Tapi, mana mungkin juga siang bolong begini masak? di dapur pun sepi, Devano akhirnya memutuskan langsung menuju kamar Nora, dan mengetuk pintu.
Lama tak ada sahutan, lalu dengan pelan Devano meraih handle pintu dan membukanya.
"Yah, pantes gak nyahut orang tidur pules." gumam Devano kala melihat tante kesayangannya tidur begitu pulas.
Devano memilih duduk di sofa samping ranjang, memperhatikan wajah cantik Nora ketika tidur benar-benar membuatnya berhalu, membayangkan wajah cantik itu yang akan menyambutnya setiap bangun tidur dengan senyum mengembang, seketika Devano menggelengkan kepalanya, "Astaga kenapa otakku mikir nikah melulu, hmm." Keluhnya, Dan Devano memilih merebahkan diri di sofa, menatap langit-langit kamar yang perlahan membuat matanya ikut terlelap.
**
Nora membuka mata, kala perutnya berdemo ria karena lapar, sejenak ia meregangkan tubuhnya sebelum benar-benar bangkit dari tidur siangnya. Saat matanya menangkap sosok Devano sedang terlelap di sofa membuatnya hampir memekik.
"Astaga bukannya tadi pintunya aku tutup?'' Nora menutup mulutnya tak percaya.
Lalu perlahan ia mendekat ke arah sofa, "Benar ini Dev, tapi kenapa dia bisa masuk kamar."
"Tant, tante mandi ya?" suara serak Devano dibalik pintu, Nora mendekus kesal.
"Hmmm," Sahut Nora, malas.
"Buruan tant, mau ikut nggak? Aku punya kejutan spesial buat tante cantik."
Nora keluar kamar mandi dengan mengenakan kimono yang membalut tubuhnya, tangannya bersesekap dada.
"Apa?" ketusnya kala netra mereka saling bertatapan.
"Astaga tant, kau menodai mata suciku!" Devano menutup matanya, begitu Nora keluar.
"Salah siapa coba, masuk-masuk kamar orang, mana pura-pura tidur lagi." omel Nora, ia tetap melangkah santai dengan kimono yang membalut tubuhnya.
"Keluar nggak? aku mau ganti baju." titahnya setengah mengusir. Devano keluar kamar Nora, dengan wajah menunduk.
__ADS_1
"Calon suamiku masih volos rupanya." gumam Nora, saat Devano buru-buru keluar kamar. Namun, saat itu juga Nora merutuki ucapannya.
Nora sedang sibuk mencari pakaian yang cocok untuknya, selesai berganti ia lalu memoles tipis wajahnya dan keluar kamar, pandangannya mengedar mencari sosok Devano di ruang tamu tapi nihil.
"Dev, kamu dimana?"
Devano muncul dari arah dapur dengan membawa dua gelas orange jus di tangan, serta senyum manis yang terukir di bibirnya, "Kenapa, hmm? kangen ya?" Dan jawaban itu berhasil membuat Nora menyubit lengannya kuat-kuat.
"Jangan harap." elak Nora namun dengan pipi sudah merona. Saat ini, bibir fikiran dan hatinya memang sedang tidak singkron.
"Gimana gak berharap coba, kalau nyatanya cuma kamu yang aku harapkan satu-satunya!"
"Dev, udah ya! lama-lama aku bisa diabetes tiap dengerin gombalan kamu, btw makasih jusnya." Nora meraih jus yang diletakkan Devano di atas meja, lalu meminumnya.
"Ish aku gak gombal tant, bisa gak anggap aku itu laki-laki serius sehari aja."
"Uhukkk!" Nora langsung tersedak mendengar penuturan Devano.
"Hmm mungkin bisa."
Gimana gak diabetes coba, kalo tiap hari dibikin terbang...
Tiap hari aku selalu merasa dicintai, meskipun sama bocah..
Tiap hari dibikin tersenyum dengan segala tingkah polahnya yang kadang bikin kesel kadang juga bikin rindu..
Dev, meski aku tak pernah mengiyakan, tapi denganmu aku merasa nyaman dan aman, tapi untuk mencintaimu, aku maaf aku masih ragu-ragu..
**
Udah siap kan, kita berangkat ya?" ucap Devano setelah mengaitkan helm di kepala Nora, sudah jadi kebiasaan bagi Dev, baginya Nora memang pantas diperlakukan istimewa olehnya.
"Kamu mau ngajak kemana si, jalan-jalan lagi? Tapi aku maunya hal yang berbau alam, jangan ke mall." seru Nora, padahal Devano belum mengatakan tujuan kemana ia mengajak Nora pergi sore ini.
"Rahasia dong, sekarang naik. Yang pasti kita akan menikmati senja dengan indah." ucap Devano, dengan bibir melengkung senyum.
Devano menyalakan motornya, dan Nora langsung naik ke jok belakang.
__ADS_1
"Pegangan tant, nanti jatuh gimana?" ucap Devano saat mulai melesatkan motornya. Nora berpegang pada jaket milik Devano, lalu dengan sigap tangan Devano meraihnya agar tangan Nora melingkar ke perutnya.
"Pegangan tu gini, bukan mau sok romantis tapi biar aman."