
Dev masih setia, memeluk tubuh penuh peluh setelah penyatuan cinta satu jam yang lalu, penyatuan yang paling menyenangkan karena berulang kali pula Nora menyebut namanya dalam setiap buaian paling melenakan, berteriak dan melenguh dalam satu deru napas yang bersautan.
Papanya benar, ia bahkan bukan hanya khilaf tiap hari, tapi tiap saat, tiap berdekatan dengan Nora bak magnet yang langsung menariknya, menggoda dan meluluhlantahkan pertahanan, hingga tembok kokohnya jebol menguar bersama nikmat tiada tara.
"Aku cinta kamu, Devano Aldeva!" pernyataan sekaligus kata yang paling indah bagi Devano.
"Kamu segalanya, kesayanganku, cintaku, kasihku, ibu dari anak-anakku." balasnya tak kalah manis.
Mungkin jika papa dan mamanya tau, ia membawa Nora ke villa hanya untuk tidur bersama, mereka akan menertawakannya tanpa ampun.
***
Hari-hari berlalu, sejak ungkapan cinta Nora di villa waktu itu hubungan keduanya semakin lengket. Hingga tiba waktunya Devano mengikuti serangkaian Ujian Nasional. Sebelumnya, ia selalu giat belajar meski gelar siswa paling berprestasi tersemat untuknya tak membuat Devano untuk berhenti. Karena baginya, belajar sudah wajib seperti kebutuhan pokok.
Hari-hari menghadapi ujian membuatnya banting otak, bagaimanapun Devano tak ingin mengecewakan mama dan papa, pun dengan Nora yang setia mendoakannya agar ia mendapat nilai terbaik.
"Rencana kuliah dimana?" tanya Abiyan, menepuk keras pundak Devano.
"Entah, gue mau daftar di UNJ, biar deket sama istri. Kalo Lo?" tanya Devano.
Abiyan mengedikkan bahu, "Gak kuliah mungkin," membuat Devano menatapnya dengan kening mengkerut.
"Kenapa?" tanyanya, "Kalo lo, Fin?" tanya Devano saat Alfin sama Karin datang.
"Gue, apanya?"
"Lo mau kuliah dimana?" ulang Devano, "Gue mau kerja, terus nikahin Karin."
"Gue juga," sahut Abiyan.
"Kalo gue udah pasti gak lanjut kuliah, Dev!"
Ia menghela napas kasar demi mendengar ucapan teman-temannya, rasanya sedih saat keputusan membuat ia dan sahabat-sahabatnya terpisah.
"Yakin, kalian gak pengen kuliah?" tanyanya, lagi dan lagi mereka kompak menggeleng, sepertinya kedua sahabatnya Alfin dan Abiyan juga ingin segera menyusulnya.
"Rencana kerja dimana?"
__ADS_1
"Astra." jawab mereka kompak.
"Kerja di kantor gue aja gimana? gue yakin kok kalian bisa, gak mesti kuliah dulu, kalo kalian belajar tentang bisnis sungguh-sungguh pasti bisa."
"Serius lo?" tanya Alfin pun Abiyan.
Devano mengangguk, "Dua rius, gue gak pengen jauh-jauh dari kalian."
"Gue boleh ikutan gak, jadi office girl juga gak papa, asal kerja?" tanya Karin.
"Gampang, jadi sekertaris juga bisa." ucap Devano dengan isyarat ok dengan jari.
Rupanya hanya Devano dan Clara yang memutuskan akan kuliah, sementara yang lain memilih kerja.
Inilah hidup, kadang kita harus terpisah karena pilihan yang berbeda. Namun, apapun pilihan itu semoga tak menjadikan jarak membentang sebuah persahabatan.
**
Lepas ujian, ia diberi waktu libur tiga hari. Dan di hari minggu, ia berencana memgajak Nora jalan-jalan keliling komplek.
"Sarapan dulu sayang?" Nora menggeleng, karena selain belum lapar, ini masih terlalu pagi untuk menyantap makanan.
Setelah pamit pada Bayu dan Nara, mereka pun melangkah keluar. Melewati halaman rumah dan sempat menyapa mang Jaja yang setia menunggu gerbang rumah mereka.
"Mau kemana Tuan sama Nyonya?" sapa mang Jaja, karena sepagi ini pasangan suami istri muda itu minta dibukakan gerbang.
"Jalan-jalan mang Ja, jalan kaki." seloroh Devano, sambil mengait jemari Nora tangan satunya melambai ke arah mang Jaja.
Mentari pagi bahkan masih malu-malu. Namun, secercah sinarnya yang menerpa wajah menghantarkan rasa hangat di diri Nora.
Mereka berjalan menyusuri komplek perumahannya yang terbilang sangat elit. Mungkin penghuninya juga enggan keluar rumah, atau justru malah typical sibuk seperti mama dan papanya hingga tak saling mengenal satu sama lain.
Ia hendak mengajak Nora ke taman area komplek. Mungkin, tempat itu cocok untuk menikmati pagi.
Namun, terhenti ketika dua orang perempuan mendekat ke arah mereka dengan wajah keponya.
"Mas, Devano kan? anaknya tante Nara?" sapa gadis berambut panjang hampir sepunggung yang di ikat tinggi.
__ADS_1
"Iya mbak," sahutnya tersenyum kaku.
"Ishhh, masih juga panggil mbak-mbak, dari dulu gak berubah ya, iyakan ma." ucap gadis itu. Ibu paruh baya di sampingnya mengulas senyum, "Ini Sarah, nak Devano. Masa lupa, kalian kan satu sekolah waktu SD, Sarah adik kelasmu." jelasnya, Nora memilih diam menyimak obrolan mereka sedang Devano berusaha mengingat kemudian ia mengangguk, "Sarah kan?" tebaknya, dan langsung diangguki oleh Sarah pun wanita di sampingnya.
"Mbak ini, istri mas Devano ya?" tak disangka Sarah mengulurkan tangan kepada Nora dengan senyum lebar.
"Salam kenal kak, aku Sarah. Kita tetangga lho." celotehnya, Nora pun menyambutnya dengan ramah. "Iya, Sarah."
"Selamat ya atas pernikahan kalian, maaf gak bisa dateng waktu itu. Pas mang Jaja kirim bingkisan tante juga kaget, apalagi pas tau nak Devano masih SMA," seloroh mama Sarah.
"Iya, mas Dev. Anak-anak angkatan bilang, mas Devano nikah karena sangat mencintai kak Nora, dan gak mau kak Nora menikah sama laki-laki lain, dih hebat! mas Dev mah gentle." puji Sarah mengacungkan dua jempolnya.
Setelah mengobrol basa-basi mereka berdua pun pamit.
Sepeninggal Sarah dan mamanya, Nora menatap lekat Devano. Masih tak menyangka jika suami bocahnya itu dari awal tulus mencintainya, bahkan sangat mencintainya sampai menjadikan bisnis dan warisan sebagai alasan mengajaknya menikah.
"Maaf, sudah membohongimu. Dari awal aku memang gak pengen kamu nikah sama om si-Alan itu," ucap Devano.
"Iya, gak papa. Aku tau kamu punya alasan untuk bohong, dan aku udah tau alasannya." ucapnya mengu lum senyum.
"Apa tante sayang?" godanya,
"Ishhhh, tante lagi." gerutunya, sudah lama ia tak memanggil Nora dengan sebutan tante, ia selalu gemas melihat ekspresi kesal Nora saat di panggil tante.
"Apa alasannya sayang?"
"Apapun itu terserah," ia mengedihkan bahu, karena tiap kali membahas perihal perasaan ia malu, sungguh malu dengan rona merah yang langsung tercetak di pipi.
**
Mereka sempat mampir ke indo april yang berada di ujung komplek membeli beberapa camilan sebelum pulang. Karena matahari mulai merangkak naik dan cacing di dalam perut mulai berdemo ria. Namun, Nora enggan sarapan di luar. Ia ingin makan masakan mama Nara, terlebih tadi mama mertuanya ingin memasak makanan kesukaannya.
Sampai di rumah, ia dan Devano langsung disambut sumringah oleh Nara pun Bayu yang menunggunya untuk sarapan bersama.
"Gimana sayang, enak nggak?" tanya mama Nara, "Ini enak banget, ma. Ajarin Nora ya ma, biar bisa masak seenak ini." serunya, setelah menyuapkan makanan.
"Masakan kamu juga enak sayang." seloroh Devano melempar senyum.
__ADS_1
"Tapi enakan punya mama, Dev!" kekeuhnya, Bayu hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum.
"Semua masakan kalian enak, cuma papa sendiri yang gak bisa masak. Jadi papa aja ya ma yang diajarin." Seketika mereka semua tertawa kecil mendengar penuturan papa Bayu.