TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - pingsan


__ADS_3

"Bibi, ada apa?" tanya Resha saat perempuan paruh baya itu tampak gusar menyambutnya.


"Masuk dulu, Res. Kamu nanti akan tau jawabannya," bisik Elin agar tidak terdengar oleh Darren. Sementara Darren menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengekor dengan menenteng beberapa kantong belanjaan dan tentunya kotak box yang ia sembunyikan di balik kantong celananya.


"Ayah?" Darren tertegun, saat mendapati Ayah juga mamanya menyusulnya ke Bandung.


"Kenapa kalian menyusul kesini?" heran Darren setelah meletakkan kantong belanjaan di dapur. Sementara Resha duduk bersebelahan dengan Elin setelah mencium punggung tangan kedua orang tua Darren.


Tegang dan canggung, tapi Resha berusaha berfikir positif. Mengingat sikap kedua orang tua Darren yang begitu welcome padanya membuat ia berusaha menenangkan diri agar tak khawatir berlebihan.


"Anak ayah sudah dewasa rupanya," ucap Devano namun tanpa ekspresi.


Hal itu membuat dada Resha tak karuan, memri tentang penolakan Rima berputar di kepala hingga ia tiba-tiba mendadak pusing.


"Res, kenapa kamu pucat. Apa kamu sakit sayang?" tanya Nora yang menyadari perubahan wajah Resha, khawatir jikalau calon menantunya itu sakit.


"Enggak tante, hanya lelah." Resha memaksa senyum, meski setelah ini ia tak lagi tahu apa yang akan terjadi. Terus terang, Resha belum siap, belum siap kehilangan Darren karena kisah mereka baru saja akan di mulai.


"Olivia Resha, jawab dengan jujur apa kamu mencintai Darren?" ketegasan dari ucapan Devano membuat tubuhnya bergetar hebat, tubuhnya terasa ringan, pertanyaan macam apa itu? ia bahkan mengenal Darren baru beberapa waktu.


"Yah, kenapa tanya seperti itu?" protes Darren yang merasa ayahnya terlalu ikut andil antara dia dan Resha.


"Ini demi kebaikan kamu, Derr. Kali ini menurutlah dengan ayahmu," ucap Nora, mengikuti sandiwara Devano.


"Yah, tidak seharusnya ayah..." Darren terdiam, ia melirik ke arah Resha, dan gadis itu tak sadarkan diri tiba-tiba. Membuat semuanya panik termasuk Nora.


"Yah, gimana ini?" bisik Nora.


"Tenang, ma. Kita kan hanya mengujinya." balas Devano.


Darren dengan panik membopong tubuh Rehsa ke dalam kamar, pandangannya menelisik seluruh ruangan mencari sesuatu hingga suara Elin menghentikannya.


"Ini, kamu pasti cari minyak angin." Elin menyodorkan minyak angin ke Darren.


"Kamu jaga Resha sebentar ya tolong, bibi mau buatkan bubur dulu." Darren mengangguk, ia merasa ada yang aneh dengan Resha yang tiba-tiba pucat pasi setelah mendengar ayahnya bicara.


Padahal sedari tadi ia merasa Resha baik-baij saja. Dengan telaten ia mengolesi minyak angin di area hidung.


"Res, kamu kenapa hmm? Bangun sayang." gumam Darren, duduk di tepi ranjang milik Resha yang tidak terlalu besar.


Nora mengintip dari celah pintu, ia sangat yakin jikalau Darren sudah jatuh cinta sama Resha. Hanya saja, Devano ngotot ingin tau perasaan Resha untuk anak lelakinya. Bukankah cinta yang indah itu adalah rasa yang saling berbalas?

__ADS_1


"Maaf, jeng. Jika ide kami terlihat sangat buruk." Nora yang gusar akhirnya memilih menghampiri Elin yang sedang membuat bubur di dapur.


"Menginaplah sehari jeng. Beri Resha waktu, dia mungkin memiliki trauma sedikit. Dulu mertuanya memperlakukan ia cukup buruk, bahkan hingga sekarang."


Nora mengangguk, "baik jeng, tapi apa tidak merepotkan."


"Tidak, jeng. hanya saja kamarnya terbatas. Mungkin, jeng bisa menemani Resha."


"Baik jeng, saya akan tinggal. Bagaimanapun keadaan Resha saat ini juga karena saya dan suami." Nora berucap lembut, lantas menghampiri Devano untuk meminta persetujuan.


"Putri kita bagaimana, ma?"


Nora tampak berfikir sejenak, "Gapapa, Qween pasti ngerti."


"Tapi di rumah hanya ada bi Liam, Qween apa tidak takut. Ia tak biasa ditinggal sendiri. Lagi pula jarak kamar Qween dan bi Liam itu sangat jauh, ma."


"Kita suruh Leon menginap saja pa, mama yakin dia akan menjaga Qweenzaku."


"Baiklah, ma. Kalau begitu ayah hubungi Leon dulu."


***


"Iya, ada misi penting sayang." bisik Leon. Ia sengaja menghampiri Qween di balkon kamarnya. Karena letak kamar tamu berada tepat di samping kiri kamar Qween. Sementara sebelah kanan adalah kamar Darren.


"Apa itu? Apa ayah atau Darren memberimu banyak tugas, atau mereka menyiksamu dnegan banyak dokumen lagi." Qween terlihat sedih, sementara Leon tersenyum gemas seraya mencubit pelan hidung kekasihnya itu.


"Misi apa?" Qween berbalik, ia ingin segera menyembunyikan rona merah di pipi karena malu.


Sementara Leon langsung merengkuh pinggang Qween dan memeluknya dari belakang.


"Bee, malam ini om dan tante tidak pulang. Mereka memintaku menemanimu. Jadi menurutlah," bisik Leon membuat Qween seketika menegang. Saat sapuan hangat menerpa ceruk lehernya. Qween memejamkan mata, Leon benar-benar membuatnya terbuai akan sentuhan lembut.


"Bee," pekik Qween saat Leon hampir menyibak dressnya.


"Maaf, hehe."


"Kau harus bisa mengendalikan diri," ucap Qween.


"Iya sayang, maaf membuatmu ketakutan." bisik Leon lembut.


"Boleh ya, aku tidur disini?" tanya Leon penuh harap.

__ADS_1


"Le, jangan macam-macam deh. Mama akan murka jika tahu,"


"Gak akan sayang, hanya tidur."


"Baik. Tapi kamu harus mengunci pintu kamar tamu dari dalam dan masuk sini lewat balkon."


"Iya, sekarang kemarilah." pinta Leon.


Malamnya, Leon menyelinap masuk ke dalam kamar Qween. Sesuai saran Qween jikalau ia harus mengunci pintu dari dalam dan masuk lewat pintu balkon.


Bibirnya tersenyum kala melihat kekasih hati sudah menunggunya.


"Le, jangan macam-macam." peringat Qween sebelum membaringkan tubuhnya di ranjang kesayangan.


"Apa kamu berfikir, aku sebejat itu, hmm." bisik Leon kemudian ikut merebahkan diri di samping Qweenza.


***


Darren masih setia menemani Resha meskipun keadaan wanita itu berangsur pulih. Tadinya, mama Nora memintanya istirahat dnegan dang ayah. Namun, Darren kekeh menolak. Ia tetap terjaga di sisi Resha karena rasa khawatirnya.


"Derr, jangan tinggalin aku." gumaman Resha disela lelapnya membuat Darren mengerutkan kening, sebegitu takutkah Resha kehilangan dirinya. Atau jangan-jangan, Resha sebenarnya sudah mulai jatuh cinta.


"Tenanglah, ada aku yang akan selalu menjagamu," bisik Darren seraya mengusap kepala Resha.


Tanpa sadar, air mata Resha menetes dan genggaman di tangan Darren bergetar.


"Apa dia sedang mimpi buruk?" batin Darren bertanya-tanya. Terus terang ia bingung, Resha tertidur sambil menangis. Apakah masa lalunya sangat berat? sial sekali Darren rasanya ingin memeluknya, merengkuhnya dalam dekapan.


Namun, keinginan itu tak kuasa karena ia dalam posisi duduk sementara jemari Resha bertaut padanya.


Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, Darren berusaha melepas tautan. Teringat perkataan bibi Elin tadi sebelum pulang ke rumah.


"Resha memiliki trauma akan sikap mertuanya, lembutlah dan jagalah dia. Bibi yakin kamu adalah orang yang pantas."


"Iya, Bi. Akan aku lakukan sebisaku," ucap Darren.


Kini ia menghela napas kasar, lalu ikut merebahkan diri di samping Resha. Ranjang yang tak seluas miliknya membuat Darren tak leluasa menjaga jarak.


Hingga tanpa sadar, Resha sendiri sudah masuk dalam dekapannya.


"Kenapa aku merasa nyaman sekali, Res seperti apa sisi dirimu sebenarnya hingga aku tak bisa memahami diriku sendiri?" tanya Darren dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2