
Devano menatap getir Nora, kini istrinya itu lebih banyak diam dan melamun.
Meski berulang kali ia, mama Kenia bahkan mama Nara mencoba menghiburnya, kehilangan hal paling berharga tetaplah menyakitkan.
"Apa dia, apa anakku marah karena ak.. aku pernah tak mengharap kehadirannya." dengan terbata ia berusaha mengingat, saat tahu bahwa ia positif hamil, mungkinkah Tuhan menghukumnya karena itu?
"Bukan sayang, bukan! Tapi karena Tuhan lebih sayang kepada anak kita. Aku tau kamu sedih, kita sama-sama kehilangan dia, tapi percayalah. Bagaimanapun dia sekarang, Dera tetaplah anak kita." Devano merengkuh tubuh ringkih Nora, membawanya ke dalam pelukan menenangkan.
"Maaf, tidak bisa menjagamu dan anak kita." ia memejamkan mata, sambil menghujani pucuk kepala itu dengan kecupan.
"Kita akan melewatinya sama-sama, kita bisa melewatinya sama-sama." bisiknya.
Nora menangguk, ia mulai tenang.
***
Meski kondisinya sudah pulih dan ia diperbolehkan pulang ke rumah. Devano melarang Nora untuk bekerja, pun papa Bayu yang sama sekali tak keberatan jika Nora istirahat total di rumah. Selain masih ada Ziando dan Kenzo, Devano sendiri yang akan membantu sang papa sambil kuliah.
Tiba hari dimana acara perpisahan sekolah, dimana akan ada acara pergelaran musik juga sepatah dua patah kata perpisahan dari keluarga besar SMA Tunas Bangsa. Dan ini menjadi hari terakhirnya memakai putih abu-abu, mungkin.
Karena setelah ini ia akan masuk pada babak baru, dimana bertemu dengan orang-orang baru dan tempat baru.
Devano hadir bersama kedua orang tua pun Nora yang ikut menghadiri acara perpisahan sekolah, selain karena papa Bayu ingin meluruskan masalah, ia juga ingin agar orang mengenal siapa Devano.
Saat sedang berjalan menuju aula beberapa orang sempat berbisik kagum dengan pemilik Aldeva group itu, sebagian dari mereka memang sudah tau siapa Bayu termasuk Stein, ayah dari Briyan.
"Selamat datang di sekolah kami pak Bayu Aldeva." sambut bapak kepala sekolah pun dengan para guru.
Bayu mengangguk, pun dengan Nara dan Nora yang tersenyum ramah.
Namun, berbeda dengan Devano saat merasakan tepukan keras di pundaknya begitu masuk aula dan jauh dari pandangan para guru.
"Ck! bawa pasukan skuy, tante lo cantik juga." siapa lagi kalau bukan Briyan. Ia bahkan sama sekali tak jera mengganggu Devano, baginya devano adalah orang yang harus ia jatuhkan.
Diamnya Devano membuat Briyan geram, terlebih tatapan sinis para sahabatnya membuat Briyan mundur selangkah, lain kali ia akan mengganggu Devano lagi.
"Om Bayu sama tante Nara mana?" tanya Alfin, Devano menunjuk dua baris dari belakang. Disana kedua orang tua dan istrinya berada.
Devano dan sahabatnya pun duduk di baris kedua dari depan, terpisah dari para wali murid, karena memang para siswa siswi duduk di depan sementara orang tua wali di belakang.
Acara demi acara pun di mulai, kini saatnya pengumuman hasil ujian terbaik. Dan saat kepala sekolah menyebut nama Devano Aldeva, semua siswa mendadak riuh.
Namun, tak jarang dari mereka yang menyambut prestasi Devano dengan tepukan tangan luar biasa.
Devano gugup, ia meraih piala yang diberikan langsung oleh kepala sekolah SMA Tunas Bangsa, lalu menunduk hormat.
__ADS_1
Ia masih berdiri di podium, saat kepala sekolah memintanya menyampaikan sepatah dua patah kata, dengan dada bergemuruh ia berdehem sebentar dan mengatur napas.
Selamat siang,
yang terhormat kepala sekolah SMA Tunas Bangsa,
yang terhormat guru-guru serta wali murid, pun yang saya sayangi teman-teman semua. Terima kasih, atas segala hal sehingga saya bisa sampai di titik ini, menjadi siswa berprestasi bukan hanya keinginan saya, tapi juga harapan kedua orang tua dan wanita yang saya cintai,
Saya minta maaf teruntuk teman-teman semua, karena kesalah pahaman diantara kita, mungkin kita saling membeci, saling mencerca, tapi satu..
Kejujuran akan menyelesaikan semua, dan jujur saya sudah menikah, bukan karena accident, bukan karena paksaan, bukan karena bisnis, tapi karena cinta, bagaimana cara seseorang mempertahankan cinta agar dia tidak menjadi milik orang lain.
Saya tau, saya hanyalah seorang siswa.
Tapi bagaimana pun itu, saya minta maaf untuk segala hal buruk tentang saya.
Maaf...
terima kasih,
***
Semua orang termasuk para wali murid pun tercengang karena penuturan Devano, namun ada rasa kagum disertai riuh tepuk tangan menyambutnya turun.
Pun dengan Nora yang tak menyangka, benar-benar tak menyangka jika Devano akan jujur di hadapan semua orang.
Mungkin ia memilih menyerah, membiarkan Devano hidup dengan tenang. Sebenarnya Briyan sama sekali tak ada urusan dengan Devano, urusannya dengan Alfin Narendra. Namun, melihat senyum merekah di bibir Karin ia berfikir kesekian kali untuk memisahkan mereka.
Definisi cinta apakah harus egois, ia bangkit tiba-tiba membuat Will yang duduk di sampingnya tersentak.
"Dev!" panggilnya, saat acara perpisahan usai, dan kini Devano hendak pulang bersama keluarganya.
"Bisa bicara?" tanyanya membuat Devano mengerutkan dahi.
"Bicara?" tanyanya tak mengerti.
"Gue sama lo." Dev pun mengangguk, ia meminta agar Nora dan kedua orang tuanya menunggu di mobil, sementara kini langkah kakinya mengikuti Briyan menuju belakang sekolah, tempat sepi dan aman yang biasa digunakan Briyan untuk menyendiri.
"Gue minta maaf." ucap Briyan tanpa menatap Devano, berulang kali menghela napas sebelum akhirnya kata itu lolos.
"Gue salah, gue gak harusnya bikin malu lo, sampai seisi TB tau semuanya." Briyan menunduk dalam-dalam.
"Gak masalah, tau tidaknya mereka! Gue emang berencana mengakuinya hari ini." ucap Devano dengan tegas, Briyan terperangah lalu menoleh ke arah Devano yang justru terkekeh kecil.
"Why?" tanya Briyan heran.
__ADS_1
"Gak papa, karena semua udah selesai. Pihak sekolah juga udah tau, dan mereka dari awal gak mempermasalahkan status gue sebagai suami." ia menghela napas sejenak, teringat akan video itu, dimana ia mengusap lembut perut Nora penuh cinta.
"Selamat buat lo, udah mau jadi ayah." Briyan menepuk keras pundak Devano, sepertinya ia hobi sekali mengejutkan hingga Devano.
"Gak jadi," lirih Devano, hampir tak terdengar.
Briyan pun menautkan alisnya heran, "What?" ia tak percaya dengan apa yang barusan Devano ucapkan.
"Istri gue keguguran," akunya, entah kenapa Devano bisa langsung terbuka dengan Briyan padahal belum ada satu jam mereka berbaikan.
Devano pun menceritakan kronologi penyebab istrinya keguguran, sementara Briyan mengangguk paham.
"Sabar Dev, semoga segera dapat lagi."
"Makasih, bantu doa ya! sukses buat lo kedepannya." balas Devano.
Mereka pun memutuskan pulang, terlebih Nora, mama Nara dan papa Bayu sudah menunggu Devano di mobil.
Dev sempat melambaikan tangan dengan para sahabat yang masih bercengkrama di parkiran, kemudian masuk ke dalam mobil.
Sampai rumah, rupanya bi Liam pun Maya sudah menyambut mereka dengan banyaknya jamuan makanan.
"Kita party kecil-kecilan, Dev telepon temen kamu suruh kesini." ujar mama Nara.
"Iya, sebelum pesta besar-besaran kita rayain yang kecil-kecilan dulu." sahut sang papa.
Ia pun segera menelpon sahabat-sahabatnya agar datang ke rumah untuk makan-makan.
Setelahnya ia meraih jemari lentik Nora dan mengajaknya ke taman.
"Selamat suamiku, kamu terbaik." ucapnya malu-malu, lalu perlahan menyodorkan sesuatu yang ia ambil dari dalam tas.
"Hanya hadiah kecil, semoga suka." ucap Nora menyodorkan kotak berbungkus pita ke telapak tangan Devano.
"Makasih sayang, pilihan istriku pasti terbaik." ucapnya langsung meraih kepala Nora dan menciumnya.
Suasana rumah semakin ramai kala dua pasang sahabatnya datang. Mama Nara senang, sebab Alfin dan Abiyan adalah sahabat terbaik Devano. Pun papa Bayu, yang merasa anaknya beruntung karena dikelilingi orang-orang baik.
.
.
.
.
__ADS_1
Like komen, rate dan votenya kakak😘
Bighug dari author🌹🤗🤗