
Dua bulan mereka lalui penuh kebahagiaan juga lika liku, perjalanan cinta memang kadang tak selalu mulus, ada kalanya mereka bertengkar kecil, dan akur lagi. Pun halnya dengan Nora dan Devano yang sering berdebat masalah-masalah kecil, semakin hari Nora semakin posesif karena waktu Devano yang tersita oleh kesibukkan kuliah, belum lagi membantu papa Bayu di kantor, bahkan belakangan Nora berusaha menghindari Devano. Tubuh saling bersandar, dengan wajah tak saling tatap saat tidur.
"Kamu kenapa sih? akhir-akhir ini aneh, sering marah-marah, hm?" Ia menyisir rambut Nora dengan jemarinya. Devano sedang berusaha membujuk Nora.
"Gak papa, cuma kecapekan." jelas Nora, hingga membuat dahi Devano mengkerut.
"Jangan marah-marah, nanti cepet tua." bisiknya lalu melingkarkan tangan di pinggang Nora, senja adalah momen indah bagi keduanya.
"Ishhh, lepas Dev! kamu bau." Nora berusaha berontak. Namun, Devano justru mengeratkan pelukan.
"Dev, kamu beneran bau." Nora melepaskan diri dan berlalu ke kamar mandi. Memuntahkan segala isi perutnya.
"Rasanya mual banget, tapi gak ada yang keluar." gumamnya seraya menatap diri di depan kaca wastafel. Devano menyusul Nora ke kamar mandi, takut terjadi sesuatu dengan istrinya.
"Sayang, kamu gak papa?" tanya Devano khawatir. Namun baru beberapa langkah Devano mendekat, Nora kembali memutahkan diri.
"Sepertinya masuk angin, Dev! Kamu mandi dulu gih, bau!" titah Nora sembari menutup hidung. Entah kenapa barusan perutnya bergejolak hebat, sebenarnya Nora juga tak ingin membuat Devano sedih karena penolakannya, tapi bagaimana lagi?
Bayu dan Nara menautkan alisnya heran, lantaran makan siang kali ini Devano dan Nora berjauhan. Bahkan saat menuruni tangga, Nora berjalan lebih dulu, seolah memang ada sekat yang menjadi jarak diantara mereka.
"Kalian nggak sedang berantem, kan?" tanya Nara.
"Enggak lah, ma!" sahut Devano.
"Devano bau, ma! Nora nggak mau deket-deket sama Devano," aku Nora.
"Kamu nggak mandi sayang, ya ampun pantes kalian jauh-jauhan, Dev kamu jorok banget sih."
Bukannya bertanya kenapa, mama Nara justru ikut-ikutan menyudutkan Devano.
"Dia sudah mandi, mam." bela papa Bayu, "Wanita memang suka aneh." bisik sang papa menenangkan.
"Kok malah bisik-bisik sih, yaudah papa tidur di luar." ancam mama Nara seketika membuat Devano menciut, bagaimana kalau Nora gak mau tidur satu ranjang dengannya? Astaga membayangkan saja Devano tak mau, ia meletakkan sendok dan garpu lalu bangkit.
"Devano gak selera, ma!" ucapnya, sebelum melangkah pergi. Nora yang melihat itu seketika cemas, gegas menyusul Devano yang sudah melangkahkan kakinya ke teras samping rumah. Nora memandangi suaminya dari kejauhan, memperhatikan raut wajah tegas itu. Ada rasa bersalah menyeruak, tapi bagaimana lagi perutnya memang sedang bermasalah.
Ia bukan tidak tau Devano sudah mandi, jelas ia tahu jika suaminya itu rajin bebersih bahkan waktu mandinya lebih lama dibanding dengan dirinya.
Devano menatap langit-langit malam, berusaha mengingat kapan terakhir Nora mendapat tamu bulanan. Sepertinya dua bulan terakhir ia dan Nora terus bekerja keras hampir tanpa jeda, fikir Devano dengan perubahan diri Nora.
Devano tiba-tiba tersenyum sendiri,
Apa mungkin istriku hamil, jadi sikap dan kemauannya aneh.. Batin Devano.
__ADS_1
Ia masih betah dengan udara luar yang mulai dingin, terpaan angin malam tak ia hiraukan. Sementara Nora memilih masuk, membiarkan Devano sendiri untuk saat ini.
"Ma, Nora boleh minta tolong?" tanyanya kepada Nara,
"Iya sayang, kamu pengen apa? Mau buah atau mau dibikinin susu sama mama." tawar Nara dengan seulas senyum.
"Bukan, ma! Tolong bujuk Devano agar masuk ke dalam rumah."
"Gak papa Nora, dia cuma bersantai sebentar di luar. Nggak akan kenapa-napa." ucap sang papa.
"Biar papa temenin dia ngobrol, kamu istirahat." sambung papa Bayu, Nora mengangguk.
"Makasih, pa!" ucapnya sebelum melangkah pergi.
Sepeninggal Nora, Bayu dan Nara saling pandang kemudian terkekeh bersama.
"Sepertinya calon cucu kita kurang suka sama papanya," gumam Bayu, langsung disambut senyum dan rangkulan sang istri.
"Papa tau apa yang mama pikirkan, ayo kita kasih pengertian ke anak kamu." ajak Nara, membimbing suami untuk segera menyusul Devano.
"Hey hey, dia anakmu juga!" protes papa Bayu.
Sepasang suami istri itu berjalan beriringan keluar rumah, menghampiri Devano yang termenung di kursi taman samping teras.
"Haii, boy! Kenapa sad gitu?" tepukan pelan Bayu menyadarkan lamunan Devano, Ia yang semula duduk sedikit bersandar pun mengubah posisi.
"Besok mama bawa Nora ke Dokter, kamu nggak usah khawatir." ucap sang mama menenangkan, Devano membalasnya dengan senyum.
"Devano fikir juga seperti itu mam, mungkin akan lebih merepotkan mama." desahnya, pelan.
"Tak apa, berdoa saja semoga Nora beneran hamil sayang."
"Iya, menurut papa juga seperti itu Dev! Nggak biasanya Nora bersikap aneh denganmu, apalagi kamu suaminya." ucap papa Bayu.
"Itu artinya, kita bertiga sepemikiran?" tanya Devano.
"Iya dan kamu harus lebih bisa jaga Nora, jangan sampai cucu mama kenapa-napa lagi."
"Bila perlu, kita cari pengawal khusus." usul papa.
"Tidak perlu, pa! Devano bisa."
Mereka berbincang cukup lama, hingga akhirnya malam semakin larut dan kantuk mulai menyerang Devano pun kedua orangtuanya.
__ADS_1
Mereka pun kembali ke kamar masing-masing, begitu masuk ke dalam kamar. Nora sudah memejamkan mata dengan selimut yang menempel separuh tubuhnya.
"Syukurlah, sudah tidur. Have a nice dream cinta." bisik Devano lalu menge cup bibir Nora sekilas, lalu ikut merebahkan diri setelah mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek.
Paginya, Devano sudah siap untuk berangkat kuliah. Namun, melihat Nora yang masih pulas dengan tidurnya ia tak tega untuk membangunkan tuk sekedar berpamitan. Devano akhirnya memilih berangkat lebih dulu dan meninggalkan pesan lewat mama Nara bahwa ia sudah berangkat.
Nora membuka mata, melihat ranjang sebelahnya kosong membuat ia segera meraih ponsel di atas nakas.
"Astaga, aku kesiangan." gegas ia beranjak dari ranjang dan melangkahkan kaki ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, segera ia turun.
Sarapan pun usai, makhlum saja saat ini jam sudah menunjukkan pukul setegah 9.
Nora menghampiri Maya dan bi Liam di dapur.
"Mama mana, bi?"
"Eh, bu Nara di belakang nyonya. Sedang berkebun." ucap Maya, "Nyonya, sebaiknya sarapan dulu. Maya siapkan."
"Makasih, May!"
"Nyonya, apa sedang bertengkar dengan Tuan? hari ini pertama kalinya Tuan turun untuk sarapan tanpa Nyonya setelah menikah." tanya bi Liam.
Deg!
Nora tertegun, sebenarnya itu yang ingin ia tanyakan kepada mama Nara. Apakah Devano meninggalkan pesan untuknya, sebab di ponsel pun tak ada pesan atau panggilan telepon.
Tiba-tiba wajahnya berubah sedih, "Apa aku sudah keterlaluan, sehingga Devano marah padaku?" gumam Nora.
Maya menghidangkan sepotong sanwich dan segelas susu untuk Nora, lepas sarapan Nora menghampiri mama mertua di belakang rumah. Ibu paruh baya itu rupanya tengah merawat koleksi tanaman hiasnya.
"Ma,-"
Nara menoleh dan mendapati menantu kesayangannya datang.
"Sayang, sudah bangun? Udah sarapan belum." Nara meletakkan semprot air, lalu mencuci tangan kemudian menghampiri Nora dan mengajaknya duduk.
"Udah ma, barusan sarapan! Devano..."
"Oh iya, Devano pesan agar tidak membangunkanmu, agar kamu bisa istirahat. Makanya dia berangkat pagi nggak bangunin kamu sayang, kamu tidur pules banget katanya."
"Hehe, iya ma. Nora gak tau, rasanya lelah banget. Tapi sekarang udah lebih seger."
"Habis ini kita ke dokter ya sayang." ajak mama Nara.
__ADS_1
"Dokter, ma?"
"Iyaa, siapa tau mama mau punya cucu, semoga saja dugaan kami bertiga benar." ucap Nara dengan seulas senyum.