
"Sudah bangun?" Suara serak Devano membuatnya tersentak dari ketakjuban.
Bukan menjawab, Nora malah balik bertanya, "Sejak kapan datang?" sembari berjalan melewati pemuda itu, lalu menuju dapur dan mengambil minuman di dalam kulkas.
"Sejak Alfin menelponku," menghela napas sejenak, "Tante gak papa kan? ada yang luka?" tanyanya dengan semburat khawatir di wajah.
"Gak papa, hanya saja sekarang aku takut kemana-mana sendiri." gumam Nora tanpa sadar, keduanya kini sedang duduk di balkon apartemen. "Kamu yang hias ini semua?" tanyanya, dan Devano mengangguk.
"Hanya hiasan simple, pengen nikmatin malam berdua." celetuk Devano tanpa sadar, lalu tersenyum.
"Hmm, tapi biar aku masak lebih dulu untuk kita makan malam, belakangan badanku mudah lelah, jadi pas kamu dateng aku ketiduran, habis lari-lari." Nora membuang napas kasar, "Alan berusaha menggangguku, untung ada Alfin." terang Nora. "Iya, maafin aku, tante. Harusnya aku bisa jagain tante, atau aku cari bodyguard buat tante gimana, biar aman?" tawar Devano. Nora langsung menggelengkan kepalanya,
"Jangan berlebihan Dev, Aku masih bisa mengatasinya." tolak Nora, namun siapa tau hatinya diliputi kecemasan, terlebih sepertinya Alan memiliki jiwa psychopat.
Sangat kentara dari seringai di wajahnya.
Membayangkan Nora jadi bergidik ngeri, lalu tersadar Devano sedari tadi tak lepas memperhatikannya.
"Tante, mau makan apa? biar aku pesen online." ucap Devano karena sudah malam, dan Nora yang sedang capek membuat bocah bertubuh jangkung itu memutuskan untuk memesan makanan juga beberapa camilan di online.
"Terserah Dev, samain kamu aja." titah Nora, gegas Devano membuka benda pipihnya dan memesan makanan.
Setengah jam kemudian, makanan sudah sampai. Dua insan itu kini sedanh duduk menikmati spagetii dan beef stick, tanpa sadar Nora memperhatikan Devano saat sedang mengunyah makanannya. Ada rasa kagum yang tiba-tiba hadir dalam dirinya, entah mengapa ia merasa Devano seperti laki-laki dewasa, pemikirannya cukup bisa diacungi jempol. Meski kadang sifat manjanya gak ketulungan.
"Papa bilang, mulai besok tante udah cuti kerja, dan proyek yang akan tante kerjakan akan ditangani Ziando," santai Devano sembari meletakkan dua orange jus di meja balkon, dimana Nora sudah duduk disana menikmati keindahan malam dengan taburan bintang dan sinarnya rembulan serta lilin-lilin yang Devano buat sungguh berhasil membuat perasaannya lebih baik.
Nora membulatkan matanya tak percaya, "Kok gitu, terus kamu gimana?" tanya Nora, "Ya aku tetep sekolah," santai Devano menahan senyum.
Nora terbengong, "Kok bisa, kamu masih sekolah." Nora berdecak, rasanya tak adil jika ia tak kerja, sedangkan Devano tetap bisa masuk sekolah.
"Aku izin dua hari, sehari sebelum menikah dan sehari sesudahnya, hari minggu tidak masuk hitungan." Lalu terdengar helaan napas Nora, seperti keberatan.
"Gak adil," seloroh Nora dengan bibir mengerucut, lalu gegas Devano mengusap kepalanya lembut.
"Senyum!" titah Devano, sembari terus menatap lekat tante Nora.
Malu-malu, Nora tersenyum sembari menunduk. Namun, hatinya saat ini masih berpegang teguh untuk tidak jatuh cinta dengan Devano.
Devano memutar lagu it's you milik Alie gatie, lagu yang sangat cocok untuk suasana hatinya malam ini.
Nora mendelik saat mendengar lagu itu, lagu yang membuat setiap insan yang tau akan maknanya menjadi baper.
__ADS_1
Kamu, itu kamu..
Kalau aku jatuh cinta, pastinya hanya kepadamu..
Selalu dirimu
Bertemu banyak orang, namun tak ada yang seperti dirimu
Jadi tolong jangan hancurkan hatiku
Jangan berpisah dariku
Nora benar-benar mematung, akan makna dari lagu itu, apakah benar lagu itu mewakili isi hati dari Devano?
Perasaannya menghangat, seperti sedang ada kupu-kupu beterbangan di perutnya. Bolehkah Nora merasa beruntung kali ini? selain dicintai, ia juga diperlakukan layaknya perempuan istimewa.
"Jadi gimana ceritanya, tante bisa lari-lari dikejar Anj*ng?" tanya Devano, "Dia manusia, Dev!" protes Nora, merasa ucapan Devano terlalu berlebihan. "Tapi dia tidak mempunyai perasaan, egois, dan terlalu memaksakan diri." cerca Devano, "Kalau sampai aku melihatnya mengganggu tante lagi, akan kupatahkan tangannya." ucap Devano, geram.
"Ck, iya-iya, jangan merusak momen dengan membicarakan Alan." cibir Nora, dan itu berhasil membuat Devano tersenyum tipis.
Sembari mengunyah camilan, mereka menikmati malam di balkon, pemandangan gedung-gedung menjulang tinggi dengan penuh lampu-lampu terasa indah.
"Aku akan melindungimu," lirih Devano, "Apa Dev, aku nggak dengar?" tanya Nora, "Aku akan menjadi sayap pelindungmu, jika orang itu berani macam-macam dengan calon istriku." ucapnya dengan penuh penekanan saat mengucapkan Calon istriku.
"Dev, ada bintang jatuh?" pekik Nora saat sedang memandang indahnya langit malam.
"Kalau begitu, tutup matamu dan buat permohonan." Titah Devano dengan tangan menutup kedua mata Nora.
"Kau masih mempercayai hal itu?" gumam Nora, "Sudah lakukan saja, tan!"
Aku ingin, kelak tidak akan pernah mengecewakan orang-orang yang selalu berusaha membuatku tersenyum bahagia
Nora Lee
Aku ingin, apapun keadaannya? aku mau menua bersamamu, seperti ini berdua dalam bahagia
Devano Aldeva
***
Pagi-pagi sekali Devano bangun, matanya mengerjap beberapa saat sebelum akhirnya ia beringsut dari ranjang untuk menuaikan aktivitas mandi paginya.
Gegas pemuda jangkung itu masuk ke dalam kamar mandi dan menanggalkan pakaian tidurnya, semalam tidurnya begitu lelap setelah sebelumnya menghabiskan quality time bersama tante kesayangan.
__ADS_1
Setelah selesai berendam, ia membilas tubuhnya di bawah guyuran shower, begitu selesai ia keluar dengan tubuh segar dengan handuk yang melilit pinggang. Lalu berjalan menuju lemari, dan menyiapkan seragam sekolahnya yang sudah tertata rapi di dalam lemari.
Setengah tujuh, Devano menuruni tangga menuju meja makan dengan penampilan rapinya ketika berangkat Sekolah.
"Pagi, Ma, Pa?" sapanya dengan seulas senyum di bibir.
"Pagi, Dev!" suara kedua orang tuanya serempak. Nara menyiapkan tiga sanwich untuk orang terkasihnya. "Makan yang banyak sayang, oh ya biar papa yang mengurus surat izinmu, nak! Pernikahan kalian kan rahasia, jadi mama harap kamu mengerti." Devano mengangguk, tanda setuju.
"Hari ini mama dan tante Kenia mau mengajak Nora belanja, apa kamu keberatan?" tanya Nara, Devano lagi-lagi menggeleng. " Selesaikan sarapanmu dan hati-hati berangkat sekolahnya," Bayu bangkit saat sarapan usai. "Tunggu, pa!"
Cegah Devano sebelum papanya menghilang, "Ada apa, nak?" tanya Bayu Dengan kedua alis bertaut.
"Emh, apa aku boleh ketemu tante Nora sebelum hari H?" ragu Devano, "Tentu saja boleh, hanya kalau bisa ya jangan." jawab Bayu terkesan ambigu.
Boleh atau tidak boleh. Tergantung kepentingan, "Biar apa?" tanya Devano yang penasaran mendengar jawaban sang papa.
"Hmm, biar ada rindu diantara kalian." ucap Bayu terkekeh sembari melirik Nara, "Papa." Tekan Nara dengan tatap mata seolah tanda protes. Dan Bayu langsung pamit ke kantor pun Devano yang juga akan berangkat sekolah.
***
Saat sedang memasuki gerbang sekolah, Devano dibuat terkejut dengan Alan Carley yang sedang berdiri disisi mobil depan sekolah dengan seorang perempuan.
Beruntung Devano membawa mobil yang berbeda dari biasanya, kaca mobilnya pun tak dapat dilihat dari luar. Devano hanya mengamati gerak-gerik Alan dengan perempuan yang berdiri membelakanginya, sehingga wajahnya tak terlihat.
"Kenapa aku merasa, cewek itu familiar." gumam Devano yang lebih memilih menghentikan mobilnya, dan mengamati Alan.
"Maaf kak, lagi-lagi aku merepotkanmu!" ucap Karin dengan seutas senyum, "Gapapa, aku kan kakakmu, hmm lupa?" jawab Alan.
Dan lagi, Karin merasa Alan begitu baik padanya, Jika sedang baik.
"Dimana bocah tengil itu, katamu jam segini ia sudah berangkat?" tanya Alan. "Entahlah, seharusnya sudah, kak Alan mau ngapain Devano?" tanya Karin cemas.
"Menurut kamu, tenanglah! Aku masih belum berniat menghabisinya." ujar Alan santai dengan kekehan kecil. Lalu mengacak rambut Karin gemas, gegas Alan masuk ke dalam mobil dan berlalu. Devano yang mendengar ucapan Alan sontak mengepalkan tangannya,
"Rupanya Karin, jadi dia diperalat Alan untuk mendekatiku, cehh! Aku tidak akan tertarik pada perempuan sepertimu." decih Devano, dengan sorot mata tajam. Dev langsung memasukkan mobilnya ke dalam parkiran sekolah, lalu ikut bergabung dengan Alfin dan Abiyan yang menunggu kedatangannya.
"Dasar si Alan," umpat Devano begitu mendekati sahabat-sahabatnya, "Kenapa?" tanya Abiyan, "Aku ingin mematahkan tangan seseorang!" kesal Devano.
Bughhh! Tanpa sadar tangannya mengepal dan memukul tangan Abiyan.
Abiyan meringis mendapat serangan tiba-tiba," Sakit dudul!" protes Abiyan.
"Tahan Dev, tahan emosimu, kita bisa melakukannya nanti." seperti tahu apa yang mengganggu fikiran Devano, Alfin pun menyeringai lebar, lalu menepuk pelan pundak Abiyan, "Nanti sore, kita olahraga." Alfin pun meregangkan tangannya.
__ADS_1