
Nora, ia tersenyum puas melihat penampilan suaminya yang terlihat sempurna memakai setelan jass berwarna hitam. Devano tampak dewasa dan keren, tak henti-hentinya ia memuji suami berondongnya. Selanjutnya, Nora sibuk memilah-milih dasi mana yang cocok untuk Devano mengingat hari ini adalah hari penting dimana Aldeva group akan mengumumkan secara publik siapa pewaris tunggalnya. Tentu saja bersama dengan perayaan pesta ulang tahun perusahaan.
Selain dari pada Devano, ia sendiri juga bingung harus berpenampilan seperti apa.
Namun, tersentak kala Devano menyodorkan satu buah gaun elegan dengan warna senada,
"Makasih," ucap Nora lalu memberikan kecupan singkat di pipi Devano, Nora sedang mengganti pakaiannya, sementara Devano memastikan penampilannya di depan kaca cermin.
"Gimana, bagus tidak?" tanya Nora begitu keluar dari ruang ganti. Devano mengu lum senyum lalu mengacungkan dua jempolnya, "Sangat cocok menjadi istri Devano Aldeva." pujinya mengedipkan sebelah mata.
"Ishhh, genit."
"Genit sama istri sendiri apa yang salah," Devano mendekat, lalu menangkup pipi Nora yang memerah.
Cup! Kecupan singkat ia daratkan di kening, pipi kanan, pipi kiri dan terakhir di bibir. Devano memang segemas itu sama Nora, tak bosan-bosan meski telah mengulanginya berkali-kali dalam sehari.
"Hmmm, ayo keluar. Mama dan papa sudah menunggu." ajak Nora tersipu malu. Mereka pun keluar dan menuruni tangga beriringan.
Nara menyambut kedua anaknya dengan antusias, pun juga papa Bayu yang sudah menginterupsi Ziando untuk menyiapkan mobil. Mereka berlima berangkat, papa Bayu dan Mama Nara, sedangkan Devano dan Nora bersama Ziando.
Rupanya setiba di kantor, sudah banyak karyawan menunggu di area halaman perusahaan yang sudah di dekorasi juga beberapa wartawan yang berusaha meliput momen ini.
"Selamat pagi menjelang siang, pak Bayu Aldeva, Bu Nara!" sapa seorang kepercayaan yang menjadi pembawa acara.
"Selamat pagi juga pak Devano, tuan muda Aldeva grup bersama sang istri."
Huuuu, sorak sorai riuh terdengar, pun juga iringan tepuk tangan saat pembawa acara menyebut nama Devano Aldeva.
Setelah acara pembukaan, kini giliran Bayu untuk memberi penyambutan kepada tamu kolega dan karyawan-karyawannya, lalu pernyataan tentang pewaris tunggal Aldeva group, juga tentang pernikahan putranya.
Sebagian dari mereka cukup tercengang, mendengar pengakuan Papa Bayu.
"Kenapa aku merasa orang-orang melihat ke arah kita," gumam Nora yang berhasil di dengar oleh Devano, "Gak papa, mereka cuma ngelihat." ucap Devano, tangannya sedari tadi tertaut pada jemari lentik milik Nora.
"Lihat," tunjuk Devano kepada seseorang.
"Alan, dia datang?" tanya Nora dengan kening berkerut, sementara arah pandang Alan tak lepas dari sosok Karin yang hadir ditemani Alfin.
"Kenapa mengundang Alan?" tanya Nora kesal, ia tersenyum masam, bukan karena khawatir akan dirinya yang pernah bermasalah dengan orang itu, tapi Nora justru mengkhawatirkan Karin.
__ADS_1
"Alan sudah meminta maaf, pun juga dengan Tuan Carley, dan kedepan Aldeva group mungkin akan bekerja sama." jelas Devano, mata Nora membulat sempurna saking terkejutnya.
"Kerja sama? dengan Alan?" tanyanya tak mengerti, sementara Devano justru mengangguk mantap, saat ia hendak bertanya lebih lanjut, panggilan MC meminta dirinya naik ke atas panggung bergabung dengan sang papa.
Devano bangkit, lalu mengulurkan tangan kepada Nora. Keduanya naik ke atas panggung, semakin membuat sorak para karyawan.
"Selamat pagi, menjelang siang. Terima kasih atas sambutan meriahnya." Devano menyapa semua orang dengan senyuman, pun halnya dengan Nora. Meski malu, ia tetap harus menegakkan kepala sebagai istri pewaris tahta.
"Dulu, papa fikir dengan menjodohkanmu dengan Alan. Keluarga kita akan lebih maju dan perusahaan lebih baik. Tak disangka, takdir merubahnya begitu apik. Mempertemukan dirimu dengan sosok laki-laki baik, kamu sudah membuktikannya sayang, dan kamu berhak bahagia." Shaka menatap sang putri, yang kini mendampingi Devano memberikan sambutan sepatah dua patah kata. Sudut matanya mulai berair tak terasa, lalu usapan lembut nan menenangkan sang istri semakin meluluh lantahkan pertahanannya, ia benar-benar terharu akan sekenario Tuhan yang luar biasa.
Sementara Alan, ia tak hentinya menatap Karin, tatapan penuh penyesalan yang mungkin akan terus ia rasakan sepanjang hidup. Bagaimanapun, Karin adalah gadis yang pernah ia rusak tanpa sengaja. Selain dari pada itu, tanpa sadar dirinya sudah memiliki perasaan cinta yang entah dari kapan tumbuh.
"Kamu berhak bahagia Karin, dan kamu harus bahagia. Aku ikhlas, karena aku yakin. Laki-laki yang saat ini bersamamulah yang telah berhasil mengukir senyum indahmu penuh warna." batin Alan.
Maura menatap haru, sampai berulang kali mengusap sudut air matanya, sementara Zain. Dia khawatir saat istrinya diam-diam menitikkan air mata. Namun, ia masih enggan bertanya dan membiarkannya.
Serangkaian acara mulai dari sambutan pernyataan pun selesai, saatnya menikmati pesta dan potong kue.
Kue besar nan tinggi itu di pesan khusus sebagai symbol Aldeva group saat ini yang sudah mencapai pada titik atas.
Setelah Nara, Bayu, Devano dan Nora memotongnya. Tart tersebut dibagikan pelayan kepada seluruh tamu yang hadir dan juga karyawan tak terkecuali.
Alan yang berada tak jauh pun sontak berdiri dan menghampiri.
"Kamu nggak papa?" Tanya Alan sembari membantu Elle berdiri, gadis itu meringis lantaran kakinya kesleo dan susah berjalan.
"Maaf merepotkan," ucap Elle yang menatap Alan, saat Alan memapahnya duduk di kursi.
"Tidak masalah, aku senang membantumu. Aku Alan,"
"Makasih Alan, aku Elle."
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, apa kamu tamu undangan disini juga?" tanya Alan, ia sudah meminta seseorang pelayan mengambilkan kotak p3k.
Sambil menunggu, keduanya pun mengobrol.
"Aku sepupunya Devano," Jawab Elle, saat kotak p3k datang, tanpa menunggu persetujuan Alan mengobati kaki Elle yang sedikit lecet, kemudian memijat bagian yang kesleo hingga membaik.
"Makasih, Alan."
__ADS_1
"Sama-sama." Alan mengulas senyum.
"Lihat, Elle sedang bersama siapa?" bisik Devano,
"Kenapa harus dengan Alan." Nora menggerutu, sementara Devano membalasnya dengan tersenyum simpul.
"Kamu cemburu?" goda Devano langsung mendapat cubitan dari Nora.
"Ishh enggak, kamu tuh ya Dev."
"Ingat ya, kamu gak boleh cemburu sama pria lain, gak boleh kesel sama pria lain bersama wanita lain, kamu cuma boleh cemburu denganku."
"Dev, mulai deh." Nora mengerucutkan bibir.
"Kamu juga gak boleh deket-deket sama cewek lain, gak boleh genit sama cewek lain! kalau sampai aku tahu kamu deket atau godain ciwik kampus, aku pangkas sampai tak bersisa." ancam Nora yang berhasil membuat Devano terkekeh.
Devano sontak menautkan jemarinya, "hanya ada kamu sayang, tante Nora kesayanganku."
Nora tersipu dengan gombalan receh Devano, meski gombal tapi berondong itu tulus mencintainya. Melakukan segala siasat licik berkedok kerja sama demi bisa hidup bersamanya. Dasar memang Devano!
**
Pesta telah usai, kini sebagian Aldeva group menjadi tanggung jawab Devano. Meski begitu, Bayu masih membiarkan Devano fokus kuliah dan menjaga Nora. Sesekali, membantunya di kantor terlebih jika ada waktu luang. Semua berjalan semestinya hingga tanpa sadar dua bulan berlalu dengan penuh kelegaan.
"Kenapa aku nggak hamil-hamil ya sayang." Gumam Nora.
"Sabar, mungkin belum saatnya." ucap Devano membelai rambut sang istri dan menciumnya.
"Tapi aku ingin segera hamil,"
"Iya tau, makanya kita harus bekerja keras tiap hari." Seloroh Devano.
"Ish ish ish, dasar kamu ya!"
.
.
.
__ADS_1
Like komen dan votenyaš