
Malam semakin kelam, sosok pria dewasa bertubuh tinggi sedang menunggu seseorang datang di meja salah satu sudut ruangan sebuah club hiburan malam, ia menunggu gadis kecil yang mungkin sedang setengah berlari agar segera sampai di tempat, dimana ia menunggunya.
"Huh..huh..huh.. Maaf kak Alan, aku terlambat." ucap Karin, dengan napas tersengal karena buru-buru, menerobos orang-orang yang tengah berjoget ria dibawah dentuman musik dj yang memekakkan telinga. Jarak parkiran dari club memang cukup jauh terlebih Alan memesan privat room, sehingga Karin begitu kewalahan mencari sosoknya.
"Hm, sudah duduk." titahnya begitu dingin, lalu dengan santai menuangkan wine ke dalam gelas berukuran mini, dua gelas berisi wine yang satu ia sodorkan tepat di hadapan Karin.
"Temani aku minum." titahnya seperti sebuah perintah, tak ada elakan ataupun penolakan.
Karin menghela napas, lalu menatap gelas dihadapannya sejenak, Ragu itu yang dirasakannya. Andai bukan dia, yang selalu jadi pelarian Alan ketika frustasi, andai ia bisa sedikit saja tenang.
"Minum Kar." ulang Alan dan Karin langsung terkesiap, lalu mengambil gelas berisikan wine itu dan meneguknya.
Rasa hangat seketika menjalar di leher, terlebih udara sedang dingin.
Alan masih diam, memainkan benda pipihnya. Karin merasa terkungkung bukan karena berada di ruang yang sama dengan Alan melainkan sikap dingin Alanlah yang membuatnya seperti berada di lingkaran yang salah.
Menyesal, mungkin iya Karin menyesal datang ke tempat ini.
Lalu dengan santainya Alan menyodorkan benda pipih, menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya.
Kedua mata Karin membulat sempurna, "Maksud kak Alan, apa?"
Alan tersenyum smrik, "Kamu suka kan sama dia," dengan santainya Alan melontarkan pernyataan meskipun itu nyata.
"Jawab Kar, kenapa? Aku cuma mau kamu buat dia jauh dari Nora." titahnya telak.
Menunggu jawaban Karin, Alan kembali menuang wine lalu meneguknya.
Matanya tak lepas menatap Karin yang saat ini justru terlihat gugup. Menghembuskan napas kasar, Alan lalu memajukan wajahnya, kini terlihat jelas Karin menunduk sembari meremas dressnya.
"Heh, Aku cuma minta kamu deketin dia, buat dia jauh dari Noraku." ulang Alan.
"I-iya kak, Aku sedang berusaha, aku akan berusaha mendapatkan cinta Devano, aku akan rebut dia dari Nora." Dan jawaban itu berhasil membuat Alan mengukir senyum.
"Aku tunggu hasilnya, kamu tau Kar! Aku nggak suka kegagalan. Berhasil atau aku akan membuat Devano hilang dari muka bumi ini." Putusnya dengan seringai lebar.
"Aku pastikan akan berhasil, apapun caranya!" jawab Karin, bukan karena melindungi Devano, tapi karena Karin sendiri sudah terobsesi dengan cowok tampan itu.
"Udah kak, kita pulang." ajaknya, namun sepertinya Alan enggan beranjak dari tempat.
"Aku takut mama marah." ucap Karin, sembari menunduk meremas dressnya. Melihat kegelisahan Karin, Alan pun berdiri memasukkan benda pipihnya ke dalam saku celana, lalu mengulurkan tangan kepada gadis itu.
"Aku antar pulang."
Karin pun bangkit, lalu berjalan keluar ruang bersama Alan. "Tunggu disini, biar aku bayar dulu." Alan meninggalkan Karin sediri, suasana club yang ramai membuat Karin seketika bergidik. Ia tak terbiasa dengan hal-hal seperti ini selain karena permintaan Alan.
__ADS_1
Beberapa pemuda menatapnya dengan seringai lebar, merasa ada mangsa, salah satu dari mereka itupun mendekat ke arah Karin yang berdiri mematung menunggu Alan.
"Hay cantik, main yuk." goda salah satu cowok itu, mendekat ke arah Karin. Karin mendongkak, lalu saat tangan pemuda itu berusaha meraih tangannya, ia menghindar.
"Ceh, sok jual mahal, ayolah kita party." ajaknya lagi seperti tak menyerah untuk menggoda Karin.
"Pergi nggak!" titah Karin memasang perlindungan. Namun, bukan berhenti pemuda itu malah menyeringai lebar sembari mengisyaratkan pada teman-temannya agar mendekat.
Karin berusaha melepaskan tangan, saat cowok itu berhasil mencekal pergelangan tangannya tapi nihil, tenaganya tak ada apa-apanya.
"Lepas, tol..." pekiknya menunduk.
"Bugh.. bugh.. bugh.." dengan sigap Alan memukul orang-orang tersebut, "Kamu gak papa?" tanya Alan saat berhasil membuat orang-orang itu menjauh, terlihat wajahnya ada gurat khawatir terhadap Karin.
Karin menggeleng, lalu memeluk Alan begitu erat.
**
Devano benar-benar belajar setelah mengantarkan Nora pulang, satu janjinya kepada Nora bahwa ia akan serius belajar agar bisa menikahinya. Devano bahkan mengabaikan pesan grub watshapp sekolahnya yang ramai membicarakannya.
Devano berdecak kesal, kala Notif pesan grup terus berbunyi, siapa lagi si biang rusuh penghuni grup kalo bukan Abiyan.
"Oi sepi amat ini grup kelas udah kaya kuburan." Abiyan
"Dasar Jomblo, kebanyakan halu wlekk." Abiyan
"Berisik lu pada, hmm? gada kerjaan." Clara
"Devano mana ya, sibuk pacaran kali hiks, tu anak lupa ma kita-kita kaum jomblo." Abiyan
"Ceh, Clar! cowok fuckboy lu tuhhhh, hempas." Alfin
"Jangan lupa anak-anak, kita belajar." Eryan
"Eh ada pak ketuahh." Abiyan
"Dev, muncul Dev." Alfin
**
"Ck!" Devano berdecak, saat membaca satu- persatu pesan grup di ponselnya, enggan menanggapi kesomplakan anak-anak kelas.
Sementara Nora, membaringkan tubuhnya di atas ranjang, matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Jika sedang sendiri, ia teringat akan mama dan papa di rumah. Rindu akan kehangatan keluarganya dulu sering kali menyiksa.
"Mama." lirihnya sembari menatap langit-langit kamar, "Maaf karena telah mengecewakan kalian, tak menjadi seperti yang kalian inginkan! Aku hanya tak ingin jatuh ke dalam pelukan laki-laki seperti Alan." gumam Nora, ia mencoba memejamkan mata, tapi tak bisa.
__ADS_1
Sudah dua jam, dan Nora terus bergerak diatas ranjang, sulit memejamkan mata. Padahal besok ia harus berangkat pagi ke kantor milik papanya Devano, ia beringsut dari tempat tidur, mencari sesuatu yang bisa ia makan di dalam kulkas, lalu mendesah pelan. Sepertinya ia harus belanja besok untuk stok kulkasnya, beruntung masih ada camilan dan roti untuk besok.
Nora kemudian mengambil camilan, dan minuman dingin lalu memilih bersantai sejenak di balkon kamar.
Pemandangan lampu kota, terlihat menawan dari atas. Semilir angin malam berhembus menerpa kulit mulusnya.
"Jika aku menikah, apa sepi ini akan hilang, apa aku bisa merasakan hangat keluarga yang sesungguhnya?" gumam Nora, saat ia memasukkan camilan ke dalam mulut, tersentak dengan panggilan video call di ponselnya.
"Mama." pekiknya begitu senang, lalu segera ia mengangkat video call itu.
"Hallo, ma." sapa Nora dengan wajah menampilkan senyum.
"Hallo sayang, mama kangen." ucap Kenia diseberang sana dengan mata sendunya.
"Nora juga kangen, ma! Kangen banget sama mama." Akunya, air matanya mulai menganak sungai.
Dan saat Kenia mengalihkan kamera ke arah Shaka, Nora sudah tak tahan lagi! Air matanya luruh seketika.
"Papa." lirihnya pelan, Shaka yang tadinya sengaja tak menatap pun akhirnya menoleh.
"Apa ? anak pembangkang kesayangan papa." Sahut Shaka di seberang sana, seketika Nora menangis haru.
"Pulang, nak! Jangan nangis kaya anak kecil. Gak enak kan hidup sendiri, udah papa nggak maksa lagi kamu nikah sama Alan." ucap Shaka dengan serius, tangis Nora semakin pecah mendengar penuturan Shaka.
"Papa beneran?" Mata Nora menangis namun bibirnya mengukir senyum, antara senang dan terharu.
Shaka mengangguk, dan kini layar ponselnya menjadi wajah mama dan papanya.
"Uuuww, sayang kalian." ungkap Nora. Dan Kenia pun tak kuasa menahan tangisnya.
"Udah ya ngambeknya," ucap Kenia, Nora pun mengangguk.
"Aku pasti pulang kok, Aku tutup dulu ya mam, bye mama papa."
"Iya sayang, lekas tidur dan mimpi indah."
Nora mengangguk, "Salam buat Zain." ucapnya lagi sebelum menutup telepon.
Barulah saat itu Nora menangis sejadi-jadinya, tak tahan menatap wajah kedua orang tuanya ingin segera berlari dan memeluk mereka.
*Pada akhirnya, kita akan mengerti..
Sejauh apapun melangkah, kemanapun kita pergi, keluargalah tempat kita kembali..
LIKE KOMEN DAN VOTE SAYANGKUH🥳*
__ADS_1