TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Update dan Visual


__ADS_3

Di sebuah rumah, seorang pria paruh baya berulang kali memijat pelipisnya. Amarahnya benar-benar memuncak hari ini, bukan hanya karena Alan, si anak yang berbuat sesuka hatinya. Tapi juga perusahaan Carley yang mengalami penurunan saham. Menunggu sang anak pulang.


Semenjak istrinya meninggal ia mendidik keras Alan, namun didikan itu berbuah salah sepertinya. Kenyataan Alan tumbuh menjadi pria arogan, egois tinggi dan semaunya sendiri.


"Darimana kamu?" suara dingin Carley kala melihat sosok yang baru saja membuka pintu.


Alan yang merasa pertanyaan tajam itu terlontar tiap kali pulang malam pun merasa jengah. "Kenapa sih, papa selalu mempertanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang? bukankah papa sudah tau jawabannya akan selalu sama." sahut Alan dengan nada dingin.


Carley bangkit, menghela napas sejenak sebelum menghampiri Alan.


"Saham turun drastis dan kamu masih bisa bersenang-senang, baiklah lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Papa capek, menghadapi kamu yang seenaknya sendiri." tekan Carley sebelum akhirnya memilih meninggalkan Alan dengan wajah terkejutnya.


Mengepalkan tangan, lalu meraih benda pipih untuk menghubungi orang kepercayaannya.


Rahangnya seketika mengeras dengan emosi.


**


"Bagaimana menurutmu, Dev?" tanya Bayu, Devano pun tersenyum bangga dan mengacungkan dua jempolnya kepada sang papa, hanya perlu menyentil sedikit perusahaan Carley, ia sudah berhasil memberikan pelajaran untuk Alan.


"Kamu memang mewarisi sifat papa, nak! Dulu, waktu papa masih muda, papa nggak akan membiarkan siapapun mengganggu mamamu!" lalu tiba-tiba Bayu tersenyum saat mengingat masa mudanya yang tak jauh berbeda dengan Devano, memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


"Iyakah? sebenarnya Devano nggak begitu suka mencari musuh, Pa! tapi Alan Carley selalu menganggu Nora, bahkan dengan tidak tahu malunya memaksa Nora kemarin. Ceh, aku benar-benar muak, ia seperti laki-laki mur*han." gerutu Devano, Bayu yang mendengarnya pun hanya terkekeh.


"Sudah jangan di pikirkan, persiapkan dirimu untuk fokus pada pernikahan." ucap Bayu, menepuk pundak Devano.


Selepas mengobrol dengan sang anak di ruang kerja, Bayu pun kembali ke dalam kamar karena malam sudah mulai larut. Lekas ia berbaring di samping sang istri yang telah lebih dulu terlelap, lalu mengusap lembut rambut Nara.


"Good night, mama dari anakku," ucapnya seraya membawa Nara ke dalam peluknya.


***


Devano kembali ke dalam kamar, ia hendak merebahkan diri di ranjang miliknya. Namun, ia urungkan karena kini ponselnya terus berbunyi.


"Siapa sih?" ketus Devano lalu menyambar ponselnya di atas nakas, "Nomor tidak di kenal?" batin Devano dengan dahi mengkerut.


📲" Hallo, siapa?"


📲"Tentu saja musuh terbesarmu, Devano Aldeva! siapa lagi, hmm? Oh ya, apa kamu sedang berbahagia sekarang karena berhasil menjatuhkan perusahaan orang tuaku?" Ucap Alan dengan menekan marga Aldeva.


📲"Ceh, kau cukup pintar juga bung! haha, itu setimpal karena kau terus mengganggu Noraku." tekan Devano tak kalah tajam.


📲"Dia hanya Noraku, dan hanya aku yang boleh memilikinya." ucap Alan tak kalah sinis, "Jika kau bukan pengecut, temui aku sekarang di Club Blackzone bocah si-Alan jangan hanya bersembunyi di balik punggung papamu." sambung Alan lalu menutup telponnya.


Devano mengepalkan tangannya kesal, Alan benar-benar membuatnya emosi dan merasa harga dirinya tersentil.


Devano pun akhirnya memutuskan untuk datang ke Blackzone club, meskipun ia harus meminta Ziando mengantarnya.


Dan hanya butuh waktu lima menit untuk menunggu kedatangan Ziando, laki-laki itu kini sudah siap di depan rumah dengan mobil sport.


Ziando hendak membukakan pintu untuk Tuannya, namun Devano selalu menolak, "Jangan berlebihan Zi," ucap Devano sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.


"Kita mau kemana, Tuan muda?" tanya Ziando yang hendak menyalakan mobil.


"Antar aku ke Blackzone Club," titah Devano, dan itu membuat dahi Ziando berkerut. "Untuk apa Tuan muda ke sana?" tanya Zi yang penasaran kenapa Tuan-nya tiba-tiba ingin datang ke Club malam.


"Antar saja." titah Devano dan Zi pun mulai melesatkan mobilnya.


Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran Ziando, terus terang ini kali pertamanya ia tahu Devano, tuan mudanya mendatangi Club malam. Kehidupan pemuda itu juga selama ini terpantau, karena Tuan Bayu, memerintahkan pengawasan setiap kegiatan Devano, memastikan tuan muda pewaris tahta Aldeva itu aman.

__ADS_1


"Tunggu disini dan jika dalam setengah jam aku tidak keluar, masuklah!" ucap Devano sebelum akhirnya masuk ke dalam club malam.


Ziando mengangguk, namun diam-diam ia menghubungi si pemilik Club, Bara untuk memastikan bahwa Tuan mudanya aman.


"Tempat macam apa ini, aku harus hati-hati, bisa jadi om Si - Alan itu mau menjebakku." batin Devano yang merasa heran karena baru pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Club malam, bau minuman beralkohol begitu menyeruak, dengan dentuman musik DJ yang memekakkan telinga, entah bagaimana orang bisa menikmatinya. Devano sendiri pun merasa jengah.


Devano masuk ke ruang dimana Alan menunggunya, dan benar saja ia sudah menunggu kedatangan Devano dan menyambutnya dengan senyum seringai.


"Akhirnya kau datang juga bocah, ah aku fikir kau terlalu pengecut, tapi ternyata dugaanku salah." ucap Alan seraya merangkul perempuan yang kini tengah menunduk sembari merem*s kuat ujung dressnya.


"Lihatlah sayang, dia datang untukmu. Sambut dia dan mendongkaklah." bisik Alan. Devano tersentak kala melihat siapa kini wanita yang bersama Alan, "Karin, lo ngapain disini?" melihat wajah Karin seperti tertekan, Devano yakin Alan sengaja memperalatnya.


Karin bungkam, ia kembali menunduk, sementara Alan sudah mencengkram dagunya dengan kasar. Devano bisa melihat sendiri jika laki-laki di hadapannya kini memang susah di tebak, kenapa Karin waktu itu senyum-senyum dengannya sampai pulang pergi sekolah mau di jemput? batin Devano pun bertanya-tanya.


"Oh, aku lupa tujuanku mengajakmu bertemu. Minumlah terlebih dulu, maka aku akan mengutarakannya!" titah Alan menyodorkan gelas berisikan Wine kepada Devano.


"Lupakan, aku tidak pernah minum. Jadi jangan bertele-tele om si-Alan." tekan Devano yang duduk santai sembari bersandar sofa.


Ruang VIP itu terasa pengap meski AC sedang menyala.


"Pulihkan saham perusahaanku, dan aku tidak akan mengganggu Nora lagi, asal kamu mau minum denganku sekali saja." ucap Alan dengan senyum seringai.


"Turunnya saham perusahaan Carley bukan karena diriku, kenapa kau menyuruhku, Ceh!" Devano berdecih lalu melipat tangannya di depan dada.


"Iya, atau aku akan terus menjadi teror di kehidupan kalian." Ancam Alan.


"Baiklah, sekali ini saja." santai Devano, Demi tante Nora ia pun akan melakukannya.


Alan pun tersenyum smirk, saat Devano meminum wine yang ia minta kepada pelayan club untuk menaruh obat perang sang di dalamnya.


Devano merasakan sensasi aneh, terlebih ini pertama kalinya ia minum minuman beralkohol, berbeda dengan Karin yang saat ini terlihat cemas.


"Habis." ucap santai Devano, lalu meletakkan gelas itu di atas meja.


***


"Bar, amankan?" tanya Ziando menemui Bara, Bara pun menjawabnya dengan anggukan kepala saat Ziando masuk ke ruang kerjanya dan melihat cctv kejadian sebelumnya dimana Alan meminta pelayan club mencampurkan obat.


"Aku sudah menukar gelasnya, semoga Devano tidak apa-apa?" ucap Bara, lalu mengantar Ziando ke ruangan dimana Tuan mudanya berada.


"Ya Tuhan, kenapa tuan muda tidak sadarkan diri, Bar!" pekik Ziando kaget. Ia lalu membawa Devano dengan dibantu Bara sementara pelayan lain membantu Alan. Karin yang masih terjaga kesadarannya pun membantu Alan, mau tidak mau gadis itu yang membawa pulang Alan.


"Dia hanya tak sadarkan diri karena minum, tenang saja! setelah sadar, berikan obat pereda mabuk maka ia akan membaik." ucap Bara, kemudian menutup pintu mobil.


Pukul 24.00 WIB, Ziando sampai di pelantaran rumah mewah keluarga Aldeva. Dengan dibantu satpam, ia mengangkat tubuh Devano yang tak sadarkan diri.


"Jangan sampai Tuan tahu, kalau Tuan muda tak sadar," ucap Ziando kepada kedua satpam yang telah membantunya, mereka mengangguk patuh.


Sementara Karin telah sampai di kediaman Carley.


Carley yang melihat anaknya mabuk itu hanya menghela napas kasar dan membawa Alan ke kamar dengan dibantu Karin.


"Panas..." keluh Alan dengan mata terpejam, melihat itupun sontak Carley menatap ke arah Karin dengan sorot mata tajam.


"Kamu harus bertanggung jawab menunggu Alan sampai sadar," titah Carley kemudian keluar kamar dan mengunci pintu kamar Alan.


Carley tahu, Alan sedang dalam pengaruh obat. Dan bukan tanpa alasan ia meminta Karin untuk tetap tinggal, itu lebih baik ketimbang anak itu terus menerus mengharapkan Nora dan merusak hidupnya.


Devano sadar, dan merasakan sakit di kepalanya, Ziando yang tertidur di sofa pun terbangun dan langsung menghampiri Tuan mudanya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Saya terpaksa tidur di kamar tuan karena semalam tuan..."


"Gapapa, Zi. Kepalaku pusing sekali." keluh Devano, lalu mengubah posisi menjadi duduk dan bersandar di kepala rajang.


"Minum obatnya, Tuan. Biar lekas membaik." ucao Ziando, menyiapkan obat.


"Makasih Zi, jika mama atau papa tanya bilang saja aku kurang enak badan." ucap Devano yang meminta Ziando untuk merahasiakan kejadian semalam.


Selepas kepergian Ziando, Devano memilih melanjutkan tidurnya, hari ini ia memilih untuk tidak pergi ke sekolah dan memilih meringkuk di balik selimut.


**


"Dimana Devano, ma?" tanya Bayu yang sudah siap dengan setelan jas kantornya.


"Sakit, Pa! Zian bilang kalau Devano demam dari semalam."


"Demam?" tanya Bayu memastikan, Nara mengangguk.


"Sarapan dulu, Pa!" ucap Nara, lalu mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Papa pengen liat Dev, tapi udah mau terlambat." ucap Bayu.


"Yaudah, pa. Biar mama aja sekalian antar sarapan, sekarang kita makan dulu." ajak Nara, "Makasih, ma." ucap Bayu lalu mereka kini menikmati sarapan bersama.


***


Sementara di sebuah kamar, Alan yang baru tersadar dari tidurnya tersentak kala melihat Karin yang tengah tertidur polos di sampingnya. Matanya membulat sempurna, lalu melihat diri dibalik selimut, jantungnya berpacu lebih cepat kala tercetak dengan jelas noda darah di sprei ranjangnya.


Menoleh dan memperhatikan wajah Karin yang tidur sembari menangis.


"Damn, kenapa malah tidur sama gue bo doh!" umpatnya sembari menjambak rambutnya frustasi.


Btw yang tanya visual, ini aku up lagi


Devano Aldeva



Nora Lee



Alan Carley



Karin



Abiyan



Alfin



***Berikan komen terbaikmu😘😘

__ADS_1


Visual lain masih nyari yang cocok, Visual Zain Bakal aku up di Novel Bukan pelarian Cinta, pantau gih!


Jangan lupa giftnya ya😉 see you😘***


__ADS_2