
Ia tengah serius meghapal beberapa materi pelajaran sebelum mengikuti pelatihan ujian besok. Sebelumnya, ia sudah meminta Nora agar tidur lebih dulu. Karena mungkin malam ini dan malam-malam setelahnya ia akan belajar banyak materi pelajaran hingga hampir larut.
Tadinya, Nora ingin menemani Devano belajar, tapi lambat matanya dilanda kantuk luar biasa, meski sudah mencoba membuka matanya lebar, kenyataan sekarang ia justru terlelap dalam posisi yang kurang nyaman.
Devano bangkit, kala sesi belajarnya usai. Sebelum melangkah ke kamar mandi untuk menggosok gigi, ia tergoda untuk mencium bibir sang istri sekilas tuk kemudian membenarkan posisi tidur Nora agar lebih nyaman, kemudian menyelimutinya.
"Sangat manis," gumamnya pelan sebelum beranjak. Nora bahkan sama sekali tak terganggu dengan sentuhan lembut Devano. Ia asyik tenggelam dalam mimpi indahnya.
Setelah menggosok gigi, ia kembali ke kamar dan merebahkan diri di ranjang samping Nora.
Lantas ia sempatkan menscroll layar ponsel, mengecek laman story wattshap yang membuatnya tiba-tiba mengu lum senyum, lalu membalas story Alfin dengan pesan, "Selamat brother, gue tau elo orang yang tulus." puji Devano di sebaris pesannya.
Love has no reason ( Cinta tak punya alasan ) Telah membuat Karin sadar, bahwa hidupnya tak berhenti disini. Terlebih, dengan kondisinya saat ini. Selain jatuh, patah dan rusak ia sudah tak berarti apa-apa?
Tapi ia bak berlian di mata Alfin Narendra,
"Aku nggak punya alasan kenapa aku mencintaimu,"
"Aku cuma serpihan kaca pecah yang gak ada artinya, cuma akan ngelukain kamu, cuma akan buat kamu kecewa karena diriku yang sudah ter noda."
"Aku tetap mencintaimu, apapun dan bagaimanapun dirimu! dimataku, kamu adalah berlian yang paling indah."
Ikhrar cinta Alfin belum sepenuhnya diterima Karin, ia masih trauma. Namun, berada di samping laki-laki itu membuatnya merasa terlindungi bahkan dari sosok Alan yang hingga saat ini terus berusaha menghubunginya.
Jika mungkin seseorang memecahkan kaca, maka orang itu juga yang harus membersihkan pecahan kacanya, lain halnya dengan hati orang yang membuatnya patah dan rusak, maka orang lainlah yang bisa menyembuhkannya, karena hati tak akan sama meski orang yang membuatnya patah berusaha untuk memperbaikinya...
***
Nora
Sepagi ini ia sudah terbangun, merasakan napas hangat menerpa seluruh permukaan kulit wajahnya, bahkan wajah tampan yang belakangan ini menjadi favoritnya itu hampir tak berjarak, benar-benar posisi ternyaman. Terlebih saat tangan kekar milik Devano melingkar erat di pinggang, membuatnya ingin menenggelamkan wajah dalam-dalam di pelukannya.
Namun, bunyi alarm di atas nakas membuatnya mengerucutkan bibir seketika, karena pertanda ia dan Devano akan meninggalkan momen seperti ini dan mulai kembali ke aktivitas masing-masing.
"Bangun, Dev!" ia bergumam pelan sembari mengusap pipi Devano, menusuk-nusuk disana sesekali mencubit.
"Seneng banget, hmmm kayaknya?" seloroh Devano, saat membuka mata, ia hanya tersipu malu.
__ADS_1
"Habis kamu nggak bangun-bangun, hari ini kan ada pelatihan ujian, ntar telat loh." ucapnya beralasan.
Namun, sejujurnya ia masih betah di posisi seperti ini, Nyaman!
"Nunggu di bangunin istri, terus disayang, eh malah ditusuk-tusuk." selorohnya menahan senyum.
Tapi Nora justru mendusel di tubuh Devano, karena belakangan ia suka aroma maskulin yang memabukkan itu, selalu ingin dekat dan terus dekat.
"Mau ikut mandi, aku gendong?" tawar Devano sebelum bangkit, akan tetapi responnya justru mengerucutkan bibir.
"Nggak, nanti nggak selesai-selesai mandinya," Ia bangkit dan membenahi pakaiannya.
"Mandi, Dev! Biar aku siapin seragam kamu."
"Terima kasih istriku," ucapnya sebelum benar-benar melangkah ke kamar mandi, ia sempatkan mendekat dan mencium pipi Nora.
"Selamat pagi," pipi halus itu sudah benar-benar merona karenanya.
**
"Gak papa, aku naik mobil sendiri." ucapnya tersenyum simpul, lalu mengajak Devano untuk segera sarapan demi menghemat waktu.
***
Tidak berharap menjadi yang terbaik, tapi ingin memberi yang terbaik.
Dia, Devano berhasil melewati serangkaian pelatihan pra ujian dengan lancar dan mudah.
Bahkan nyaris tak memperlihatkan keluhan, beberapa kali sempat kedua sahabatnya, Alfin dan Abiyan menoleh ke arahnya saat sedang mengerjakan soal. Namun, sepertinya ia terlalu menikmati hingga lupa bahwa Alfin dan Abiyan sangat kesusahan.
"Nggak inget temen, lu." desis Abiyan, dengan wajah memelas saat mereka bertiga berjalan menyusuri koridor menuju kantin.
"Makanya belajar, belajar aja kagak lu pada."
"Gue belajar, tapi lupa. Yang gue inget cuma belajar mencintai." timpal Alfin.
Etdah, udah bucin belom?
__ADS_1
"Pelan-pelan, dia traumanya berat." Dev menepuk pundak Alfin.
" Iya, tahu."
"Kapan-kapan kita ngedate' bertiga yak, ide bagus gak tuh?" usul Abiyan.
"Berenam," ralat Alfin.
Devano hanya menggelengkan kepala, "Tar lah kapan-kapan, gue banyak agenda. Belum lagi rencana bulan madu gue."
"Idihhh." kompak Abiyan dan Alfin mencibir.
Beruntung suasana kantin tak begitu ramai, dan obrolan mereka tak sampai dari jangkauan telinga anak-anak lain.
"Lepas ujian gue mau bulan madu, pada ikut gak? tapi lo berdua gak boleh bawa pasangan." Ia menahan senyum demi melihat ekspresi kedua sahabatnya.
"Ogahhhh, mau jadi kacang!" jawab mereka hampir bersamaan.
Mereka akhirnya memilih diam, menikmati semangkuk mie ayam, juga es jeruk sebagai makan siang sebelum masuk kelas.
Alfin sempat menyapa Karin, yang memilih duduk di sudut kantin meja favoritnya, pun Karin yang membalasnya dengan senyuman.
***
Seminggu kemudian masa pelatihan pra ujian selesai, dan kini Devano masuk pada masa hari tenang jelang ujian Nasional Kelulusan.
Itu artinya, waktu dan kebersamaan bersama sahabat semakin menipis. Terlebih ia sudah beristri sekarang, tentunya selain perencanaan kuliah ia juga akan menghandle kantor agar bisa menafkahi Nora dengan uangnya sendiri.
Ia tengah membantu papa mertuanya mempersiapkan pesta, karena dua hari lagi akan di gelar pesta besar pernikahan Zain dan Maura.
Sedangkan sang istri, tentu saja sedang bercengkrama dengan mama juga calon kakak iparnya.
"Gimana rasanya menikah?" tanya Maura yang tak bisa menutupi rasa penasarannya. Nora hanya tersipu, seraya mengacungkan dua jempolnya, "It's not bad."
"Benarkah?"
"Yess, even so cute'." ia menyeringai lebar demi melihat wajah Maura yang memerah.
__ADS_1